
Radhitya membuka matanya. Kepalanya pusing bagai bebek menari-nari diatas kepalanya. Dia membuka matanya lebar-lebar. Didepannya wanita berambut panjang berantakan dan menyeramkan. Dia mengenakan baju putih panjang. Penampilannya mirip kuntilanak.
"Han...tuah bukan hang...us bukan, hantu" Radhitya melihat sesosok hantu didepannya sampai pipis dicelana bahkan dia hendak pingsan lagi.
Byuuuuur........
Hantu itu menguyur Radhitya dengan air seember.
"Ya Allah kok tiba-tiba hujan". Radhitya terbangun.
"Eh....ini kok ada hantu lagi". Radhitya hampir pingsan lagi tapi dia melihat hantunya makan kacang.
Hantu itu sibuk makan kacang sambil duduk di kursi jok samping Radhitya.
"Hantu kok makan kacang gak makan sate ya". Radhitya bingung.
"Tukang sate pulang kampung, adanya kacang".
Radhitya memikirkan ucapan hantu itu benar juga jika tukang sate libur hantu makan kacang untuk gantinya.
"Hei hantu tau peraturan gak sih, ini siang hari belum waktunya kamu nongol". Radhitya memarahi hantu itu.
"Ha ha ha".
"Malah tertawa, kamu lupa shift mu kapan?". Radhitya bertanya blak-blakan pada hantu itu.
"Playboy kau tak mengenali aku".
Radhitya coba mengingat panggilan playboy yang disematkan seseorang padanya. Hanya cewek peramal itu yang memanggilnya playboy.
"Sejak kapan kau mati? aku belum sempat melayat jadi itu yang membuatmu menghantuiku". Radhitya menduga cewek peramal itu sudah mati dan menghantuinya gara-gara tidak melayat.
"Kau benar, aku gentayangan gara-gara kau mengerjaiku waktu itu, kau belum minta maaf padaku hi hi hi". Manda menakuti Radhitya.
Radhitya penakut meskipun dia playboy. Ini kesempatan Manda mengerjainya. Dia tersenyum dengan sikap Radhitya yang konyol.
"Jangan dong, aku belum nikah. Jangan sampai kena sawan".
"Aku ingin menggigit lehermu lalu menyedot darahmu sampai kering hi hi hi"
Manda semakin mengerjai Radhitya. Dia senang melihat si playboy itu ketakutan.
"Tapi kok hantu bau jengkol ya". Radhitya asal ceplos pada Manda.
"Iya ya bau jengkol banget" Manda menciumi bau mulutnya sendiri.
"Perasaan tiap bertemu denganmu pasti bau jengkol ya". Radhitya mulai hafal ciri khas Manda yang tak pernah absen bau jengkol.
__ADS_1
"Ha ha ha" Manda tertawa dengan ucapan konyol Radhitya.
"Aku gelar tahlilan besar-besaran untukmu ya biar kau tenang di alammu tidak mengganggu lagi"
"Ha ha ha, ugh.....ugh.....ugh...., bau pesing" Manda mencium bau pesing dari celana Radhitya hingga terbatuk.
"Iya ya bau, dari mana ya". Radhitya bertanya.
"Playboy celanamu dari tadi basah kau kencing ya?". Manda bertanya.
Radhitya melihat ke celananya, memang dari tadi celananya basah sebelum diguyur air seember.
"Iya ya pesing, mungkin karena tadi aku kencing dicelana". Radhitya menjelaskan dengan malu-malu.
"Playboy playboy kau itu penakut ya". Manda meremehkan Radhitya yang penakut.
"Kau bukan hantu". Radhitya berkata dengan tatapan dingin.
"Kok tahu".
"Tuh duitmu berjatuhan". Radhitya menunjukkan uang dua ribuan yang berjatuhan.
"Eh, duitku berjatuhan".
Manda mengambili uang dua ribuannya yang berjatuhan. Radhitya membantunya mengambil uang yang berjatuhan itu.
"Kau dari mana, kenapa berdandan hantu seperti ini?". Radhitya bertanya.
"Pekerjaanmu sebelumnya?". Radhitya bertanya.
"Aku mundur, habis jarang dapat klien, ya begini kerja serabutan". Manda sudah biasa kerja apa saja. Pekerjaan untuk laki-laki atau perempuan semuanya dilakukan olehnya demi sesuap nasi. Hanya dia satu-satunya tumpuan hidup keluarganya.
"Oh gitu, apa kau lapar?". Radhitya bertanya.
"Iya, banget". Manda menjawab dengan jujur. Dia memang sudah lapar dari pagi belum makan. Hanya kacang pemberian pengguna jalan yang dimakannya dari tadi.
"Ayo makan, aku traktir". Radhitya menawarinya makan.
Manda mengangguk kegirangan. Dia benar-benar lapar walaupun ada uang hasil saweran tapi itu bukan miliknya. Dia digaji bulanan. Uang itu harus distor pada pemilik kostum.
Manda ganti baju di WC umum kemudian pergi bersama Radhitya ke restoran. Dia belum pernah makan direstoran. Paling banter dia makan di warteg. Maklum dari pada makan di restoran lebih baik uangnya untuk kebutuhan sehari-hari.
Radhitya dan Manda mencari tempat duduk. Mereka memilih tempat duduk yang sepi dari pengunjung. Mereka duduk dan mulai memilih menu makanan dibuku menu.
"Ayo pilihlah makanan yang kau mau". Radhitya menawarinya.
"Tapi semuanya mahal". Manda melihat harga dibuku menu yang menurut kantongnya tidak terjangkau.
__ADS_1
"Pilihlah sesukamu jangan pikirkan harga. Nanti aku yang bayar semuanya".
"Playboy terimakasih". Manda mengucapkan terimakasih pada Radhitya. Selama ini tak pernah ada yang mentraktirnya seperti ini.
"Oke"
Manda pesan banyak menu hingga meja makan itu dipenuhi makanan. Radhitya sampai melongo melihat semua makanan di atas meja.
"Kau yakin bisa menghabiskannya?. Radhitya bertanya.
Manda mengangguk. Dia mulai makan. Radhitya sampai kenyang tak jadi makan melihat Manda makan sampai semua piring kosong bahkan bunga di meja saja hampir dimakan juga. Sepertinya tikus saja kalah gragasnya dari Manda.
Tak lama Manda langsung tertidur di meja dan mengorok.
Kroook.....krooook......krooook.......
"Ampun kenapa ada cewek kaya dia didunia ini, tapi dia unik aku suka".Radhitya tersenyum melihat Manda.
Karena Manda tak bangun, tidur sudah seperti mayat hidup. Akhirnya Radhitya menggendongnya. Manda tetap mengorok meskipun berada dipunggung Radhitya bahkan sepanjang kaki Radhitya melangkah ilernya menetes sebagai jejak yang ditinggalkan.
"Untung kau bertemu denganku, aku suka padamu apa adanya meskipun kau ngorok, ngiler, bau dan aneh". Radhitya tersenyum. Manda sudah membuatnya tertarik dengan semua kekurangannya.
Radhitya memasukkan Manda ke mobilnya. Dia mendudukkan Manda di kursi depan. Kemudian Radhitya mengendarai mobilnya menuju ke rumah Manda.
Sampai didepan rumah Manda, Radhitya membangunkannya.
"Manda Manda bangunlah".
Manda membuka matanya dan melihat Radhitya ada disampingnya.
"Aku dimana?". Manda bertanya.
"Kau ada di depan rumahmu". Radhitya menjawab.
Radhitya membukakan pintu mobilnya kemudian Manda keluar dari mobil Radhitya. Dia berjalan ke rumahnya ditemani Radhitya, tiba-tiba seorang lelaki tampan memanggilnya.
"Manda".
Manda dan Radhitya menoleh ke belakang.
"Ngapain lagi kau kesini?". Manda bertanya. Dia berdiri tepat didepan lelaki itu dan menatapnya dengan tatapan yang kesal.
"Aku ingin minta maaf".
Manda hanya tersenyum melihat lelaki tampan itu minta maaf padanya setelah semua yang dilakukannya pada Manda.
"Pergilah selagi aku masih sabar". Manda menyuruh lelaki tampan itu pergi. Tapi lelaki tampan itu tidak pergi juga dia tetap berusaha minta maaf pada Manda.
__ADS_1
"Aku ingin kita seperti dulu lagi, aku menyesal Manda". Lelaki itu terlihat menyesal dan terus meminta maaf. Dia ingin Manda memaafkannya dan ingin semuanya kembali seperti dulu.
"Siapa dia Manda?. Radhitya bertanya. Lelaki itu tampan dan berkelas. Radhitya yakin dia bukan orang sembarangan. Dia juga terlihat mengenal Manda.