
"Iya dong, akukan artis tentu ada disini" ucap Radhitya.
"Oh artis, kirain penagih hutang" ucap Manda mengejek Radhitya.
"Kaum dhuafa sepertimu sedang apa disini?" tanya Radhitya.
"Aku sedang bekerjalah" ucap Manda.
"Bekerja apa? paling tukang pembuat minuman, iyakan?" ucap Radhitya menegaskan.
Radhitya meledek Manda. Dia tahu wanita itu tak mungkin bekerja sebagai artis ataupun jabatan tinggi lainnya.
"Enak aja, aku artis juga tahu" ucap Manda sambil berdiri.
"Artis yang hanya tangan atau kakinya yang muncul iyakan?" ucap Radhitya memberitahu.
"Iya, memang kenapa? apapun dimulai dari bawah tahu" ucap Manda.
"Oke, begini saja. Aku punya pekerjaan serupa kau mau ikut syuting tidak?" tanya Radhitya.
"Gak disuruh jadi pawang singa atau buayakan?" tanya Manda.
"Gaklah, paling pawang dinosaurus" ucap Radhitya.
"Oke yang penting bayarannya sesuai" ucap Manda.
Radhitya mengajak Manda syuting bersamanya.
Manda syuting sebagai peran pengganti dari anak tiri yang harus membersihkan rumah.
"Kenapa peranku gak ada yang bagusan. Ini mah namanya pembantu rumah tangga bukan artis" ucap Manda.
Manda kembali menggantikan anak tiri yang didorong ibu tiri hingga jatuh ke kubangan lumpur sawah.
Bluuuuug.........
"Begini ya rasanya jadi peran pengganti, ngenes" ucap Manda.
"Sekalian aja deh nyari belut buat enyak, tuh banyak pada mabok gara-gara diulang-ulang mulu jatuhnya" ucap Manda.
Manda malah mencari belut-belut yang sudah mabok. Dia memasukkannya ke dalam plastik.
Manda kembali syuting menggantikan anak tiri yang harus disembur ibu tiri.
Byuuuuuur..........
"Rasa-rasanya kok kaya ke mbah dukun ya, disembur segala" batin Manda.
"Cut! ulang belum baper" ucap Sutradara.
__ADS_1
"Ampun, udah sepuluh kali disembur masih diulang juga. Jerawat lama-lama pada pecah nih kena tsunami" batin Manda.
Manda kembali disembur dan disembur. Setelah proses syuting yang melelahkan, dia berbaring dibawah pohon mendinginkan diri. Dia benar-benar kelelahan. Radhitya berbaring juga disamping Manda.
"Cewek peramal, bagaimana dengan yang ku katakan saat itu? apa kau mau menerimaku?" tanya Radhitya.
"Aku sudah bilang, aku tidak pantas untukmu" ucap Manda.
"Aku tidak peduli dengan alasanmu, kau tinggal bilang iya atau tidak" ucap Radhitya.
"Tidak" ucap Manda.
"Kau benar-benar tidak memberiku kesempatan ya" ucap Radhitya.
"Aku ingin kau bahagia Radit" ucap Manda.
Manda bukannya tidak ingin jadi istri Radhitya. Tapi dia berusaha tau diri dengan posisinya sendiri. Manda merasa dia miskin, janda dan tidak berpendidikan. Sangat berbeda dengan Radhitya yang dikenalnya.
"Tapi aku bahagia saat kita bersama" ucap Radhitya.
"Maaf, aku tidak bisa" Manda.
Manda bangun dan meninggalkan Radhitya . Dia pergj meninggalkan tempat itu. Radhitya mengejar Manda.
"Man....Manda, beri aku kesempatan" ucap Radhitya.
Nura langsung menggandeng lengan Radhitya. Manda menoleh, melihat seorang wanita cantik bergelayut manja ditangan Radhitya.
"Urus pacarmu itu, tak perlu menggoda orang lain" ucap Manda.
"Manda, Nura bukan pacarku" ucap Radhitya.
Radhitya coba menjelaskan tapi Manda tidak mau mendengar. Dia terus berjalan menjauh dari Radhitya.
"Kak Radit ayang jangan cepet-cepet jalannya. Nura ingin deket sama Kak Radit" ucap Nura.
"Nura please hari ini aja, jauhi aku. Ada wanita yang ingin ku kejar" ucap Radhitya.
"Kak Radit ayang, Nura mau jadi pacar Kak Radit" ucap Nura masih saja menggandeng lengan Radhitya dengan manja.
Radhitya kesal sekali dengan sikap Nura yang tidak memahami posisinya yang sedang mengejar cinta Manda. Dia marah dan melepas lengannya secara paksa dari Nura hingga Nura terjatuh.
Bluuuuug........
"Aw........"ucap Nura.
"Nura kau itu kekanak-kanakan. Kau tahu aku tidak pernah mencintaimu jadi berhentilah mengejar-ngejarku. Jangan mengemis cinta, memalukan kau tahu. Kau punya harga diri tidak?" ucap Radhitya memaki Nura.
Air mata Nura langsung menetes tanpa sadar dipipinya. Dia sedih dengan ucapan yang dilontarkan Radhitya padanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan mendekatimu lagi Radhitya, mulai hari ini aku membebaskanmu. Kejarlah wanita itu sepuasmu. Aku tidak akan peduli lagi padamu" ucap Nura.
Radhitya tercengang mendengar ucapan Nura yang tidak biasa. Suaranya lantang, cara bicaranya berbeda dari sebelumnya, dia seperti wanita dewasa yang sedang berkata.
Nura berdiri dan meninggalkan Radhitya. Dia terluka selama bertahun-tahun lamanya mencintai Radhitya hanya sebuah harapan yang tak pernah terwujud. Radhitya tidak pernah menganggapnya. Nura memutuskan untuk berhenti mencintai lelaki itu.
Nura menyetir mobilnya meninggalkan lokasi syuting. Dia pergi ke rumah sahabatnya. Nura turun dari mobil berjalan menuju teras rumah sahabatnya. Kebetulan sahabatnya ada diteras rumahnya.
"Nura" ucap Sindi.
"Sindi aku ingin..." ucap Nura.
"Aku tahu kau mau apa, duduklah" ucap Sindi.
Nura mengangguk. Dia duduk bersama Sindi di teras rumah itu.
"Pada akhirnya aku menyerah" ucap Nura mengungkapkan isi hatinya.
Radhitya sudah menegaskan agar Nura tidak lagi mengganggunya. Nura tidak akan mengemis cinta padanya. Semua yang sudah dilakukannya hanya sebuah usaha yang tidak pernah mendapat balasan.
"Dari dulu juga aku sudah bilang padamu untuk melupakannya. Mencintai itu melelahkan" ucap Sindi.
Sindi sudah lama mengenal Nura dari zaman SMA dulu. Dia tahu sahabatnya itu begitu mencintai Radhitya tak peduli berapa kali ditolak dan dijauhi Radhitya. Dia selalu konsisten mencintai lelaki itu tak pernah tergoyahkan padahal banyak cowok yang naksir Nura karena dia cantik, imut dan seksi. Tapi hati Nura tetap untuk Radhitya seorang. Meskipun mencintai sepihak itu menyakitkan untuknya.
"Aku sudah berusaha melupakannya dengan pergi keluar negeri. Tapi tetap saja aku tidak bisa melupakannya" ucap Nura.
"Lupakan Radhitya, sambut hidup barumu tanpanya" ucap Sindi.
Air mata Nura menetes mendengar ucapan Sindi. Jauh dilubuk hatinya, dia tidak bisa dengan mudah melupakan Radhitya. Kalau bisa sudah sejak dulu dia memiliki orang lain dihatinya. Tapi tetap saja Radhitya yang menempati hatinya.
"Apa aku bisa? aku sangat mencintainya, rasanya sakit" ucap Nura.
"Nura lebih sakit lagi kalau kau mencintai tapi tidak pernah terbalas dan lelaki itu akhirnya bersama dengan oranglain" ucap Sindi.
"Kalau seandainya boleh meminta, aku ingin Allah menghapus semua ingatanku tentang Radhitya. Biar hatiku tak sesakit ini karena mencintai" ucap Nura.
Terlontar perkataan yang benar-benar diucapkannya karena sudah tidak bisa lagi melupakan Radhitya tanpa campur tangan Allah dalam menghilangkan ingatannya.
"Nura jangan berkata seperti itu, ucapan itu doa, ingat" ucap Sindi.
"Astagfirullahaldzim" ucap Nura menyesali ucapannya tadi.
Nura akhirnya memutuskan pulang setelah puas curhat pada sahabatnya. Dia kembali mengendarai mobilnya ke jalan raya. Sebuah mobil hilang kendali dan menabrak mobil Nura.
Dug.......bruuuuk........
Mobil Nura ditabrak hingga terpental. Kepala Nura terbentur keras body mobil hingga mengalir darah dari kepalanya. Nura mulai tak sadarkan dirinya.
"Aku ingin melupakanmu" kata-kata terakhir sebelum Nura hilang kesadarannya total.
__ADS_1