
Larina udah libur semester nih, authornya jadi pengen ikutan libur π Kira-kira selama libur sekolah Larina ngapain ya? Kalian penasaran? Sama, aku jugaπ
πππ
Hari libur pertama.
Larina membuka matanya saat merasakan sinar mentari pagi menyapanya, ia mengucek matanya perlahan, sembari menunggu kesadarannya terkumpul ia menarik dirinya dari dahsyatnya daya tarik gravitasi dari bantalnya, ia duduk sambil sesekali menguap kecil.
"Hari libur ya?" gumamnya pelan, suaranya masih serak.
Setelah dirasa nyawa dan kesadarannya sudah berkumpul, Larina segera bergegas membersihkan diri. Setelah mandi, ia pergi ke dapur dan melihat Ibunya yang sedang memasak telur ceplok.
Tanpa banyak bicara, Larina mengambil piring dan meletakkannya disamping Ibunya, ia juga membawa nasi yang baru matang ke meja makan. Ibu Larina terlihat biasa saja.
Tak disangka, Ibu Larina hanya menceplok telur untuk dirinya sendiri. Larina mengatur napasnya, ia segera pergi ke dapur. Ia mengambil telur di kulkas, ia juga mengambil buncis dan juga 3 buah labu siam.
Langkah selanjutnya, Larina membersihkan dan memotong serong buncis tadi. Ia juga mengupas tipis kulit labu siam kemudian ia memotongnya menjadi 6 bagian. (Gak tau nama potongan labu siamnya, kalau aku udah praktek nanti aku sertakan fotonya di bab selanjutnya aja yaπ )
Setelah selesai urusan potong-memotong, Larina mengambil panci dan mengisi air secukupnya, setelah mendidih, ia memasukkan labu siam yang telah ia potong tadi. Selang beberapa menit, si buncis ikut menyusul.
Menunggu sayur yang ia rebus matang, Larina mengambil kacang tanah dan menggorengnya hingga matang, ia mengambil cobek dan meletakkan beberapa bumbu seperti cabai rawit, garam, penyedap rasa dan sedikit gula merah. Setelah kacang gorengnya di tiriskan, ia menyatukannya dengan bumbu-bumbu tadi dan menguleknya hingga halus. Selesai dengan bumbu kacangnya, Larina meniriskan buncis dan labu siam tadi kemudian diletakkan di cobek itu langsung.
Lanjut Larina memasak telur dadar. Setelah siap, Larina membawanya ke meja makan.
"Siapa yang suruh kamu buat beginian?" Ibu Larina tidak suka.
"Kan ini belanjanya pakai uangnya Ayah." jawab Larina, ia duduk di kursi sambil menunggu kedatangan Ayahnya.
Tidak lama kemudian Ayah Larina datang sambil membawa kantong plastik berisi ikan segar.
"Ayah darimana?" tanya Larina.
"Ada urusan tadi. Ini Ayah beli ikan,"
Larina langsung mengambil alih kantong plastik itu dan membawanya ke dapur. Larina kembali dari dapur dan duduk di sebelah Ayahnya.
"Ayo sarapan, Larina sudah masak ini untuk Ayah." sambil tersenyum.
"Eh? Masakan sendiri?"
Larina mengangguk.
__ADS_1
"Wah, Ayah penasaran sama rasanya."
"Ayo di cicipi, nanti kasih tau kalau ada yang kurang."
Ibu Larina membuang muka.
"Sambal kacangnya enak," puji Ayah Larina.
"Waahhh! Terimakasih, heheh."
"Bu, cicipi ini." sambil menyodorkan cobek berisi sambal kacang.
"Aku tidak selera." tolak Ibu Larina, ia memilih makan dengan lauk telur ceplok yang ia buat sendiri tadi.
Larina menarik cobek itu ke hadapannya.
"Ya sudah," ucap Larina sambil menikmati makanannya.
Selesai sarapan, Larina langsung membersihkan ikan yang dibawa Ayahnya tadi. Ayah Larina terkejut melihat Larina yang sedang membelah perut ikan-ikan itu dan mengeluarkan isi perutnya.
"Nak, kamu bisa melakukan itu?" tanya Ayahnya.
"Bisa dong!"
"Minta tolong apa?"
"Tolong nyalakan krannya, tadi lupa."
Ayah Larina memutar kran air dan melihat tangan lincah Larina membasuh ikan-ikan itu.
"Ayah ingin ikan ini dimasak bagaimana?" tanya Larina.
"Biarkan Ibumu saja, Nak."
"Tidak mau. Aku mau masak sendiri."
Ayah Larina menautkan alis.
"Maksudnya, Puteri Ayah ini ingin belajar masak, jadi nanti ikan ini aku yang akan memasaknya."
Ayah Larina tidak menjawab.
__ADS_1
"Kan memasak itu adalah basic skill untuk bertahan hidup. Jadi aku harus bisa masak walaupun tidak pintar memasak." imbuh Larina.
"Eemmm benar juga. Terserah Anak Ayah ini saja mau dimasak bagaimana."
"Oke, siap! Nanti malam kita akan makan ikan,"
Ayah Larina tersenyum.
Sore harinya, Larina mengenakan setelan baju olahraga dan juga sepatu. Sambil mendengar musik melalui earphone, Larina lari santai mengelilingi rumahnya, setelah dirasa cukup, ia lanjut mengelilingi lingkungan tempat tinggalnya.
Ia senang karena baju yang ia kenakan terasa sedikit longgar, tidak seperti sebelumnya. Setelah 2 jam berlalu, Larina bergegas pulang untuk memasak ikan tadi pagi.
Sesampainya di rumah, ia disambut tatapan tidak enak dari Ibunya, Larina mengendikkan bahunya dan bersikap bodo amat. Ia segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
***
Larina melangkah santai menuju Dapur sambil bersenandung kecil. Sesampainya di dapur ia mendapati Ibunya tengah memasak beberapa lauk. Tanpa banyak bicara, Larina mengambil ikan yang sudah ia bersihkan tadi. Ia menyiapkan bumbu-bumbu yang di perlukan.
Ibu Larina melirik ke arah Larina dengan tatapan heran.
"Sejak kapan kamu bisa memasak?" tanya Ibu Larina.
"Sejak kapan ya? Sejak tadi pagi. Mungkin," jawab Larina sambil memotong daun bawang merah.
Setelah semua bumbu siap, Larina menggoreng ikannya sebentar saja. Setelah ikan ditriskan, Larina memasukkan bumbu halus ke minyak yang sudah panas, setelah bumbu dirasa matang, ikan tadi menyusul.
"Nah, sudah matang!" ucap Larina sambil memindah ikan yang ia masak tadi ke piring.
Malam harinya...
Larina memandangi pantulan dirinya di cermin, ia menyentuh kulit wajahnya. Ia memperhatikan jerawat dan bekasnya yang masih belum hilang.
"Heeemm,"
Tangannya terus menghitung jumlah jerawat yang sedang nongkrong di wajahnya, tiba-tiba kegiatannya berhenti. Ia teringat dirinya saat di dunia aslinya, biasanya ia akan heboh ketika ada 1 jerawat yang datang berkunjung, namun kali ini ia malah dikunjungi jerawat se-RT.
"Aku sudah berapa lama ya disini?" gumamnya lemas.
"Aaaarrghhhh tidak adakah sedikit petunjuk agar aku bisa pulang? Aku ingin pulang sebentaaaaarrr saja, setelah itu aku akan kembali kesini untuk menyelesaikan misiku."
"Ya, kuharap ada jalan keluar."
__ADS_1
"Tunggu, apakah ketika aku berhasil menyelesaikan misiku maka aku bisa kembali ke duniaku?! Tapi tidak ada petunjuk apapun, huufftt."
"Aku rindu pekerjaanku, hihi." Larina tertawa pelan, namun disudut matanya mengalir air mata.