Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 43 : Gelang Berharga


__ADS_3

"Dek, rinso cair yang ini ada lagi?"


"Ada, kak."


"Mau 1 renteng lagi, dong. Tapi yang jenis ini, ya."


"Iya, kak. Sebentar ya, saya ambil di gudang."


***


Larina baru saja beranjak dari tempat duduknya, namun seorang anak kecil masuk ke dalam toko dengan wajah yang memelas. Ia menyodorkan uang kertas bernilai 1.000 rupiah.


"Kak, aku bisa beli apa dengan uang ini? Aku lapar."


Larina terenyuh.


"Ambil lagi uangnya, ya. Kamu tunggu disini."


Larina kembali membawa sebungkus nasi dan sebotol air minum.


"Ini buat kamu."


Sambil menitikkan air mata, anak kecil itu tersenyum dan mengucap terimakasih. Anak kecil itu pergi dari toko sambil melambaikan tangan, Larina membalasnya sambil tersenyum, ia senang bisa membantu anak tersebut.


'Prang!' suara gelas yang jatuh ke lantai dan berasal dari dapur.


Senyum Larina memudar, ia segera pergi sumber asal suara. Matanya membulat mendapati Nenek pemilik toko tergeletak di lantai dapur dan terdapat pecahan gelas disampingnya.


"Nek!" pekik Larina, dengan kepanikan yang tidak bisa ia kontrol, ia segera mengangkat tubuh Nenek tersebut dan membawanya ke kamar.


Larina membuka jendela kamar agar ada angin segar yang masuk ke dalam ruang kamar, Larina mengambil minyak kayu putih, baru saja ia akan membuka penutup minyak kayu putihnya, sang Nenek pemilik toko perlahan membuka mata.


"Nek," panggil Larina yang panik.


Nenek itu tersenyum.


"Maaf, tadi Nenek mengantuk."


Larina bernafas lega.


"Kita ke Rumah Sakit, aku siap-siap dulu." ucap Larina, ia berdiri dan bersiap keluar dari kamar Nenek pemilik toko.


"Tidak." tolaknya.


"Tidak ada penolakan,"


Langkah Larina terhenti saat tangan keriput itu meraih ujung jari tangannya, Larina menoleh.


"Duduklah," pinta Nenek pemilik toko.


Larina menghela napas kemudian menurutinya.


"Coba, berbaring disini." pinta Nenek itu lagi sambil menepuk tempat tidurnya.


"Nek?"


Nenek pemilik toko hanya tersenyum,


"Baiklah,"


Larina berbaring disamping sang Nenek pemilik toko.


"Hmmm, sudah berapa lama ya aku hidup sendirian?" gumam Nenek tersebut sambil memandangi langit-langit kamar.

__ADS_1


"Nenek rindu pada seseorang?" tanya Larina


"Iya, dia pergi duluan meninggalkan Nenek sendiri."


"Suami Nenek?"


"Iya," jawabnya sambil mengangguk pelan.


"Saat remaja, Nenek obesitas. Mantan Nenek kala itu menuntut Nenek harus kurus, namun Nenek gagal dan akhirnya kami berpisah. Nenek yang sangat mencintainya akhirnya frustasi, Nenek hampir bunuh diri namun aksi itu digagalkan oleh seorang pria yang akhirnya menjadi Suami Nenek. Setelah menikah, dia tidak menuntut Nenek kurus, namun dia membimbing Nenek sampai kurus. Dia sangat penyabar."


Larina tersenyum.


"Nenek sangat beruntung."


"Sangat," timpal Nenek.


"Nenek sedih melihat kamu diet berlebihan,"


"Tidak berlebihan kok, aku hanya mengurangi porsi makan bukan tidak makan."


"Tapi kamu jarang mengkonsumsi gula, gula kan juga diperlukan."


Larina terdiam.


"Nenek punya permintaan," ucap Nenek itu sambil mengelus pucuk kepala Larina.


"Apa itu, Nek?"


"Nenek harap kamu tidak keberatan."


"Akan ku penuhi jika aku mampu, Nek."


Nenek itu tersenyum.


"Wah, aku jadi penasaran, nih!" Larina terkekeh.


"Nenek mau kamu menerima pemberian Nenek."


Larina bingung.


"Pemberian?"


"Tolong ambilkan kotak perhiasan Nenek di lemari, ada di balik pakaian dalam."


Larina mengangguk, ia beranjak dari tempat tidur dan mencari barang yang diminta oleh Nenek pemilik toko.


"Jangan berfikir yang tidak-tidak. Itu pakaian dalam Nenek ketika masih muda, jadi Nenek bungkus pakai plastik."


Larina tersenyum.


"Ini, Nek?" tanya Larina sambil memegang kotak perhiasan di tangannya.


Nenek tersebut mengangguk, ia mengubah posisinya duduk dan bersandar. Larina menyerahkan kotak perhiasan itu.


Sang Nenek membukanya, terlihatlah sebuah gelang emas yang sederhana dengan motif bunga kecil di tengah-tengahnya.


"Ini gelang pemberian Suami Nenek ketika kami baru sah menjadi Pasutri." jelasnya.


Larina mengangguk.


"Mau aku pasangkan?" tanya Larina.


Nenek itu menggeleng cepat. Tangan keriputnya meraih tangan kiri Larina. Perlahan ia memasang gelang tersebut di pergelangan tangan kiri Larina. Larina  terkejut dan kebingungan.

__ADS_1


"Maksudnya apa ini, Nek?" tanya Larina.


Nenek itu tersenyum.


"Nenek tidak punya siapa-siapa lagi untuk mewariskan gelang berharga ini. Nenek hanya punya kamu."


Mata Larina berkaca-kaca.


"Nek, ini barang berharga Nenek. Kenapa di-"


"Mulai saat ini, gelang ini milikmu, Nak."


Larina terdiam.


"Nenek minta, kamu jaga baik-baik gelang ini."


"Nek? Ini serius? Tapi barang ini bukan barang sembarangan."


"Nenek tau itu. Nenek percaya kamu bisa menjaganya dan kamu adalah orang yang tepat untuk hal ini."


Larina memandangi sang Nenek.


"Kamu anak yang jujur, sedikit suka mengeluh namun kamu masih tetap melanjutkan apa yang kamu kerjakan, sedikir keras kepala tetapi baik hati."


"Nenek tau darimana?"


"Nenek mengamatimu."


Larina terdiam.


"Jaga baik-baik gelang ini. Walau nilainya tidak seberapa, tapi ini sangat berharga bagi Nenek."


Larina mengangguk.


"Aku tidak berjanji, tapi aku akan berusaha menjaganya." ucap Larina.


"Terimakasih banyak," lanjutnya.


"Permisi, mau beli-beli." terdengar suara dari arah Toko.


Larina menepuk jidatnya pelan.


"Lupa, pintunya tidak di tutup. Aku keluar dulu ya,"


Nenek itu mengangguk.


"Iya sebentar!" Sahut Larina sambil melangkah keluar dari kamar Nenek.


Setelah Larina keluar, Nenek pemilik toko itu mengambil Hp miliknya yang ia letakkan dibawah bantal. Tangan yang gemetaran itu mulai mencari nomor seseorang, ia pun memanggil nomor tersebut.


"Iya, Nek. Ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara seorang pria dari seberang telfon.


"Apakah yang ku pinta sudah selesai?"


"Sebentar lagi, Nek."


"Jangan terlalu lama. Aku khawatir aku tidak sempat."


"Iya, Nek. Ini sedang saya urus,"


"Baiklah, terimakasih."


"Sama-sama Nek."

__ADS_1


Mereka pun mengakhiri panggilan itu.


__ADS_2