
Waktu ujian seleksi di undur ke sore hari sepulang sekolah, tahap seleksi pun akan segera dimulai. Enam siswa kelas XI A dan XI B berkumpul dalam satu ruangan yakni di kelas XI A untuk menjalani tes seleksi agar bisa mewakili lomba Cerdas Cermat.
"Oke, ini enam orang hadir semua, ya?"
"Iya, Pak."
"Tes seleksi ini berupa ujian mengerjakan soal-soal. Sebelum kita mulai, apa ada pertanyaan?"
Doni mengangkat tangan.
"Iya, silahkan Doni."
"Saya keberatan Larina duduk di belakang. Duduk di pojok belakang seperti akan menimbulkan kemungkinan yang namanya nyontek."
Larina mengernyitkan dahi.
"Sejak kapan lah aku nyontek?" batin Larina.
"Larina ada sanggahan?" tanya Guru Matematika
"Tidak ada, Pak. Kalau begitu saya duduk di bangku sebelahnya Doni saja supaya dia yakin saya tidak melakukan kecurangan."
"Saya keberatan lagi, Pak!"
"Kenapa lagi Doni?" Guru mereka menepuk jidatnya pelan.
"Saya tidak mau dia duduk dibangku sebelah saya."
"Hilih, kalau kau menolak seperti itu berarti kau yang akan melakukan kecurangan, mangkanya kau tidak mau aku duduk dibangku sebelahmu, kan?"
"Jaga mulutmu, ya!"
Larina menjulurkan lidah mengejek Doni.
"Sudah-sudah, jangan ribut. Larina duduk dibangku sebelahnya Doni saja, jangan di pojokan."
"Siap, Pak."
Larina berganti tempat duduk ke bangku yang ada di sebelah Doni.
"Apa kau kesepian tanpa aku?"
"Najis," Doni memutar bola matanya.
Larina tertawa kecil, tanpa sengaja pandangan matanya melihat sekilas ke arah Rafa yang ada di bangku paling pinggir dekat tembok di belakang Larina.
Terlihat Rafa nampak sedikit kesal.
"Aku sampai lupa kalau dia menyukai Larina," batinnya.
Selembar kertas berisi soal matematika dibagikan, Larina melirik ke arah Doni di sebelahnya yang terlihat fokus sambil menghitung dengan rumus-rumus.
Doni pun sekilas melirik ke arah Larina, pandangan mereka bertemu dan Doni langsung membuang muka.
"Coret-coretannya Larina kenapa rapi bergitu?" batin Doni saat tidak sengaja melihat kertas khusus menghitung milik Larina yang rapi dan bersih tanpa ada coret-coretan yang menandakan ada kesalahan dalam menghitung. Di kertas itu hanya berisi rumus dan hitungannya yang langsung pada jawabannya.
Rahang Bella mengeras, tangannya mengepal saat melihat Larina duduk dibangku sebelah Doni,
"Waktu sisa 15 menit. Fokus ya,"
"Baik, Pak." jawab mereka bersamaan.
Doni sesekali melirik ke arah kertas ujian Larina, ia menelan ludah saat semua soal Larina sudah selesai tapi Larina tetap seperti sedang menulis hitungan angka-angka tersebut, tanpa ia ketahui Larina hanya menulis urutan angka karena ia gabut menunggu diakhirinya waktu tes tersebut.
15 menit berlalu.
__ADS_1
"Oke, waktu sudah habis. Kumpulkan ke depan kertas ujian kalian."
Semua peserta mengumpulkan kertas mereka ke depan kelas.
"Kalian bisa ke kantin atau beraktivitas hal lainnya tetapi belum boleh pulang karena ujiannya ini akan saya nilai langsung saat ini."
"Baik, Pak."
Larina melangkah keluar dari kelas, ia pergi ke atap sekolah. Di atap sekolah ia duduk bersandar ke tembok dan memainkan ponselnya.
Ia mengecek akun sosmednya yang mulai ramai followers dan komentar dari postingannya yang terus membanjiri laman akun sosmednya.
Larina memotret awan dan menguploadnya dengan caption; 'Aku percaya bahwa tiada Hasil yang menghianati Usaha. Terlebih lagi aku tidak sendirian, karena Tuhan selalu bersamaku dan melihat semua usahaku'
"Larina!" Panggil Bella yang muncul ke atap sekolah juga
"Aku tidak budeg, jadi panggil dengan suara biasa saja, tidak perlu dengan suara keras seperti itu,"
"Diamlah. Aku ada banyak pertanyaan untukmu,"
"Iya silahkan. Tapi tolong ya itu wajah di kondisikan, kenapa terlihat marah seperti itu."
"Kau ini kenapa sih, hah?" Bella berdiri di depan Larina,
Larina berdiri.
"Kenapa? Kenapa apanya? Aku tidak kenapa-napa."
"Kau ganjen!"
Larina mengedipkan mata beberapa kali.
"Ganjen bagaimana?"
"Memang kau siapanya dia, ya? Kalian kan tidak ada hubungan apapun, jadi dia bebas dekat dengan orang lain."
"Cih, penghianat!"
"Hei kalian berdua, kenapa masih disini? Nilainya akan di umumkan." seorang siswi dari kelas XI A menyusul ke atap sekolah.
"Oh, oke. Terimakasih informasinya," Larina mengambil tas dan melangkah pergi dari atap sekolah.
Bella membuang nafas kasar karena merasa Larina enggan menanggapi dirinya dan merasa Larina sangat berbeda dengan Larina yang dulu.
****
Di kelas.
"Baiklah, ini nilainya sudah ada. Empat dari kalian akan tereliminasi dan hanya lolos dua orang yang mana dua orang itu masing-masing mewakili kelas XI A dan XI B"
"Nilai tertinggi di raih oleh Rafa dan Larina, mereka akan mewakili kelas masing-masing, Rafa mewakili kelas XI A dan Larina mewakili kelas XI B, ya."
Bella menahan emosinya, Doni menghela nafas dan menatap Larina dengan tatapan malas.
"Terimakasih, Pak." ucap Larina tersenyum.
Rafa memasang wajah datar namun jika lebuh teliti lagi makan akan terlihat senyuman tipis di bibirnya.
"Selamat untuk kalian berdua, semoga bisa membawa kemenangan!"
Selesai melaksanakan ujian seleksi, Larina bergegas pulang. Sesampainya di rumah ia langsung disuguhi tumpukan cucian yang harus di setrika.
"Nanti ya, Bu. Larina capek."
"Tidak ada nanti-nanti, selesaikan itu sebelum malam hari. Ibu ada urusan," Ibu Larina melangkah ke luar rumah lalu menutup pintunya.
__ADS_1
Larina mengintip dari jendela dan kali ini Ibunya pergi bersama teman perempuannya.
"Hhuufftt," Larina menghela nafas. Ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum menyetrika semua cucian itu.
Malam hari...
Terdengar suara ketukan pintu,
"Itu pasti Ayah," gumam Larina sambil melipat pakaian yang sudah disetrika.
"Nak," panggil Ayahnya,
Larina menoleh, Ayah Larina terkejut melihat wajah Larina yang terlihat pucat.
"Ayah sudah pulang, ya? Mau langsung makan atau mandi dulu?" Larina berdiri dan mencabut kabel setrikanya.
"Kamu pucat sekali, kamu sakit?" Ayah Larina bertanya balik.
Larina menggeleng.
"Aku baik-baik saja, Yah."
Ayah Larina menyapu seluruh ruangan itu dengan pandangannya,
"Ibumu mana?"
Larina menghendikkan bahu.
"Kamu pasti kelelahan. Istirahatlah, biar Ayah yang melanjutkan ini."
"Tapi Ibu nanti marah," Larina memasang wajah melas.
"Tidak akan. Kamu istirahatlah. Sudah makan?"
"Sudah, Yah. Aku hanya sedikit mengantuk."
"Nah, sekarang pergilah ke kamarmu ya. Istirahat."
Larina mengangguk.
***
Larina mengurungkan niatnya saat akan membuka pintu kamarnya, ia kembali ke ruangan tempat ia menyetrika pakaian tadi. Dilihatnya Ayah Larina sedang menyetrika pakaian. Hati Larina terenyuh, ia tersenyum lalu menepuk bahu Ayahnya pelan.
"Ada apa? Bukannya Ayah sudah menyuruhmu istirahat?"
"Kita kerjakan bersama ya, Yah?" Larina tersenyum, tanpa menunggu persetujuan dari Ayahnya, ia langsung mengambil kursi dan duduk di hadapan Ayahnya.
"Larina yang akan melipat pakaiannya, Ayah yang menyetrika."
Ayah Larina sempat menolak namun Larina juga menolak untuk istirahat, pada akhirnya mereka mengerjakannya bersama-sama sesuai saran dari Larina. Sesekali Ayah Larina menceritakan hal-hal lucu dan lelucon yang menimbulkan gelak tawa diantara Ayah dan Anak itu.
***
Malam hari, pukul 21:00
Larina yang merasa sangat lelah dan akhirnya ia sudah berlayar di alam mimpi.
"Darimana saja?" tanya Ayah Larina pada Istrinya yang baru pulang.
"Ke pesta ulang tahun temanku tadi. Pakaiannya sudah di setrika semua kan?"
"Kenapa kamu bisa setega itu pada anak kita? Dia itu baru pulang sekolah loh dan kamu menyuruhnya melakukan pekerjaan itu,"
"Dulu kau melarangku menggugurkannya, jadi ya terima saja apa yang terjadi saat ini. Ribet," Ibu Larina melangkah meninggalkan Suaminya di ruang depan.
__ADS_1