Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 51: Menciptakan Kenangan di Pasar Malam


__ADS_3

🍀Jam up pukul 20:00 - 23:00


🍀Eps ini di up pada pukul 20:18


🍀🍀🍀


Hari mulai malam, setelah keluar dari Bioskop, Larina dan Rafa pergi ke Cafe & Resto terdekat dari Bioskop. Mereka duduk di meja yang berada di dekat kaca jendela yang menyuguhkan pemandangan langit gelap dihiasi bintang dan lampu-lampu kota di tepi jalan.


"Rasanya aku seperti sedang kencan kalau seperti ini," batin Larina


"Mau pesan apa?" tanya Rafa sambil menyodorkan buku menu.


"Sebentar," sambil membuka dan melihat menu-menu yang ada.


"Supirmu tidak diajak masuk?" tanya Larina.


"Dia sedang ada urusan. Memangnya kau tidak ingat mobilnya kan pergi setelah kita turun tadi."


Larina berdecak pelan atas pertanyaan konyolnya itu.


"Aku lupa," ucap Larina.


Perlahan satu per satu pengunjung mulai pergi, hanya tersisa 4 orang saja di dalamnya dan membuat Rafa kembali grogi.


"Kau baik-baik saja?" tanya Larina yang melihat raut wajah tegang milik Rafa.


"Iya. Aku baik-baik saja."


"Kalau sakit jangan dipaksa,"


"Tidak, kok. Itu pesanan kita sudah datang."


***


Setelah selesai makan, Rafa segera membayarnya. Larina berniat untuk membayar makanannya sendiri namun Rafa menolaknya. Ia mengeluarkan kartu ATM dan segera melakukan transaksi pembayaran.


"Aku jadi merepotkanmu," ucap Larina setelah Rafa kembali.


"Aku yang mengajakmu, jadi aku yang bertanggung jawab." timpal Rafa.


Mereka keluar dari tempat tersebut dan melihat supir Rafa telah kembali dan sedang menunggu majikannya itu. Mereka segera masuk ke mobil.


"Kau ingin kemana lagi?" tanya Rafa pada Larina.


"Eh, aku ngikut saja."


"Ke pasar malam?"


"Boleh." jawab Larina sambil tersenyum.


***


Sesampainya di pasar malam yang berada di lapangan dekat salah satu kampus yang ada di kota.


Saat baru turun dari mobil, mata Larina berbinar melihat banyaknya wahana di pasar malam tersebut, kemudian ia terpikat pada keranjang putar menyerupai roda yang berukuran cukup besar dan tinggi (Btw authornya lupa nama wahananya.)


"Naik itu, yuk!" ajak Larina sambil menunjuk wahana keranjang putar yang authornya pun lupa namanya. Seketika Larina seperti anak kecil saat melihat mainan.


Rafa mengangguk. Spontan Larina meraih tangan Rafa dan menariknya untuk mengikuti langkahnya menuju wahana yang mencuri hati Larina. Tangan kanan Rafa tidak tinggal diam, ia segera mengambil HP miliknya dan merekam momen tersebut, ia merekam tangan Larina yang menariknya, setelah itu ia kembali meletakkan HP-nya ke dalam saku celananya.

__ADS_1


"Tidak perlu berlari, wahananya tidak akan kabur" gurau Rafa karena melihat Larina yang sampai setengah berlari menarik dirinya.


Larina hanya tersenyum lebar dan tetap ngeyel untuk segera sampai di wahana yang ia inginkan. Setelah sampai, ia langsung mengeluarkan uang untuk membayar karcis/tiket namun Rafa melarangnya.


"Biar aku saja. Berapa pak?"


"15.000 untuk 5 putaran, Dek."


"Oke, ini." Rafa menyodorkan uangnya


"Terimakasih lagi, hehe." ucap Larina.


***


Setelah naik wahana keranjang tersebut, mata Rafa tertuju pada aksesoris, Rafa menggandeng tangan Larina dan berjalan menuju penjual aksesoris. Ia melihat gelang benang yang sederhana namun mampu menarik perhatiannya, apalagi gelang tersebut ada dua.


"Mau beli ini?" tanya Larina sambil menunjuk gelang yang Rafa inginkan.


Rafa mengangguk.


"Pak, saya beli ini, dua." ucap Rafa sambil menunjuk gelang ia inginkan.


"20.000, Dek."


"Oke,"


Setelah membayarnya, Rafa dan Larina lanjut mengelilingi pasar malam.


"Kenapa beli dua?" tanya Larina.


Rafa menghentikan langkahnya, Larina pun ikut menghentikan langkahnya. Rafa membuka kantong plastik berisikan gelang yang ia beli tadi dan mengeluarkan gelangnya.


"Sudah." ucap Larina.


"Itu di tanganmu gelang dari siapa?" tanya Rafa.


"Ini pemberian Nenek pemilik toko tempatku bekerja. Ini kenang-kenangan," jawab Larina sambil tersenyum.


"Ooh, begitu."


Larina mengangguk.


"Kau tadi bertanya kenapa aku beli dua gelang kan?" tanya Rafa.


"Iya."


Rafa meraih tangan Larina dan mengikat satu gelang itu di pergelangan tangan Larina.


"Eh, untukku?" tanya Larina terkejut.


"Iya, untukmu." jawab Rafa sambil tersenyum tipis.


'Deg deg deg' jantung Larina berdebar kencang, suasana disekitarnya terasa berbeda. Dapat Larina rasakan kedua tangan Rafa bergetar saat mengikat gelang tersebut,


"Nah, sudah." ucap Rafa.


Larina memandangi gelang yang terikat di pergelangan tangannya itu, kemudian ia tersenyum lagi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Terimakasih," ucapnya lirih.

__ADS_1


Rafa hanya tersenyum kemudian mengelus pucuk kepala Larina. Seketika wajah Larina terasa panas, tubuhnya pun ikut bergetar.


"Tidak perlu bersujud padaku nantinya," canda Rafa yang menimbulkan senyum di bibir Larina.


"Siapa juga yang mau bersujud, wlee." timpal Larina sambil memasang wajah mengejek dan menjulurkan lidah.


Keduanya tertawa kecil kemudian lanjut mencari wahana lainnya.


"Aku melihat sisi lain Rafa secara langsung," batin Larina.


***


Singkat cerita, waktu menunjukkan pukul 21:00, Rafa dan Larina memutuskan untuk pulang karena sudah hampir larut malam untuk ukuran anak sekolahan seperti mereka


Pukul 21:30, mereka tiba di rumah Larina.


Larina turun dari mobil dan diikuti Rafa, terlihat di depan rumah sudah ada Ayah Larina yang menunggu kedatangan Larina.


"Maaf, kami keluar terlalu lama." ucap Rafa ramah.


"Iya tidak apa-apa, asalkan Puteriku selamat sampai dirumah dan tidak ada kekurangan apapun."


Larina tersenyum


"Ayo masuk dulu," ajak Ayah Larina.


"Maaf, lain hari saja, Om. Ini sudah hampir jam 10 malam, dan juga Ibu saya sendirian di rumah." tolak Rafa


"Baiklah kalau begitu. Terimakasih, ya."


"Sama-sama, Om."


"Terimakasih, ya." ucap Larina.


"Sama-sama. Aku pamit dulu."


Larina mengangguk.


"Hati-hati."


"Hati-hati."  ucap Larina dan Ayahnya bersamaan tanpa sengaja, mereka saling menatap kemudian tertawa kecil karena bisa bersamaan mengucapkan kata-kata itu


Rafa mengangguk, ia segera masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumah Larina. Setelah mobil itu tidak lagi terlihat, Larina dan Ayahnya masuk ke dalam rumah dan mendapati Ibunya duduk di ruang sofa.


"Bawa apa dari luar?" tanya Ibu Larina sambil memainkan kuku tangannya.


"Nih," ucap Larina sambil menyodorkan dua kantong plastik.


"Hanya martabak dan apel?" tanya Ibu Larina meremehkan, ia meletakkan kantong plastik itu ke meja.


"Itu yang pakai daging sapi dan bukan yang biasa, harganya 50.000 lebih untuk satu itu saja. Itu apel juga yang mahal."


"Anak orang kaya kok cuma memberikan itu." Ibu Larina bangkit dari duduknya, ia melangkah pergi.


Namun tidak berselang lama ia kembali dan mengambil kantong plastik berisi buah apel. Ayah Larina menghela napas. Larina menyodorkan kantong plastik lainnya pada Ayah Larina.


"Ini untuk Ayah,"


"Sampaikan terimakasih padanya, Nak. Harusnya tidak usah repot-repot begini." ucap Ayah Larina sambil menerima kentong plastik dari tangan Larina

__ADS_1


"Nanti aku sampaikan, ya. Tadi sudah aku larang soalnya aku pun tidak mengeluarkan sepeser pun uang tadi. Tapi dia tetap dengan keputusannya untuk membeli sesuatu untuk kalian berdua."


__ADS_2