Mengubah Takdir Tokoh Utama

Mengubah Takdir Tokoh Utama
Bab 42 : Tinggal Bersama Pemilik Toko


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€


Besoknya, sepulang sekolah Larina pergi ke pusat perbelanjaan dan toko-toko besar yang menyediakan barang grosir dan mencari harga yang cocok.


Setelah melihat di beberapa tempat, akhirnya Larina menemukan tempat yang pas. Di tempat ini juga menyediakan jasa antar ke lokasi pembeli, harganya juga cocok bagi Larina.


Larina memberikan nomer WhatsApp-nya pada Karyawan yang bertugas untuk komunikasi mereka. Setelah itu segera memilih barang yang ia butuhkan untuk stok di toko.


Setelah selesai, ia segera membayarnya di kasir.


"Kami akan segera mengantarnya, Kak."


"Baik, Kak. Saya tunggu." Larina tersenyum kemudian melangkah pergi karena hari sudah malam.


Ia tidak langsung pulang ke rumah melainkan ia di Toko karena menunggu barang-barangnya datang. Sekitar pukul 19:22 Malam, sebuah mobil truk datang dan berhenti di depan toko.


"Permisi Mbak, mau antar barang-barangnya."


"Iya, kak."


Semua barang di turunkan dari mobil. Larina membuka pintu gudang yang ada disamping tokonya.


"Dimasukkan kesana?"


"Iya kak, di sana saja. Nanti saya yang akan menatanya sendiri."


***


Larina mengunci pintu gudang. Karena sudah hampir pukul 8 malam, Larina memutuskan akan merapikannya besok. Larina kembali menghitung uang.


"Nak," panggil Nenek pemilik Toko. Larina menoleh.


"Iya, Nek. Ada apa? Butuh sesuatu?"


Nenek itu menggeleng.


"Nenek mau tanya sesuatu,"


"Oohh, boleh. Silahkan, Nek." Larina tersenyum, kemudian menutup bukunya.


"Kamu pernah bekerja sebelumnya?"


Larina menggeleng.


"Belum, Nek. Aku masih pelajar."


Nenek itu mengangguk.


"Apa pekerjaan orang tuamu?"


"Ayah seorang Guru dan Ibuku seorang IRT."


"Nenek tidak pernah membimbing kamu sejak kamu disini, tapi kamu mampu melakukannya. Nenek kemarin melihat bukumu itu dan isinya detail bahkan sebiji permen pun dihitung."


Larina terdiam.


"Eee, apa yang ku lakukan salah, Nek?" Larina berkeringat dingin.


Nenek itu menggeleng pelan.


"Nenek kira kamu sudah pernah bekerja."


"O-Oh, begitu. Tidak, kok!" Larina tersenyum.


"Bisa ikut Nenek?"


Larina mengangguk, mereka berdua duduk bersebelahan di ruang tamu.


"Nenek mau bicara hal penting."


"Iya, Nek. Apa itu?"

__ADS_1


"Nenek hanyalah seorang Nenek tua, hidup sendirian, Nenek sudah tidak punya banyak tenaga untuk melakukan hal itu, bahkan bicara banyak seperti ini pun menguras tenaga."


Larina mengangguk. Nenek itu meraih dan menggenggam tangan hangat Larina.


"Nenek yakin kamu anak baik, anak hebat, anak yang kuat. Sejak kedatangan kamu disini, Nenek tidak lagi merasa kesepian walaupun tidak 24 jam kamu disini."


Tiba-tiba hati Larina berdesir, ia tidak mengerti mengapa ia merasakan perasaan aneh ini.


"Nek, apa Nenek menginginkan aku menginap disini?" tanya Larina.


"Kamu bisa menebaknya, ya?" Nenek itu tersenyum.


"Duh, kok aku sedih, ya?" batin Larina.


"Nenek tidak punya siapa-siapa lagi." ucapnya sambil menitikkan air mata.


Larina tersenyum kemudian menyeka air mata Nenek itu,


"Ada aku, kan? Katanya sudah tidak kesepian semenjak ada aku?" Larina tersenyum, namun tanpa ia sadari air matanya mengalir dari sudut matanya.


"Jangan menangis. Aura cantikmu nanti pudar."


Larina terkekeh,


"Lihatlah, tanganmu mulai kecil. Kamu tidak bahagia disini?"


"Bukan seperti itu, Nek. Aku memang sengaja diet dan lain sebagainya, aku betah dan senang ada disini."


"Nenek boleh minta sesuatu?"


Larina mengangguk.


"Tolong temani Nenek untuk beberapa hari, Nenek ingin melihat segala aktivitas kamu."


Larina terdiam.


"Nanti aku akan minta izin dulu pada Ayah,"


Nenek itu setuju.


Di rumah.


"Ayah," panggil Larina, Ayahnya yang sedang menyeduh kopi segera menoleh ke arah sumber suara.


"Iya. Ada apa?"


Larina menceritakan apa yang terjadi tadi.


"Jadi bagaimana?" tanya Larina.


Ayah Larina tidak langsung menjawab.


"Ayah tidak bisa kalau tidak melihatmu di rumah."


Larina menghela napas, ia bingung.


"Baiklah," Larina tersenyum.


Ia memutar balik tubuhnya dan siap melangkah pergi dari dapur.


"5 hari," ucap Ayah Larina.


Larina menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah Ayahnya.


"5 hari kamu boleh tinggal bersamanya. Tidak lebih dari 5 hari."


"Benarkah?"


Ayah Larina mengangguk.


"Terimakasih!!" Larina langsung berlari ke arah Ayahnya dan memeluknya.

__ADS_1


Ayah Larina tersenyum.


"Apa ada kesulitan di tempat bekerja?" tanya Ayah Larina sambil terus memeluknya.


"Tidak ada kok,"


"Terus siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah?" tiba-tiba Ibu Larina muncul.


"Sudah, kembalilah ke kamarmu." ucap Ayah Larina sambil melepas pelukannya.


Larina mengangguk, ia berjalan melewati Ibunya, namun Ibunya langsung meraih kerah kaos Larina, Ayah Larina langsung mencekal pergelangan tangan Ibu Larina.


"Lepaskan," pinta Ayah Larina pada Istrinya.


"Anakmu ini sudah tidak bisa di atur, keluyuran terus dengan alasan kerja. Mana gajinya? Tidak ada kan? Alasan dia saja ini, pasti dia sudah terpengaruh pergaulan bebas!"


"Iya! Dia memang Anakku, jadi jangan ringan tangan pada Anakku."


Kesal dengan perkataan suaminya, Ibu Larina langsung mendorong Larina ke tembok namun dengan cepat Ayah Larina menahannya.


Larina merapikan rambutnya.


"Bu, tidak ada yang namanya penyesalan di awal." tutur Larina dengan tegas.


Ayah Larina mengelus dada, ia segera membawa Larina pergi menuju kamar Larina.


"Ayah baik-baik saja?" tanya Larina.


Ayah Larina mengangguk.


"Waktunya tidur."


"Iya. Aku mau menyiapkan pakaianku dulu, Yah. Besok berangkat sekolah aku langsung mampir ke Toko dulu untuk meletakkan pakaianku."


Ayah Larina mengangguk.


"Besok pagi Ayah antar."


"Siap!"


Keesokan paginya Larina diantar ke toko, ia diberi sejumlah uang untuk makan dan kebutuhan lainnya sebesar 400.000, setelah mengobrol dengan Nenek pemilik toko, Ayah Larina mengantar Larina ke sekolah.


***


Besoknya, sepulang sekolah Larina langsung berganti pakaian. Ia membuka pintu gudang agar ada udara segar yang masuk.


Ia mulai menyusun tumpukan karton sesuai jenis barangnya. Setelah 1 jam setengah, akhirnya pekerjannya selesai. Pembeli semakin ramai, Larina semakin sibuk. Nenek pemilik toko itu memperhatikan Larina yang kelelahan namun senyumnya terus terukir dan tetap ramah. Sesekali ada pembeli yang menjengkelkan namun Larina tetap sabar.


Hari mulai malam, Larina menutup toko sebentar karena ingin mandi. Saat melewati kamarnya, terlihat Nenek pemilik toko sedang membersihkan kamar yang akan ditempati Larina. Larina bergegas untuk menghentikannya.


"Tidak perlu, Nek. Nanti aku rapihkan sendiri. Nenek istirahat saja, nanti aku buatkan susunya."


Nenek itu menurut, ia dituntun menuju kamarnya oleh Larina.


"Terimakasih, kamu sudah mau menginap disini." ucap Nenek itu.


Larina mengangguk.


"Sama-sama, Nek. Ayah memberiku 5 hari untuk menginap disini."


"Iya. Itu sudah lebih dari cukup."


"Baiklah, aku mandi dulu. Gerah."


Larina bergegas ke kamar mandi.


Di kamar mandi.


"Kalau aku jatuh ke lantai sampai tidak sadarkan diri, apakah aku bisa kembali ke duniaku? Tapi tidak mungkin sih, aku pernah sampai masuk Rumah Sakit dan aku tetap disini." gumamnya sambil memainkan air di bak mandi.


"Hem, sudahlah! Fokus disini saja dulu. Pekerjaanku di dunia asliku pasti sudah ada yang menananganinya." lanjutnya.

__ADS_1


***


Larina kembali membuka toko, satu persatu pembeli mulai berdatangan. Jam menunjukkan pukul 21:00, Larina merasakan kantuk mulai mendatanginya namun masih banyak pembeli.


__ADS_2