Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 56 : Sulap Ala Larina


__ADS_3

🍀Jam up pukul 20:00 - 23:00 wib


🍀Eps ini di up pukul 22:22


Pengumuman : Beberapa hari kedepan mungkin author bolong-bolong up-nya, tugas numpuk hiksss...


***


Sepulang sekolah, Nana berjalan menuju bangku Rafa, Rafa yang sedang memasukkan buku melihat ke arah Nana.


"Ada apa?" tanya Rafa.


"Anu..." Nana sambil mengadu kedua ujung jari telunjuknya.


Rafa hanya diam.


"Mau pulang bersama? Hari ini Mama aku tidak bisa menjemputku, dia ada pekerjaan."


Rafa kemudian kembali memasukkan buku-bukunya ke dalam tas kemudian menutup tas-nya.


"Maaf, ya. Hari ini aku akan pulang bersama Larina." tolak Rafa, ia kemudian berdiri.


Larina yang baru selesai merapikan buku dan barang-barang lainnya menoleh ke arah Rafa dan Nana, ia tersenyum kemudian berjalan ke arah Rafa.


"Aku mau mengajakmu, tapi aku tidak punya hak karena aku diajak oleh Rafa langsung." ucap Larina pada Nana.


Nana berdecak pelan.


"Baiklah, lain kali saja. Lagipula aku tidak suka nebeng, aku punya mobil sendiri, huh!" Nana langsung membuang muka dan berjalan keluar dari kelas.


Larina hanya terkekeh, Rafa tersenyum tipis. Selalu saja ia terpesona melihat senyum maupun tawa Larina.


"Ngomong-ngomong memangnya kita pulang bersama? Kau tidak mengatakan apapun." tanya Larina.


Melihat kondisi kelas yang sepi dan hanya tersisa mereka berdua, dengan perlahan Rafa meraih tangan Larina.


"Maaf, aku baru akan mengatakannya tadi, aku akan mengantarmu pulang."


Larina tersenyum menatap genggaman tangan hangat itu, ia pun perlahan membalasnya. Jantung Rafa rasanya akan  loncat dari sarangnya, dengan senyum kaku ia pun menggandeng Larina keluar dari kelas.


"Kau bilang tidak boleh bermesraan disekolah?" celetuk Larina saat mereka akan menuruni anak tangga.


"Hari ini boleh," jawab Rafa tanpa melihat ke arah Larina dan terus melanjutkan langkahnya.


Larina tertawa kecil mendengar jawaban Rafa.


"Dasar bocah," batin Larina


***


Di dalam mobil.


"Antarkan aku ke toko tempatku bekerja saja, aku sudah pindah kesana."


Rafa spontan menoleh pada Larina.


"Maksudnya? Kau tidak memberitahuku apapun."


Larina tersenyum kecut.


"Aku dan Ayahku sudah pindah kesana. Berhubung Nenek pemilik toko sudah meninggal dan tempat itu tidak ada yang menempatinya, aku dan Ayah memutuskan tinggal disana." jelas Larina.


"Ada masalah di rumah?"


Larina mengangguk.


"Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Apa yang bisa ku bantu?"


Larina menyentuh tangan Rafa.


"Aku baik-baik saja, aku tidak bercerita padamu karena tidak mau menambah bebanmu."

__ADS_1


"Apa yang kau katakan? Aku tidak lemah." Rafa spontan memeluk Larina dengan lembut.


"Apa yang terjadi?" tanya Rafa lagi.


Larina perlahan membalas pelukan Rafa, ia memejamkan matanya dan tidak sadar meneteskan air mata.


"Kau itu masih bocah, tau." batin Larina


"Kau tidak sendirian lagi," ucap Rafa.


'Deg!' Larina langsung membuka matanya. Tanpa berkata-kata, Larina mengeratkan pelukannya. Keduanya mengurai pelukan ketika mobil berhenti karena sudah sampai di lokasi. Rafa turun dari mobil, ia berniat membukakan pintu untuk Larina namun terlambat karena Larina telah lebih dulu membuka pintu.


"Ayo mampir dulu," ajak Larina. Larina mengira Rafa akan menolak.


"Oke."


"Eh?" Larina terkejut karena basa-basinya ditanggapi.


Saat berbalik, ia mendapati Ayah Larina tengah melayani pelanggan.


"Ayah sudah pulang ternyata," ucap Larina pelan.


"Ayo masuk," ajak Larina pada Rafa, Rafa mengangguk dan mengikuti langkah Larina masuk ke dalam toko.


"Aku pulang." ucap Larina pada Ayahnya, kemudian ia mencium punggung tangan Ayahnya.


"Om," sapa Rafa sambil ikut mencium punggung tangan Ayah Larina.


"Eh, Rafa. Maaf ya, kamu jadi repot mengantar Larina."


"Tidak repot, kok."


"Ayah pulang lebih awal hari ini?" tanya Larina.


"Iya. Ayah sudah pulang dari tadi juga. Daripada tutup, Ayah buka saja tokonya. Jadi kamu bisa punya waktu untuk belajar dan lainnya."


"Terimakasih." ucap Larina.


"Iya, Kak. Ini Ayahku."


"Oooh, aku kira kamu berhenti bekerja."


"Tidak, kok."


Setelah mengobrol singkat, Larina mengajak Rafa masuk ke dalam rumah melalui pintu yang terhubung dengan toko.


"Mau minum apa? Aku buatkan."


"Air putih saja."


"Yang benar? Tidak ingin yang dingin-dingin atau yang segar?"


"Tidak, terimakasih." ucap Rafa.


"Baiklah, tunggu sebentar." Larina pergi ke toko untuk mengambil air mineral di kulkas.


"Nih, diminum ya." sambil meletakkan botol minum di meja.


"Terimakasih," ucap Rafa.


"Sama-sama."


"Oh iya, aku kesini sekaligus ingin mengerjakan proposal. Ayahmu punya laptop atau lainnya?"


"Ayah punya laptop. Sebentar, aku pinjam."


***


Larina kembali dari kamar sambil membawa Laptop milik Ayahnya.


"Ini,"

__ADS_1


"Oke. Maaf merepotkanmu, aku lupa kalau aku tidak bawa laptop."


"Iya, tidak masalah. Kata Ayah jangan sungkan-sungkan. Oh iya, aku ganti baju dulu."


Rafa mengangguk. Ia mulai membuka laptop dan mengantifkannya, dengan lincah jari jemari Rafa menari diatas keyboard. Larina kembali dari kamar dan melihat Rafa yang fokus menatap layar laptop dengan jari terus mengetik.


"Aku bagian apa?" tanya Larina.


"Nanti, ya. Aku kerjakan bagianku dulu." jawab Rafa sambil terus fokus pada Laptop.


Ayah Larina muncul dan melihat keduanya yang terlihat sibuk, Larina sibuk menonton Rafa yang sedang mengetik. Melihat belum ada pembeli yang datang, Ayah Larina pergi ke dapur untuk memasak lagi.


Mendengar suara perabotan dapur yang berbunyi, Larina pergi ke dapur dan melihat Ayahnya tengah bersiap membuat makanan lagi.


"Ayah sedang apa?" tanya Larina.


"Membuat makanan untuk kalian berdua. Kamu kenapa kesini?"


"Tidak apa-apa. Aku bantu Ayah, ya?"


"Tidak perlu. Sana temani Rafa, masa kamu tinggal sendirian."


"Tapi Ayah bagaimana?"


"Ayah bisa, kok."


Larina menghela napas, ia melihat ke arah Rafa yang fokus pada Laptop.


"Aku bantu Ayah saja,"


Belum sempat mendapat penolakan, Larina setengah berlari ke kulkas yang ada di toko dan mengambil beberapa buah apel dan pisang. Pisangnya ia letakkan dimeja.


"Nih, buat ngemil." ucap Larina sambil meletakkan buah pisang.


Rafa mengangguk dan mengacungkan jempol dengan mata yang masih berfokus pada layar Laptop. Larina menggelengkan kepala, ia segera bergegas ke dapur. Setelah membantu memotong wortel, Larina beralih merebus beberapa butir telur.


Setelah masakan hampir siap, Larina mencuci buah apel yang ia ambil tadi kemudian meletakkannya ke piring,


"Hemmm, keras kepala. Sudah Ayah katakan, kamu temani saja Rafa."


"Ayah juga keras kepala, sudah ku katakan aku mau bantu Ayah," bantah Larina sambil terkekeh pelan.


Ayah Larina berkacak pinggang dan membuat Larina tertawa melihat tingkah Ayahnya.


"Yang sabar ya, Ayahku~"


"Sudah sangat sabar ini. Sudah, sana temani Rafa. Masakannnya sudah matang juga, mau apalagi kamu di dapur?"


"Mau sulap! Lihat ini," Larina mengambil buah apel yang utuh, ia menunjukkan semua sisi apel yang utuh itu.


"Ini utuh kan?" tanya Larina.


"Iya. Palingan kamu belah pakai pisau itu, lalu kamu katakan itu sulap."


"No." Larina menggeleng.


"Nah, sekali lagi, Ayah lihat apel ini utuh kan?"


"Iya, utuh." Ayah Larina menghela napas.


"Aku letakkan disini," ucap Larina sambil menempelkan apel tersebut di bibirnya menggunakan tangan kanannya.


Tangan kirinya menutup apel tersebut, bersamaan dengan hal itu ia langsung menggigitnya kemudian menunjukkannya pada Ayahnya.


"Nah, berkurang kan? Seperti logo Apple" Larina tertawa kecil.


Ayah Larina menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menepuk jidatnya.


"Sulap yang bagus, sekarang kesana temani Rafa."


Larina mengerucutkan bibirnya manja.

__ADS_1


__ADS_2