Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Nikahi Janda


__ADS_3

Rafka kembali membawa Gista pulang ke rumahnya. Dia juga membawa Ibu Gita ke rumah besar milik orangtuanya itu. Gista dan Ibu Gita masuk ke kamar tamu. Sementara Rafka masuk ke kamar tamu tempat Azura berada. Dia menghampiri Azura yang duduk di ranjang kamarnya. Seperti biasa Azura hanya terdiam melamun, tatapan matanya kosong. Dia seperti mayat hidup tak memiliki semangat dan keceriaan di wajahnya.


Rafka duduk di ranjang itu bersama Azura. Dia duduk persis didepan Azura menghadap padanya. Rafka melihat Azura dengan tersenyum padanya meski Azura tak memperhatikan.


"Azura aku ingin menikahimu, agar aku bisa melindungimu dari keluarga Barata. Aku tidak akan memaksamu untuk sepenuhnya menjalanka kewajibanmu sebagai seorang istri. Karena tujuanku menikahimu untuk melindungimu. Apa kau bersedia?". Rafka bertanya. Dia tidak tahu apa Azura akan setuju atau tidak. Mungkin saja dia akan menolaknya mentah-mentah. Apalagi Azura sangat mencintai almarhum suaminya. Tapi Rafka menikahi Azura hanya untuk memberinya status yang tidak bisa diganggu keluarga Barata. Keluarga kaya itu pasti akan melakukan apapun untuk kembali mengambil Azura.


Azura tak menjawab tapi dia hanya mengangguk.


Sepertinya Azura tahu bersama Rafka dia lebih aman dan nyaman. Tak ada lagi penyiksaan ataupun cambukan yang setiap hari dirasakannya. Perutnya tak perlu menahan lapar lagi. Bahkan dia bisa keluar rumah hanya untuk sekedar berjemur dan melihat indahnya bunga-bunga mekar. Kebebasannya seakan kembali lagi. Walaupun kepedihannya masih terasa menyatat hati. Trauma yang diberikan keluarga Barata padanya selama berbulan-bulan setelah kematian suaminya membekas. Bukan hanya luka kepergian suaminya saja tapi luka penyiksaan secara psikis dan fisik yang diterimanya membuatnya semakin depresi.


"Azura aku akan menikahimu bersama Gista dihari yang sama. Dia juga memiliki nasib yang sama tragisnya denganmu. Dia mendapatkan penyiksaaan dari suami dan keluarganya. Apa kau keberatan jika aku menikahinya juga?". Rafka bertanya kembali. Dia tidak tahu apa jawaban Azura masih akan sama atau malah dia akan menolak. Mana ada wanita yang rela berbagi suami dari awal pernikahannya.


Azura hanya kembali mengangguk. Dia hanya melihat Rafka ingin menolong bukan untuk memperistrinya. Tapi status dibutuhkan demi menguatkan posisi Rafka untuk melindunginya. Rafka tak mungkin terus bersama wanita yang bukan siapa-siapanya satu rumah. Bahkan mungkin sering bersama.


"Besok kita akan menikah dirumah ini, aku juga hanya mengadakan acara yang sederhana. Ini demi keamanan kalian berdua". Rafka menjelaskan. Jika pernikahan itu diadakan besar-besaran Rafka khawatir keluarga Barata akan melakukan sesuatu pada Azura.


Azura hanya mengangguk, tak ada kata yang terucap dari mulutnya. Rafka kembali berdiri, berjalan keluar dari kamar itu.


Rafka juga mengajak Gista bicara diruang kerjanya. Gista duduk dikursi roda menghadap Rafka yang duduk di kurasi kerjanya.


"Gista jika aku menikahimu bersama Azura apa kau bersedia?". Rafka bertanya. Dia tidak mau berbasa basi yang nanti membingungkan Gista. Rafka hanya berniat menolong Gista. Dengan kondisi lumpuhnya, dia tak mungkin bisa bekerja. Apalagi dia memiliki ibu yang sudah tua yang biasanya Gista mencukupi kebutuhan bulanannya. Rafka tidak berpikir untuk meminta haknya sebagai suami nantinya. Bukan dia tak normal tapi dihatinya hanya ada Diana. Dan tujuannya menikahi Gista hanya untuk menjaga dan merawatnya. Menafkahinya dengan status yang jelas sebagai suaminya. Dan menghindari fitnah yang akan terjadi jika dia harus bertemu Gista.


"Rafka kau tak perlu minta jawabanku, sebagai rasa terimakasihku apapun itu aku setuju". Gista menjawab. Dia tahu Rafka sudah banyak membantunya. Selama dia kecelakaan hingga sekarang Rafkalah yang merawat dan menjaganya. Dia tidak tahu jika mungkin masih bersama Gerry. Dia benar-benar akan mati tersiksa atau diperbudak habis-habisan sampai dia mati.

__ADS_1


"Aku tidak ingin ini memaksamu. Karena tujuanku hanya memberimu status yang jelas dirumah ini. Aku hanya ingin merawat dan menjagamu tidak lebih dari itu". Rafka menjelaskan.


"Aku mau jadi istrimu". Gista kembali mengatakan hal yang sama. Walaupun dia tidak mencintai Rafka tapi bersama Rafka dia merasa aman dan nyaman. Apalagi dengan kondisi kelumpuhannya dan biaya kebutuhan ibunya dikampung nanti, dia tidak bisa memenuhinya. Rafka juga tak mungkin memenuhi semua kebutuhannya tanpa status yang jelas. Itu sebabnya menjadi istri Rafka adalah solusi yang terbaik untuknya.


"Besok kita akan menikah dirumah ini. Akadnya akan diadakan pagi hari pukul 8 pagi. Acaranya sederhana karena dihadiri keluarga inti, semua ini demi keamanan kalian berdua". Rafka berkata dengan semua penjelasannya.


"Iya". Gista menjawab. Keputasannya hari ini akan menjadi keputusan terbesar dalam hidupnya. Menjadi istri sekaligus berbagi suami dari awal. Tapi tidak berarti untuknya karena dia tidak mencintai Rafka. Pernikahan ini untuk melindunginya dan merawatnya. Dia tahu Rafka orang yang baik.


Rafka mengantar Gista ke kamarnya. Dia berjalan menuju ke kamarnya setelah itu. Keputusannya untuk menikahi kedua janda itu sudah bulat. Menikahi dihari yang sama tanpa harus menyebut salah satu diantara mereka istri tua ataupun istri muda karena keduanya akan dinikahi di hari yang sama dan langsung mengetahui posisi mereka masing-masing.


Saat Rafka berjalan menuju kamarnya, Radhitya memanggilnya. "Kak Rafka". Radhitya menghampiri Rafka yang berdiri didepan pintu kamarnya.


"Ada apa Radit?". Rafka bertanya.


"Diam-diam menghanyutkan, kau bahkan mau menikahi dua janda". Radihitya meledek. Dia tahu kedua janda yang akan dinikahi Rafka. Satu wanita yang pernah disukainya, satu lagi teman SMA Rafka.


"Aku hanya ingin merawat dan melindungi mereka tidak ada tujuan yang lain". Tegas Rafka.


Dia tidak mungkin menikahi kedua janda itu tanpa ada sebab. Semuanya murni karena dia ingin merawat dan melindungi mereka.


"Tidak masalah kak, lagi pula kau kaya dan tampan, baik lagi. Semua wanita pasti bertekuk lutut padamu". Radhitya menepuk bahu Rafka.


"Aku tidak berpikir seperti itu. Kau tahu aku begitu mencintai Diana, kalau aku mau untuk apa aku menunggu hingga dua tahun kalau memang aku ingin menikahi seorang wanita". Rafka menjelaskan semuanya pada Radhitya. Dia melepas tangan Radhitya dari bahunya.

__ADS_1


"Aku tahu, lagi pula lelaki mana yang mau menikahi janda depresi dan janda lumpuh. Kalau aku mungkin milih orang yang normal saja tidak merepotkanku". Radhitya membalas perkataan Rafka. Dia juga tidak bisa membayangkan jika harus menikahi janda depresi dan janda lumpuh. Seumur hidupnya hanya dihabiskan untuk merawat dan menjaga keduanya. Sungguh hal yang membosankan dan melelahkan.


"Aku lelah, jika tak ada yang ingin kau bicarakan aku masuk dulu". Rafka berkata jujur. Dia memang sudah lelah. Semenjak keamanan kedua janda itu terusik, Rafka harus melakukan banyak hal untuk melindungi mereka.


"Tidurlah". Perintah Radhitya. Dia tidak ingin menghalangi kakaknya yang sudah terlihat lelah.


Rafka mengangguk, dia masuk ke kamarnya. Radhitya berjalan meninggalkan tempat itu.


***********


Pagi itu Azura sudah dirias begitu cantik begitupun dengan Gista. Mereka berdua mengenakan gaun pengantin brukat berwarna putih. Azura hanya terdiam duduk dikursi. Sementara Gista duduk di kursi rodanya. Mereka menunggu untuk keluar dari ruangan itu. Ruangan itu hanya terdiri dari kursi dan meja berhias. Dulu ruangan itu digunakan Freya untuk menyimpan barang-barang seperti sepatu dan tas miliknya. Tapi kini dia tidak menggunakannya lagi.


"Azura aku ikhlas berbagi suami denganmu". Gista berkata pada Azura. Dia tidak ingin nantinya timbul perselisihan yang tidak diingkan karena Gista tidak mencintai Rafka tapi dia tidak tahu perasaan Azura pada Rafka.


Azura tidak menjawab, dia hanya diam. Pernikahan ini hanya tempat berlindung untuk Azura. Dihatinya hanya mencintai Devan almarhum suaminya.


Seseorang masuk ke ruangan itu membawa Azura dan Gista keluar dari ruangan itu. Mereka berdua dibawa ke ruang tamu. Disana Rafka sudah duduk bersama penghulu, saksi dan juga keluarganya. Azura didudukkan di samping Rafka sementara Gista di belakang Azura menunggu gilirannya untuk akad yang kedua. Karena Azura yatim piatu dan tidak memiliki kerabat lainnya jadi walinya wali hakim.


"Baiklah, akad nikah ini akan dimulai". Penghulu itu memulai pembicaraannya. Namanya Pak Rahmat Sobirin, penghulu yang akan menikahkan Rafka dan Azura.


Akad nikah pertama itu berjalan dengan lancar. Rafka mencium kening Azura seusai akad nikah itu. Dia juga menyematkan cincin bertahta berlian dijari manis Azura. Azura hanya terdiam tanpa ekspresi apapun. Kini dia resmi jadi istri Rafka.


Akad nikah kedua kembali dilakukan Rafka duduk bersama Gista. Dia kembali melakukan akad nikah itu. Akad nikah itu berjalan lancar. Rafka mencium kening Gista seusai akad nikah itu. Dia juga menyematkan cincin bertahta berlian dijari manis Gista. Walaupun pernikahan ini tanpa cinta tapi Gista berusaha tersenyum pada Rafka.

__ADS_1


Semua anggota keluarga mengucapkan selamat pada Rafka dan kedua istrinya. Arian dan Freya bahagia akhirnya Rafka menikah juga. Meskipun mereka tahu pernikahan ini mungkin berawal dari rasa iba tapi mereka yakin suatu saat nanti akan ada cinta diantara mereka semua.


__ADS_2