Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Keluargaku


__ADS_3

Nathan mendorong kursi roda Gista sambil mengajaknya keliling taman bunga bersama Alifa. Mereka bertiga begitu bahagia. Gista terus tersenyum dan berbincang ringan bersama Nathan dan Alifa seputar tanaman bunga. Kemudian mereka memutuskan untuk beristirahat dibawah pohon. Nathan menggelar tikar. Alifa langsung duduk ditikar sedangkan Nathan menghampiri Gista.


"Gista ayo ku bantu duduk ditikar" ucap Nathan.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Gista.


"Tidak, biarkan aku membantumu" ucap Nathan.


Gista mengangguk, Nathan membopong Gista.


"Kenapa aku jadi grogi gini berdekatan langsung dengan Gista. Dia cantik sekali, tidak, apa yang ku pikirkan?" batin Nathan.


Jantung Nathan berdebar, dia grogi dan canggung. Perasaannya mulai tumbuh untuk Gista seiring waktu mengenalnya. Dia merasa bahagia bersamanya apalagi melihat Alifa begitu menyayangi Gista. Nathan berpikir seandainya dia bisa diberi kesempatan memiliki keluarga kecilnya lagi bersama Gista dan Alifa, tentunya akan bahagia.


Semua lamunan Nathan terpecah saat Gista memanggilnya.


"Nathan kenapa? apa aku berat?" tanya Gista.


"Tidak" ucap Nathan singkat.


Nathan menurunkan Gista untuk duduk ditikar.


Dia membantu Gista hingga dia duduk dengan nyaman. Lalu Nathan duduk disamping Alifa.


"Pa, ayo makan. Alifa laper" ucap Alifa.


"Oke sayang" ucap Nathan.


Nathan mengeluarkan bekal yang mereka bawa dan menatanya ditikar.


"Bu guru makanan ini dimasak Papa untuk Buguru katanya" ucap Alifa.


Seketika muka Nathan memerah, dia tak menyangka putrinya secara polos mengatakan hal itu pada Gista.


"Oya, aku tak menyangka Papamu bisa masak" ucap Gista.


"Papa jago masak Bu guru" ucap Alifa.


"Tidak, hanya sekedar hobi saja" ucap Nathan berusaha merendah.


"Wah, senangnya kalau jadi istrimu setiap hari pasti dimasakin" ucap Gista.


"Seandainya ada seseorang yang mau jadi istriku" ucap Nathan sambil memandang Gista.


"Pasti ada, kaukan baik, tampan dan pintar masak. Itu idaman semua wanita" ucap Gista.


"Papa maunya Bu guru" ucap Alifa.


Gista dan Nathan terkejut dengan ucapan Alifa yang berterus terang. Mereka jadi terpaku tidak tahu harus bicara apa.


"Gista, maksud Alifa. Aku ingin punya istri yang baik sepertimu" ucap Nathan malu.


"Tidak apa-apa, aku tahu" ucap Gista.

__ADS_1


"Papa ayo makan" ucap Alifa.


"Oke, Alifa mau makan sama apa?" tanya Nathan.


Nathan menyiapkan makanan yang akan dimakan Alifa ke piringnya lalu menyuapinya.


"Nathan biar aku yang menyuapi Alifa" ucap Gista.


"Iya Papa, aku mau disuapi Bu guru" ucap Alifa.


"Baiklah" ucap Nathan.


Gista menyuapi Alifa dengan talaten, dia begitu senang bisa bercengkrama dengan Alifa, gadis kecil yang cantik dan lucu itu. Dia merasa memiliki seorang anak.


Setelah makan, Alifa melihat bunga dan kupu-kupu tak jauh dari tempat Nathan dan Gista duduk.


"Nathan aku ingin ke toilet, bisakah kau membantuku ke kursi rodaku?" tanya Gista.


"Oke bisa" ucap Nathan.


Nathan meraih tubuh Gista untuk dibopong tapi tangannya kram dan membuatnya jatuh ke tikar kembali bersama Gista. Dia menjatuhi tubuh Gista yang berada dibawahnya. Nathan tak sengaja mencium bibir Gista dan memeluknya. Ciuman itu bertahan cukup singkat.


"Maaf aku tak sengaja, tanganku kram" ucap Nathan seusai mencium Gista secara tak sengaja.


"Tidak apa-apa" ucap Gista.


Posisi mereka masih berpelukan dan saling memandang.


"Rasanya nyaman memeluk Gista, ciuman yang tadi terasa manis" batin Nathan.


"Papa dan Bu guru sedang apa?" tanya Alifa.


"Apa?" ucap Nathan dan Gista terkejut mendengar ucapan Alifa.


Seketika Nathan beranjak dari tubuh Gista dan membantunya bangun.


"Tadi Papa terjatuh" ucap Nathan.


"Iya" ucap Gista.


"Papa sama Bu guru romantis deh, kalian nikah aja" ucap Alifa.


"Apa?" ucap Nathan dan Gista terkejut dengan ucapan Alifa.


"Alifa tadi banyak gak kupu-kupunya?" tanya Nathan mengalihkan ucapan Alifa.


"Banyak Pa, bunganya juga indah" ucap Alifa yang mulai lupa dengan ucapannya tadi.


Nathan kembali membopong Gista ke kursi rodanya, dia dan Alifa mengantar Gista ke toilet.


Beberapa orang membicarakan Gista ditoilet. Gista mendengar percakapan mereka dari dalam ruangan toiletnya.


"Kau tau wanita lumpuh tadi"

__ADS_1


"Tahu, emangnya kenapa?"


"Dia beruntungnya ya, punya suami yang baik sampai menunggunya didepan toilet bersama anaknya"


"Udah gitu tampan dan keren, anaknya cantik dan lucu. Bikin jiwa jombloku meronta"


"Bahagianya walaupun lumpuh tapi punya suami yang setia dan anak yang baik"


Gista memikirkan ucapan orang yang membicarakannya. Dia memikirkan Nathan dan Alifa.


"Apa aku akan lebih bahagia bila memiliki keluargaku sendiri? Nathan dan Alifa mereka memang baik dan penyayang" batin Gista.


Gista keluar dari dalam toilet lalu keluar dari toilet wanita. Dia melihat Nathan dan Alifa masih menunggunya.


"Sudah?" tanya Nathan.


"Iya" ucap Gista tersenyum pada Nathan dan Alifa.


"Mereka seperti keluargaku, rasanya nyaman bersama mereka" batin Gista.


"Ayo pulang biar ku antar" ucap Nathan.


"Oke" ucap Gista.


Nathan mendorong kursi roda Gista sedangkan Alifa berjalan disamping Gista sambil mengajaknya mengobrol. Gista begitu bahagia hari itu bisa bersama Nathan dan Alifa.


*************


Rafka dan Azura kembali ke rumah keluarga Barata. Mereka berdua menemui Ibu Dewi untuk menyelesaikan semua masalah ini. Diruang keluarga mereka bertiga berbincang.


"Bu Dewi aku ingin membawa kembali istriku pulang, lelaki yang mirip Devan itu Danu kembaran Devan" ucap Rafka.


"Kau benar, dia memang Danu kembaran Devan. Aku minta maaf sudah berusaha memisahkan kalian berdua hanya karena kematian Devan yang sebenarnya sudah takdir" ucap Ibu Dewi.


"Aku dan istriku sudah memaaafkan Anda, biar bagaimanapun kita keluarga bukan?" ucap Rafka.


"Iya nak Rafka, ibu juga berterimakasih karena kau mau menikahi Azura dan membuatnya bahagia. Ibu sebagai ibu kandungnya saja hanya membuatnya menderita" ucap Ibu Dewi.


Ibu Dewi menangis menyesali perbuatannya, dia malu sebagai ibu kandung Azura tapi belum pernah membahagiakannya. Azura menghampiri Ibu Dewi dan memeluknya.


"Bu jangan menangis, aku sudah memaafkan ibu dan aku sayang ibu" ucap Azura.


"Terimakasih nak" ucap Ibu Dewi membalas pelukan Azura.


Sejenak Ibu Dewi dan Azura berpelukan melepas rindu Ibu dan anak yang selama ini terpendam dan belum diungkapkan. Mereka saling merasakan setiap kehangatan arti sebuah hubungan darah diantara mereka.


"Bu aku pamit pulang dulu bersama Mas Rafka" ucap Azura sambil melepas pelukannya.


"Iya nak, semoga hidupmu selalu bahagia bersama Rafka" ucap Ibu Dewi.


"Amin" ucap Azura.


Rafka dan Azura meninggalkan rumah besar keluarga Barata. Mereka kembali ke rumah besar Arian. Sampai dirumah Azura disambut Freya, Arian dan Luna. Mereka semua senang Azura bisa kembali pulang dan berkumpul lagi. Lalu Rafka dan Azura naik ke lantai atas. Mereka berdua menghirup udara sore hari dari atas balkon ruang keluarga dilantai atas. Rafka memeluk Azura dan menciumnya berkali-kali.

__ADS_1


Tiba-tiba Gista berada didepan pintu menuju balkon melihat Rafka berciuman dengan Azura.


"Kau sudah pulang Mas" ucap Gista.


__ADS_2