Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Kematian


__ADS_3

Azura terbangun dari pingsannya, melihat ke sekelilingnya. Dia memegang kepalanya dengan tangan kanannya sambil mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya.


"Aku ada dikamar, bukannya sebelumnya di jalan raya"ucap Azura.


"Mas Devan.....Mas Devan......"ucap Azura.


Azura berlari keluar dari kamarnya. Dia turun ke lantai bawah dan melihat banyak orang sedang tahlilan. Ditengah orang tahlilan itu terdapat jenazah yang ditutupi kain kafan putih. Azura hendak menghampiri jenazah itu tapi ditahan Ibu Dewi.


"Lepas....aku mau melihat Mas Devan"ucap Azura.


"Kau tidak boleh menyentuh jenazah putraku, aku tidak mengizinkanmu melihatnya"ucap Ibu Dewi sambil mencengkram lengan Azura.


"Mas Devan tidak mungkin mati, tidak


......hik.......hik....hik....."ucap Azura.


Ibu Dewi menarik lengan Azura membawanya naik ke lantai atas lalu melemparnya ke kamarnya.


Bluuuuug..................


"Aw............."ucap Azura kesakitan.


Azura terduduk di lantai sambil menangis tersedu-sedu.


"Hik.......hik......hik.....hik........Mas Devan........." ucap Azura menangis.


"Kau memang pembawa sial, gara-gara ulahmu anak kesayanganku mati"ucap Ibu Dewi.


"Mas Devan....hik....hik....hik...."ucap Azura.


Azura seperti tak mendengar ucapan Ibu Dewi, dia hanya memikirkan suaminya yang telah tiada.


Ibu Dewi menghampiri Azura dan menamparnya berkali-kali.


Plaaak........plaaaaak..........plaaaak...........


".............."Azura hanya terdiam saat Ibu Dewi menamparnya, rasa sakitnya seperti mati rasa.


Lebih sakit hatinya dari pada tubuhnya. Bayangan Devan saat menyelamatkannya dari kecelakaan itu membuatnya bersalah.


"Kau sudah membunuh anakku, aku menyesal memungutmu"ucap Ibu Dewi.


"Hik......hik......hik.......aku ingin melihat Mas Devan"ucap Azura.


"Apa kau bilang?"ucap Ibu Dewi semakin marah.


Ibu Dewi mengambil sabuk dikamar itu dan mencambuk Azura berkali-kali.


Ceteeer........ceteeer.........ceteeer...........

__ADS_1


Azura hanya diam tatapan matanya kosong, hanya air mata yang terus mengalir. Dia bahkan tidak menjerit kesakitan. Dia terus memikirkan Devan. Seakan hidupnya gelap semenjak kepergian Devan dari hidup.


"Kenapa tidak kau saja yang mati, kenapa harus anakku?"ucap Ibu Dewi.


"Mas Devan......Mas Devan....."ucap Azura yang hanya memanggil nama Devan.


Ibu Dewi lelah mencambuk Azura, akhirnya dia berhenti.


"Aku akan benar-benar membuatmu menderita seperti apa yang ku rasakan kehilangan anakku"ucap Ibu Dewi.


"Mas Devan maafkan aku.......maafkan aku......" ucap Azura.


"Kau membuatku kesal Azura"ucap Ibu Dewi hendak menendang Azura tapi ditahan Nico.


Nico tepat berada dibelakang Ibu Dewi.


"Sudah Kanjeng Ibu, percuma marah pada wanita murahan ini, lebih baik kita keluar. Mas Devan mau dikebumikan"ucap Nico.


"Kau benar, kalau aku diam disini tanganku rasanya panas ingin menghajar wanita murahan ini"ucap Ibu Dewi.


Ibu Dewi keluar dari kamar itu, tinggal Nico dan Azura yang berada di kamar itu. Dia jongkok tepat di depan Azura dan memegang dagunya.


"Mulai sekarang kau akan jadi milikku, sudah lama aku menginginkanmu dan Devan sudah tiada aku senang ha....ha....."ucap Nico.


Nico mendekati wajah Azura lalu mencium bibirnya tapi Azura malah mengigit bibir Nico.


"Aw............"ucap Nico kesakitan bibirnya sampai berdarah digigit Azura.


"Aku ini kakak iparmu, sopanlah padaku"ucap Azura.


"Azura......."ucap Nico hendak menampar Azura.


"Sayang kau ngapain disitu, ayo ke pemakaman" ucap Neisya.


Nico tak jadi mempar Azura, dia langsung berdiri berjalan keluar kamar menghampiri Nesya. Dia mengunci pintu kamar itu lalu pergi dari tempat itu. Azura langsung berlari menghampiri pintu kamarnya dan mengetuk-ngetuknya.


Tuk.....tuk....tuk.....tuk...........


"Buka.....buka.....aku mau melihat Mas Devan..... buka......buka....hik....hik....hik...."ucap Azura.


Tuk.....tuk.....tuk......tuk.........


"Buka.....buka......ku mohon, biarkan aku melihatnya untuk yang terakhir......buka....."ucap Azura.


"Aku ingin melihat Mas Devan.....buka....buka.... hik....hik.....hik......"ucap Azura.


Azura berkali-kali mengetuk pintu itu tapi tak satu orangpun membukakan pintu kamarnya. Dia sampai lelah mengetuk dan berteriak. Suaranya pun jadi serak bahkan sudah terdengar pelan.


Azura duduk dan menangis, hatinya hancur berkeping-keping, dia merasa sangat kehilangan Devan. Orang yang selalu menyayanginya itu telah tiada. Kini dia sendirian tanpanya.

__ADS_1


"Mas Devan kenapa kau pergi meninggalkanku hik...hik....hik...."ucap Azura.


"Kenapa bukan aku saja yang mati saja hik...hik....hik..."ucap Azura.


"Aku tidak akan meminta hakku lagi, kembalilah Mas Devan.....hik...hik...hik...."ucap Azura.


Azura meringkuk didepan pintu, tubuhnya sudah tidak bertenaga lagi, matanya sembab, dan dia sudah tak mampu berbicara dan menangis lagi.


**********


Pemakaman Kamboja Merah


Nico berdiri di depan nisan Devan, dia hanya tersenyum melihat Devan sudah bersemayam di liang lahatnya. Kini dia bisa leluasa mendekati Azura. Dari semua orang yang berduka hanya dia yang paling senang dengan kematian Devan.


"Setelah aku menjebakmu dulu, sekarang kau mati tanpa ku duga. Ternyata aku tak perlu repot-repot menyingkirkanmu"batin Nico.


"Ku pikir kau akan mati karena penyakit itu tapi kau malah mati karena kecelakaan, aku untung besar Mas Devan, mendapatkan perusahaan dan istrimu sekaligus"batin Nico.


"Devan....hik....hik....hik...Devan....hik...hik...hik...." ucap Ibu Dewi menangisi Devan putranya.


Ibu Dewi duduk disamping nisan Devan sambil menangisi Devan tak ada habisnya. Dia begitu kehilangan anak sulungnya itu. Selama ini Devanlah yang mengurus perusahaan setelah suaminya tiada.


"Bu sudahlah, kita ikhlaskan saja. Mas Devan sudah tenang disana"ucap Nico.


"Nico, Devan anak yang baik kenapa harus pergi secepat itu hik..hik...hik..."ucap Ibu Dewi.


"Ini semua karena wanita pembawa sial itu Bu"ucap Neisya.


"Iya, dia memang pembawa sial. Kenapa dulu aku harus memungutnya, dia sudah membuat Devanku mati hik....hik....hik...."ucap Ibu Dewi.


"Sudahlah Bu, biar aku yang mengurusnya. Dia harus membayar semuanya"ucap Nico.


"Tidak, aku sendiri yang akan membuatnya menderita"ucap Ibu Dewi.


"Dan aku yang akan mendapat keuntungannya" batin Nico.


Nico begitu bahagia, dia akan mendapatkan perusahaan dan Azura. Mimpinya seakan terwujud. Dia tak perlu menunggu Devan mati karena penyakit mematikan itu. Tapi Devan sudah mati duluan karena kecelakaan.


************


Gista tertidur di toilet itu setelah sehari semalam dikunci ditoilet. Wajahnya pucat, perutnya lapar dan kedinginan. Gista duduk dilantai toilet itu sambil memegang perutnya.


"Aku lapar, tubuhku juga kedinginan"ucap Gista.


"Gimana caranya aku keluar"ucap Gista.


Gista melihat ke seluruh bagian toilet itu. Dia melihat lubang udara di atas toilet itu.


"Apa aku keluar dari situ?"ucap Gista.

__ADS_1


Gista berusaha bangun dan berdiri walaupun tubuhnya lemas. Dia naik ke bak mandi dan coba meraih lubang udara di atas toilet itu.


__ADS_2