
"Jadi seperti itu ceritanya, dia meninggalkanmu dimalam pertama pernikahan kalian. Sungguh tega sekali dia." Radhitya kasihan pada Manda. Dia harus ditinggalkan Egi di malam pertama pernikahannya hanya karena termakan ucapan Ibunya.
"Kau sudah tahu sekarang, aku ini janda yang ditinggalkan." Ucap Manda.
"Manda, jangan berkata seperti itu bagiku kau istimewa." Radhitya mengatakan apa yang dia tahu tentang Manda. Dengan semua hal yang dimilikinya bagi Radhitya Manda istimewa.
"Jangan gombal disini playboy, aku tidak akan percaya." Ucap Manda.
"Apa playboy tak bisa punya cinta sejati?." Tanya Radhitya.
Manda tertawa terbahak-bahak. Dia merasa lucu seorang playboy berharap cinta sejati.
"Sudah kenyang tertawanya?." Radhitya kesal Manda malah mentertawakannya. Dia cemberut membelakangi Manda.
"Kau marah playboy?." Tanya Manda.
Radhitya tidak menjawab. Dia diam saja tanpa bicara apapun. Menunggu Manda mau merayunya duluan.
"Oke-oke, aku minta maaf. Playboy juga berhak jatuh cinta." Ucap Manda.
Radhitya berbalik dan memegang lengan Manda.
"Aku mencintaimu Manda, menikahlah denganku." Radhitya tidak mau ambil pusing dan berlama-lama dia langsung mengungkapkan perasaannya.
"Ha ha ha, lawakanmu garing gak lucu." Manda bukannya menjawab atau membalas malah mentertawakan ungkapan cinta dari Radhitya.
"Aku tidak sedang melawak, aku jujur." Radhitya bicara dengan serius.
Manda langsung terdiam melihat Radhitya bicara dengan muka yang serius. Dia tidak percaya ada lelaki yang mau padanya. Dia merasa sudah janda, miskin, banyak kekurangannya. Sangat berbeda dengan Radhitya yang seorang artis, kaya dan juga banyak wanita cantik disisinya.
"Pulanglah, aku tak pantas untukmu." Manda melepas tangan Radhitya dari lengannya. Dia berjalan meninggalkan Radhitya.
"Kenapa? aku nyaman bersamamu itu cukup untukku." Ucap Radhitya.
Manda menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.
"Pikirkan karirmu, nama baikmu dan keluargamu. Aku berbeda jauh dari mu." Manda kembali berjalan meninggalkan Radhitya. Dia tidak ingin hatinya sakit untuk yang kedua kalinya.
Radhitya berdiri terdiam mendengar penolakan dari Manda. Dia merasa ini semua karena selama ini dia hanya main-main saja dengan semua wanita jadi Manda mengira Radhitya hanya bercanda padanya.
Radhitya pulang ke rumah besar orangtuanya. Dia terlihat lemas dan menundukkan kepalanya. Luna melihat Radhitya berjalan ke kamarnya. Dia langsung meledek kakaknya itu.
__ADS_1
"Kenapa kak? diputusin semua pacarmu? kasihan..." Ucap Luna.
"Lun apa playboy sepertiku sulit dipercaya wanita gara-gara sebelumnya aku hanya mempermainkan mereka?." Tanya Radhitya.
Luna terkejut dengan ucapan kakaknya. Dia terlihat bersungguh-sungguh saat bertanya.
"Itu namanya karma, makanya jangan playboy mana ada cewek yang mau serius sama kakak. Selamat ya jadi kakek jomblo sejati nantinya." Luna malah menakuti Radhitya.
"Kakek jomblo? maksudmu aku akan jomblo sampai kakek-kakek?." Tanya Radhitya.
"Iya, kan kakak gak laku-laku." Ucap Luna dengan enteng.
"Kalau gitu aku tobat deh gak playboy lagi." Ucap Radhitya.
"Nah gitu dong, kasihan cewek-cewek kalau hanya di PHP-in doang gak dinikahin. Sadar kak mumpung masih ada waktu." Ucap Luna.
"Oke mulai besok aku akan mengejar cinta Manda" Radhitya bersemangat lagi. Dia akan mengejar cinta Manda.
"Oh Manda cewek yang kakak suka. Bukannya itu anak Tante Eni ya?." Tanya Luna.
"Rahasia, anak kecil gak boleh tahu." Ucap Radhitya.
"Biarin." Ucap Radhitya.
Radhitya masuk ke dalam kamarnya. Luna geleng-geleng liat kakaknya yang playboy itu tobat karena seorang Manda.
***************
Pagi harinya Azura dan Gista mengantar Rafka ke bandara. Hari ini dia akan berangkat ke luar kota untuk urusan bisnis. Rafka memeluk kedua istrinya bergantian sebelum berangkat. Berat rasanya meninggalkan kedua istrinya tapi demi pekerjaan Rafka harus tetap berangkat.
"Jaga diri kalian baik-baik, aku akan segera kembali setelah urusan bisnisnya selesai." Ucap Rafka berpamitan pada kedua istrinya.
"Mas jangan lupa makan dan istirahat yang cukup." Ucap Azura.
"Kami akan menunggumu pulang Mas." Ucap Gista.
Rafka mengangguk. Dia meninggalkan tempat tunggu penumpang itu. Langkah kakinya berat tapi dia punya tanggungjawab menafkahi keduanya dan pemimpin dari perusahaannya.
************
Rafka tiba di hotel tempatnya menginap. Kebetulan masih pagi, Rafka menyempatkan sholat dhuha terlebih dahulu di kamar hotel itu. Sholat dhuha sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari. Dzikir dan doa tak lupa dia panjatkan. Kini dia tak seorang diri lagi, ada dua bidadari yang menemani hidupnya. Tanggungjawab secara lahir dan batin harus dipikulnya.
__ADS_1
"Sudah pukul 10, aku harus mengontrol proyek pembangunan perusahaan cabangku." Ucap Rafka.
Rafka membereskan sejadahnya. Dia keluar dari kamar hotel. Tak sengaja bertubrukan dengan seorang wanita berbaju seksi. Dia pura-pura kesakitan.
"Aw......sakit, kaliku kram, aduh sakit sekali" Ucap Meisya.
Rafka langsung menolongnya. Dia tidak tega melihat wanita itu kesakitan.
"Nona kau tidak apa-apa?." Tanya Rafka.
"Kakiku kram, tolong antarkan saya ke kamar saya." Ucap Meisya.
"Baiklah, mari saya antarkan." Ucap Rafka.
Rafka memapah Meisya sampai ke kamar hotelnya. Dia membantunya duduk di sofa. Tapi wanita itu malah memeluk Rafka.
"Mas saya wanita sewaan, mau gak nyewa saya murah loh, 10 juta aja sekali main." Ucap Meisya.
"Astagfirullah." Rafka terkejut. Wanita itu ternyata wanita sewaan. Dia langsung melepas pelukan wanita itu dan beranjak dari sofa.
"Mas saya turunin deh 5 juta gimana?." Tanya Meisya.
"Nona, harga diri bukan barang yang mudah kau perjual belikan." Ucap Rafka berdiri beberapa langkah dari Meisya.
"Aku butuh uang Mas, hanya ini caranya aku mendapatkan uang dengan cepat." Ucap Meisya.
"Masih banyak pekerjaan halal yang bisa kau kerjakan." Ucap Rafka.
Rafka mengeluarkan Cek sebesar 10 juta dan menaruh Cek itu dimeja.
"Ambillah uang itu dan jangan menjual dirimu lagi. Carilah pekerjaan yang halal. Jika orang buta dan tuli saja bisa bekerja secara halal lalu kenapa kau tidak bisa?." Ucap Rafka.
Rafka berjalan meninggalkan Meisya keluar dari kamar hotelnya.
"Lelaki itu membuatku tersentuh, baru kali ini ada lelaki yang menolakku". Meisya heran selama ini semua lelaki takluk padanya tapi lelaki yang ini tidak.
Meisya langsung mengambil kartu nama Rafka yang terjatuh dilantai. Dia tersenyum seperti menemukan sesuatu yang dicarinya selama ini. Dia kagum dengan sosok Rafka yang tidak menghiraukan godaannya.
"Oh namanya Rafka Alexsandro, pemimpin perusahaan besar. Tapi dia santun dan baik. Aku sangat terkesan sekali. Eksperimenku sepertinya menemui muaranya. Aku masih harus mengujinya kembali." Ucap Meisya.
Wanita itu merapikan bajunya lalu meninggalkan kamar hotel itu tanpa mengambil Cek yang berada dimeja. Dia tidak membutuhkan Cek itu.
__ADS_1