
Gista melihat jalanan diseberang yang macet dari dalam bus. Begitu banyak mobil berjejer dan kebisingan yang didengarnya. Air matanya mulai menetes membayangkan suaminya. Dia juga melihat bayang-bayang Azura diantara dia dan suaminya.
"Aku pikir mudah menjalani poligami, ternyata sulit. Aku belum mampu harus membagi suamiku dengan wanita lain. Ketika aku membutuhkannya, ternyata Azura juga membutuhkannya" batin Gista.
"Mas Rafka seandainya dulu saat SMA aku lebih peka, mungkin hanya aku yang memilikimu" batin Gista.
Terdengar suara Mba Siti memanggil Gista.
"Nya, Tuan" ucap Mba Siti.
"Apa Mba?" tanya Gista yang tidak begitu mendengar Mba Siti bicara.
"Tuan Rafka, Nya" ucap Mba Siti menunjuk ke arah Rafka yang berjalan menghampiri Gista.
Gista melihat ke arah Rafka yang menghampirinya. Mba Siti pindah ke kursi lain, membiarkan Tuannya duduk disamping istrinya.
"Sayang kita mau kemana?" tanya Rafka.
"Aku mau pulang ke kampung Mas" ucap Gista.
"Kalau gitu aku ikut ya" ucap Rafka.
"Kau sama Azura aja, bukankah kau lebih sayang padanya" ucap Gista.
Gista terlihat sangat kecewa dan marah. Rafka bisa melihat dari caranya bicara dan melihatnya.
"Sayang kau cemburu?" tanya Rafka.
"Iya, aku cemburu Mas, kau selalu ada untuk Azura, lalu untukku?" ucap Gista.
"Kita selesaikan masalah ini dirumah ya sayang" ucap Rafka.
"Gak perlu, aku mau akan pergi Mas" ucap Gista.
Rafka langsung membopong Gista keluar dari bus. Dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir ditepi jalan.
"Lepas Mas, aku mau pulang kampung" ucap Gista.
"Kita pulang dulu ya sayang, tidak baik bicara diluar" ucap Rafka.
"Lepas...lepas...aku mau pergi, aku kecewa sama Mas" ucap Gista sambil menepuk-nepuk dada Rafka.
Mba Siti hanya mengintil dibelakang Rafka. Dia tidak berani bicara apapun. Kedua majikannya sedang ada masalah, Mba Siti tak mau ikut campur.
Rafka memasukkan Gista ke dalam mobil. Lalu dia mengendarai mobilnya kembali ke rumah besar Arian. Sepanjang perjalanan Rafka dan Gista hanya diam. Karena macet perjalanannya sampai memakan waktu cukup lama. Mereka sampai di rumah besar Arian pukul 10 pagi. Rafka membopong Gista menuju kamarnya. Saat mau naik tangga, Azura menghampiri mereka berdua.
"Mas, kalian sudah pulang?" tanya Azura.
"Iya sayang, aku ke atas dulu ya sama Gista" ucap Rafka.
"Iya Mas" ucap Azura.
Rafka dan Gista masuk ke kamar mereka. Rafka mendudukkan Gista di sofa. Gista masih marah-marah pada Rafka. Tak sengaja Azura mendengar percakapan mereka berdua dari pintu kamar yang belum tertutup rapat, saat itu Azura ingin membawakan Rafka dan Gista teh hangat.
"Dihati Mas cuma ada Azura dan Azura, bahkan waktumu hampir semuanya untuk Azura, aku ada dimana Mas?" ucap Gista.
"Sayang aku minta maaf kalau tadi terlambat datang ke villa" ucap Rafka.
"Aku tahu, kau pasti menemani Azura sehariankan, kau khawatir karena dia hamil" ucap Gista.
__ADS_1
"Semua itu tidak benar sayang" ucap Rafka.
"Aku lumpuh dan mandul itu sebabnya kau lebih memilih bersama Azura dari pada sama aku Mas" ucap Gista.
"Tidak sayang, aku menyayangi kalian berdua. Untuk apa aku menyusulmu meskipun macet total kalau bukan karena aku sayang padamu" ucap Rafka.
"Aku tidak peduli, aku memintamu tetap bersamaku di villa tapi apa kau memilih menemui Azura. Padahal aku hanya meminta waktumu sehari aja Mas, bahkan Azura sudah meminta waktumu cukup lama tapi kau tetap mengutamakannya meskipun aku memintamu pulang" ucap Gista.
"Sayang, dengarkan aku. Kemarin itu Azura disekap keluarga Barata, mereka bisa saja menyakiti Azura kapanpun, kau tahu hanya aku yang bisa menjaganya, apalagi aku suaminya. Tidak mungkinkan aku membiarkan istriku yang sedang hamil dianiaya" ucap Rafka.
"Tapi kau bisa pulangkan Mas walaupun sehari saja, aku rindu Mas, aku hanya seorang istri yang ingin bersama suaminya sesekali" ucap Gista.
"Maafkan aku sayang" ucap Rafka.
"Aku sudah memaafkanmu sebelumnya tapi apa kau mengulanginya lagi, kau ingkar janji Mas" ucap Gista.
"Tadi aku meeting dengan klien bukan ingkar janji, saat aku menyusulmu ke villa, macet total sayang" ucap Rafka.
"Terus saja beralasan Mas" ucap Gista.
Rafka berlutut dibawah Gista yang sedang duduk.
"Baiklah aku minta maaf sayang, aku harus apa supaya kau mau memaafkanku?" tanya Rafka.
"Mas aku tidak bisa melanjutkan semua ini, aku tidak sanggup berbagi suami. Jika kau mencintaiku, lepaskan Azura. Tapi jika kau mencintai Azura lepaskan aku" ucap Gista.
"Aku tidak bisa memilih, aku menyayangi kalian berdua" ucap Rafka.
"Kalau begitu lepaskan aku" ucap Gista.
"Aku tidak mungkin melepasmu sayang" ucap Rafka.
Rafka hanya terdiam, meneteskan air matanya. Dia tidak mungkin memilih salah satunya. Apalagi Azura sedang hamil sedangkan Gista lumpuh. Rafka dilema, dia tak mampu berkata apapun. Hanya menundukkan kepalanya.
Azura yang mendengar diluar pintu kamar itu menangis. Dia merasa tidak enak dengan Rafka dan Gista.
"Kasihan Mas Rafka dan Gista" batin Azura.
Azura pergi ke kamarnya. Dia memasukkan semua bajunya ke koper miliknya. Lalu menulis sebuah surat untuk Rafka.
"Besok pagi aku harus memutuskan semua ini, aku tidak ingin melihat mereka tersakiti" batin Azura.
Azura melihat foto pernikahannya bersama Rafka. Dia meraba foto pernikahan itu dengan tangan kanannya.
"Mas terimakasih sudah membuatku bahagia, aku sangat mencintaimu Mas. Tapi aku ingin kau bahagia. Semoga kau dan Gista bisa membina kehidupan yang baru tanpaku" ucap Azura.
Malampun berganti pagi. Rafka semalaman tidur dilantai sementara Gista tidur disofa. Rafka membangunkan Gista yang sedang tidur.
"Sayang bangun...bangun...sholat subuh" ucap G
Rafka.
Gista membuka matanya. Dia melihat Rafka didepan matanya. Perasaannya masih kecewa pada Rafka dia hanya diam. Rafka membopongnya ke toilet untuk wudhu dan sholat berjamaah bersamanya. Selesai sholat Rafka kembali minta maaf pada Gista.
"Sayang aku minta maaf" ucap Rafka.
"Apa kau sudah mengambil keputusan Mas?" tanya Gista.
"Aku..." ucap Rafka terhenti saat pintu kamar itu diketuk Freya.
__ADS_1
Tuk....tuk....tuk....
"Rafka...Rafka...Rafka..." ucap Freya memanggil Freya.
Rafka langsung berdiri dan berjalan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Mi?" tanya Rafka.
"Azura tidak ada dikamarnya" ucap Freya.
"Apa? Azura tidak ada dikamarnya?" ucap Rafka terkejut.
Rafka langsung berlari keluar kamar menuju kamar Azura.
"Mas...Mas..." ucap Gista memanggil.
"Kenapa sih Mas? setiap kali mendengar kata Azura kau selalu menemuinya" ucap Gista semakin kecewa.
Rafka masuk ke kamar Azura disusul Freya. Dia mencari diseluruh bagian kamarnya Azura tidak ada. Bahkan sebagian bajunya juga tidak ada.
"Papi dan Mami sudah mencarinya diseluruh ruangan dirumah ini tapi tidak ada. Bahkan Papi dan Luna sedang keluar mencari Azura" ucap Freya.
Rafka memegang sebuah surat yang ditulis Azura untuknya yang berada diatas lemari kecil dikamarnya.
Dear Mas Rafka
Assalamua'alaikum
Mas kau tidak perlu mencariku. Aku tidak ingin kau bingung harus memilih aku atau Gista. Biarkan aku yang akan pergi. Gista lebih membutuhkanmu. Aku akan membesarkan anak kita. Suatu hari nanti saat anak ini tumbuh remaja, dia akan menemuimu. Aku ingin kau bahagia dengan Gista, aku sadar kalau kita terus bersama akan menyakiti hati Gista terus menerus. Aku tahu kau orang yang baik, terimakasih ya Mas sudah memberiku kesempatan bersamamu dan memberiku sebuah kenangan manis diperutku. Aku mencintaimu Mas.
Azura Asifa
Rafka menangis membaca surat itu. Dia langsung terduduk memeluk surat ditangannya.
Freya memegang bahu Rafka.
"Sebaiknya kau cari Azura. Mungkin saja belum jauh" ucap Freya.
*************
Azura duduk dikursi pesawat sambil berurai air mata. Dia harus pergi meninggalkan Rafka dan semua kenangan indah bersamanya. Tiba-tiba disampingnya duduk seorang ibu yang merangkulnya.
"Kau mau kemana?" tanya Ibu Dewi.
Azura menoleh ke samping. Dia melihat Ibu Dewi.
Azura langsun memeluk Ibu Dewi.
"Bu hik hik hik" ucap Azura menangis.
"Menangislah, mungkin itu bisa menghilangkan semua kesedihanmu" ucap Azura.
"Hik...hik...hik..." Azura menangis.
"Ibu akan ikut bersamamu kemanapun kau pergi, biar ibu menebus semua kesalahan ibu dulu" ucap Ibu Dewi.
Azura memeluk erat ibunya. Setidaknya ada tempat untuknya mengadu dan bersandar saat dia menangis.
*************
__ADS_1
Lima tahun kemudian next episode pantengin terus ya.