Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Dulu Aku Juga Sama


__ADS_3

Gista menghadiri acara ulang tahun Alifa. Dia diantai Mba Siti pergi ke acara itu. Acara ulang tahun Alifa digelar di rumah besar keluarga Darmawan. Acara itu cukup meriah. Gista hendak mencari Alifa tapi dari belakang ada yang menyenggol kursi roda hingga dia terjatuh ke lantai.


Bluuuuug.........


"Aw........"ucap Gista kesakitan saat terjatuh dilantai.


"Maaf tak sengaja, ku kira pesta ini untuk orang sehat, ternyata orang lumpuh juga ada dipesta ini" ucap Keke.


Keke adik Hira istri Nathan yang sudah meninggal. Dia menyukai Nathan bahkan berusaha untuk mendapatkannya. Dia mengenal Gista dari Alifa yang sering menceritakan guru barunya yang begitu disayangi Alifa.


"Gista" ucap Nathan.


Nathan menghampiri Gista dan membopongnya kembali ke kursi roda.


"Kau tidak apa-apa Gista?" tanya Nathan.


"Tidak" ucap Gista singkat.


"Kak Nathan, ngapain sih harus peduli padanya. Lagi pula siapa yang menyuruh orang lumpuh datang ke acara seperti ini" ucap Keke.


"Alifa yang mengundang Gista, jadi dia tamu ku" ucap Nathan.


"Tapi kak" ucap Keke.


"Keke kalau kau keberatan silahkan tinggalkan tempat ini" ucap Nathan menegaskan.


"Iiih......" Keke kesal lalu meninggalkan tempat itu.


Nathan mendorong kursi roda Gista ke tepi.


"Nathan maafkan aku membuatmu malu karena masalah tadi" ucap Gista.


"Gista kau tidak salah, Keke orangnya memang seperti itu, maaf ya" ucap Nathan.


"Iya, oya Alifa mana aku mau bertemu dengannya" ucap Gista.


"Dia ada dikamarnya sedang bersiap" ucap Nathan.


"Kalau begitu aku menunggu disini saja" ucap Gista.


Nathan mendorong kursi roda Gista menuju sebuah lift. Mereka masuk ke dalam lift itu. Nathan tak berkata apapun, dia memegang gagang kursi roda Gista.


"Nathan, kita mau kemana?" tanya Gista.


"Ke kamar Alifa" ucap Nathan.


"Oh..., dirumahmu ada lift ya" ucap Gista.


"Itu karena aku dulu lumpuh sepertimu" ucap Nathan.


Gista langsung tercengang mendengar ucapan Nathan. Lelaki tampan itu ternyata pernah lumpuh. Tapi dia sekarang sudah normal kembali.


"Bagaimana ceritanya kau lumpuh?" tanya Gista.


"Saat aku muda dulu aku pernah kecelakaan motor hingga aku lumpuh bertahun-tahun. Tapi

__ADS_1


aku bertemu Hira istriku, dialah yang begitu sabar merawatku hingga aku pulih kembali" ucap Nathan.


"Pantas saja lelaki ini begitu kehilangan istrinya yang sudah meninggal, ternyata karena istrinya sudah sabar merawatnya" batin Gista.


Pintu lift itu terbuka. Nathan mendorong kursi roda Gista menuju kamar Alifa. Mereka berdua masuk ke dalam kamar itu. Alifa sedang tidur diranjang. Nathan langsung menghampiri Alifa.


"Alifa kenapa sayang?" tanya Nathan mencemaskan Alifa.


"Kepala Alifa pusing banget Papa" ucap Alifa.


Nathan langsung merangkul Alifa dalam dekapannya. Alifa terlihat kesakitan dengan kepalanya. Gista mendorong roda kursi rodanya menghampiri mereka berdua.


"Nathan Alifa kenapa?" tanya Gista.


"Alifa bilang kepalanya pusing banget" ucap Nathan.


Gista berusaha meraba kening Alifa. Ternyata keningnya panas. Gista berpikir Alifa mungkin terkena demam.


"Nathan, apa ada thermometer?" tanya Gista.


"Ada" ucap Nathan.


Nathan membaringkan Alifa diranjang. Lalu dia mengambil thermometer dilaci lemari kecil dekat ranjang Alifa. Dia memberikan thermometer itu pada Gista.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Nathan.


"Mengukur suhu tubuhnya" ucap Gista.


Gista mengukur suhu tubuh Alifa dengan menggunakan thermometer itu. Dia melihat derajat celcius yang ada di thermometer itu.


"Alifa harus dibawa ke rumah sakit" ucap Nathan.


"Tunggu, ada obat penurun panas?" tanya Gista.


"Ada" ucap Nathan.


Nathan langsung mengambil obat penurun panas. Dia memberikannya pada Gista. Kemudian Gista memberikan Alifa obat penurun panas itu. Tak lama Alifa tertidur setelah minum obat. Nathan menyelimuti Alifa.


"Gista terimakasih ya" ucap Nathan.


"Iya sama-sama" ucap Gista.


"Semenjak Hira tidak ada bersama kami. Alifa jadi sering sakit. Dia begitu merindukan Mamanya. Setiap ada temannya yang bercerita tentang ibunya, Alifa pasti bersedih. Dia ingin bertemu Hira" ucap Nathan.


"Aku bisa mengerti apa yang dirasakan Alifa, dia masih kecil, masih membutuhkan sosok ibu yang merawatnya dan menyayanginya" ucap Gista.


"Aku tidak berguna sebagai ayah, aku tidak bisa membuat Alifa bahagia seperti saat ada Hira" ucap Nathan.


"Alifa bukan tidak bahagia. Tapi dia butuh waktu untuk menerima kalau ibunya sudah tiada. Dia belum bisa menerima semua keadaan ini karena dia masih kecil" ucap Gista.


Nathan meneteskan air matanya melihat putri kecilnya merindukan ibunya. Dia tidak berbuat apapun agar bisa membuat Alifa bahagia kembali seperti dulu lagi.


"Nathan aku turun ke bawah ya" ucap Gista.


"Oke, nanti aku menyusul" ucap Nathan.

__ADS_1


Gista baru mau menggeser roda kursi rodanya, tangan Alifa memegang tangan Gista.


"Alifa ingin ditemani Bu guru" ucap Alifa.


Gista melihat ke arah Alifa. Anak kecil itu sekarang membutuhkannya.


"Gista biar aku yang keluar, ku mohon temani Alifa sebentar saja" ucap Nathan.


"Baiklah" ucap Gista.


Nathan keluar dari kamar Alifa. Sementara Gista menemani Alifa dengan membacakannya dongeng.


"Bu guru bobo disini aja sama Alifa" ucap Alifa.


Gista terkejut dengan ucapan Alifa. Anak kecil itu benar-benar merindukan ibunya hingga dia membutuhkan Gista.


Gista mengelus kepala Alifa.


"Sekarang Alifa bobo dulu ya, Bu guru ada disini menemani Alifa" ucap Gista.


Alifa mengangguk. Kemudian dia mulai tertidur lelap. Gista menyelimuti Alifa. Dia begitu senang bisa bercengkrama dengan Alifa.


"Mungkin seperti ini rasanya punya anak" batin Gista.


Gista juga merindukan saat dimana dia bisa merawat seorang anak. Semenjak dia dinyatakan mandul Gista kesepian. Dia selalu sedih saat melihat orang lain memiliki anak. Bukan dia tidak bisa menerima keadaannya tapi dia ingin merasakan rasanya jadi seorang ibu. Gista keluar dari kamar. Dia melihat Nathan sedang berdiri diluar pintu.


"Alifa sudah tidur lelap" ucap Gista.


"Maaf aku jadi merepotkanmu" ucap Nathan.


"Tidak, justru aku senang sekali bisa bersama Alifa" ucap Gista.


"Dia selalu bercerita tentangmu padaku, terimakasih atas semua kebaikanmu pada Alifa" ucap Nathan.


Gista mengangguk sambil tersenyum.


"Mari ku antar ke bawah" ucap Nathan.


"Oke" ucap Gista.


Nathan mendorong kursi roda Gista menuju lift. Mereka kembali turun ke lantai bawah. Acara ulang tahun itu diteruskan tanpa Alifa. Setelah acara ulang tahun itu selesai, Gista menghampiri Nathan.


"Bolehkah aku bertanya?" tanya Gista.


"Silahkan" ucap Nathan.


"Keluargamu kemana? apa mereka tidak menghadiri acara ulang tahun Alifa?" tanya Gista.


Gista penasaran dirumah sebesar itu. Seharusnya Nathan tinggal dengan keluarganya. Jika tidak pun seharusnya mereka hadir di acara ulang tahun Alifa. Apalagi Alifa anak pertama dari Nathan.


"Ikutlah denganku, kita bicara ditempat lain" ucap Nathan.


"Oke" ucap Gista.


Nathan mendorong kursi roda Gista menuju ke teras belakang rumah. Disana sepi tak ada orang yang akan menguping atau mendengar pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2