
πππ
Hari minggu pun tiba.
Larina baru saja pulang dari tempat Service Hp, ia sedih karena Hp nya tidak bisa lagi di perbaiki. Larina mengembalikan semua uang biaya service Hp yang diberikan oleh Ayahnya.
Larina masuk ke kamar dan duduk di meja belajar sambil melihat kalender dan baru ingat hari ini adalah tanggal 16 Oktober.
"Besok hari ulang tahun Larina, ya?" gumamnya.
"Dan besok juga hari ulang tahunku," lanjutnya.
Ia membulatkan mata,
"Sebentar, aku baru sadar bahwa ulang tahun kami di tanggal yang sama!" mulut Larina menganga.
17 Oktober, hari lahirnya Larina. Hari dimana ia harusnya tidak lahir setelah Ibunya beberapa kali mencoba menggugurkan kandungannya.
Larina berjalan dan memangku wajah di jendela kamarnya, ia melihat langit sore hari yang indah.
"Aku harus bergerak lebih cepat. Siapa tau setelah aku menyelesaikan misiku maka aku bisa kembali ke dunia asliku." ucapnya.
"Heeemm, apa aku coba minta kado pada Ayahnya Larina, ya?"
****
"Ayah," panggil Larina
Ayah Larina yang baru keluar dari kamar menoleh.
"Belum tidur? Sudah jam 10 malam loh. Besok kan harus sekolah."
Larina menggeleng pelan.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
Larina mengangguk.
"Ayah, besok hari apa?"
"Hari senin." jawab Ayah Larina santai
"Tanggal berapa besok?"
"Eeemmmm tanggal berapa ya? Sebentar Ayah lihat kalender." Ayah Larina berjalan ke ruang keluarga dan melihat kalender uang ada di meja.
"Besok tanggal 17, nak. Ada apa? Apa kamu besok ada acara di sekolah?"
"Ayah tidak ingat ada hal penting apa besok?" tanya Larina sedikit kecewa.
"Apa ada undangan ke sekolah kamu dan Ayah melupakan hal itu?"
Larina menggeleng.
"Masa Ayah lupa sih," rengek Larina
"Haduh, Ayah benar-benar tidak ingat. Apa kamu ada acara penting di sekolah? Maafkan Ayah. Mana surat undangannya?"
Larina menekuk wajahnya, ia menggembungkan pipi dan pergi meninggalkan Ayahnya.
"Nak?" panggil Ayahnya.
"Tidak ada apa-apa, Ayah. Aku ke kamar dulu." Larina melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Larina menutup pintu kamar, ia duduk di tepi tempat tidurnya.
"Haiiisshhh! Beginikah rasanya kalau orang dekat tidak tau hari pentingku?"
"Menyebalkan. Tidak peka!" Larina mengambil bantal dan memukulinya.
***
Karena kesal dan kecewa, Larina tidak bisa tidur. Jam menunjukkan pukul 23:40. Larina menghela nafas.
"Heeemm, oke besok sekolah. Aku harus tidur karena sudah larut malam." Larina membetulkan posisi bantalnya.
'Tok tok tok' terdengar suara ketukan pintu.
"Eh? Siapa yang mengetuk pintu kamarku malam-malam begini? Apa Ayah?" gumamnya.
'Tok tok tok'
Larina tidak menjawab, ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
'Ceklek'
"Happy BirtdDay!!!" seru Ayahnya saat Larina membuka pintu kamarnya.
Larina terdiam karena terkejut melihat Ayahnya membawa Kue Tart yang indah dan Ibunya berdiri di belakang Ayah Larina dengan sambil memasang wajah malas, namun Larina tidak mempedulikan Ibunya itu.
"Ayah?!" tangan Larina menutup mulutnya, ia tersentuh.
"Selamat Ulang Tahun Anakku." ucap Ayahnya sambil tersenyum.
Larina memejamkan mata sambil mengucap beberapa doa dalam hatinya, kemudian ia meniup lilinnya.
"Aku kira Ayah lupa besok hari apa."
Mereka bertiga masuk ke kamar Larina, Larina mulai memotong kuenya. Suapan pertama ia berikan pada Ibunya namun Ibunya dengan malas mengambil kue yang ada di tangan Larina dan menyuapi dirinya sendiri. Larina menghela nafas, ia mengabaikan hal itu dan kembali memotong kue dan menyuapi Ayahnya.
"Sudah kan ya? Aku mengantuk." Ibu Larina berdiri dan pergi keluar dari kamar Larina
Ayah Larina menyentuh tangan Larina,
"Ibumu hanya kelelahan."
Larina tersenyum kecut.
"Ayah makan lagi ya kuenya?"
Larina mengangguk, dengan semangat ia kembali memotong kue dan memberikannya kepada Ayahnya.
"Terimakasih," ucap Larina menitikkan air mata
"Hikss, aku jadi rindu Ayahku yang sudah meninggal," batin Larina.
Air mata Larina mengalir deras, Ayah Larina terkejut. Ia meminggirkan kuenya dan memeluk Larina.
"Maaf, ya. Kamu pasti sedih gara-gara tadi Ayah pura-pura tidak ingat hari ulang tahunmu."
Larina mengangguk pelan.
"Aku juga merindukan kedua orang tuaku yang sudah meninggal," batin Larina
"Terimakasih," ucap Larina sesenggukan
"Hiksss, aku rindu kalian berdua! Kalian apa kabar di alam sana?" lanjutnya
__ADS_1
Ayah Larina melepas pelukannya, ia menyeka air mata di wajah Larina.
"Maaf telah mengerjaimu, Nak." ucap Ayah Larina
Larina mengangguk, ia membayangkan di depannya adalah Ayah Kandung di dunia aslinya yang telab lama meninggal, ia menggigit bibirnya untuk menahan tangis.
Ayah Larina mencium kening Larina, tangis Larina seketika pecah saat kecupan hangat seorang Ayah mendarat di keningnya.
"Ayaaaaaahhh!!!" Larina langsung memeluk Laki-laki hebat di depannya.
"Aku rindu kalian semua," batin Larina.
10 menit berlalu...
"Sudah, sudah. Mau sampai kapan menangisnya? Ayo makan lagi kuenya." Ayah Larina mengelap wajah Larina yang basah oleh air mata.
"Setelah makan kue, minum air hangat. Setelah itu tidur." Lanjutnya
Larina mengangguk. Tangisnya perlahan reda.
Ayah Larina memotong kue dan menyuapi Larina, Larina mengunyah kue itu dengan susah payah karena sambil menahan tangis.
"Enak kan?" tanya Ayah Larina sambil terus menyuapi Larina
Larina menagngguk, sesekali air matanya kembali menetes bersamaan dengan kue manis yang masuk ke dalam mulutnya.
"Rasanya aku ingin menetap di Dunia Novel ini agar aku tetap merasakan hangatnya sentuhan seorang Ayah." batin Larina.
Larina menyeka air matanya, ia menatap sosok Ayah di depannya itu. Larina menyentuh pipi Ayahnya.
"Ini nyata kan?" batinnya.
'Cup'
Larina mengecup pipi Ayahnya .
"Kenapa Ayah tiba-tiba ingin menangis ya?" tanya Ayahnya pada Larina.
"Itu karena Ayah merasa bersalah karena telah mengerjaiku tadi loh." Larina terkekeh di temani air mata yang tak kunjung berhenti.
"Aku merasa ada yang kurang, merasa ada yang berbeda," batin Ayah Larina.
"Iya, maaf ya. Ayah ingin mengejutkanmu saja."
"Heeeemmm jangan seperti itu ya lagi ya, Dinda kan jadi sedih." sambil menyeka sisa-sisa air mata.
"Dinda?"
"Duh, dudul!"
"Iya, Dinda. Aku ingin namaku di tambah nama 'Adinda' di belakang, heheh. Boleh, Yah?"
"Boleh-boleh saja. Memang apa alasannya?"
"Ya tidak ada sih, hanya saja aku tiba-tiba terfikir nama itu."
"Yang benar?"
Larina mengangguk.
"Kamu ini ada-ada saja. Ya sudah, setelah ini langsung istirahat ya."
"Siap!"
__ADS_1