
πJam up pukul 20:00 - 23:00 WIB
πEps ini di up pukul 20:55 WIB (09-Feb-2023)
πππ
Jam pertama, mapel penjaskes. Seusai berganti seragam olahraga, para siswa/i kelas XII A kembali ke kelas.
"Sesuai kesepakatan kita minggu lalu, hari ini kita praktek Bulutangkis, ya!" ucap sang Guru
"Iya, Pak."
"Sekarang kita menuju lapangan olahraga." lanjutnya.
****
Di lapangan olahraga. Setelah Net dipasang, dua siswi maju sesuai urutan di absen.
"Oke, posisi kaki di perhatikan." seru sang Guru.
"Posisi pegang raketnya juga diperhatikan." lanjutnya sambil memperhatikan posisi tubuh kedua anak didiknya tersebut.
"Siap?!"
"Siap, Pak!" jawab mereka berdua bersamaan.
"Mulai."
***
Giliran Rafa yang maju bersama temannya, dengan wajah dinginnya, Rafa memposisikan dirinya sambil bersiap menerima aba-aba untuk memulainya.
"Haiihh, ganteng banget gak sih."
"Iya, tapi cuek."
Semua siswi kelas XII A bersorak saat Rafa mulai mengayunkan raketnya untuk memukul Kok atau shuttlecock-nya. Hanya Larina yang menonton sambil tersenyum dan tetap tenang.
***
"Oke, sekarang Larina dan Nana." tutur sang Guru.
Larina dan Nana pun segera maju dan masuk ke area, Larina bersiap menerima Kok dari Nana. Nana dengan tatapan tajam memandangi tubuh Larina untuk menjadi tempat sasaran Kok nantinya.
"Tatapan yang tidak enak," batin Larina.
"Siap?"
"Siap, Pak!"
"Mulai."
Nana mulai melakukan servis, awalnya biasa saja dan Larina pun menangkisnya dengan baik, namun ketika di pertengahan Nana tersenyum licik, ia menjalankan aksinya. Nana memukul Kok dengan keras dan diarahkan ke kepala Larina, Larina dengan tangkasnya menangkis dan memukul balik lebih keras dari Nana, Nana yang terkejut atas serangan balik tersebut tidak sempat menghindar karena kecepatan Kok dari Larina, Kok berhasil mengenai dahi Nana.
"Aaaww!" pekik Nana setelah Kok mendarat sempurna di dahi mulusnya.
"Stop!" ucap sang Guru untuk menghentikan kegiatan Larina dan Nana.
__ADS_1
"Beh, pedih gak tuh,"
"Nyut palingan mah,"
"Kupikir Larina tidak bisa memukul sekeras itu." Ujar teman-temannya yang lain.
Sang Guru menghampiri Nana, Larina tersenyum dan dengan wajah santainya ia ikut menghampiri Nana.
"Maaf," ucap Larina sambil tersenyum.
Sang Guru memeriksa dahi Nana, sapat dilihat dahi Nana sedikit memerah.
"Larina, kamu sengaja kan?!" tuduh Nana.
"Dia sengaja, Pak." lanjutnya.
"Loh, yang mulai duluan siapa? Aku kan hanya bertugas mengembalikan Kok kepada lawan." jelas Larina.
"Tapi aku tidak memukul sekeras dirimu tadi, kau juga mengarahkan ke kepalaku, kan?!"
"Itu sih dirimu saja yang tidak bisa menghindar." bantah Larina.
"Sudah, sudah." sang Guru melerai keduanya.
"Nana, kalau terasa sangat sakit, segera bawa ke UKS." tutur sang Guru.
"Iya, Pak."
Sambil memegangi dahinya yang berdenyut keras dan mulai memanas, ia berjalan keluar dari lapangan.
"Rafa, bisa antar aku ke UKS?" tanya Nana sambil memasang wajah memelas.
"Edo, tolong antar Nana ke UKS." Rafa malah melemparnya kepada temannya.
"Oh, oke." Edo pun setuju, ia bangkit dari duduknya dan bersiap mengantar Nana.
"Tidak usah! Aku bisa sendiri." tolak Nana.
"Loh, katanya mau diantar?" tanya Edo.
"Aku maunya sama Rafa, bukan denganmu! Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan!" jawab Nana dengan kesalnya, ia pun melanjutkan langkahnya dengan emosi yang meluap-luap.
"Dih, naji*s!" umpat Edo, ia kembali duduk.
Setelah itu sang Guru melanjutkan prakteknya dan mempersilahkan dua orang maju, Larina kembali ke tempat duduknya yang ada di depan Rafa.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Rafa dengan berbisik.
Larina mengangguk dan mengacungkan jempolnya.
πππ
Jam istirahat.
Larina mengambil kotak bekalnya dan meletakkannya di meja.
'Ting' suara notifikasi pesan.
__ADS_1
Larina membuka pesan tersebut dan berisikan pesan dari Rafa.
"Aku tunggu di atap sekolah."
"Oke." Balas Larina, setelah itu ia pergi ke atap sekolah sambil membawa bekalnya.
***
Di atap Sekolah...
Larina membuka pintu dan menutupnya kembali.
"Sudah lama disini?" tanya Larina sambil menutup pintu.
"Tidak juga." jawab Rafa.
Mereka berdua duduk bersilah sambil bernaung. Larina membuka kotak bekalnya, Rafa juga demikian.
"Masak sendiri?" tanya Rafa.
"Tidak. Ayah yang masak," jawab Larina. Ia menghirup aroma lezat makanan yang ia bawa itu.
Rafa memperlihatkan bekalnya.
"Wah, kau sangat suka sayur ya?" tanya Larina.
"Tidak juga. Ini mau ku bagi denganmu. Ini adalah menu kesukaan Ayahku." jawab Rafa.
Larina tersenyum.
"Oke, aku mau seladanya. Kau juga harus mencoba masakan Ayahku yang ini."
"Iya."
Mereka mulai menyantap makanannya.
"Bagaimana rasanya jadi dirimu yang sekarang ini?" tanya Rafa di sela-sela makannya.
"Maksudnya?"
"Ya dengan tubuh yang sekarang. Kan sekarang sudah banyak yang mengejarmu."
"Kau cemburu?" tanya Larina.
"Tidak." jawab Rafa yang sudah jelas berbohong.
"Dia ini memang tidak peka," batin Rafa
"Hati-hati loh, nanti aku diambil orang." goda Larina.
"Hm."
"Bagaimana ya menjelaskannya? Dengan tubuhku yang saat ini, aku lebih merasa di hargai sih. Aku senang karena aku dikenal karena prestasiku, dan hal itu bertambah ketika aku bisa memiliki tubuh yang seperti saat ini. Aku merubah tubuhku bukan semata-mata ingin mencari perhatian orang-orang atau haus pujian, tapi untuk kesehatanku dan juga agar aku tidak lagi ditindas." ungkap Larina sambil kembali memasukkan makanannya ke dalam mulut.
"Masih mau lebih kurusan?" tanya Rafa.
"Iya, sedikit lagi." jawab Larina.
__ADS_1
"Kau terlihat tidak suka. Ada sesuatu yang kau pendam?" tanya Larina.
Rafa menggeleng. Ia melanjutkan makannya dan membagi sayurnya kepada Larina.