
Jam istirahat pun tiba. Larina yang merasa lapar segera menuju ke kantin Sekolah sendirian.
"Ke kantin?" tanya Bella.
"Iya. Kenapa?"
"Ayo ke kantin bersama." ajak Bella.
"Emm, maaf ya. Aku sedang ingin sendiri saat ini."
"Sedang malas bersama dengan orang yang bermuka dua." batin Larina
"Ada masalah kah? Kenapa kau terus menghindar dariku? Apa aku punya salah?" Bellla berdiri
"Ada, tapi ya sudahlah. Aku sedang malas membahasnya. Aku ingin sendiri dulu. Duluan ya," Larina melangkah keluar dari kelas menuju Kantin Sekolah.
"Emmmm sudah lama rasanya aku tidak makan bakso. Terakhir makan Bakso itu saat aku akan ada rapat bersama si bos saat aku masih di Duniaku." gumamnya sambil terus melangkah
☘ Di Kantin Sekolah☘
"Bu, bakso 1 porsi. Baksonya 2 biji saja, banyakin sayur hijau sama tougenya."
"Siap."
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya makanan yang dipesan Larina sudah datang.
"Terimakasih," ucap Larina ramah, kemudian ia duduk di salah satu bangku yang kosong.
Larina tersenyum sambil menghirup aroma kuah bakso panas di depannya.
"Dengan begini, aku tetap bisa makan bakso walaupun hanya 2 biji." ucapnya sambil menyeruput kuahnya.
"Hemm, aku kurang suka sayur. Tapi demi menghilangkan lemak bandel di tubuh ini, aku harus makan sayur." lanjutnya.
Asik menikmati makanannya, Safina, Lila serta Nana datang menghampiri Larina. Masing-masing dari mereka membawa botol minuman.
Larina menghela nafas kasar.
"Ada perlu?" tanya Larina saat mereka bertiga duduk di meja yang sama dengan Larina
"Lah, memangnya ini kantin milikmu? Suka-suka kami dong mau duduk dimana." bela Nana
"Hem. Terserah lah." Larina melanjutkan makannya.
Larina melirik ke arah Nana yang duduk di hadapannya dan mendapati Nana menatapnya datar. Instingnya mengatakan ia akan membuat ulah. Larina memandangi mereka bertiga yang duduk di bangku dengan posisi berhadapan dengan Larina, ia menyadari sesuatu.
Larina melirik ke arah bawah dan melihat kaki Nana sedikit lagi akan mencapai kursi yang ia duduki.
"Haaacchiiihhh!" (Suara bersin)
Larina pura-pura bersin dan di arahkan pada kaki Nana yang ada dibawah,
"Iyuuuuuuwww" dengan wajah jijik Nana menarik kakinya.
__ADS_1
"Jorok banget, sih!" Safina berdiri di ikuti Nana.
Kesal dengan apa yang dilakukan oleh Larina, Nana berniat menendang meja agar bakso Larina tumpah. Nana mengangkat kakinya dan bersiap menendang meja, namun sayangnya Larina telah siap menghadangnya. Kaki mereka beradu namun dengan tenaga Larina yang lebih besar.
"Awwww!"
"Kenapa, Na?" Tanya Safina yang melihat Nana meringis kesakitan
"Tidak ada. Ayo pergi dari sini. Muak aku liat wajah cewek buluk."
"Hu'um, ayo." sahut Lila.
Larina menjulurkan lidah pada mereka bertiga, setelah mereka keluar dari kantin, Larina tertawa kecil.
☘☘☘
Sore hari. Pukul 16:00
Larina mengikat tali sepatunya sambil duduk di teras rumah. Setelah selesai ia melakukan gerakan-gerakan pemanasan. Setelah dirasa cukup ia berlari-lari kecil di tempat sampai dirasa tubuhnya memanas. Dilanjut dengan Larina jogging mengitari rumahnya.
"Eh, lagi olahraga ya?" tanya tetangga yang lewat di samping rumahnya.
"Iya, nih. Mampir dulu, Bu?" dengan senyuman ramah.
Senyum Larina memudar saat mendengar perkataan tetangganya itu.
"Heheh enggak deh makasih. Lucu ya kamu, lari-lari begitu pipinya mental sana-sini."
"Oh, iya. Makasih, Bu. Pipi saya memang menggemaskan, beda sama yang kempong-kempong tenggelam gitu."
"Nih, kalau pipi tembem berisi itu gemoy, kenyal-kenyal, menggemaskan," Larina menoel pipinya sendiri.
"Kurang ajar ya kamu itu. Gendut banyak tingkah, tidak punya sopan santun sama yang lebih tua"
"Jangan karena anda lebih tua dari saya, jadi anda bisa seenaknya berkata ini itu. Orang itu kalau mau di hargai ya menghargai dulu. Sepertinya juga Anda ini selalu mencibir hal-hal yang ada di sekitar anda, memangnya mau di musuhin tetangga yang lain kah?"
Tetangganya itu mendengus sebal, ia membuang muka lalu melangkah pergi.
"Lah?" Larina terkekeh
Larina melanjutkan joggingnya hingga matahari mulai terbenam. Setelah selesai ia segera membersihkan diri dan membantu Ibunya untuk menyiapkan makan malam.
Malam hari, pukul 20:00
Selesai membaca buku materi besok pagi, Larina membuka lemari dan mencari sesuatu.
"Hemm, seingatku Larina menyimpan Hp-nya yang rusak di dalam lemari sih." sambil mengangkat beberapa pakaian dan dikeluarkan dari lemari
"Eemmm baju putih, rak paling bawah, paling pojok." ia mengangkat beberapa pakaian lagi
"Nah!" Seperti menemukan harta karun, ia girang menemukan Hp Larina asli.
Larina mengambil Hp nya yang telah mati itu dan kembali meletakkan pakaiannya ke dalam rak lemari dengan rapi. Larina duduk di tempat tidur sambil memperhatikan Hp di tangannya itu.
__ADS_1
"Apa bisa ku perbaiki ya?" gumamnya.
Larina mencoba menekan tombol power Hp-nya namun tidak menyala. Ia membuka backdoornya (tutup belakang hp) lalu mencopot pasang baterainya, namun kembali Hp di tangannya tetap tidak bisa menyala. Larina menghela nafas lalu beranjak dari kasur untuk mencharger Hp-nya.
"Astaga, mati total? Haiihh." Larina menghela nafas saat Hp-nya tidak kunjung menyala bahkan saat di charger pun tidak bereaksi.
"Bagaimana ya? Aku juga butuh Hp pula."
Larina merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil memandangi langit-langit kamarnya.
"Biasanya aku menghilangkan penat pikiran dengan melihat video-video lucu. Nah, sekarang?" Larina memejamkan mata sambil terus memikirkan bagaimana caranya ia bisa memiliki Hp di Dunia barunya ini.
Setelah pusing memikirkan cara, Larina akhirnya menemukan titik terang.
"Minta saja pada Ayah, hihi." Larina bangkit dari tempat tidur dan segera keluar dari kamar. Ia berjalan santai menuju Ayahnya yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton Televisi.
"Ayah," panggil Larina, lalu ia duduk di lantai disamping Ayahnya.
"Iya, Nak? Kenapa kamu duduk di bawah?"
"Heheheh, tidak ada apa-apa. Ayah capek tidak? Mau Larina pijit kakinya?" Sambil tersenyum
Ayah Larina tersenyum.
"Mau minta apa?"
"Wow! Peka!" batin Larina
"Begini, HP Larina rusak, Yah. Itu mati total. Larina butuh Hp sebagai penunjang belajar dan untuk menjadi sarana ketika Larina stress."
"Uang terus!" Ibu Larina datang dan duduk di samping Ayah Larina.
"Bu, kan itu bukan untuk main-main." bela Ayah Larina dan disambut anggukan dari Larina.
"Hem, boros tau."
"Jadi bagaimana, Yah?" tanya Larina yang mengabaikan Ibunya.
"Kapan butuhnya?"
"Kapanpun bisa. Tapi Larina harap secepatnya."
"Besok, ya."
Mata Larina berbinar.
"Serius?" tanya Larina tidak percaya
"Iya. Besok Ayah ambil di ATM dulu."
"Waaaahh! Terimakasih banyak!" Larina spontan memeluk kaki Ayahnya.
"Sama-sama." Ayah Larina mengelus kepala Larina
__ADS_1
"Hem, di manja terus." protes Ibu Larina
"Iri bilang dong," batin Larina.