Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Istri Pertama


__ADS_3

Setelah acara pernikahan itu selesai Rafka mengantar Azura masuk ke kamarnya. Dia butuh istirahat agar pikirannya lebih tenang. Azura duduk diranjang, dia masih mengenakan baju pengantinnya lengkap dengan semua aksesoris diatas hijab pengantin itu. Rafka duduk di samping Azura.


"Azura biar aku membantumu melepas aksesoris dikepalamu". Rafka menawarkan bantuan pada Azura.


Azura hanya mengangguk. Dia tidak mengatakan satu katapun pada Rafka. Aksesoris dikepalanya satu persatu dilepas Rafka hingga hijabnya juga dilepas. Rafka membuka ikatan rambut Azura lalu menyisir rambut panjangnya yang terurai.


Azura memang cantik jelita tak diragukan lagi kenapa dia jadi seorang artis. Bukan hanya karena bakatnya tapi juga karena parasnya yang cantik jelita. Dengan telaten Rafka menyisir rambut Azura.


"Azura besok aku akan membelikanmu mahkota bunga yang indah, kau akan terlihat cantik bagai putri istana saat memakainya". Rafka berpikir membelikan sesuatu untuk istrinya mungkin akan membuatnya bahagia.


Azura hanya diam saja, dia tidak berkata apapun pada Rafka. Luka di hatinya masih belum sembuh jadi dia masih menutup diri pada siapapun.


"Apa kau ingin ganti baju? biar aku keluar". Rafka berdiri hendak keluar tapi tangan Azura menghentikan Rafka.


"Mas tidak perlu keluar, aku ini istrimu". Azura mengatakan sesuatu yang cukup panjang didengar Rafka. Dia melepas satu persatu baju miliknya di depan Rafka. Ini pertama kalinya Azura melepas pakaiannya di depan seorang lelaki. Pandangannya hampa dia saat melepas pakaiannya, Rafka melihat sekilas tubuh indah istrinya untuk pertama kalinya. Rafka langsung menutup tubuh Azura dengan selimut di sampingnya.


"Aku ambilkan baju gantinya dulu ya". Rafka berdiri mengambil baju untuk Azura di dalam lemari. Semenjak Azura tinggal bersamanya, dia sudah membelikan banyak baju untuk Azura. Beberapa Freya dan Luna yang beli, sebagian lagi Rafka yang membelinya.


Rafka membawa dress indah untuk Azura. Dia memberikan padanya. Rafka membalikkan badannya saat Azura mengenakan dress itu. Dia begitu menghormati Azura. Dia tidak ingin melihat sesuatu tanpa rasa cinta. Selesai Azura memakai dress itu Rafka membalikkan badannya. Dia menemani Azura duduk di ranjang sambil membacakan buku dongeng sementara Azura berbaring di ranjang. Lama-lama Azura tertidur. Rafka menyelimutinya dengan selimut yang ada diranjang.


Tak lama Rafka juga tertidur di samping Azura. Dia masih memegang buku dongeng itu di tangannya sementara posisinya tidurnya menghadap Azura.


Setelah pukul 6 malam Azura terbangun menatap wajah tenang yang sedang tertidur di sampingnya itu. Dia melihat dengan jelas lelaki itu begitu baik. Dia tak berani menyentuh Azura bahkan hanya untuk melihat tubuh Azura saja dia tidak akan melihatnya sampai benar-benar ada cinta diantara mereka. Tangan Azura meraba pipi Rafka. Dia teringat Devan yang tak berani menyentuhnya juga. Bedanya Devan tidak berani menyentuh karena terkena HIV AIDS sementara Rafka tak mungkin menyentuh Azura tanpa rasa cinta diantara keduanya.


Rafka membuka matanya, dia melihat Azura sedang menatapnya. "Apa kau lapar Azura?". Rafka bertanya. Dia berpikir mungkin istrinya lapar.


Azura menggeleng, dia belum ingin makan.


"Aku ingin sholat, apa kau mau berjamaah denganku?". Rafka bertanya. Dia berharap Azura kembali seperti Azura yang dulu. Saat bertemu di kamar hotel Azura mengejar waktu untuk sholat subuh.


Azura mengangguk, untuk pertama kalinya Azura mau sholat berjamaah bersama Rafka. Azura dibopong Rafka masuk ke toilet untuk berwudhu.

__ADS_1


"Azura berwudhulah duluan". Rafka mempersilahkan Azura wudhu terlebih dahulu.


Azura berjalan menuju kran airnya tak sengaja dia terpeleset hingga menyentuh kran untuk shower. Dia terkejut ketika air dari shower itu mengalir hingga memeluk Rafka.


"Kau takut". Rafka membalas pelukan Azura. Dia memeluk Azura dalam dekapannya. Mereka basah bersama dibawah air shower itu.


"Ha....ha....ha....Mas basah". Azura tertawa riang untuk pertama kalinya. Tangan Azura memegang lengan Rafka. "Kalau itu membuat istriku senang aku akan basah-basahan dibawah shower ini biar kau tertawa sampai lelah". Rafka memegang pipi Azura dengan kedua lengannya.


Azura tersenyum, dia merasa hatinya hangat meskipun hanya sedikit.


"Aku akan mengambilkanmu handuk ya". Rafka melepas tangannya dari pipi Azura.


Azura mengangguk, Rafka mengambil handuk. Dia mematikan kran shower lalu menghanduki tubuh basah Azura. Meskipun tubuh Azura begitu seksi saat basah tapi Rafka membuang semua pikiran kotornya yang mungkin saja bisa datang kapanpun. Dia berharap jika nanti mereka akan menyatu sebagai suami istri itu karena cinta bukan ***** belaka apalagi hanya karena pelampiasan.


Rafka dan Azura sholat magrib berjamaah. Azura mencium tangan Rafka seusai sholat begitupun Rafka mencium kening Azura.


"Kau lapar?". Rafka bertanya.


"Mau makan ke bawah atau disini?". Rafka bertanya kembali. Dia tahu Azura masih perlu adaptasi dengan keramaian. Dia memerlukan waktu untuk memulihkan hatinya dan membuka hatinya seperti sedia kala.


"Disini". Azura menjawab singkat.


"Aku ambilkan dulu ya".


Azura mengangguk kembali. Rafka berdiri melepas sarung dan peci miliknya. Lalu dia keluar dari kamar itu. Dia berjalan menuju ke ruang makan. Di ruang makan hanya ada Radhitya yang sedang makan. Rafka menuju meja makan. Dia mengambil piring, menatap beberapa lauk yang ada di meja makan.


"Pengantin baru mau makan di kamar ya". Radhitya menggoda. Soal percintaan dia tahu seluk beluknya dari hulu ke hilir.


"Iya, kok tahu". Rafka gak paham adiknya itu tahu aja yang akan dilakukannya. Lelaki playboy itu memang sudah bisa menebak isi kepala Rafka.


"Apa sih yang aku gak tahu, Kak Rafka belum berani malam pertamaankan, tenang semua akan berubah setelah malam ini". Radhitya sepertinya tahu yang akan terjadi nanti malam.

__ADS_1


"Minum nih kak". Radhitya memberikan Rafka secangkir minuman. Rafka langsung mengambil dan meminumnya.


"Ugh.....ugh....ugh". Rafka terbatuk seusai minum air dicangkir yang diberikan Radhitya. Dia merasa aneh dengan air di cangkir itu. Rasanya mirip seperti jamu. Dia tadi berpikir itu kopi atau mungkin minuman penambah tenaga.


"Ini apa, rasanya aneh?". Rafka bertanya.


"Nanti kau akan tahu, sudah ambilkan makanan untuk kakak ipar, setelah itu kau akan melewati indahnya malam ini". Radhitya memberikan teka-teki yang membuat penasaran. Tapi Rafka tidak peduli. Dia mengambil nasi, lauk pauk, sayauran dan buah untuk Azura.


"Aku naik dulu". Rafka berjalan keluar dari rusng tamu.


"Oke, semoga sukses malam ini". Radhitya tersenyum. Ide gilanya mungkin berhasil, padahal dia sendiri belum pernah mencobanya.


Rafka masuk ke kamar Azura membawa piring yang berisi makanan. Dia menghampiri Azura yang duduk di karpet kamar itu.


"Azura ayo makan". Rafka mengajak Azura makan. Dia duduk disamping Azura. Azura mengangguk. Rafka menyuapinya makan sampai piring itu kosong.


Rafka meletakkan piring di meja lalu menemani Azura duduk. Tak lama mereka sholat isya bersama. Seusai sholat Rafka berbaring di ranjang bersama Azura.


"Kau mengantuk Azura, tidurlah". Rafka mengelus kepala Azura sampai tertidur. Sementara Rafka merasa aneh dengan tubuhnya. Rasa panas dan bergairah muncul dibenaknya. Dia melihat ke arah Azura.


"Aku kenapa? kenapa aku ingin". Rafka gelisah dan tak nyaman. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Azura. Dia hendak mencium Azura.


"Astagfirullah, aku tidak mungkin menyentuh Azura dengan cara seperti ini". Rafka berdiri menuju ke toilet. Dia menyalakan kran shower lalu sengaja berdiri dibawah shower membiarkan tubuhnya basah terkena air yang mengalir dari atas shower.


"Radit benar-benar mengerjaiku, aku tersiksa". Rafka merasa tubuhnya tak karuan. Dia melepas pakaiannya lalu memakai handuk. Rafka keluar dari toilet. Dia berdiri di depan AC berharap bisa mendinginkan suasana. Sesekali dia melihat ke arah Azura.


"Tidak, ini pasti karena efek minuman itu". Rafka berusaha menyakinkan dirinya agar mampu menahan keinginannya yang muncul karena pengaruh minuman yang diberikan Radithya.


Berdiri di depan AC belum membuatnya normal kembali. Rafka mengambil tali, dia lompat tali dikamar itu. Lompat tali belum membuatnya normal, Rafka berlari bolak balik di dalam kamar itu.


"Mas kau sedang apa?". Azura bertanya.

__ADS_1


__ADS_2