
Nathan duduk berdiri didepan Gista. Dia mulai menceritakan keluarganya pada Gista.
"Semua berawal dari...." ucap Nathan.
Flash Back On
Sore itu Nathan membawa Hira ke rumah besar keluarga Darmawan. Nathan ingin memperkenalkan Hira pada keluarganya sekalian untuk meminta restu pada keluarganya. Nathan dan Hira duduk diruang tamu bersama ayah, ibu dan kakak laki-laki Nathan. Mereka duduk bersama diruang tamu itu.
"Pa, Ma, kak, aku mau menikah dengan Hira akhir minggu ini" ucap Nathan.
"Apa? menikah? dengan gadis ini?" tanya Pak Anwar.
"Iya Pa, aku dan Hira saling mencintai" ucap Nathan.
"Cinta? hidup ini perlu uang Nathan. Kau hanya sedang dibutakan dengan cinta" ucap Ibu Sasa.
"Ibu benar Nathan, menikahlah dengan gadis yang bisa memperluas bisnis kita bukannya malah membuat keluarga kita malu" ucap Egi.
"Tapi aku sangat mencintai Hira Pa, Ma, kak, tidak ada lagi yang ku inginkan selain itu" ucap Nathan.
"Jangan pikir Papa akan setuju karena Hira sudah berjasa membuatmu bisa berjalan lagi. Bagi Papa dia tetap gadis miskin beda kasta dengan keluarga kita" ucap Pak Anwar.
"Cinta tidak memandang kasta Pa, aku akan berusaha sekuat tenaga agar perusahaan Papa semakin maju. Tapi izinkanku menikahi Hira" ucap Nathan.
Hira hanya terdiam. Dia tidak berani bicara dengan keluarga Nathan. Dia tahu perbedaan kasta antara dirinya dan Nathan.
"Kau mau memalukan keluarga Darmawan ya Nathan. Mau ditaruh dimana muka Mama kalau semua orang tahu kau menikahi gadis miskin" ucap Ibu Sasa.
"Bu tidak usah memikirkan ucapan orang lain, toh kita menjalani. Kenapa harus meminta pendapat ataupun komentar orang. Berbuat apapun orang akan tetap membicarakan kita, untuk apa malu" ucap Nathan.
"Nathan kau itu sudah kuliah sampai luar negeri tapi malah memilih gadis tak berpendidikan seperti dia. Memalukan dan sungguh bodoh" ucap Egi.
"Kak, kau akan tahu rasanya jadi sepertiku ketika kau mencintai seseorang itu tidak pandang bulu" ucap Nathan.
"Aku mana mungkin bodoh sepertimu" ucap Egi.
"Baiklah, yang terpenting aku sudah meminta restu dan memberitahu kalian. Terserah kalian mau setuju atau tidak, aku akan tetap menikahi Hira" ucap Nathan.
Nathan menarik lengan Hira, dia membawa Hira keluar dari rumah besar itu. Keluarganya begitu kesal dengan rencana pernikahan Nathan dan Hira.
Setelah menikah Nathan dan Hira tinggal dikontrakkan sempit bersama Keke adik Hira yang masih kuliah. Hira harus berjualan pecel keliling begitupun dengan Nathan, dia menjadi kuki bangunan. Hidupnya berubah drastis dan kesulitan. Nathan bahkan sempat frustasi menganggur hingga berbulan-bulan karena ulah Ibunya yang memblok semua tempat yang akan didatangi Nathan untuk melamar kerja. Nathan hanya melamun dikontrakkan.
"Lelaki kok pengangguran, bisanya numpang hidup sama bini" ucap Keke.
"Aku sedang mencari pekerjaan Ke" ucap Nathan.
__ADS_1
"Kalau aku sih gak sanggup kalau jadi Kak Hira. Masa bini yang kerja suami asyik-asyik rebahan dirumah" ucap Keke.
"Aku memang belum mendapatkan pekerjaan, secepatnya aku akan segera mendapatkan pekerjaan" ucap Nathan.
"Kirain nikah ma orang kaya bisa kecipratan kaya gak tahunya malah numpang hidup kaya benalu" ucap Keke.
Keke terus menghina Nathan. Hampir setiap hari dia melakukan itu padanya. Dia sendiri juga hanya bisa mengandalkan Hira.
"Keke, tidak sopan bicara seperti itu pada kakak iparmu" ucap Hira yang baru datang selepas berjualan seharian.
"Kakak, aku hanya bicara apa adanya, benarkan" ucap Keke.
"Lain kali kalau kau tidak sopan pada suamiku, keluar. Kakak tidak mau kau ikut dengan kakak lagi" ucap Hira.
"Iiih kakak, mau aja sama lelaki gembel ini. Padahal Juragan Agus suka sama kakak, dia jauh lebih baik dari dia" ucap Keke.
"Keke....sekali lagi kau bicara seperti itu kakak benar-benar akan membencimu" ucap Hira.
"Sudah sayang, tidak apa-apa. Ini juga salahku yang masih menganggur" ucap Nathan.
Nathan merasa apa yang diucapkan Keke ada benarnya. Seharusnya lelaki yang menafkahi istrinya bukannya malah istri yang menafkahi suaminya.
"Tidak Mas, Keke tetap harus sopan dan menghormatimu sebagai kakak iparnya" ucap Hira.
"Makan tuh cinta kali aja jadi duit" ucap Keke meninggalkan kontrakkan sempit itu.
"Maafkan aku sayang, aku tak berguna. Aku hanya benalu dalam hidupmu, maafkan aku" ucap Nathan.
"Tidak Mas, jangan berkata seperti itu. Hira tahu Mas udah usaha sana sini, hanya rejekinya saja yang belum ada" ucap Hira.
"Terimakasih sayang atas pengertianmu" ucap Nathan.
"Iya Mas" ucap Hira.
Nathan kembali bersemangat. Dia kembali mencari kerja hingga pergi keluar negeri meninggalkan Hira. Dia pulang hanya sesekali setiap sebulan sekali. Nathan bekerja pada perusahaan milik sahabatnya. Hingga pada suatu hari, Nathan mampu membeli rumah besar dan mobil.
Hira dan Keke pindah dari kontrakkan ke rumah besar yang dibeli Nathan. Tapi sayangnya Nathan sibuk bekerja dengan posisinya yang semakin naik. Dia hanya dua bulan sekali pulang. Sampai anaknya berusia tiga tahun dia hanya pulang dua bulan sekali. Dia tidak bisa sering pulang karena perusahaan tempatnya bekerja berada diluar negeri.
Suatu hari Hira kecelakaan sampai dia meninggal ditempat menjadi penyesalan tersendiri untuk Nathan. Apapun butuh pengorbanan. Dia ingin hidup keluarganya enak terpaksa harus jauh dari keluarga dan jarang bertemu. Tapi kepergian Hira membuat hidup Nathan kehilangan keseimbangannya. Dia sempat berkabung cukup lama hingga keluar dari perusahaan tempatnya bekerja. Dia hanya mengurung diri dirumah. Tapi melihat Alifa, Nathan bersemangat kembali menata hidupnya walaupun terkadang dia masih saja kesepian. Dalam dua tahun dia mendirikan perusahaannya sendiri atas bantuan sahabatnya sebagai penanam saham. Akhirnya Nathan bisa sukses hanya Hira tidak ada disisinya lagi.
Flash Back Off
"Begitulah ceritanya, kenapa tidak ada keluargaku yang ada dan datang ke acara ulang tahun Alifa" ucap Nathan.
"Aku turut berduka cita atas kepergian istrimu, dia wanita yang baik. Dia pasti bahagia disana" ucap Gista.
__ADS_1
"Iya, Hira pasti bahagia" ucap Nathan.
"Nathan, aku pamit pulang dulu ya" ucap Gista.
"Biar ku antar ya" ucap Nathan.
"Tidak usah, nanti Alifa bangun tidak ada yang berada disampingnya" ucap Gista.
"Oke, sekali lagi terimakasih ya Gista" ucap Nathan.
"Iya, sama-sama" ucap Gista.
Gista akhirnya pulang, kembali ke rumah besar Arian. Dia diantar Mba Siti masuk ke kamarnya. Lalu Mba Siti membantunya berbaring diranjang.
"Nya, Mba Siti turun dulu, nanti pencet bel aja ya" ucap Mba Siti.
"Iya Mba" ucap Gista.
Mba Siti keluar dari kamar itu. Sementara Gista mengambil handphonenya. Dia rindu pada suaminya yang sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah. Gista menelpon Rafka.
"Assalamu'alaikum Mas" ucap Gista.
"Wa'alaikumsallam sayang" ucap Rafka.
"Aku kangen Mas" ucap Gista.
"Aku juga kangen sayang" ucap Rafka.
"Kapan Mas pulang?" tanya Gista.
"Sampai semuanya selesai" ucap Rafka.
"Azura gimana kabarnya?" tanya Gista.
"Alhamdulillah sehat" ucap Rafka.
"Aku doakan semoga masalah ini cepat selesai ya Mas, kita bisa kumpul lagi" ucap Gista.
"Amin, aku juga kangen cium kamu sayang" ucap Rafka.
"Aku cium lewat telpon ya Mas" ucap Gista.
"Iya" ucap Rafka.
"Cup...cup...cup..." Gista mencium telponnya sampai tiga kali.
__ADS_1
"Terimakasih sayang" ucap Rafka.
Setelah itu Gista menutup telponnya. Dia tahu posisi suaminya saat ini. Azura dalam bahaya, kalau Rafka tidak ada bersamanya.