
"Sekar" Ucap Rafka saat membalikkan badannya.
"Sudah lama ya dak ketemu." Ucap Sekar.
Sekar sepupu Rafka anak dari Ayu yang dulu hendak dijodohkan dengan Arian.
"Gimana kabar bude Ayu?" Tanya Rafka.
"Alhamdulillah baik. Mas Rafka sih dak main ke kampung padahal Ibuku kangen loh" Ucap Sekar.
"Nanti kalau ada waktu, Insya allah kesana bersama keluargaku semuanya." Ucap Rafka.
Rafka dan keluarganya sesekali pulang kampung bertemu sanak saudara di kampung. Meskipun sudah di kota tapi sesekali bersilaturrahmi membuat hubungan kekerabatan tidak terputus jarak dan waktu.
"Tadi aku ngeliat sekilas, aku pikir pasti Mas Rafka, eh bener." Ucap Sekar.
"Kamu kok bisa disini?" Tanya Rafka.
"Aku kerja di perusahaan deket sini Mas." Ucap Rafka.
"Pantas saja kau menolak kerja di perusahaanku ternyata sudah kerja di perusahaan lain." Ucap Rafka.
"Iya, maaf" Ucap Sekar.
Rafka langsung mengusap kepala Sekar. Dulu saat masih kecil, Sekar pernah ikut tinggal beberapa tahun bersama keluarga Rafka. Dia begitu dekat dengan Rafka sebagai kakaknya.
Dari atas terjatuh sebuah benda yang tak sengaja terlempar dari atas bangunan yang sedang dibangun itu. Benda itu hendak mengenai Sekar. Rafka langsung menangkap Sekar mendekat ke tubuhnya.
Plaaaaang...........
Sebuah besi terjatuh ke bawah. Untung Rafka segera menarik Sekar menjauh dari besi yang terjatuh itu. Posisi mereka berdua mirip orang berpelukan.
"Mas" Azura baru datang melihat Rafka berpelukan dengan seorang wanita.
Rafka menoleh ke arah Azura yang baru datang.
"Azura" Ucap Rafka.
Azura meneteskan air matanya kemudian pergi dari tempat itu. Rafka melepas pelukannya dari Sekar. Dia menyusul Azura yang berlari meninggalkan tempat itu.
"Azura tunggu, Azura" Rafka terus memanggil Azura yang berjalan di depannya.
Azura mengabaikan panggilan Rafka. Dia merasa hatinya tidak senang melihat Rafka memeluk wanita itu.
"Sayang" Ucap Rafka meraih lengan Azura.
Azura berhenti melangkah.
"Azura tadi kau salahfaham" Ucap Rafka.
"Apa karena aku belum memberikan cintaku, jadi kau mencari wanita lain." Ucap Azura.
"Tidak sayang, tidak seperti itu." Ucap Rafka.
Azura terus meneteskan air matanya. Dia begitu terluka denga apa yang dilihatnya tadi.
"Aku minta maaf Mas, belum bisa memberikan diriku padamu, kau tidak bersalah. Mungkin ini salahku." Ucap Azura.
__ADS_1
"Azura meskipun kau tidak memberikan dirimu padaku, aku akan tetap jadi suamimu dan melindungimu." Ucap Rafka.
"Hik hik hik, aku pikir kau berbeda dan bisa membuatku bahagia nantinya. Ternyata aku salah." Ucap Azura.
"Azura dengarkan aku, semuanya ini hanya salah faham, Sekar itu..." Ucap Rafka.
Rafka belum selesai berkata, Azura melepas tangan Rafka dari lengannya. Dia pergi meninggalkan Rafka menaiki taksi yang berhenti di tepi jalan.
"Azuraaaa" Rafka berteriak mengejar taksi itu.
Rafka menyetop sebuah taksi yang melintas. Dia naik ke taksi itu untuk mengejar Azura yang sudah lebih dahulu meninggalkannya.
"Pak kejar taksi warna biru itu ya" Ucap Rafka.
"Iya Tuan" Ucap supir taksi yang dinaiki Rafka.
Taksi yang dinaiki Rafka terus mengejar taksi yang dinaiki Azura. Tiba-tiba taksi yang dinaiki Azura tertabrak sebuah bus hingga terpental.
Bluuuug..........
Taksi yang dinaiki Azura terjatuh di jalan dengan posisi terbalik.
Rafka terkejut melihat peristiwa tabrakan itu. Dia langsung meminta supir taksinya berhenti. Rafka keluar dari taksi yang dinaikinya berlari menuju taksi yang dinaiki Azura.
"Azuraaa" Teriak Rafka.
Rafka melihat Azura tertindih badan taksi. Posisinya mirip saat Diana kecelakaan dulu. Rafka seakan nostalgia kejadian di masa lalu. Dia terdiam sesaat teringat Diana. Air matanya menetes tanpa sadar. Semua kejadian di masa lalu seakan terlihat kembali dan nyata. Tubuh Rafka jadi berat, dia seperti mulai kehilangan kesadarannya, matanya mulai rabun dan hampir menutup. Seketika Rafka teringat Azura istrinya. Dia berusaha mengontrol dirinya agar tidak hanyut dalam masa lalu. Dia melawan ketakutan di masa lalunya dan berusaha keluar dari bayang-bayang itu.
Rafka berusaha sadar kembali. Dia kembali menguasai dirinya, untuk sadar sepenuhnya. Dia segera berlari mendekati Azura.
Tubuh Azura tertindih badan taksi setengahnya. Dia sudah lemas tak bertenaga. Tadi saat taksi terbalik, dia berusaha keluar tapi justru tubuhnya terjepit badan taksi.
"Mas maafkan aku, mungkin semuanya akan berakhir disini." Ucap Azura.
Rafka duduk didepan Azura memegang tangannya.
"Tidak, aku tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya" Ucap Rafka.
"Aku ikhlas jika ini harus berakhir, terimakasih atas semuanya hik hik hik." Ucap Azura.
"Tidak, kau harus menemaniku, jangan tinggalkan aku." Ucap Rafka.
Rafka melepas tangan Azura, dia berdiri berusaha mengangkat badan taksi. Dia sekuat tenaga berusaha dan berusaha. Kejadian pada Diana tidak boleh terulang kembali. Rafka akan mati-matian berusaha apapun itu.
"Ya Allah Yang Maha Kuasa, tolonglah aku, agar aku bisa menyelamatkan istriku" Ucap Rafka berdoa sambil berusaha mengangkat badan taksi itu.
Saat dia terus mengangkat badan taksi, beberapa orang datang membantunya. Badan taksi itu bisa diangkat. Azura bisa merayap keluar dari badan taksi yang sudah terangkat. Dia berhasil keluar, Rafka langsung menghampiri Azura dan meraih tubuhnya kepangkuannya. Rafka menciumi kening Azura berkali-kali. Air matanya terus menetes tak berhenti. Dia senang Azura selamat, peristiwa yang terjadi pada Diana tidak terjadi pada Azura.
"Mas aku mulai mencintaimu." Ucap Azura.
Rafka langsung mencium bibir Azura. Dia tidak berkata apapun, ciuman itu sudah menjelaskan semua perasaannya. Semua orang yang melihat kejadian itu terharu. Mereka juga ikut menangis dan baper.
Rafka membopong Azura menjauh dari tempat itu. Dia berjalan di tepi jalan.
"Mas kita mau kemana?" Tanya Azura.
"Kita mau berduaan di hotel." Ucap Rafka sedikit menggoda Azura.
__ADS_1
"Mas aku bertanya, serius" Ucap Azura.
"Aku juga serius, kita akan berduaan di hotel sayang" Ucap Rafka.
Azura tersenyum malu-malu, menyembunyikan mukanya di dada Rafka. Mereka berdua naik taksi menuju ke hotel tempat Rafka menginap. Sampai di hotel. Rafka membopong Azura lagi sampai di kamar hotelnya. Dia membaringkan istrinya di ranjang.
"Aku akan mengambilkan obat luka ya." Ucap Rafka.
Azura menarik Rafka hingga memeluknya lalu mencium Rafka.
"Aku lebih butuh ini Mas." Ucap Azura saat melepas ciuman itu dari Rafka.
"Kau yakin? aku akan melakukannya dengan penuh cinta kali ini." Ucap Rafka.
Azura mengangguk. Rafka mulai menghujani Azura dengan cinta dan cinta disetiap detiknya.
Perasaan yang mengelora kini terukir jadi sebuah cinta yang indah. Rafka dan Azura melakukan perpaduan itu dengan penuh cinta, bukan lagi karena sekedar kewajiban.
"Mas sakit" Ucap Azura.
Rafka berusaha selembut mungkin memperlakukan Azura. Dia yang kemarin belum bisa meraih kehormatan Azura, kini akan berusaha meraih itu. Dengan kesabaran dan perlahan tapi pasti, Rafka berhasil meraih kehormatan Azura.
"Apa sakit sayang?" Tanya Rafka.
Azura menggeleng. Dia bersyukur kini dirinya benar-benar jadi istri seutuhnya. Dulu Devan tak pernah menyentuhnya tapi kini Rafka memberinya hak yang dirindukannya sebagai istri. Mereka sampai berkali-kali melakukannya hingga lelah dan berbaring bersama diranjang. Rafka memeluk Azura dalam dekapannya.
"Sayang bolehkah aku bertanya?" Tanya Rafka.
"Boleh" Ucap Azura.
"Kau masih gadis, maaf apa mantan suamimu tak pernah menyentuhmu?" Tanya Rafka.
"Apa Mas tidak suka?" Tanya Azura.
"Justru aku sangat suka, aku bahagia menjadi lelaki pertama yang menyentuhmu" Ucap Rafka.
"Mas Devan menderita penyakit HIV AIDS, selama bertahun-tahun menikah denganku dia tak berani menyentuhku. Itu semua demi kebaikanku hik hik hik." Ucap Azura lalu menangis teringat Devan lagi.
Rafka menyeka air mata Azura yang jatuh di pipinya.
"Sayang itu sudah takdir, apa yang sudah dilakukan Devan adalah kebaikannya padamu. Dia suami yang baik, semoga amal ibadahnya di terima Allah, diampuni dosanya dan diringankan siksa kuburnya, amin." Ucap Rafka.
"Amin" Ucap Azura.
"I Love You" Ucap Rafka.
"I Love You Too" Ucap Azura.
Rafka semakin mempererat pelukannya. Dia begitu bahagia, kini dia sudah melepas semua bayangan hitam yang selalu menghantuinya. Dia sudah benar-benar mengikhlaskan Diana dari hidupnya.
"Apa ada yang sakit? tadi kau tertindih badan taksi?" Tanya Rafka.
"Ada, tapi karena aku senang jadi rasa sakitnya tidak begitu terasa" Ucap Azura.
"Kita ke rumah sakit ya" Ucap Rafka.
Azura mengangguk, Rafka membopong Azura ke toilet. Mereka mandi lalu sholat dhuhur berjamaah. Selesai sholat dhuhur, Rafka mengajak Azura pergi ke rumah sakit.
__ADS_1