
Luna duduk bersama Manda diteras sebuah rumah dilokasi syuting. Walaupun Luna tidak mengenal dekat Manda, tapi dia tahu Manda wanita yang baik. Selama ini Luna merasa kasihan pada Radhitya yang masih mengharapkan cinta Manda.
"Kak Manda, sebenarnya aku ingin bicara soal Kak Radit" ucap Luna.
"Soal apa ya Lun?" tanya Manda.
"Selama ini Kak Radit itu cinta sama Kak Manda, ya walau dia dulu playboy tapi dia tulus loh cinta sama Kak Manda. Dia udah gak playboy lagi" ucap Luna berusaha menyakinkan Manda.
Manda langsung memikirkan ucapan Luna. Radhitya memang berkali-kali mengatakan cintanya pada Manda bahkan sudah beberapa tahun ini Radhitya masih saja mengatakan cinta padanya. Walaupun sudah jelas-jelas dia menolaknya.
"Kak Radit tak pernah mendekati perempuan lain selain Kak Manda, dia masih berharap bisa bersama Kak Manda" ucap Luna.
"Lun, aku seorang janda dan miskin, apa aku pantas untuk Radhitya yang punya segalanya" ucap Manda.
"Kak Radit tidak memandang orang yang dicintainya dari status ataupun hartanya. Dia benar-benar mencintai Kak Manda, mana mungkin dia menunggu selama ini kalau tidak benar-benar mencintai Kak Manda" ucap Luna.
Manda termenung, dia coba memikirkan semua perkataan Luna.
"Tapi keputusan ada ditangan Kak Manda, aku berharap entah Kak Radit ataupun Kak Manda bisa bahagia baik bersama ataupun tidak" ucap Luna.
Manda mengangguk. Luna memutuskan pulang. Dia meninggalkan lokasi syuting. Manda hanya terdiam. Bukannya dia tidak mencintai Radhitya tapi dia tak ingin membuat Radhitya malu jika menikah dengannya.
Waktu berganti malam, Manda dan Cecep berjalan ditepi jalan mencari angkutan umum.
"Cep kamu kenapa meringis dari tadi, sakit gigi?" tanya Manda.
"Ngenes deh kalau diceritain lengkapnya" ucap Cecep.
"Makan tai sapi atau kecemplung di septic tank ya?" tanya Manda.
"Lebih ngenes dari itu, aku loncat diatas lumpur jatuh berkali-kali, udah gitu kain kafanku lepas, eh jadi iklan CD bolongkan jadinya" ucap Cecep.
"Kok bisa peranmu ngenes amat, bukannya harusnya tukang gali kubur ya yang ngenes" ucap Manda.
"Itu dia masalahnya, aku kena PHP naskah, gaji banyakan peran tukang gali kubur, tapi dari segi penderitaan banyakkan aku" ucap Cecep.
"Sabar Cep, namanya juga figuran, wajarlah kita usaha dulu, siapa tahu nanti bisa jadi peran utama. Dulu aja aku cuma tangan dan kaki doang yang ke sorot lampu kamera, itupun sama ngenesnya dari kamu. Ya sisi baiknya sekarang aku udah jadi figuran, paling gak Emakku bener-bener liat aku di tv bukan kaki ataupun tangannya doang" ucap Manda.
"Iya ya, gak mudah menuju kesuksesan, apapun butuh usaha dan kerja keras. Mereka yang udah ngetop pasti sudah melewati masa seperti kita juga" ucap Cecep.
Tak lama sebuah mobil berhenti didekat Manda dan Cecep. Seseorang keluar dari dalam mobil, ternyata orang itu Radhitya.
"Manda, Cecep bareng yuk, udah malam nyari angkutan umum susah" ucap Radhitya.
Manda dan Cecep berdiskusi berdua. Mereka berdiskusi untuk memutuskan harus ikut atau tidak.
"Ikut" ucap Manda dan Cecep.
Dari pada nunggu angkutan umum yang entah kapan datang, lebih baik nebeng Radhitya.
Cecep duduk didepan bersama supir. Sementara Manda duduk dibelakang bersama Radhitya.
"Manda kata orang mengatakan cinta didalam mobil boleh juga, biar langsung dibayar kaya kenet yang nagih ongkos buat karcis" ucap Rafhitya.
"Aku mencintaimu, apa kau mau menerima cintaku?" tanya Radhitya.
Kroook.....kroooook.....kroooook......
"Yah...dia udah ngorok aja, belum juga ngatain cinta" ucap Radhitya.
Manda tertidur pulas padahal baru sepuluh menit masuk mobil.
__ADS_1
"Enaknya semur jengkol enyak" ucap Manda mengigau.
"Pantes, dari tadi bau apa ternyata bau jengkol dari alam mimpi" ucap Radhitya.
Pruuut....pruuuut.....pruuuut.......
Cecep yang tertidur kentut terus, kebanyakan makan angin selama proses syuting.
"Ya ampun, Si Cecep ikut menebar bau yang lain, tapi ini baunya kok lebih busuk ya" ucap Radhitya.
Radhitya menunggu sampai Manda bangun. Dan akhirnya Cecep turun didepan rumahnya. Mobil kembali melaju ke rumah Manda. Sampai di jalan dekat rumah Manda, Radhitya membangunkan Manda.
"Manda bangun...bangun.....bangun Manda" ucap Radhitya menepuk lengannya.
Manda terbangun, dia melihat wajah tampan Radhitya.
"Radit, aku juga mencintai" ucap Manda.
"Eh...yang bener? kamu gak kebanyakan makan jengkolkan jadi begini?" tanya Radhitya.
Radhitya sedikit tidak percaya. Karena tadi Manda mengigau. Takutnya apa yang diucapkannya sekarang juga hanya karena dia masih belum sadar sepenuhnya.
"Aku tadi denger kau bilang cinta sama aku saat aku makan semur jengkol" ucap Manda.
"Alhamdulillah, diterima juga" ucap Radhitya.
"Aku gak mau pacaran, kalau cinta nikahin aku" ucap Manda.
"Oke, setelah promo Film Tukang Gali Kubur Apes selesai, aku nikahin kamu ya" ucap Radhitya.
Manda mengangguk. Radhitya kegirangan. Akhirnya penantian panjangnya berbuah manis.
Sebentar lagi dia akan bersanding dengan Manda.
Gista tinggal disebuah rumah besar pemberian Rafka sebagai harta gono gini yang diberikannya untuk Gista. Bukan hanya itu Rafka juga memberinya mobil, apartemen, lahan beberapa hektar, tabungan, logam mulia dan sebuah mini market untuk Gista bekerja. Kini Gista tak perlu susah payah mencari kerja, dia tinggal mengurus mini market miliknya. Pagi itu Nathan mengantar Gista ke mini market tempatnya bekerja sekalian mengantar Alifa bekerja.
"Makasih ya Mas, udah dianter" ucap Gista.
"Iya calon istriku, nanti pulang aku jemput ya" ucap Nathan.
"Oke" ucap Gista.
"Dah Tante" ucap Alifa.
"Dah sayang" ucap Gista.
Mobil Nathan meninggalkan mini market itu. Sedangkan Gista berjalan memasuki mini market miliknya. Pagi itu baru beberapa karyawan yang hadir. Mini marketnya cukup besar. Tersedia berbagai kebutuhan pokok. Gista sendiri yang menjadi manager di mini market itu.
"Pagi Bu" ucap Semua karyawan.
"Pagi" ucap Gista.
"Maaf Bu saya telat" ucap Lelaki tampan yang baru masuk mini market.
"Siapa kamu?" tanya Gista yang tidak mengenal lelaki tampan yang baru masuk.
Leader dari mini market itu memperkenalkan lelaki tampan itu.
"Bu Gista, ini Pasha Handika, karyawan baru yang kemarin interview" ucap Yusuf, leader mini market itu.
"Oh, karyawan baru, untuk hari ini masih dimaklumi tapi besok kau harus lebih disiplin lagi" ucap Gista.
__ADS_1
Pasha menundukkan kepalanya.
"Baik Bu" ucap Pasha.
Gista memimpin jalannya briefing pagi itu. Dia mengevaluasi pekerjaan karyawannya hari kemarin.
***********
"Nama Mamaku...." ucap Jingga.
Kriiing.....kriiiing.....kriiing.....
Handphone Rafka berdering. Seketika Rafka melihat handphonennya. Sebuah panggilan dari sekretarisnya.
"Om angkat telpon dulu ya" ucap Rafka.
"Iya Om" ucap Jingga.
Rafka beranjak dari tempat itu. Dia berdiri didekat pohon sambil mengangkat telponnya.
"Siang Bos" ucap Rara.
"Siang" ucap Rafka.
"Bos, lahan yang akan didirikan perusahaan cabang, didemo warga yang mendirikan bangunan liar dilahan itu" ucap Rara.
"Apa sudah memanggil aparat keamanan?" tanya Rafka
"Sudah Bos, tapi mereka malah anarkis" ucap Rara.
"Oke, aku kesana segera" ucap Rafka.
Rafka menutup telponnya. Dia kembali menghampiri Biru dan Jingga.
"Om harus pergi, ini kartu nama Om, kalau kalian butuh sesuatu telpon saja ke nomor ini" ucap Rafka memberikan kartu namanya pada Biru dan Jingga.
"Iya Om" ucap Biru dan Jingga.
Rafka mencium kening kedua anak kembar itu. Lalu memberikannya sejumlah uang seratus ribuan.
"Om ini kebanyakan" ucap Biru.
"Sisanya untuk jajan kalian" ucap Rafka.
"Tidak, ambil kembali. Mama tidak mengajari kami meminta-minta" ucap Biru.
"Oke" ucap Rafka menerima kembali uang yang diberikannya.
Rafka kagum pada kedua anak kembar itu. Dia mengeluarkan uang lima puluh ribu dan memberikannya pada Biru.
"Ini kembaliannya Om" ucap Biru memberikan uang kembaliannya.
"Terimakasih, kalian memang anak yang baik" ucap Rafka sambil mengelus kepala Biru dan Jingga.
"Om pergi dulu, assalamu'alaikum" ucap Rafka.
"Wa'alaikumsallam" ucap Biru dan Jingga.
Rafka meninggalkan tempat itu. Kedua anak kembar itu melihat kartu nama Rafka yang diberikan pada mereka.
"Wajah Om itu mirip Biru" ucap Jingga.
__ADS_1
"Tapi aku lebih tampan darinya" ucap Biru.