
Keesokan paginya, di kelas XII A.
"Selamat pagi," sapa wali kelas mereka yang baru datang sambil membawa buku absensi.
"Selamat pagi, Bu."
"Bagaimana struktur kelasnya? Sudah selesai?" tanyanya sembari meletakkan absensinya di meja.
"Sudah, Bu."
"Baiklah, datanya kirim ke Ibu ya, nanti Ibu yang urus masalah mencetaknya."
"Baik, Bu."
Bu Wina mulai membuka buku absensi, saat ia membuka mulut untuk menyebut nama anak didiknya, sebuah ketukan pintu menghentikannya.
'Tok tok tok'
"Masuk," sahut Bu Wina.
Orang diluar kelas itu membuka pintu.
"Permisi, Bu." ucap orang yang tak lain adalah Bella.
"Iya, Bella. Ada apa?"
"Ada surat izin dari Nana, Bu. Dia tidak bisa hadir hari ini." Bella meletakkan surat di meja.
"Oh, baiklah."
Setelah itu Bella meninggalkan kelas XII A. Larina sedikit bingung.
Jam mata pelajaran pertama berlalu, beralih ke jam kedua, mata pelajaran Penjaskes.
"Baik, untuk pertemuan kita yang pertama ini, kita langsung ke lapangan saja." ucap gurunya.
Di lapangan sekolah.
Semua siswa-siswi kelas XII A telah berganti pakaian dengan satu set kaos olahraga. Larina menelan ludah melihat lipatan lemak di perutnya yang masih berkurang sedikit.
"Ada apa?" tanya Rafa, ia berdiri disamping Larina.
"Tidak apa-apa." Larina tersenyum.
"Baik, rentangkan kedua tangan kalian. Jangan bersentuhan."
"Kita pemanasan dulu. Ikuti gerakan saya."
"Iya, Pak!"
Usai pemanasan, mereka diminta untuk lari-lari kecil memutari lapangan sebanyak 3 kali.
Namun dalam situasi dan kondisi saat ini, Larina sedikit malu karena menjadi pusat perhatian saat dirinya berlari, hal tersebut dikarenakan lemak perut Larina yang bergoyang.
Melihat raut wajah Larina yang tidak nyaman, Rafa memperlambat larinya, ia berlari disamping Larina.
"Kenapa mundur?" tanya Larina.
"Tidak apa-apa."
"Terimakasih,"
Rafa tidak menjawab. Setelah hampir 1 jam, kelas berakhir. Siswa-siswi kelas XII A memilih duduk di lapangan karena lelah, namun juga ada beberapa yang memilih langsung ke kantin atau ke tempat yang lain.
"Ke kelas?" tanya Larina pada Rafa.
"Nanti saja."
"Baiklah, aku ke kelas dulu. Mau ambil minum."
Rafa mengangguk.
Larina bergegas menuju kelas untuk mengambil air minum yang ia bawa sendiri.
"Lah, kelasnya kosong." gumam Larina sembari membuka pintu kelas.
"Gerah sekali," sambil mengipasi wajahnya menggunakan tangannya.
Larina terkejut melihat ada sesuatu di laci mejanya, ia berjongkok dan mengambil barang tersebut dan tanpa ia sadari ada secarik kertas terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Botol minum? Kotak bekal? Punya siapa, ya? Apa dia salah bangku?"
Larina meletakkan botol berisi air minum serta kotak bekal tersebut di atas meja.
"Masa salah bangku? Kan disini sudah jelas-jelas ada tas milikku."
'Ceklek' suara pintu yang terbuka.
Larina spontan melihat ke arah pintu kelas.
"Ada apa? Kenapa lama?" tanya Rafa.
"Ini, ada minuman dan juga makanan di laci mejaku. Aku tidak tau ini milik siapa."
Rafa berjalan ke arah Larina.
"Apa ini milikmu?" tanya Larina.
"Tidak. Aku tidak bawa bekal."
"Ooh, ini milik siapa, ya? Kenapa ada disini."
Rafa melihat ada kertas di lantai, ia lekas mengambilnya dan di kertas itu ada sebuah pesan.
"Mungkin ini dari penggemarmu." ucap Rafa kemudian menyerahkan secarik kertas itu pada Larina.
"Apa iya?"
"Bisa jadi. Dia menulis pesan seperti itu."
*Larina, ini makanan dan minuman untukmu, konsumsi setelah kelas olahraga ya. Semoga kau menyukainya*
"Tapi dari siapa ya?"
"Aku jadi takut untuk memakannya," batin Larina
"Apa kau takut makanannya dicampur racun?" tanya Rafa.
"Eh, kok??"
"Ya wajar saja kalau merasa seperti itu. Sini, biar aku yang mencobanya lebih dulu."
Rafa mengambil alih kotak bekal makanam tersebut dan membukanya perlahan. Didalamnya berisi sedikit nasi, daging dan banyak sayuran.
Larina menggigit bibir bawahnya.
"Biar aku saja yang memakannya!" Larina mengambil kembali kotak bekal makanan tersebut.
"Tidak apa-apa, kau kan takut kalau makanan ini beracun."
"Kalau makanan ini benar beracun, nanti kau kenapa-napa." timpal Larina.
Untuk beberapa saat mereka berebut makanan tersebut dan di menangkan oleh Rafa yang meletakkan makanan itu di dalam lemari kelas dan ia menghadang pintunya.
"Sudah ku katakan, aku saja."
"Aku saja!"
***
Pada akhirnya Rafa yang lebih dulu menyicipi makanan tersebut. Rafa memasukkan sesendok sayur ke dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan.
"Tidak ada yang aneh." gumamnya pelan, kemudian ia menelan makanan yang telah ia kunyah itu.
"Kalau ada apa-apa jangan salahkan aku ya, aku sudah melarangmu loh."
Rafa hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Larina.
"Aku baik-baik saja. Makanannya tidak beracun." ucap Rafa, ia meletakkan sendok nya diatas makanan tersebut dan memberikannya pada Larina.
Larina terdiam,
"Sendoknya kenapa diletakkan diatas makanannya?" Larina menelan ludah.
"Memangnya kenapa? Jijik dengan bekas air liurku?"
Larina menatap Rafa dengan tatapan datar.
"Bukan seperti itu. Eeeee- anu, katanya itu ciuman secara tidak langsung."
__ADS_1
Dapat Larina rasakan saat ini wajahnya memanas.
"Duh, bicara apa sih aku ini?!" batin Larina.
"O-Oh, begitu ya?" Rafa tetap memasang wajah santai sambil mengambil sendoknya.
"Aku ke kantin dulu,"
"Tunggu!" cegah Larina dengan cepat. Rafa menoleh.
"Aku bawa bekal sendiri sih," ucap Larina, kemudian ia mengeluarkan bekal miliknya.
"Lalu kenapa kau mengatakan hal itu tadi?"
"Ya tadinya aku mau mencicipinya. Sekarang, makanan ini untukmu saja." Larina tersenyum lebar.
Kemudian mereka berdua makan bersama di kelas, Larina masih penasaran tentang siapa yang memberinya makanan ini.
🍀🍀🍀
Sepulang sekolah.
Ayah Larina sempat menelfon Larina dan mengatakan akan menjemputnya namun Larina menolak karena ia ingin jalan kaki.
Sekitar 3 Kilometer dari sekolah Larina, ia melihat ada jalan stapak yang belum pernah ia lewati.
"Aku belum pernah lewat disini sih. Aku penasaran jalan ini tembus kemana. Yang pasti sih tidak akan tembus ke duniaku."
Akhirnya Larina memutuskan akan mencoba melewati jalan tersebut, banyak rumah penduduk disana.
Sambil bersenandung kecil Larina terus melangkahkan kaki, ia merasa haus dan mengambil botol minum miliknya.
"Yaaaah, habis." Larina cemberut melihat botol tersebut kosong.
"Aku haus sekali,"
Larina menghela napas kemudian melanjutkan langkahnya dan berharap menemukan warung atau toko yang menyediakan minum.
"Nah!" Larina senang karena melihat ada toko grosir di pinggir kanan jalan, namun langkahnya terhenti saat ia melihat ada sebuah toko yang tidak terlalu besar dipinggir kiri jalan, namun toko tersebut terlihat kurang terurus.
Otomatis Larina memilih pergi ke toko yang berada di kiri jalan.
"Permisi,"
Larina memandangi bangunan toko tersebut, banyak debu di kacanya dan sarang laba-laba di sudut tebok.
"Permisi, mau beli-beli!"
"I-Iya" terdengar sahutan suara wanita tua dan suaranya sudah gemetaran.
Hati Larina terenyuh.
"Nek, Nenek yang punya toko ini?" tanya Larina,
Nenek tersebut keluar dari balik pintu dengan langkah tertatih dan sudah gemetar.
"Iya, Nak."
Larina lekas masuk ke toko tersebut karena melihat pemilik toko itu akan terjatuh. Larina menopang tubuh tubuh Nenek pemilik toko itu dan menuntunnya untuk duduk di kursi yang ada diluar tokonya.
"Nenek tidak apa-apa? Apa merasa pusing?" tanya Larina, Nenek tersebut menggeleng pelan.
"Nek, saya mau beli minum. Ada air putih?"
"Sepertinya ada. Coba Nenek lihat, ya."
"Biar aku saja, Nek. Nenek duduk disini saja. Aku ambil dulu ya!"
Nenek tersebut mengangguk. Larina lekas masuk ke dalam dan mencari yang ia butuhkan, kemudian ia kembali duduk bersama dengan Nenek pemilik toko.
"Ini harganya berapa, Nek?" sambil menunjuklan sebotol air minum.
"3.000, Nak."
Larina kemudian mengambil uang dari tasnya, ia menyodorkannya pada sang pemilik toko. Tiba-tiba Nenek itu menitikkan air mata saat menerima uang dari Larina.
"Nek, ada apa? Kenapa menangis? Ada yang sakit?" Larina ikut panik.
Nenek itu menggeleng pelan.
__ADS_1
"Nenek terharu." sambil menyeka air mata dengan tangan keriputnya yang sudah gemetaran itu.
"Nenek kira kamu tidak akan membayarnya seperti anak-anak lainya,"