Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Lima Tahun Berlalu


__ADS_3

Lima tahun kemudian


Rafka menemani Gista ke tempat terapi. Sudah lima tahun Rafka selalu menemaninya terapi. Kini Gista sudah bisa berjalan. Ini terapi terakhir untuknya. Dengan sabar dan telaten Rafka menemani Gista setiap terapi. Mereka berdua berdiri dilobi rumah sakit tempat Gista terapi.


"Mas Rafka makasih ya, sudah menemaniku terapi selama lima tahun ini, padahal aku sudah bukan istrimu" ucap Gista.


"Iya Gista, lagi pula aku sudah berjanji akan bertanggungjawab membahagiakanmu saat kita menikah dulu" ucap Rafka.


"Aku minta maaf atas semua kesalahanku dimasa lalu, semoga kau segera menemukan Azura" ucap Gista.


"Lupakan semua itu, karena aku juga tidak luput dari kesalahan. Semoga kau menemukan orang yang bisa membahagiakanmu" ucap Rafka.


Sebuah mobil berhenti didepan lobi rumah sakit itu. Kaca mobil itu terbuka. Seorang anak berusia 10 tahun memanggil Gista.


"Tante ayo pulang" ucap Alifa.


Nathan keluar dari mobil, memghampiri Rafka dan Gista.


"Siang Presdir Rafka" ucap Nathan.


"Siang Presdir Nathan" ucap Rafka.


"Saya mau menjemput calon istri saya" ucap Nathan.


"Oh, silahkan" ucap Rafka.


Nathan dan Gista akan segera menikah. Semenjak Gista bercerai dari Rafka, Nathan setia menunggunya hingga Gista membuka hatinya untuk Nathan.


"Mas Rafka aku pulang dulu" ucap Gista.


"Iya, hati-hati dijalan Gista" ucap Rafka.


Nathan dan Gista naik ke dalam mobil. Mereka meninggalkan tempat itu. Rafka hanya tersenyum melihat kepergian mereka. Dia sudah mengantarkan Gista pada kebahagiaannya. Kini tinggal mencari Azura dan buah hatinya.


"Ya Allah pertemukan aku dengan istri dan anakku" ucap Rafka.


Rafka berjalan menuju ke mobilnya. Dia mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit itu.


***************


Malam itu Azura baru pulang bekerja. Dia duduk disofa ruang tamu karena lelah. Sekarang Azura bekerja disebuah pabrik makanan. Ibu Dewi masuk ruang tamu membawa teh hangat untuknya. Dia tahu anaknya harus bekerja kerasnya untuk menghidupi ibu dan kedua anak kembarnya.


"Nih minum teh hangatnya dulu nak" ucap Ibu Dewi meletakkan teh hangat itu di meja.


"Makasih ya Bu, enak tiap malem ibu bikinin teh hangat" ucap Azura.


"Iya nak. Gimana pekerjaanmu tadi dipabrik?" tanya Ibu Dewi.


"Berjalan lancar Bu" ucap Azura.

__ADS_1


"Sebenarnya aku khawatir kena pengurangan karyawan, produksi pabrik lagi menurun" batin Azura.


"Badanmu sekarang kurusan, apa pekerjaanmu berat nak?" tanya Ibu Dewi.


"Gak kok Bu, mungkin karena aku kurang enak makan akhir-akhir ini" ucap Azura.


"Mungkin karena kamu kelelahan nak, jadi kurang enak makan" ucap Ibu Dewi.


Ibu Dewi kasihan melihat anaknya harus bekerja keras sendirian menjadi tulang punggung keluarga. Bahkan Azura jadi seorang ojek online juga bila ada waktu.


"Nanti aku minum jamu deh Bu biar enak makan lagi" ucap Azura.


"Yaudah kamu bersih-bersih badan sana, lalu tidur biar tubuhmu beristirahat" ucap Ibu Dewi.


"Iya Bu" ucap Azura.


Kedua anak kembarnya mendengarkan obrolan Ibu Dewi dan Azura. Mereka berada didekat tembok dekat ruang tamu.


"Jingga, Mama capek kasihan ya" ucap Biru.


"Kak Biru, apa kita bantu Mama nyari duit ya?" tanya Jingga.


"Kata Mama anak kecil gak boleh kerja" ucap Biru.


"Kalau gitu kita ngapain kak?" tanya Jingga.


"Dipinggir sawah juga banyak" ucap Jingga.


"Oke, besok kita jual cherry" ucap Biru.


"Ayo bobo lagi, nanti Mama tahu" ucap Jingga.


Biru mengangguk. Mereka berdua kembali ke kamar mereka untuk tidur. Tak lama Azura masuk ke dalam kamar anaknya selesai bersih-bersih badan. Dia menyelimuti Biru dan Jingga lalu mencium kening mereka.


"Mas Rafka anak-anak sudah besar, mereka terkadang menanyakanmu, aku juga rindu padamu Mas" batin Azura sambil meneteskan air matanya.


Azura selalu menangis setiap malam saat dia sholat malam. Rasa rindunya pada suaminya begitu besar. Tapi dia sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan Rafka agar hidup bahagia bersama Gista.


*************


Rafka sarapan bersama keluarganya. Kebetulan diruang makan ada Radhitya, Luna, Arian dan Freya. Mereka berkumpul bersama sarapan dimeja makan. Radhitya masih jomblo sedangkan Luna masih kuliah.


"Mama selalu bermimpi bertemu cucu Mama, kapan kita bisa menemukan Azura ya Rafka?" tanya Freya.


"Papa juga pengen gendong cucu Papa, pasti mereka sudah bisa manggil Opa" ucap Arian.


"Aku akan tetap berusaha mencari Azura dan anakku, aku yakin Allah pasti mempertemukan kita kembali" ucap Rafka.


"Amin Kak Rafka" ucap Luna.

__ADS_1


Luna tahu kakaknya selalu berusaha mencari istri dan anaknya. Dia melihat kerinduan Rafka pada istri dan anaknya.


"Udah Kak Rafka, nikah lagi aja tar juga punya anak lagi" ucap Radhitya meledek Rafka.


Tuk...tuk...tuk.....


Luna memukul tangan Radhitya dengan sendok sayur. Dia kesal Radhitya meledek Rafka. Seharusnya ikut berempati bukannya malah meledek.


"Aw.....aw....aw....sakit tahu Luna, kira-kira kalau mukul" ucap Radhitya.


"Makanya punya mulut dijaga dong Kak Radit, bukannya bantuin Kak Rafka nyari istri dan anaknya, ini malah ngasih saran yang menyesatkan" ucap Luna kesal pada Radhitya.


"Gayanya nasehatin Rafka, kamu sendiri aja mana, jomblo terus" ucap Freya marah.


Radhitya langsung tersenyum disindir Maminya. Dia tahu kalau dirinya sendiri juga masih jomblo.


"Playboy kok gak laku, dulu kok Papi banyak yang minta dinikahin" ucap Arian.


"Pi, banyak ya yang minta dinikahin?" tanya Freya melotot ke arah Arian.


"Gak kok Mi, maksudnya minta dinikahin doang, tapi tentunya Papi milih Mami dong" ucap Arian langsung ciut nyalinya saat Freya melotot ke arahnya.


"Papi...Papi, kalau Mami udah pakai mata lasernya, langsung KO" ucap Luna.


"Ya sama kaya kamu, malah parah. Mata, mulut dan tanganmu itu laser semua" ucap Radhitya meledek Luna.


"Kak Radit awas ya, aku doain supaya dapet istri bawel, galak, liatin aja deh" ucap Luna kesal.


"Gak mempan, aku dah pakai payung anti sumpah serapahmu tahu" ucap Radhitya.


"Udah, udah. Ayo makan. Bukannya kamu mau syuting hari ini?" ucap Freya.


"Iya Mi, males banget tahu syuting kali ini" ucap Radhitya.


"Memangnya kamu syuting jadi apa Dit?" tanya Rafka.


"Tukang gali kubur apes" ucap Radhitya.


Arian dan Freya tersenyum mendengar anak mereka syuting jadi tukang gali kubur apes.


"Baguslah, cocok sama tampangnya Kak Radit, tukang gali kubur apes" ucap Luna.


"Hei mulutmu itu ya Luna, liatin aja kalau film kakak laris manis, gak kasih kamu bonus" ucap Radhitya.


"Santai kak cuma bercanda kok" ucap Luna.


"Huh...giliran duit aja manis loh" ucap Radhitya.


Meja makan selalu jadi tempat bercengkrama untuk keluarga Arian dan Freya. Mereka bercerita apa saja sebelum dan setelah makan. Saat bersama seperti ini jadi memperat tali persaudaraan.

__ADS_1


__ADS_2