
"Ayo ku antar ke rumah sakit urgent"ucap Radhitya.
Radhitya langsung menarik tangan manda keluar dari taman meskipun Manda terus buang gas gak ada habisnya. Untungnya Radhitya memakai masker jadi aman dari gas alam yang alami itu. Dia membawa Manda masuk ke mobilnya.
"Duduklah, kita akan ke rumah sakit"ucap Radhitya.
Manda duduk dikursi belakang mobil bersama Radhitya. Dikursi depan mobil ada managernya dan supir mobil pribadinya.
"Bos mau kemana?"tanya Pak Asep supirnya Radhitya.
"Ke rumah sakit, buruan!"ucap Radhitya.
"Siap Bos"ucap Pak Asep.
Mobilnya mulai melaju meninggalkan tempat itu.
Didalam mobil Manda buang gas pamungkasnya sampai ledakkannya menggelegar diseluruh ruangan mobil itu.
Prruuuuuuuuuuuuuuuuuuuut.........uuut......uut.......
"Ah.....lega......"ucap Manda.
Manda serasa minum setelah kehausan melewati padang pasir yang tandus dan gersang. Panas matahari bagai di ubun-ubun dan keringat bercucuran. Tapi kini dahaganya telah hilang setelah minum seteguk air dari surga begitulah perumpamaannya.
"Loh kamu pingsan"ucap Manda melihat Radhitya disampingnya sudah pingsan.
Manda juga melihat managernya Radhitya pingsan dengan tenang hanya Pak Asep yang tidak pingsan malah asyik sholawatan.
"Pak Asep kok gak pingsan?"tanya Manda.
"Pingsan kenapa Non?"tanya Pak Asep.
"Gak sih tapi saya tadi ngebom bardir, apa gak bau?"tanya Manda sedikit malu tapi jujur.
Karena jujur adalah perbuatan baik Manda tidak ingin berbohong kalau dia mengebom bardir seruangan mobil itu dengan bom atom khas dari bokong.
"Udah biasa nyium bau Non, malah Pak Asep demen yang bau-bau. Pengharum ruangan kamar aja bau tai sapi sengaja pesen dari luar kota"ucap Pak Asep.
"Pak Asep apa saya yang gila atau Pak Asep ya, kok aneh orang suka bau tai"ucap Manda.
"Soalnya saya pengusaha pupuk kandang Non, jadi harus bisa membedakan tai yang berkualitas dan tidak"ucap Pak Asep.
"Oh....tai ada yang berkualitas juga"ucap Manda.
"Ada dong Non, untuk membuat pupuk kandang yang berkualitas dibubutuhkan bahan dasar tai yang berkualitas"ucap Pak Asep.
Manda menahan tawanya dengan segala topik tai yang dibicarakan Pak Asep. Setelah puas ngobrol dengan Pak Asep, Manda melihat Radhitya yang pingsan.
"Aduh kasihan udah pingsan pakai masker lagi, nanti sesak aku buka aja"ucap Manda.
Manda membuka masker yang dipakai Radhitya.
Dia terkejut melihat Radhitya adalah lelaki playboy yang ditemuinya dirumah besar Freya kemarin.
"Bukannya dia playboy yang kemarin ya"ucap Manda.
Tak lama Radhitya bangun dan melihat Manda memandangnya.
"Cantik"ucap Radhitya.
"Ih......baru bangun udah ngegombal abis"ucap Manda.
__ADS_1
Radhitya bangun dan melihat Manda yang duduk disampingnya.
"Cantikku meskipun kau ngorok, ngiler dan kentutmu bau aku masih suka kok"ucap Radhitya.
"Kau kena sawan atau kena pelet? yang benar saja kau suka padaku?"tanya Manda.
"Beneran, apa perlu ku belah dadaku?"tanya Radhitya balik.
"Baiklah, aku butuh pisau untuk membelah dadamu"ucap Manda.
"Eh.....jangan dong sayang nanti aku mati terus siapa yang mencintaimu dengan sepenuh hati"ucap Radhitya.
"Playboy aku tidak akan kemakan rayuan manismu ya"ucap Manda.
"Nikah yuk"ucap Radhitya.
"Astagfirullah, jauhkan aku dari godaan setan yang terkutuk"ucap Manda.
"Apa? aku setannya maksudmu?"tanya Radhitya.
"Baguslah kalau nyadar"ucap Manda.
"Ganteng gini kok setan"ucap Radhitya.
Manda menatap Radhitya dengan sinis seakan musuhnya. Dia terus berjaga agar tidak termakan gombakan Radhitya yang mengandung racun mematikan.
"Setan biasanya menyupai orang ganteng biar para gadis tersesat dan masuk ke perangkapnya lalu setelah dia mendapatkan apa yang dimaunya kabur begitu saja"ucap Manda dengan sikap yang dingin.
"Cantik aku tidak akan seperti itu"ucap Radhitya.
"Semua lelaki sama saja dimataku, jadi jangan menggodaku lagi"ucap Manda marah pada Radhitya.
"Iya Non"ucap Pak Asep.
Pak Asep menghentikan mobilnya, Manda langsung keluar dari mobil Radhitya.
"Cantik kau mau kemana?"tanya Radhitya.
"Bukan urusanmu"ucap Manda.
Manda pergi meninggalkan Radhitya begitu saja.
Radhitya yang berada didalam mobil heran kenapa Manda tiba-tiba marah dan bersikap dingin. Walaupun Manda sering ngomel pada Radhitya tapi tatapannya tadi benar-benar dingin.
Ucapannya juga tidak seperti sebelumnya.
"Manda kenapa sih? apa tadi aku salah ngomong ya?"ucap Radhitya kebingungan.
Tak lama manager Radhitya bangun dari pingsannya.
"Bos Radit tadi itu bau banget aku sampai teler"ucap Nino.
"Udah Nino, itu aroma terapi supaya kuat mental"ucap Radhitya.
"Apa cewek tadi makan telur busuk ya?"tanya Nino.
"Itu ciri khasnya"ucap Radhitya.
"Berarti tiap ketemu dia dijamin aku pingsan lagi dong"ucap Nino.
"Yaudahlah bawa kasur besok, prepare sebelum ketemu dia biar pingsan ditempat yang empuk" ucap Radhitya.
__ADS_1
Radhitya memang konyol meskipun playboy tapi dia tak pernah sekalipun tidur dengan wanita manapun, bisa digorok Freya kalau berani melakukan perbuatan terlarang itu.
************
Rafka masuk ke perusahaannya. Dia berjalan masuk ke ruangan kerjanya. Rafka duduk di kursi kerjanya sambil mengecek beberapa berkas di beja kerjanya. Seorang stafnya masuk ke ruangannya.
"Assalamu'alaikum Presdir"ucap Pia.
"Wa'alaikumsallam"ucap Rafka.
"Presdir ini beberapa laporan yang kemarin Anda butuhkan"ucap Pia.
"Taruh dimeja"ucap Rafka.
"Iya Presdir"ucap Pia.
"Pia bukannya ini pekerjaannya Gista, kenapa kamu yang mengantarnya?"tanya Rafka.
"Gista tidak masuk kerja hari ini"ucap Pia.
"Kenapa?"tanya Rafka.
"Tidak tahu Presdir, tidak ada kabar, handphonenya saja tidak aktif"ucap Pia.
"Kau sudah tanyakan pada keluarganya?"tanya Rafka.
"Baru sehari Presdir saya tidak enak, mungkin besok saya akan tanyakan"ucap Pia.
"Yasudah, kau boleh keluar"ucap Rafka.
"Baik Presdir"ucap Pia.
Pia keluar dari ruangan kerja Rafka.
"Tidak biasanya Gista tidak masuk kerja, dia terhitung karyawan teladan. Apa dia sakit?"ucap Rafka memikirkan ketidak hadiran Gista.
"Mungkin aku akan menjenguknya besok bila dia masih tidak masuk kerja"ucap Rafka.
Rafka melanjutkan mengecek beberapa berkas di meja kerjanya.
Diruangan lain Pia dan Rara sedang membicarakan ketidak hadiran Gista dikantor. Mereka duduk berdua diruangan kerja mereka.
"Gista kemana ya?"tanya Pia.
"Paling dimarahi suaminya lagi"ucap Rara.
"Apa? dimarahi suaminya?"tanya Pia terkejut dengan stagment Rara.
"Astagfirullah, aku keceplosan"ucap Rara.
Pia langsung mendekati Rara dan bicara bisik-bisik pada Rara.
"Ra, kenapa sih sebenarnya?"tanya Pia.
"Kepo ya"ucap Rara.
"Iya, habis kasihan liat Gista tiap ke kantor ada aja lebam ditubuhnya. Kadang ditangan, kaki bahkan muka"ucap Pia.
"Sebenarnya aku malas cerita, Gista udah bilang jangan diceritain ke siapapun, rahasia"ucap Rara.
"Tapi kasihan Gista, gimana kalau terjadi sesuatu padanya?"ucap Pia dengan perkataan yang cukup menakuti Rara.
__ADS_1