
"Kau benar, seharusnya aku tidak membawa barang daganganku ke kantor"ucap Gista.
"Tapi Presdir orang yang baik pasti akan memaafkanmu"ucap Rara.
"Baiklah, aku ke ruangannya dulu"ucap Gista.
"Hati-hati Gista, berdoalah sebelum masuk ke ruangannya"ucap Rara..
"Iya, makasih ya Ra"ucap Gista.
"Sama-sama"ucap Rara.
Kista keluar dari ruangan HRD Dia menuju ke ruangan kerja Rafka. Dia masuk ke dalam ruangan itu.
"Assalamu'alaikum"ucap Gista.
"Wa'alaikumsallam"ucap Rafka.
"Duduklah"ucap Rafka.
"Baik Presdir"ucap Gista.
Gista duduk di depan meja kerja Rafka. Dia merasa bersalah karena sudah melanggar aturan perusahaan tempatnya bekerja. Kepalanya menunduk karena rasa bersalahnya.
"Gista kamu jualan apa?"tanya Rafka.
"Gorengan, kue basah dan aneka keripik"ucap Gista.
"Apa kau membuatnya sendiri?"tanya Rafka.
"Iya Presdir"ucap Gista.
"Gista apa gajimu di perusahaan ini belum cukup?"tanya Rafka.
"Sudah Presdir, saya hanya ingin menjalankan hobi saya saja"ucap Gista.
"Peraturan di perusahaan kita tidak memperbolehkan karyawan berjualan diarea bekerja dan disaat jam bekerja"ucap Rafka.
"Saya tahu Presdir, saya minta maaf"ucap Gista.
"Aku tidak mempermasalahkan keinginanmu berdagang, jadi bagaimana kalau kau berdagang di kantin saat jam istirahat dan sebelum jam kerja dimulai saat pagi hari"ucap Rafka.
"Benarkah saya tetap boleh berdagang Presdir?" tanya Rafka.
"Iya, nanti aku akan membuatmu tempat untukmu berdagang dikantin perusahaan ini"ucap Rafka.
"Terimakasih banyak Presdir"ucap Gista.
"Oya, Gista kenapa pipimu biru lagi?"tanya Rafka.
"Saya terbentur pintu kamar Presdir"ucap Gista.
"Oh....lain kali berhati-hatilah"ucap Rafka.
"Iya Presdir"ucap Gista.
"Kau boleh kembali ke ruanganmu"ucap Rafka.
"Baik Presdir"ucap Gista.
Gista keluar dari ruangan kerja Rafka, dia kembali ke ruangan kerjanya. Sementara itu Rafka masih duduk di kursi kerja hanya menatap ke jendela kaca di ruangan kerjanya. Dia tahu Gista sedang berbohong padanya.
"Gista kau sedang berbohong padaku, aku tahu kau tidak bisa berbohong"ucap Rafka.
Flash Back On
Rafka mengingat masa sekolahnya saat duduk dibangku SMA. Saat itu dia mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS). Saat itu Gista menangis di kelas karena lupa membawa tugas yang diberikan kakak pembina. Rafka yang tak sengaja melewati kelas itu mendengar suara Gista menangis. Rafka masuk ke kelas itu menghampiri Gista.
"Kenapa kau menangis?"tanya Rafka.
"Hik....hik....hik....hik....."Gista masih menangis, matanya sampai terlihat bengkak.
"Ayo kumpul dilapangan nanti kakak pembina menghukum kita kalau terlambat"ucap Rafka.
"Hik....hik....hik.....hik...."Gista masih saja menangis.
"Kalau kau tidak bilang alasanmu menangis mana aku tahu"ucap Rafka.
"Hik....hik.....hik....hik....."Gista semakin kencang menangisnya.
"Heo kau, jangan tambah kencang menangisnya, nanti orang mengira aku menyakitimu"ucap Rafka.
"Topi kartonku tertinggal, aku pasti akan dihukum keliling lapangan hik....hik....hik...."ucap Gista.
"Oh....karena itu kau menangis"ucap Rafka.
Rafka mengeluarkan topi karton miliknya dari dalam ranselnya. Dia memberikan topi karton miliknya pada Gista.
"Nih ambil punyaku"ucap Rafka.
"Tapi itu punyamu"ucap Gista.
"Ambilah, aku gak butuh"ucap Rafka.
"Kau akan dihukum karena tidak membawa topi karton ini"ucap Gista.
"Aku ini laki-laki, udah biasa dihukum"ucap Rafka.
Gista mengambil topi karton milik Rafka yang diberikan padanya oleh Rafka.
"Terimakasih ya"ucap Gista.
"Sama-sama"ucap Rafka.
__ADS_1
"Namaku Gista Devina"ucap Gista memperkenalkan dirinya pada lelaki tampan yang berdiri didepan mejanya.
"Namaku Rafka Alexsandro"ucap Rafka memperkenalkan diri nya pada gadis cantik berhijab yang duduk dikursi.
"Ayo kumpul di lapangan"ucap Rafka.
"Iya"ucap Gista.
Rafka dan Gista berjalan bersama menuju ke lapangan tempat mereka berkumpul di pagi hari.
Gista masuk ke barisan kelasnya. Begitupun Rafka juga kembali ke barisan kelasnya. Kakak pembina mulai mengecek kelengkapan para peserta MOS.
"Rafka dimana topi kartonmu?"tanya Yuda seorang kakak pembina.
"Ketinggalan Kak"ucap Rafka.
"Kenapa bisa ketinggalan?"tanya Yuda.
"Lupa bawa Kak"ucap Rafka.
Rafka terpaksa berbohong demi menyelamatkan Gista. Dia tidak peduli jika nanti akan dihukum kakak pembinanya.
"Lupa? itu bagian tugas yang harus kau bawa" ucap Yuda.
"Maaf Kak"ucap Rafka.
"Baiklah, sekarang kau lari lapangan sebanyak sepuluh kali"ucap Yuda.
"Baik Kak"ucap Rafka.
Semua siswa kembali ke kelas kecuali Rafka yang harus mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali. Gista yang sekilas melihat Rafka sebelum masuk ke kelasnya dia merasa bersalah. Seharusnya dialah yang dihukum tapi justru Rafka yang dihukum.
Setelah jam istirahat Gista menghampiri Rafka yang sedang duduk dibawah pohon. Dia membawa jus jeruk untuk diberikan pada Rafka.
"Rafka"ucap Gista.
Raka menoleh ke samping, Gista berdiri membawa jus jeruk ditangannya.
"Ini jus jeruk untukmu"ucap Gista sambil memberikan jus jeruk itu pada Rafka.
"Dalam rangka apa kau memberiku jus jeruk?"tanya Rafka sambil menerima jus jeruk dari Gista.
"Sebagai permintaan maafku karena tadi seharusnya aku lah yang dihukum Kakak pembina"ucap Gista sambil menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
"Oh karena itu, tenang saja aku sudah biasa kok hukum"ucap Rafka.
"Tapi hukumanmu kali ini itu karena aku"ucap Gista.
"Akulah yang memberikan topi itu padamu jadi kau tidak salah"ucap Rafka.
"Kalau begitu maukah kau berteman denganku" ucap Gista.
"Jadi tadi saat aku memberikanmu topi kau belum menganggapku sebagai teman?"tanya Rafka.
"Tentu tidak, tersenyumlah jangan tegang seperti itu aku ini bukan monster"ucap Rafka.
Gista tersenyum manis pada Rafka, mulai saat itu mereka berteman.
Tiga Tahun Kemudian
Rafka dan Gista duduk dikelas tiga SMA. Mereka masih berteman hanya saja berbeda kelas. Tapi walaupun begitu mereka masih bertemu saat istirahat ataupun pulang sekolah. Rafka memiliki perasaan pada Gista. Dia membawa coklat untuk Gista. Hari itu dia ingin mengungkapkan perasaannya pada Gista. Dia bahkan membawa satu tangkai bunga mawar merah.
"Besok wisuda sekolah, aku ingin Gista tahu perasaanku"ucap Rafka.
Rafka berpikir kalau nanti Gista menerima cintanya dia akan kuliah ditempat yang sama dengan Gista. Dia ingin menikahi Gista setelah lulus kuliah.
Rafka berjalan ke kelas Gista di kelas 3 IPA 2, tapi Gista tidak ada didalam kelas itu. Rafka menanyakan keberadaan Gista pada teman di kelas itu.
"Fika, Gista kemana?"tanya Rafka.
"Paling lagi bersama Derry di taman sekolah" ucap Fika.
"Derry?"ucap Rafka terkejut.
Rafka tidak tahu kalau Gista mengenal Derry anak kelas 3 IPS 4. Selama ini Rafka hanya tahu Gista dekat dengannya. Kalaupun punya teman paling teman sekelasnya.
"Kau tidak tahu ya kalau Gista dan Derry bertunangan"ucap Fika.
"Apa? Gista dan Derry bertunangan?"ucap Rafka semakin terkejut.
"Iya, katanya mereka akan menikah muda habis lulus SMA ini"ucap Fika.
"Menikah"batin Rafka.
Rafka semakin terkejut saat mendengar rencana Gista yang akan menikah dengan Derry. Bagai disambar petir disiang hari Rafka mendengar itu. Semua impiannya bersama Gista hancur sudah. Dia tidak tahu semua ini akan datang mendadak seperti ini. Bahkan dia belum mempersiapkan diri untuk mendengarnya.
"Yaudah, makasih ya infonya"ucap Rafka.
"Oke"ucap Fika.
Rafka keluar dari kelas 3 IPA 2. Dia berjalan menuju ke taman disekolahnya. Rafka melihat Gista sedang duduk di bawah pohon bersama Derry. Gista terlihat bahagia berada di samping Derry.
"Gista, apa aku harus merelakanmu dengan Derry? padahal aku belum memberi tahu mu perasaan ku yang sebenarnya pada mu. Apa kau akan bahagia bersama Derry? aku akan bahagia jika kau bahagia walaupun itu bukan dengan ku" ucap Rafka.
"Semoga kau bahagia Gista, aku akan berusaha melupakan perasaan ini dan menjadikan semua ini kenangan indah yang akan ku kenang nanti. Jika memang berjodoh mungkin kita akan bertemu nantinya"ucap Rafka.
Rafka meninggalkan taman sekolah itu. Dia kembali ke kelas Gista dan menaruh seikat bunga mawar merah dan coklat di laci bangkunya. Lalu Rafka keluar dari kelas itu.
Semenjak saat itu Rafka tak pernah lagi menemui Gista. Saat wisuda SMA Rafka berusaha menghindar dari Gista. Dia bukan tidak ingin bertemu Gista. Tapi dengan cara itulah dia berusaha melupakan cintanya pada Gista. Dia tidak ingin jika nanti bertemu Gista kembali dia akan sulit melupakannya. Semua yang dia lakukan demi kebaikannya dan Gista.
Gista menikah dengan Derry setalah lulus SMA. Karena undangan dari Gista, Rafka akhirnya memutuskan untuk menghadiri pernikahan Gista dan Derry. Walaupun hatinya sakit tapi Rafka berusaha hadir untuk menghormati Gista sebagai teman yang dikenalnya tiga tahun lalu. Rafka melihat Gista dan Derry dari kejauhan. Dia melihat senyum kebahagian Gista yang terpancar. Itu membuat Rafka sudah merelakan Gista bersama Derry.
"Gista selamat ya, semoga kau bahagia. Pertemuan kita saat itu menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Kau cinta pertamaku selama tiga tahun sekolah di SMA. Selamat tinggal cinta pertamaku"ucap Rafka.
__ADS_1
Rafka keluar dari gedung pernikahan itu. Senyumnya lebar setelah merelakan sepenuhnya Gista bersama Derry. Dia akan mangkah maju ke depan dan menggapai cita-citanya. Mungkin suatu saat nanti dia akan bertemu dengan cinta sejatinya.
Flash Back Off
"Rasanya baru kemarin semua itu terjadi"ucap Rafka.
"Ternyata sudah sepuluh tahun sejak saat itu"ucap Rafka.
Rafka mulai mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk di meja kerjanya. Dia menyempatkan melihat foto Diana yang ada di meja kerjanya itu.
Bagi Rafka walaupun Diana sudah pergi jauh tapi cintanya tetap ada dihatinya. Diana menjadi kenangan terindah dihidupnya. Dia wanita kedua yang dicintai Rafka setelah Gista. Dan wanita yang dinikahinya setelah lulus kuliah.
"Alhamdulillah pekerjaanku sudah mulai selesai pagi ini, aku sholat dhuha dulu deh"ucap Rafka.
Rafka mengambil wudhu di toilet pribadinya di dalam ruangan kerjanya lalu dia menghamparkan sajadah miliknya di lantai ruangan kerjanya kemudian dia sholat dhuha. Selesai sholat dhuha Rafka menyempatkan dzikir dan berdoa.
"Ya Allah ku serahkan semuanya padamu. Jika hamba memang harus menikah kembali hamba serahkan padamu. Engkau Yang Maha Mengetahui segalanya, amin"ucap Rafka dalam doanya.
Setelah sholat dhuha Rafka kembali mengerjakan pekerjaannya dimeja kerjanya. Dia berusaha semangat dalam mengerjakan semua hal dalam hidupnya. Dia yakin segala sesuatu yang diawali dengan semangat hasilnya akan baik karena dilakukan dengan suka cita dan sungguh-sungguh.
************
Freya memasak didapur untuk makan malam nanti. Sore ini dia akan kedatangan tamu penting. Dia ingin menjodohkan Rafka dengan anak temannya. Freya masak sambil senyum-senyum sendiri, Arian menghampirinya ke dapur lalu memeluknya dari belakang.
"Papi kau membuatku kaget"ucap Freya.
"Habis kangen bermesraan gini"ucap Arian.
"Pi, nanti kalau ada anak-anak yang melihat malu" ucap Freya.
"Mereka semua gak ada dirumah, aman Mi"ucap Arian.
"Papi, masih genit aja udah tua juga"ucap Freya.
Cup
Arian mencium pipi Freya.
"Biar udah tua kemesraan harus tetap dijaga biar kita awet sampai tua"ucap Arian.
"Iya sih Pi, sini ku cium pipi mu"ucap Freya.
Arian merendahkan kepalanya didekat bahu Freya.
Cup
Freya mencium pipi Arian.
"Mi masak banyak banget buat siapa?"tanya Arian.
"Papi lupa, sore ini kita akan menjodohkan Rafka dengan anak teman Mami"ucap Freya.
"Mami beneran menjodohkan Rafka? kirain cuma bercanda"ucap Arian.
"Beneranlah Pi, dari pada nungguin Rafka yang kaku gitu, mau sampai kapan?"tanya Freya.
"Iya sih Mi, tapi anak temenmu itu oke gak?"tanya Arian.
"Oke lah Pi, yang jelas dia anak baik-baik"ucap Freya.
"Baiklah kalau begitu, Papi bantuin Mami masak ya"ucap Arian.
"Oke"ucap Freya.
Arian membantu Freya memasak di dapur, meskipun dia laki-laki tapi Arian pandai memasak. Semenjak dulu dia jadi duda, Arian mulai handal memasak. Tak jarang dia memasak untuk Freya. Sesekali ketika libur dia masak untuk semua anggota keluarganya nya. Dan jangan menyepelekan rasanya, dijamin rasanya enak.
"Pi masak apa?"tanya Freya.
"Masak pepes tahu ikan teri dibakar pasti enak Mi"ucap Arian.
"Eehhmmm.....jadi inget rasanya, pepes tahu ikan teri buatan Papi enak banget"ucap Freya.
"Iya dong Mi, tapi masakan Mami lebih juara" ucap Arian.
Freya paling seneng dipuji Arian seperti ini. Walaupun sudah tua, pujian dari suaminya selalu membuatnya terkesan. Bikin Freya semakin cinta sama Arian. Lelaki itu selain kaya, keren dan tampan, dia sosok ayah yang baik dan penyayang, suami yang setia dan perhatian. Freya selalu nyaman berada disampingnya.
"Pi aku telpon telpon temenku dulu ya"ucap Freya.
"Ya bener Mi, pastikan dia akan datang"ucap Arian.
"Iya dong Pi"ucap Freya.
Freya keluar dari dapur, dia mengambil handphone-nya di meja makan lalu dia menelpon temannya itu.
"Assalamu'alaikum"ucap Freya.
"Wa'alaikumsallam"ucap Temannya Freya.
"Jeng jadikan datang kesini?"tanya Freya.
"Jadi dong jeng, mau ku bawain semur jengkol gak nih?"tanya Temannya Freya.
"Mau...., suamiku paling demen semur jengkol" ucap Freya.
"Yaudah nih, ku bawain serantang"ucap Temannya Freya.
"Jangan lupa bawa anakmu loh Jeng"ucap Freya.
"Beres"ucap Temannya Freya.
"Yaudah, ku ku tunggu kehadiranmu Jeng"ucap Freya.
"Sip"ucap Temannya Freya.
__ADS_1
Freya menutup telpon itu setelah selesai bicara dengan temannya.