Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 59: Mau Bersepeda?


__ADS_3

๐Ÿ“Jam up pukul 20:00 - 23:00 WIB


๐Ÿ’Eps ini di up pukul 21:30 WIB


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Sekitar jam 9 malam, toko di tutup. Larina sambil sesekali menguap mengambil uang di rak kasir serta bukunya. Ayah Larina yang baru selesai mandi melihat Larina sedang duduk di kursi sambil melakukan pencatatan dan menghitung uang. Ia pun menghampiri Larina.


"Dilanjutkan besok saja, Nak. Kamu terlihat sangat lelah, istirahatlah." ucap Ayah Larina


Larina hanya tersenyum.


"Setelah selesai aku akan langsung istirahat, kok. Ayah tidur duluan saja, besok kan harus kerja."


Alih-alih mengiyakan perkataan Larina, Ayah Larina duduk disamping Larina.


"Ayah akan menemanimu sampai selesai." ucapnya.


Larina mengangguk, dengan pandangan yang mulai redup, Larina berusaha tetap terjaga. Senyumnya merekah saat melihat laba dari tokonya dengan nomilal yang lumayan.


Keinginannya saat ini adalah bisa mengembangkan tokonya baik dari bangunannya yang semakin lebar dan luas maupun barang-barang yang dijualnya.


"Semoga bisa terwujud! Setelah hal ini terwujud, barulah aku bisa dengan tenang memoles tubuh ini." batinnya.


"Setelah kami resmi bercerai di mata Negara, Ayah akan mengurus surat pindah kita dan juga dokumen-dokumen penting kita lainnya." tutur Ayah Larina.


Larina mengangguk, setelah selesai ia kemudian mengikat uang-uang tersebut dengan karet gelang dan memasukkannya ke dalam sebuah amplop. Setelah ia kembali mencatat keuangannya dibuku lain.


"Sepertinya kamu butuh mesin printer supaya tidak lagi menulis manual seperti ini."


Larina menoleh,


"Iya, Yah. Semoga nanti aku bisa beli."


"Ayah akan membelikanmu. Besok Ayah akan cari."


"Tidak." tolak Larina.


Ayah Larina mengernyitkan dahi.


"Aku akan beli sendiri, biarkan aku belajar mandiri." Jelas Larina.


"Patungan deh," bujuk Ayah Larina.


"Tidak mau. Uang Ayah disimpan saja, barangkali nanti kita butuh untuk hal penting lainnya."


Ayah Larina pun menuruti kemauan Larina, namun dengan syarat Larina tidak boleh sungkan untuk meminta bantuannya. Yang Ayah Larina khawatirkan apabila Larina terlalu mandiri dalam masalah mencari uang, maka sekolahnya akan terganggu apalagi sampai jatuh sakit.


***


Besoknya di sekolah.


Larina yang baru datang disuguhi pemandangan Nana yang duduk dengan memangku wajah dan menatap ke arah depan kelas dengan tatapan kosong. Melihat Larina yang memasuki kelas, Nana langsung membuang muka ke arah lain dengan cepat.


"Maaf, aku harus egois. Karena salah satu misiku adalah menyatukan Rafa dengan Larina, meskipun kau punya rasa untuk Rafa tetapi jika ada yang menghalangi misiku maka harus aku singkirkan demi suksesnya misiku itu." batin Adinda yang kini tengah berada dalam tubuh Larina


"Larina," terdengar suara Rafa yang memanggil Larina.


Larina menoleh dan tersenyum, ia langsung menuju bangku Rafa.


"Aku sudah menyiapkan daftar buku-bukunya." ucap Rafa sambil menyodorkan selembar kertas yang berisikan daftar buku-buku yang mereka perlukan.


Larina meraih kertas tersebut dan melihat apa saja buku yang masuk dalam list.


"Kurasa kita juga perlu menambah buku tentang kepahlawanan." Saran Larina.


"Oke." Rafa setuju.

__ADS_1


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Hari minggu pun tiba.


Larina melihat jam di HP-nya yang menunjukkan pukul 2 siang.


"Setelah ini aku siap-siap." gumamnya.


"Kak," panggil pembeli


"Iya? Ada yang bisa saya bantu?"


"Mie instant merk Indomie yang terbaru itu cuma sisa 2 pcs ya kak?"


Larina tidak langsung menjawab, ia bergegas menuju rak dan benar hanya tersisa itu.


"Kakak butuhnya berapa?" tanya Larina.


"Kalau ada, mau 1 karton kak."


"Sebentar ya, saya cek di gudang."


"Oke."


"Seingatku sih sudah habis, tapi aku cek saja, mungkin aku salah ingat." batin Larina.


"Tuh kan, habis." ucapnya pelan, ia pergi keluar dari gudang.


"Maaf kak, stok Indomie yang terbaru sudah habis."


"Waduh, masih lama ready-nya kak?"


"Saya usahakan besok sudah ada kak." jawab Larina sambil tersenyum ramah.


Pembeli pun akhirnya membeli barang lainnya dan sudah memesan 1 karton apa yang ia butuhkan tadi.


"Katanya mau pergi ke luar hari ini?" tanya Ayah Larina.


"Iya, Ayah. Sebentar lagi." jawab Larina.


"Sudah, biar Ayah yang menggantikan pekerjaanmu ini. Kamu siap-siap segera, jangan membuat Rafa menunggu lama."


"Iya, Yah."


Larina pun segera masuk ke rumah dan pergi ke kamarnya untuk mengambil Handuk.


'Ting' suara notifikasi chat WhatsApp


Larina meraih HP-nya dan melihat ada pesan dari Rafa.


"Setelah ini aku akan menjemputmu." itulah isi pesan Rafa.


Larina terbelalak, ia segera membalas pesan Rafa dan bergegas mandi. Saat tengah mengenakan pakaian, Larina mendengar suara Rafa dengan Ayah Larina.


"Astaga, dia sudah datang!"


Secepat kilat Larina menyelesaikan urusan pakaiannnya itu, setelah itu ia memakai serum dan lain-lainnya. Dengan polesan tipis ia tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.


"Oke, sip. Sudah tidak sedekil saat aku baru masuk ke dunia ini." gumamnya.


Setelah selesai ia pun segera keluar dari kamar, Rafa dan Ayah Larina spontan menoleh ke arah Larina.


"Maaf, aku baru selesai." ucap Larina.


"Tidak apa-apa. Sudah jam 3, kita akan berangkat."


"Baiklah,"

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada Ayah Larina, mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan segera menuju lokasi pertama. Singkat cerita, mereka sampai di lokasi dan sudah membeli beberapa buku yang mereka perlukan. Setelah itu mereka lanjutย  untuk membeli etalase yang sesuai.


"Ini ukuran yang pas untuk di pojok kelas."ย  ucap Larina. Rafa setuju.


"Maaf dek, ini pesanan orang. Kalau kalian mau yang seperti ini, butuh waktu untuk kami membuatnya lagi dan tidak bisa selesai hari ini." ucap penjualnya.


"Iya, Pak. Kami pesan yang seperti ini ya."


"Oke. Ada nomor Hp yang bisa saya hubungi?"


"Ada."


Penjual Etalase mengeluarkan HP miliknya dan membuka aplikasi WhatsApp, Rafa pun mengeluarkan HP miliknya, ia membuka aplikasi WhatsApp dan pergi ke kode QR, setelah itu penjual etelase pun melakukan scan kode QR milik Rafa.


"Ada ongkos kirimnya?" tanya Rafa.


"Gampang, dibahas nanti saja."


"Oke."


***


Waktu menunjukkan pukul 5 sore.


"Ke taman kota, yuk." ajak Larina.


"Boleh."


Sesampainya di taman kota, banyak para pengunjung yang sedang bersantai dan berolahraga.


"Aku ingin lari-lari santai tapi pakaianku tidak sesuai," batin Larina.


"Ada apa?" tanya Rafa.


Larina menggeleng, Rafa melihat sekelilingnya dan mendapati jasa sewa sepeda. Melihat itu Rafa pun langsung menawari Larina untuk bersepeda.


"Mau bersepeda?"


Larina pun langsung mengiyakan, mereka berdua pergi menyewa dua sepeda.


"Mau bersepeda kemana?" tanya Larina.


.


"Di dekat sini saja," jawabnya santai,


Jantung Larina dibuat berdebar saat Rafa memakaikan pelindung kepala untuk Larina tanpa aba-aba. Ia juga memasang pelindung di lutut Larina.


"Biar aku saja, aku bisa." Larina merasa salting dan berusaha menolak.


"Tidak apa-apa."


Wajah Larina memanas, apalagi beberapa pengunjung lain memandangi mereka berdua dengan tatapan gemas.


"Ya ampun, aku malu. Pipiku panas." batin Larina.


"Sudah." ucap Rafa,


Larina yang masih salting tidak mendengar suara Rafa.


"Larina?" panggil Rafa sambil menyentuh pundaknya.


Larina terkejut.


"Ehem! Oh sudah selesai ya? Ya sudah ayo langsung mulai."


Rafa terkekeh pelan melihat tingkah Larina.

__ADS_1


"Lucu banget sih!" itu lah yang tersirat dari mata Rafa.


__ADS_2