
Rafka pulang ke rumahnya tanpa hasil. Dia belum bisa membawa Azura pulang. Dilubuk hatinya yang terdalam dia menyesal kenapa tidak menjaga Azura dengan baik. Sekarang Azura ada ditangan keluarga Barata bagaimana caranya dia bisa bertemu dengan Azura. Rafka berjalan memasuki rumah besar orangtuanya. Langkahnya begitu lesu, mukanya murung dan tak bersemangat. Freya dan Arian menghampiri Rafka.
"Rafka gimana?" tanya Freya.
"Aku tidak bisa membawa Azura pulang Mi" ucap Rafka.
"Kok bisa, kau suaminya berhak membawanya pulang" ucap Arian.
"Itu karena suaminya Devan masih hidup" ucap Rafka.
Arian dan Freya terkejut dengan ucapan Rafka. Mereka tak percaya Devan masih hidup. Padahal sudah meninggal beberapa bulan lalu.
"Gak mungkin, Devan bukannya sudah meninggal" ucap Freya.
"Iya, Devankan sudah meninggal" ucap Arian.
"Aku juga berpikir seperti itu. Tapi aku melihat dengan mataku sendiri, Devan masih hidup, sehat dan bugar" ucap Rafka.
"Bahaimana caranya orang yang sudah meninggal hidup lagi" ucap Freya.
"Atau bisa saja dulu dia tidak benar-benar meninggal" ucap Arian.
"Aku tidak tahu yang mana yang benar, yang jelas aku yakin dia bukan Devan" ucap Rafka.
"Jadi Azura masih ditahan dirumah keluarga Barata" ucap Freya.
"Iya Mi" ucap Rehan.
"Tenang nanti Papi ajarin caranya menyusup biar kau bisa bertemu Azura. Dulu Papi saat Mamimu diculik Elang, Papi menyusup demi bertemu Mamimu loh" ucap Arian.
Arian sudah pernah menyusup jadi tahu bagaimana caranya agar anaknya bisa bertemu istrinya. Maklum saat itu Arian cukup kreatif dan berhasil.
"Boleh Pi, akan ku lakukan apapun asal aku bisa bertemu Azura. Aku mengkhawatirkannya, dia sedang mengandung" ucap Rafka.
"Pi jangan ajarin Rafka yang aneh-aneh" ucap Freya.
"Sedikit Mi" ucap Arian.
"Pi, Mi, aku ke kamar dulu" ucap Rafka yang sudah lelah hati, pikiran dan fisiknya.
"Iya nak" ucap Arian dan Freya.
Rafka berjalan ke kamar Azura. Dia masuk lalu berbaring diranjang. Aroma tubuh Azura masih tertinggal diranjang itu membuat Rafka semakin merindukan Azura. Dia ingin memegangnya dan bercengkrama dengannya seperti biasa.
"Sayang aku kangen" ucap Rafka.
Tangan Rafka meraba sebuah bantal yang biasa ditiduri Azura. Dia mencium bantal itu berkali-kali.
Rafka benar-benar mencintai Azura. Dia tidak bisa jauh darinya.
***********
Gista berangkat diantarkan supir karena Rafka ada meeting pagi itu. Ditengah jalan mobilnya tiba-tiba mogok. Supir keluar mengecek mesin mobil. Sementara Gista meminta bantuan perawatnya untuk keluar dari mobil. Perawatnya mendorong kursi roda Gista ke tepi jalan. Satu jam penuh mobilnya masih belum beres juga. Gista khawatir terlambat sampai ke sekolah. Dia meminta perawatnya mencari taksi. Sebuah mobil mewah berhenti didekat tepi jalan. Alifa keluar dari mobil mewah itu.
__ADS_1
"Bu guru" ucap Alifa.
"Alifa" ucap Gista.
"Bu guru belum ke sekolah?" tanya Alifa.
"Belum, mobil Bu guru mogok" ucap Gista.
"Kalau gitu bareng Alifa aja" ucap Alifa.
Alifa menawarkan bantuan pada Gista. Tapi Gista ragu untuk menerima tawaran itu setelah ayahnya Alifa memakinya.
"Nona kecil" ucap Siti, perawat Gista.
"Mba Siti" ucap Alifa.
"Mba Siti kenal Alifa?" tanya Gista.
"Kenal Nya, dari bayi saya mengasuhnya" ucap Mba Siti.
Mba Siti sudah mengasuh Alifa dari baru lahir. Dia tak menyangka Gista mengenal Alifa juga.
"Oh, jadi Alifa pernah diasuh Mba Siti" ucap Gista.
"Iya Bu guru" ucap Alifa.
"Mba Siti kangen" ucap Alifa memeluk Mba Siti.
"Mba Siti juga kangen Alifa" ucap Mba Siti.
"Ikutlah bersamaku ke mobil" ucap Nathan.
Gista melihat Nathan serius menawarinya. Raut mukanya berbeda dari yang kemarin. Terlihat lebih kalem dan dingin.
"Ayo Bu guru" Alifa menarik lengan Gista.
"Ee....iya" ucap Gista.
Gista masuk ke dalam mobil dibopong Mbi Siti, tapi Mbi Siti kesemutan, jadi Nathan yang menggantikan Mbi Siti membopong Gista masuk ke dalam mobil. Nathan terlihat grogi didekat Gista. Keringatnya bercucuran, jantungnya berdebar tak karuan dan nafasnya berhembus lebih cepat.
"Terimakasih" ucap Gista pada Nathan yang sudah menolongnya.
"Iya" ucap Nathan singkat.
Nathan pindah ke kursi depan menyetir mobilnya. Sementara Alifa duduk ditengah, diantara Gista dan Mba Siti. Alifa bersandar dilengan Gista. Dia begitu lengket dengan Bu gurunya itu.
"Bu guru, Alifa besok ulang tahun, datang ya" ucap Alifa.
"Insya Allah ya Alifa, Bu guru akan berusaha untuk datang" ucap Gista.
"Bu guru harus datang, Alifa ingin ulang tahunnya ada Bu guru" ucap Alifa.
"Iya Alifa" ucap Gista.
__ADS_1
Alifa terus bercerita ini itu pada Gista. Dia begitu senang bersama Gista. Sesekali Nathan melihat ke belakang. Dia melihat putri kecilnya itu begitu bahagia bersama Gista. Dia jadi merasa bersalah kemarin marah-marah pada Gista. Sampai di TK, mereka berempat turun. Nathan mengantar Alifa sampai ke kelasnya. Lalu dia menghampiri Gista yang sedang duduk di dekat meja guru.
"Aku minta maaf atas perkataanku yang kemarin" ucap Nathan.
"Baiklah, aku sudah memaafkanmu" ucap Gista.
"Aku Nathan Darmawan" ucap Nathan memperkenalkan dirinya pada Gista.
"Gista Devina" ucap Gista memperkenalkan dirinya.
"Aku minta satu permintaan, ku mohon datanglah ke ulang tahun putriku" ucap Nathan.
"Insya Allah, saya akan datang" ucap Gista.
"Terimakasih" ucap Nathan.
"Sama-sama" ucap Gista.
Nathan keluar dari ruangan itu. Mba Siti masuk ke dalam kelas Gista untuk memberikan tas milik Gista.
"Nya ini tasnya" ucap Mba Siti.
"Taruh meja aja Mba" ucap Gista.
"Baik Nyonya" ucap Mba Siti.
Mba Siti meletakkan tas milik Gista di meja.
"Mba kenal Alifa dan ayahnya ya?" tanya Gista.
"Kenal banget Nya, dulu saya kerja dari istri Tuan Nathan belum hamil bahkan sampai Alifa berusia 4 tahun" ucap Mba Siti.
"Aku dengar dari Alifa, Mamanya sudah meninggal" ucap Gista.
"Benar Nya, saat Alifa berusia 4 tahun istri Tuan Nathan meninggal karena kecelakaan. Setelah itu beliau lebih sering marah-marah tak jelas. Mungkin karena beliau kehilangan ditinggal istrinya. Bahkan saya sendiri yang tidak salah apapun dimarahinya hingga beliau memecat saya tanpa sebab. Sejujurnya saya masih betah merawat Alifa. Kasihan dia, Mamanya sudah meninggal. Tapi apa daya kalau Tuan Nathan sudah memecat saya" ucap Mba Siti.
"Oh begitu, pantas kemarin dia marah-marah padaku gak jelas" ucap Gista.
"Tuan Nathan itu orangnya baik dan ramah tapi ya begitu deh setelah istrinya meninggal" ucap Mba Siti.
Gista sekarang tahu penyebab Nathan kemarin marah-marah tidak jelas padanya. Mungkin dia sama seperti Alifa yang sedang merindukan istrinya yang sudah meninggal.
************
Azura hanya menangis didalam kamarnya. Dia tidak bisa berbuat apapun, satu tangannya diborgol. Dia hanya bisa diam didalam kamar. Nico memasuki kamar Azura. Dia menghampiri Azura yang sedang duduk diranjang.
"Hai sayang kau sudah balik lagi ternyata" ucap Nico.
"Untuk apa kau masuk kesini lagi" ucap Azura.
"Untuk apa? ya untuk bermain sesuatu denganmu" ucap Nico.
"Jangan berani menyentuhku, aku sudah bersuami" ucap Azura.
__ADS_1
"Suami? suamimu yang mana saja belum jelas. Lebih baik denganku saja, kita hidup bersama tanpa mereka yang saling memperebutkanmu" ucap Nico.