
Luna mengajak Azura jalan-jalan ke taman. Psikiater yang menangani Azura menyarakan agar Azura sering diajak keluar rumah menikmati keindahan alam. Luna mengajak Azura ke Taman Bunga Matahari. Mereka berjalan sambil mengelilingi taman bunga itu. Azura terus meneteskan air matanya melihat bunga-bunga matahari itu. Dia teringat Devan. Dulu dia dan Devan pernah ke menanam bunga matahari bersama. Hingga bunga itu tumbuh besar dan berbunga.
"Kak Azura jangan bersedih, suami kakak pasti sudah tenang disana. Dia ingin melihat kakak bahagia" ucap Luna.
Azura hanya terdiam dan menangis. Kematian Devan didepan matanya membuat Azura terpukul hingga sekarang.
Luna mengajak Azura duduk dikursi dekat bunga tulip.
"Kak, aku ke toilet dulu ya" ucap Luna.
Azura hanya mengangguk. Luna meninggalkan Azura. Dia pergi ke toilet. Azura yang duduk sendirian teringat Devan. Azura beranjak dari kursinya, dia pergi meninggalkan taman bunga itu. Azura berjalan ditepi jalan, dia mencari Devan. Kakinya terus melangkah tanpa tujuan.
Dia melihat orang-orang lulu lalang. Azura melihat seseorang yang dikiranya itu Devan. Dia langsung memeluk orang itu.
"Lepas, lepasin suamiku" ucap Siti, istri lelaki yang dipeluk Azura.
Siti berusaha melepas tangan Azura yang memeluk suaminya.
"Mba maaf, lepasin pelukannya" ucap Dirga, suami siti.
Azura melihat kembali lelaki yang dipeluknya. Lelaki itu hanya sedikit mirip dengan suaminya.
Azura melepas pelukannya dari lelaki itu. Dia kembali berjalan mencari Devan.
"Pasti tuh orang gila Mas" ucap Siti.
"Jangan suudzon dulu, mungkin saja dia salah orang" ucap Dirga.
Ditempat lain Luna baru saja keluar dari toilet. Dia tidak melihat Azura ada dikursi.
"Loh kok Kak Azura gak ada" ucap Luna.
Luna mencari Azura mengelilingi taman bunga itu. Dia menyusuri setiap tempat, mungkin saja Azura ada disalah satu tempat di taman bunga itu.
"Gak ada, Kak Azura kemana?" ucap Luna mulai cemas.
Luna kembali mencari Azura di taman bunga. Setelah semua diputari sampai tiga kali. Dia memutuskan keluar dari taman bunga. Luna mencari ditepi jalan. Dia berjalan ditepi jalan sambil menanyakan pada setiap orang yang melintasi jalan raya. Tapi belum juga menemukan Azura.
Luna berpikir untuk menelpon Rafka. Dia mengeluarkan handphonenya lalu menelpon kakaknya.
"Hallo Kak" ucap Luna.
"Hallo Luna" ucap Rafka.
"Kakak dimana?" tanya Luna.
__ADS_1
"Aku lagi dijalan bersama Gista dan ibunya" ucap Rafka.
"Oh gitu, begini kak, tadi aku mengajak Kak Azura jalan-jalan ditaman bunga. Lalu kami duduk berdua, tak lama aku pergi ke toilet sebentar, saat aku kembali Kak Azura udah gak ada. Aku dah nyari ke seluruh tempat yang ada di taman bunga tapi Kak Azura gak ada. Akhirnya aku menyusuri jalan dekat taman, Kak Azura belum ke temu juga" ucap Luna.
"Oke, nanti aku setelah mengantar Gista dan ibunya. Aku akan mencari Azura" ucap Rafka.
"Baiklah kak" ucap Luna.
Luna menutup telponnya setelah bicara dengan Rafka. Dia kembali mencari Azura.
************
Ibu Dewi duduk diruang ruang keluarga bersama Nico. Mereka sedang bersantai sambil minum kopi. Ibu Dewi memikirkan Azura yang ada ditangan Rafka. Dia jadi tidak bisa menyiksa Azura lagi.
"Kanjeng ibu akan membiarkan Azura terlepas begitu saja?" tanya Nico.
"Tidak, dia harus membayar semuanya" ucap Ibu Dewi.
"Lalu apa yang akan kanjeng ibu lakukan?" tanya Nico.
"Aku punya cara untuk membawa Azura kembali ke rumah ini" ucap Ibu Dewi.
Ibu Dewi tersenyum licik. Dia punya rencana untuk membawa Azura meninggalkan Rafka dan kembali ke rumah keluarga Barata.
"Lama tak bertemu kanjeng ibu, aku rindu" ucap orang itu.
"Kau terlihat sehat dan bugar sekarang" ucap Ibu Dewi.
"Aku dirawat dengan baik ditempat itu kanjeng ibu" ucap orang itu.
"Kau harus membawa kembali Azura ke rumah keluarga Barata" ucap Ibu Dewi.
"Devan yang ini akan mengambil miliknya kembali" ucap orang itu.
"Bagus, itu memang tugasmu" ucap Ibu Dewi.
Setelah berbincang dengan orang itu. Dia pergi ke rumah keluarga Barata bersama orang itu.
*************
Azura berjalan hingga ke Pemakaman Kamboja Merah. Dia masuk ke dalam tanah pemakaman itu. Kaki terus melangkah mencari batu nisan milik Devan. Dia menangis sambil mencari batu nisan itu. Ketika menemukan batu nisan bertulis nama Devan Barata, Azura langsung memeluk tanah makan tempat Devan tidur diperistirahatannya yang terakhir. Azura tengkurap memeluk tanah.
"Mas Devan aku rindu, aku rindu, hik hik hik....
Kembalilah Mas, aku tidak akan meminta hakku lagi. Temani aku Mas, jangan tinggalkan aku sendirian hik hik hik" ucap Azura.
__ADS_1
Kematian Devan begitu mendadak. Dia juga tidak menceritakan masalahnya selama ini pada Azura. Dia malah merahasiakan semuanya dari Azura. Dan saat Azura tahu, dia sangat terpukul.
"Aku ingin bersamamu lagi Mas hik hik hik.....
Walaupun seumur hidupku tak pernah kau sentuhpun tak apa-apa, kembalilah Mas hik hik hik" ucap Azura.
Hujan mulai turun cukup deras. Tanah dipemakaman itu terguyur air hujan. Baju Azura sudah basah kuyup. Air matanya tak terlihat lagi tertutup air hujan yang membasahi pipinya. Azura terus memeluk tanah makam Devan. Dia mengigil kedinginan. Luna datang menghampirinya dan memeluk Azura.
"Kak, jangan seperti ini. Aku ikut sedih jadinya hik hik hik" ucap Luna.
"Mas Devan sudah pergi jauh, dia sudah tenang disana. Kalau kakak begini, Mas Devan akan sedih juga. Dia tidak akan tenang hik hik hik" ucap Luna.
"Ayo kita pulang, hujan semakin deras, nanti kakak sakit" ucap Luna.
Luna berusaha menarik tubuh Azura.
"Aku ingin disini bersama Mas Devan hik hik hik" ucap Azura.
Luna terus menarik tubuh Azura. Karena Azura masih saja sulit diajak pergi, Dia menarik lengan Azura, membawanya berjalan.
"Lepaskan aku, aku ingin bersama Mas Devan hik hik hik" ucap Azura.
"Kak Azura kalau kakak seperti ini sama saja kakak menyakiti diri kakak sendiri, dan Allah tidak suka orang yang menyakitinya dirinya sendiri" ucap Luna.
Azura terdiam, dia menangis tersedu-sedu.
"Kau tahu, Kak Rafka berusaha melindungimu agar kau bahagia Kak. Padahal dia bukan siapa-siapamu tapi dia peduli denganmu. Masa kau sendiri tidak peduli dengan dirimu sendiri. Ayo kak pulang, ikhlaskan semuanya" ucap Luna.
Akhirnya Azura mau diajak pulang Luna. Mereka naik taksi menuju ke rumah besar Arian. Sampai dirumah besar itu, Luna membawa Azura ke kamarnya. Dia membantu Azura mandi dan berganti pakaian. Luna menyisir rambut panjangnya.
"Kakak cantik banget deh" ucap Luna.
Tak lama suara handphone Luna berdering. Panggilan telpon dari Rafka. Dia menganggkat telpon Rafka.
"Hallo Kak Rafka" ucap Luna.
"Gimana? Azura udah ketemu atau belum?" tanya Rafka.
"Udah Kak, sekarang udah ada dirumah" ucap Luna.
"Alhamdulillah, makasihnya Lun" ucap Rafka.
"Sama-sama Kak" ucap Luna.
Luna menutup telponnya setelah selesai bicara dengan Rafka. Dia menghampiri Azura lagi, mengajaknya mengobrol dan menemaninya.
__ADS_1