Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Bahagia


__ADS_3

"Begitulah ceritanya sayang" ucap Rafka.


"Mas mungkin apa yang terjadi sudah yang terbaik untuk kita semua" ucap Azura.


"Iya sayang" ucap Rafka.


Rafka mencium Azura kembali. Dia tak ingin berhenti bermesraan dengan istrinya. Berpisah selama lima tahun membuatnya kesepian dan sendirian.


"Mas Gista sekarang dimana?" tanya Azura.


"Dia tinggal dirumah yang aku belikan didaerah Margapari" ucap Rafka.


"Syukurlah kalau begitu" ucap Azura.


"Gista akan menikah dengan Nathan bulan depan" ucap Rafka.


"Alhamdulillah, berita baik Mas" ucap Azura.


Rafka mengangguk. Azura mengelus pipi Rafka. Dia senang bisa sepuasnya memandang wajah suaminya.


"Kenapa sayang?" tanya Rafka.


"Mas masih seperti dulu tampan" ucap Azura.


"Sayangku juga masih seperti dulu cantik jelita" ucap Rafka.


"Aku selalu rindu padamu, berharap jika didunia kita tak berjodoh mungkin diakhirat kelak kita bersama" ucap Azura.


Rafka mencium kedua telapak tangan Azura.


Dia terharu dengan ucapan istrinya itu.


"Sayang pasti berat ya hidup tanpaku, apalagi saat kau melahirkan kedua buah hati kita" ucap Rafka.


"Aku menangis saat melahirkan Biru dan Jingga, rasanya ingin sekali kau ada disampingku Mas, tapi semua sudah ku putuskan aku hanya bisa memanggil namamu saat aku mekahirkan" ucap Azura.


Air mata Azura membasahi pipinya, Rafka langsung mencium kedua mata yang berlinang air mata itu.


"Aku akan menebus semua waktu yang kau lewatkan tanpaku" ucap Rafka.


"Tidak perlu, asal kau ada disisiku selalu itu sudah cukup Mas" ucap Azura.


Rafka memeluk erat Azura. Tiba-tiba pintu kamar diketuk.


Tuk...tuk....tuk....


"Papa, Mama" ucap Biru dan Jingga memanggil kedua orangtuanya.


"Sayang kita sudahi dulu bermesraan, nanti lanjut nanti malam kalau anak-anak tidur" ucap Rafka.


"Mas gak capek" ucap Azura menggoda.


"Udah puasa lama, ingin berdua terus jadinya" ucap Rafka.


Azura tersenyum. Sangat jarang suaminya berkata terus terang mengenai hal yang hanya mereka berdua yang tahu. Mereka berganti pakaian lalu membuka pintu.

__ADS_1


"Papa....Mama...." ucap Biru dan Jingga.


Rafka menggendong kedua anak kembarnya dengan kedua tangannya.


"Asyik digendong Papa" ucap Biru kegirangan.


"Jingga sayang Papa" ucap Jingga yang memeluk Rafka digendongan Papanya.


"Papa sayang banget kalian" ucap Rafka.


"Papa malam ini aku tidur sama Papa ya" ucap Biru.


"Jingga juga, ingin dibacakan dongeng sama Papa" ucap Jingga.


"Iya, nanti malam kita tidur berempat ya, Papa, Biru, Jingga, dan Mama" ucap Rafka.


"Hore..." ucap Biru dan Jingga kegirangan.


Biru dan Jingga senang sekali, setelah sekian lama akhirnya bisa bersama kedua orangtuanya.


Hari ini selalu ditunggu-tunggu mereka berdua.


"Mas aku telpon Ibuku dulu ya" ucap Azura.


"Iya sayang" ucap Rafka.


Azura berjalan ke arah balkon kamarnya untuk menelpon ibunya. Sementara Rafka bermain bersama kedua anaknya diruang bermain yang sudah dipersiapkan Rafka dari dulu.


**************


"Yah bekalku tumpah" ucap Gista.


"Ambil bekalku, bekalmu sudah tidak bisa dimakan" ucap Pasha memberikan kotak bekal miliknya pada Gista lalu dia pergi begitu saja.


Gista melihat Pasha, lelaki itu aneh, selalu ada saat Gista butuh sesuatu.


"Dia aneh" ucap Gista.


Gista membawa kotak bekal milik Pasha dan berjalan masuk ke dalam mini market. Dia masuk ke dalam ruangan kerjanya dan meletakkan kotak bekal itu dimeja. Gista penasaran lalu membuka kotak bekal itu. Dia kaget saat melihat isi kotak bekal itu.


"Nasi rempah, gepuk daging sapi dan kacang merah goreng, ini makanan kesukaannku saat kecil dulu" ucap Gista.


Gista langsung menangis melihat makanan didepannya. Dia memakan makanan itu.


"Rasa ini, rasa yang selalu ku ingat dari dulu" ucap Gista.


Gista begitu lahap memakan makanan itu sampai habis.


"Alhamdulillah, enak banget" ucap Gista.


Gista penasaran dengan Pasha. Dia berjalan keluar ruangan kerjanya. Dia melihat Pasha menata barang-barang dirak. Lelaki tampan itu terlihat dingin dan cuek padahal beberapa karyawati lainnya menggoda.


"Siapa dia? dia tahu banyak tentangku?" ucap Gista.


Gista semakin penasaran dengan Pasha. Lelaki itu pendiam tapi tahu banyak tentangnya. Dia juga suka muncul tiba-tiba. Gista masuk ke ruangannya mencari surat lamaran kerja miliknya. Gista membuka surat lamaran kerja milik Pasha dan membaca biodatanya yang ada disurat lamaran kerja. Dia juga memeriksa KTP, KK dan surat lainnya.

__ADS_1


"Aku tidak mengenalnya, tapi kenapa dia seperti mengenalku, apa ini hanya kebetulan?" batin Gista.


************


Radhitya dan Cecep pergi ke rumah sakit jiwa untuk melakukan study. Maklum kini mereka akan syuting film Jika Aku Gila Karena Kas Bon. Mereka harus mempelajari semua hal tentang gila dan tingkah laku orang gila. Radhitya dan Cecep diantar suster untuk melihat kehidupan real orang gila.


"Radit, yang bener kita kesini, ini alamnya orang gila, gimana kalau kita dibulli mereka gara-gara waras?" tanya Cecep.


"Mukamu beda tipislah ma orang gila jadi aman, lah aku tampan dan rupawan ini bisa kena ciuman massal dari cewek-cewek gila" ucap Radhitya.


"Terus ngapain kita kesini?" tanya Cecep.


"Kita harus mempelajari cara hidup orang gila dari ngiler sampai BAB, kira-kira ditimbun atau malah dimakan" ucap Radhitya.


"Untung Cecep dah makan, kalau gak bisa puasa nikmat berhari-hari" ucap Cecep.


"Sabar Cep mungkin ini awal penderitaan kita, tapi feelingku sih kau lebih menderita" ucap Radhitya.


Radhitya tertawa sedangkan Cecep hanya menelan ludah. Dia sudah membayangkan gimana rasanya bersama orang gila. Suster itu mempersilahkan Radhitya dan Cecep masuk Zona orang gila.


"Silahkan belajar ya, kalau ada apa-apa saya disini ya" ucap Nisa.


"Iya, makasih suster" ucap Radhitya dan Cecep.


Radhitya dan Cecep berpencar untuk study. Radhitya ke kanan, Cecep ke kiri. Cecep membawa permen coklat disakunya.


"Untung dah persiapan, permen ini setidaknya mengamankan situasi" ucap Cecep.


Cecep melihat kerumunan orang gila yang sedang melihat temannya berpidato.


"Bapak-bapak, Ibu-ibu jika kalian memilih saya dijamin istri dua, suami tiga, anak ratusan, tetangga gak ada. Harga sembako mahal, sekolah nyontek, dan jalanan ilang jadi kebon. Selanjutnya saya akan membasmi tikus dan ular sawah yang sedang berduaan disawah. Jangan lupa pilih saya pemimpin yang giginya ompong tanda kejujuran saya tidak memakan uang rakyat" ucap Judi.


"Huh...hah....huh...hah...." sorak orang-orang gila lainnya.


"Ini pasti semasa warasnya ingin jadi pemimpin tapi keburu kejedot pintu neraka jadi begini" ucap Cecep.


"Ya ampun followernya juga gila, entah ngerti atau pikiran mereka ada di alam lain" ucap Cecep.


Cecep melihat buku catatannya. Hal-hal yang harus dipelajarinya sebagai orang gila.


"Pertama, cara mereka kentut. Ini catatan bener atau gila juga?" batin Cecep.


Cecep memperhatikan bokong orang gila yang sedang berkerumun.


"Yah belum ada yang kentut, mesti nunggu dulu, atau aku pantengin bokongnya satu -satu" ucap Cecep.


Cecep berjalan ke tengah kerumunan untuk menyaksikan secara langsung cara kentutnya orang gila.


Broooot.....pruuuuut......dooooor..........


Orang-orang gila itu kentut bersamaan.


"Aku terinfeksi kentut berlebih, pusing-pusing" ucap Cecep.


Kelanjutannya next episode ya....

__ADS_1


__ADS_2