Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 66 : Mulai Banyak Yang Tertarik


__ADS_3

πŸ’Jam up pukul 20:00 - 23:00 WIB


πŸ’ Eps ini di up pukul 20:05 WIB (08-Feb-2023)


***


"Mungkin rasanya sangat sakit, tapi misiku juga penting." batin Larina.


"Dan sepertinya aku pribadi juga ada sedikit rasa untuk Rafa." gumamnya.


"Astaga Adinda! Ingat, dia bocah."


***


Larina menutup pintu dan gorden, setelah itu ia mematikan saklar lampu dan masuk ke rumah.


"Sepertinya Ayah akan pasang wifi," tutur Ayah Larina sambil menuangkan air ke gelasnya.


"Ayah yakin?" tanya Larina.


"Iya, harga kuota sekarang semakin mahal." jawab Ayah Larina.


"Baiklah, aku setuju."


"Iya. Kamu tidak perlu ikut mengeluarkan uang. Biar Ayah saja."


"Tidak bisa. Aku juga ikut memakainya nanti."


Ayah Larina mendekat dan berdiri di hadapan Larina.


"Ayah tau kamu sudah punya penghasilan sendiri, tapi kamu masih tanggung jawab Ayah. Jangan keras kepala." tuturnya.


Larina menghela napas.


"Iya-iya," ucap Larina.


Larina teringat seseorang yang sering mengawasinya dari toko sebelah, kemudian ia terpikir untuk memasang CCTV juga untuk jaga-jaga.


"Ayah, aku juga mau pasang CCTV." ujar Larina.


"Baiklah."


"Aku tidak tau siapa orang itu. Apa dia pemilik toko disebelah? Apa dia yang dimaksud oleh pelangganku saat itu?" batin Larina.


"Dia pasti mengawasi tempat ini tidak hanya sekali. Aku harus berhati-hati." sambungnya.


"Kapan kita pasangnya?" tanya Larina.


"Ayah baru saja menghubungi teknisi wifi kenalan Ayah. Ditempatnya bekerja juga ada layanan CCTV, jadi bisa sekalian ambil disana saja. Mungkin besok lusa pasangnya." jawab Ayah Larina.


"Baiklah. Satu CCTV-nya diletakkan diluar, yang satu lagi di dalam."


"Iya-iya. Kamu atur saja."


Larina tersenyum, ia pergi ke kamarnya dan bersiap membersihkan diri untuk menghilangkan penatnya.


"Aku masih penasaran siapa orang itu." gumam Larina sambil melangkah masuk ke kamar mandi.


πŸ€πŸ€πŸ€


Keesokan paginya, setelah sarapan Larina langsung mengenakan sepatunya. Mendengar suara motor dari luar, Larina langsung menuju ke luar rumah di ikuti Ayahnya.

__ADS_1


Rafa hanya tersenyum simpul melihat Larina keluar dari toko.


"Pagi," sapa Larina.


Rafa hanya mengangguk. Melihat Ayah Larina yang juga ikut keluar, Rafa langsung mencium punggung tangan Ayah Larina.


"Kami berangkat," ucap Rafa dan Larina.


"Iya, hati-hati."


Larina naik ke atas motor dan melambaikan tangan pada Ayah Larina, setelah Larina dan Rafa berangkat, Ayah Larina kembali masuk ke dalam dan berselang lama ia pun juga berangkat bekerja.


Setelah Larina dan Ayahnya pergi, seorang laki-laki keluar dari toko seberang, ia menuju toko Larina dan mencoba membuka pintu toko namun sayangnya terkunci. Ia mengambil kawat yang dibawanya dan mencoba membuka kuncinya namun tetap gagal.


"Sial, padahal tutorialnya itu seperti ini."


Melihat ada motor yang akan melalui jalan di depan toko, ia pun memakai masker dan topinya kemudian berpura-pura mengetuk pintu.


Pemotor itu berhenti di depan toko Larina.


"Masih tutup kalau pagi," ucapnya.


"Oh, begitu ya. Saya kira sudah buka."


"Paling nanti sore."


"Ooh, oke. Makasih. Saya permisi dulu."


"Oke sama-sama."


Ia pun segera pergi dari toko Larina, ia melangkah ke sembarang arah sampai pemotor itu pergi dari toko Larina, setelah itu ia lekas kembali ke toko miliknya.


***


Larina dan Rafa menjadi pusat perhatian saat mereka berdua masuk melewati gerbang sekolah.


"Mereka boncengan tuh,"


"Iyaa.. Aaaaa baper aku."


"Yah, Rafa sudah punya pacar ya? Aku kok belum tau."


"Hahah kasian, tidak punya kesempatan lagi deh."


Larina dan Rafa tetap bersikap tenang, mereka turun dari motor dan berjalan bersama.


"Tadi itu mesra atau tidak? Kau bilang tidak boleh mesra-mesraan di sekolah." goda Larina.


"Tidak berlaku untukku."


"Enak saja!" Larina tertawa mendengar jawaban Rafa.


"Hai kak!" sapa beberapa siswa laki-laki yang merupakan adik kelas Larina.


"Hai juga!" balas Larina sambil tersenyum ramah.


Rafa hanya tersenyum simpul membalas sapaan adik kelasnya itu.


"Kakak masih ingat sama kita?"


"Ingat. Kalian yang paling dihukum oleh panitia Ospek kemarin kan?" Larina tertawa kecil.

__ADS_1


"Astaga, yang diingat bagian jeleknya."


"Kak, minta nomer HP-nya dong!" celetuk salah satu adik kelasnya itu.


"Aku juga dong, kak."


Larina menoleh ke arah Rafa yang menatap tajam adik-adik kelasnya itu.


"Kakak belum punya pacar kan?" tanya salah adik kelasnya.


"Eheeemm!" Rafa berdehem.


"Oh iya, kakak satunya, kalau tidak salah namanya kak Rafa kan ya? Selamat pagi kak."


"Hm, ya."


Larina terkekeh lagi.


"Kalian ada perlu apa minta nomer HP Larina?" tanya Rafa dengan dinginnya.


"Mau lebih kenal saja kak, tidak aneh-aneh kok."


"Kalau ada hal pentingnya saja baru minta nomer HP-nya."


"Ayo ke kelas. Waktunya piket." ajak Rafa pada Larina.


"Kakak duluan ya." ucap Larina sambil menahan tawa melihat sikap Rafa.


"Iya kak," adik-adik kelas tersebut melambaikan tangan pada Larina.


"Yah gagal," ucapnya


"Memangnya mereka pacaran?"


"Gak lah, kata kakak panitia Ospek lainnya kemarin kak Larina itu jomblo."


"Baik, Manis, pinter lagi. Harus ku pepet nih."


"Enak aja, emangnya dia mau sama lu yang suka gombal sana-sini."


"Dia juga gak bakalan mau sama lu kali,"


"Sssstt diem semua! Aku yang bakal dapetin dia!"


"Bacot kalian bertiga itu. Yang pasti yang dia pilih itu adalah saya. Ganteng, kaya, pinter, plus setia."


"Terlalu PD juga tidak bagus, Mas." ledek seorang gadis yang kebetulan melewati mereka berempat. Ketiga temannya tertawa mendengar perkataan gadis itu.


***


"Setelah sudah kurusan begini malah banyak yang mengejarnya," gumam Rafa sambil terus melangkah menuju kelasnya.


"Rafa, kelasnya kelewat." ucap Larina yang berhenti di depan kelasnya, sedangkan Rafa terus berlajan.


Mendengar perkataan Larina, Rafa menghentikan langkahnya dan melihat nama kelas di depannya bukanlah kelas XII A. Ia menoleh ke belakang dan melihat Larina berdiri di kelas yang benar.


Rafa menghela napas pelan kemudian berjalan menuju kelasnya yang benar. Larina menahan tawanya.


"Terimakasih sudah diingatkan," ucap Rafa.


"Sama-sama," balas Larina sambil masih menahan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2