
"Kau benar"ucap Diana.
Satu jam berlalu hujan pun reda. Muncul pelangi yang begitu indah dilangit yang mulai membiru.
"Lihat di atas langit itu ada pelangi yang indah" ucap Rafka sambil menunjuk ke pelangi di atas langit.
Diana melihat pelangi yang ditunjukkan Rafka padanya.
"Indah sekali pelanginya begitu jelas dan besar" ucap Diana.
"Gadis cantik namaku Rafka"ucap Rafka.
"Namaku Diana"ucap Diana.
"Namamu cantik seperti orangnya"ucap Rafka.
Diana langsung tersipu malu saat Rafka menyebutnya gadis cantik.
"Ayo pulang hujannya dah reda"ucap Rafka.
"Kau pulang naik apa?"tanya Diana.
"Naik bus"ucap Rafka.
"Aku juga naik bus"ucap Diana.
"Ayo bareng"ucap Rafka.
"Boleh"ucap Diana.
Rafka naik ke atas bus, tapi Diana tertinggal. Busnya langsung jalan. Diana mengejar bus itu, Rafka langsung berdiri dipintu belakang sambil mengulurkan tangannya.
"Diana raih tanganku"ucap Rafka.
"Iya Rafka"ucap Diana.
Diana berlari berusaha meraih tangan Rafka. Dia meraih tangan Rafka, lalu Rafka menariknya ke atas bus. Dia menangkap Diana yang ditariknya naik ke dalam bus.
"Diana kau tak apa?"tanya Rafka.
"Tidak"ucap Diana.
"Ayo nyari tempat duduk"ucap Rafka.
Diana mengangguk, dia mengikuti Rafka mencari tempat duduk di bus itu. Mereka duduk berseberangan. Tapi saat ada ibu hamil yang tidak kebagian tempat duduk, Diana mempersilahkan ibu hamil itu untuk duduk.
"Terimakasih ya dek"ucap Ibu hamil itu.
"Sama-sama Kak"ucap Diana.
Diana memilih berdiri dari pada ibu hamil itu yang berdiri. Tiba-tiba Rafka berdiri disampingnya.
"Diana duduklah, biar aku yang berdiri"ucap Rafka.
"Aku sudah terbiasa berdiri Rafka"ucap Diana.
"Kalau begitu aku akan menemanimu berdiri" ucap Rafka.
Rafka berdiri bersama Diana dibus itu. Mereka begitu menikmati rasanya berdiri bersama dan membiarkan orang yang lebih membutuhkan tempat duduk untuk duduk dikursi mereka.
Delapan Tahun Kemudian
Diana sedang mengandung sembilan bulan. Siang itu dia memasak di dapur untuk dibawa ke kantor. Dia ingin membawakan Rafka makan siang. Freya menghampiri Diana yang sedang memasak di dapur.
"Diana kenapa kau memasak nak?"tanya Freya.
"Aku ingin membawakan Rafka bekal makan siang untuk yang terakhir"ucap Diana.
"Seharusnya kau istirahat, tinggal beberapa hari lagi kau melahirkan"ucap Freya.
"Iya Ma, tapi aku ingin sekali makan bersama Rafka takutnya besok udah gak bisa lagi"ucap Diana.
"Yaudah Mama bantuin"ucap Freya.
"Iya Ma, makasih"ucap Diana.
Freya membantu Diana memasak didapur untuk makan siang Rafka. Dia memasak capcay, udang goreng tepung, balado ayam dan mie goreng. Lalu Diana meletakkan semua masakannya dikotak bekal makan.
"Akhirnya selesai juga"ucap Diana.
"Rafka pasti seneng banget kamu bawa bekal siang untuknya"ucap Freya.
"Iya Ma"ucap Diana.
"Aku berangkat dulu ya Ma"ucap Diana.
"Hati-hati dijalan nak"ucap Freya.
Diana langsung memeluk Freya dengan erat dan begitu lama. Tidak biasanya Diana memeluk Freya selama itu.
"Aku pasti kangen Mama"ucap Diana.
Freya merasa hatinya sedang tidak nyaman. Ada sesuatu yang membuatnya mengkhawatirkan Diana.
"Diana, biar Mama saja ya yang nganterin bekal makan siangnya"ucap Freya.
"Gak usah Ma, Diana bisa kok"ucap Diana.
"Baiklah, biar diantar Pak Jojon ya"ucap Freya.
"Iya Ma"ucap Diana.
Diana melepas pelukannya dari Freya kemudian dia keluar dari rumah dengan membawa kotak bekal. Dia naik ke dalam mobil yang dikendarai Pak Jojon. Mobil itu melaju di jalan raya. Dalam perjalanan ke kantor Rafka, Diana menelpon Rafka.
"Assalamu'alaikum"ucap Diana.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam"ucap Rafka.
"Sayang sudah makan belum?"tanya Diana.
"Belum sayang"ucap Rafka.
"Aku bawa bekal makan siangmu"ucap Diana.
"Yang bener sayang?"tanya Rafka.
"Bener"ucap Diana.
Rafka senang sekali akan bertemu istri tercinta dan makan siang bersamanya.
"Udah gak sabar jadinya pengen ketemu kamu sayang"ucap Rafka.
"Aku juga sayang"ucap Diana.
Tiba-tiba sebuah truk menabrak mobil yang dinaiki Diana.
Dug....
"Aaaaaaaaa....."Diana teriak.
"Diana...aaaaaaaa...aaaaa..."Rafka berteriak mendengar kejadian yang dialami Diana.
Mobil itu terpental dan terbalik. Sementara Rafka yang masih memegang handphonenya sampai mematung dan handphonenya terjatuh ke lantai. Ketika foto Diana di dinding ruangan kerja Rafka terjatuh.
Tuuuuuaaaaar...preeeeeekkkkk...
Barulah Rafka tersadar, dia langsung berlari keluar dari ruangan kerjanya. Rafka terus berlari keluar dari perusahaan. Dia naik ke mobilnya lalu mengendarai mobilnya keluar dari perusahaan. Mobil itu melaju dengan kecepatan yang tinggi. Rafka hanya ingin segera bertemu Diana. Dia mengendarai mobilnya ke tempat Diana berada.
Sampai ditempat Diana berada, Rafka memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Dia keluar dari dalam mobilnya. Kakinya terus berlari mencari Diana. Dia ingin segera menemukan Diana. Saat dia menemukan Diana, dia melihat Diana tengkurap dan terjepit mobil yang terbalik. Rafka berlari menghampiri Diana. Dia berusaha mengangkat mobil itu tapi tidak bisa. Semakin dia menggerakkan mobilnya Diana semakin tersiksa.
Akhirnya dia tengkurap didepan Diana dengan memegang tangan Diana yang masih hangat. Hidung, mulut dan kepala Diana keluar darah yang terus mengalir.
"Diana sayang hik....hik....hik..."ucap Rafka sambil menangis.
"Sa...yang....a....ku...ik...hlas...La...illaha...illallah..."
ucap Diana untuk yang terakhir kalinya.
Diana menghembuskan nafas terakhirnya.
"Diana....aaaaa...aaaaa...."Rafka berteriak sekencang mungkin tapi Diana telah tiada.
Tangan Diana berubah dingin dan terlepas dari tangan Rafka. Kepalanya sudah terjatuh ke bawah. Kini Diana benar-benar pergi bersama buah hatinya. Hanya tinggal kenangan yang selalu dikenang Rafka. Diana istri tercintanya sudah kembali pada Allah SWT.
Flash Back Off
"Ternyata aku rindu padamu Diana, dua tahun yang lalu kau meninggalkanmu"ucap Rafka.
"Semoga Allah menempatkanmi ditempat yang terbaik bersama buah hati kita, amin"ucap Rafka.
Rafka keluar dari kamarnya. Dia turun ke lantai bawah menuju ke ruang makan. Semua anggota keluarga sudah berkumpul menunggunya sarapan bersama. Rafka duduk bersama mereka menikmati hidangan di atas meja makan itu.
"Rafka nanti pulang kantor jangan terlalu sore ya"ucap Freya.
"Emang kenapa Mi?"tanya Rafka.
"Ada teman Mami yang mau main kesini"ucap Freya.
"Ah....paling Mami mau jodohin Kak Rafka lagi" ucap Luna.
"Udah jadul main jodoh-jodohin Mi"ucap Radhitya.
"Ya....beginilah Mamimu, pengen cepet punya mantu"ucap Arian.
"Tenang Mi, Radit bakal nikah duluan dari Kak Rafka"ucap Radhitya.
"Dasar playboy, mana mungkin punya komitmen" ucap Luna.
"Cewek cerewet juga gak ada yang mau" ucap Radhitya membalas Luna yang selalu meledeknya.
Luna tak pernah mau mengalah kalau kakaknya Radhitya meledeknya.
"Bagusan cerewet dari pada playboy"ucap Luna membalas kakaknya Radhitya yang meledeknya juga.
"Playboy banyak ceweknya, coba cerewet pada ngabur kali"ucap Radhitya.
"Sudah-sudah nanti kesiangan kalian"ucap Rafka.
"Biarin, paling Kak Radit kena omel kalau telat syuting"ucap Luna.
"Masih untung kena omel dari pada lari keliling lapangan karena kesiangan"ucap Radhitya.
"Stop!!"ucap Freya.
"Iya Mi"ucap Radhitya dan Luna.
Hanya Freya dirumah itu yang paling ditakuti semua anggota keluarga. Tapi walaupun begitu mereka semua sangat menyayangi Freya dan menghormatinya.
"Pi, Mi aku berangkat dulu ya"ucap Radhitya.
"Iya nak"ucap Arian dan Freya.
"Radit, Luna, kakak berangkat dulu"ucap Rafka.
"Iya Kak"ucap Radhitya dan Luna.
"Assalamu'alaikum"ucap Rafka.
"Wa'alaikumsallam"ucap Semuanya.
Rafka keluar dari ruangan makan itu. Dia keluar dari rumahnya menuju ke parkiran mobil yang berada didepan rumahnya. Rafka mengendarai mobilnya menuju ke jalan raya. Dia melihat seorang wanita hamil yang sedang disiksa suaminya ditepi jalan. Rafka memarkirkan mobilnya ditepi jalan. Lalu dia turun dari mobilnya menghampiri lelaki itu.
__ADS_1
"Mas jangan main tangan terhadap wanita, apalagi istrimu sedang hamil"ucap Rafka.
"Siapa lo mas sok tahu ngatur gue"ucap Junet.
"Hik....hik.....hik......"Ira terus menangis melihat suaminya yang terus marah.
"Setiap masalah pasti bisa diselesaikan dengan baik"ucap Rafka.
"Wanita ini hamil anak tetangga"ucap Junet.
"Demi Allah Mas, aku hanya difitnah, percayalah" ucap Ira.
"Semua orang bilang begitu"ucap Junet.
"Gak Mas, ini anak mu hik......hik.....hik...."ucap Ira.
"Maaf Mas, saya punya solusinya. Saat bayinya nanti lahir, Mas bisa tes DNA biar jelas apakah anak yang dikandung istri anda, anak Mas atau anak tetangga sesuai yang Mas tuduhkan"ucap Rafka.
"Iya Mas aku bersedia anak ini dites DNA saat lahir nanti, biar kau yakin ini anakmu"ucap Ira.
Junet bukannya menurunkan emosinya tapi malah mendorong Ira hingga dia terjatuh ke jalan. Lalu Ira terserempet motor yang melewati jalan itu.
Dug..............
Ira terjatuh berguling dijalan raya. Dia langsung tak sadarkan diri dengan pendarahan yang mengalir dikakinya.
"Ira......a....a......a...."ucap Junet berteriak melihat istrinya terserempet motor.
Rafka langsung menolong Ira dan membopongnya ke mobilnya. Dia dan Junet membawa Ira ke rumah sakit dengan menaiki mobilnya Rafka. Sampai dirumah sakit Ira langsung masuk ke ruangan operasi. Dia harus dioperasi caesar karena sudah terjadi pendarahan hebat. Junet terus memukuli tembok diluar ruangan tunggu, dia menyesal telah mendorong Ira istrinya hingga terserempet mobil.
Raka menghampiri Junet dan berbicara padanya.
"Mas Junet semua sudah terjadi, penyesalan memang selalu datang terlambat. Tapi sekarang kita hanya bisa berdoa pada Allah SWT agar istri dan bayimu selamat"ucap Rafka.
"Aku seharusnya mendengarkannya bukannya emosi cuma karena tersulut gosip yang belum pasti kebenarannya"ucap Junet.
"Itulah kenapa kita tidak boleh suudzon pada orang lain, seharusnya kita mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu"ucap Rafka.
"Aku seorang pelayar, pulang ke rumah tidak pasti. Terkadang pulang tiga bulan sekali bahkan bisa lebih. Saat aku pulang istrimu hamil besar. Awalnya aku tidak mencurigainya karena dia juga sudah memberitahuku kalau dia hamil tapi saat aku pulang ada tetangga yang bilang istriku sering diantar suami tetanggaku, dia bilang istriku berselingkuh dan hebatnya aku percaya itu"ucap Junet.
"Mulut memang lebih tajam dari pedang. Jika tidak dijaga dengan baik akan menimbulkan fitnah yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Tapi semua itu bisa di atasi dengan selalu husnudzon dan mencari kebenarannya"ucap Rafka.
"Aku menyesal hik...hik...., gimana kalau terjadi sesuatu pada istriku hik....hik....."ucap Junet.
"Sebaiknya kita berdoa pada Allah SWT semoga istri dan anakmu selamat dan sehat wal'afiat, amin"ucap Rafka.
"Amin"ucap Junet.
"Aku jadi teringat Diana, saat itu dia hamil 9 bulan. Kecelakaan tragis itu sungguh menyakitkan. Ya Allah tetap ikhlaskan hamba, tempatkanlah Diana dan putraku disisiMu yang terbaik, amin"batin Rafka.
Tak lama seorang Dokter keluar dari ruang operasi. Dia memberitahu pada Junet kalau istrinya tidak bisa diselamatkan karena pendarahan hebat. Hanya buah hati mereka yang selamat.
"Tidak......ak........ak......."ucap Junet berteriak sekencang mungkin.
Dia langsung duduk dilantai sambil menangis, dia benar-benar menyesali semuanya.
"Ira......maafkan aku hik.....hik.....maafkan aku hik....hik....."ucap Junet.
Rafka kembali menghampiri Junet dan menepuk bahunya.
"Ikhlaskan dia. Semoga Allah menempatkannya ditempat yang terbaik, diampuni dosanya dan diringankan siksa kuburnya, amin"ucap Rafka.
"Amin, hik.....hik....hik....."ucap Junet.
Junet menyesal karena percaya pada gosip yang belum tentu kebenarannya. Kini dia harus kehilangan istri tercintanya.
"Mas Junet, apa masih ada keraguan dihatimu pada anakmu?"tanya Rafka.
".............."Junet terdiam.
"Kau bisa melakukan test DNA sekarang"ucap Rafka.
"Aku.....aku percaya itu anakku hik....hik......"ucap Junet.
"Alhamdillah, sabar ya Mas. Saya turut berduka cinta. Jagalah dan rawatlah buah hatimu, anak itu peninggalan satu-satunya istrimu. Amanah dari Allah SWT yang harus kau jaga dan rawat dengan baik"ucap Rafka.
"Iya, kau benar hik....hik...."ucap Junet.
"Dulu aku juga kehilangan istriku karena kecelakaan tapi aku tidak seberuntung dirimu. Anakku ikut pergi bersama istriku kembali pada Allah SWT"ucap Rafka.
"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa melewati ini semua hik...hik...."ucap Junet.
"Ikhlas, hanya ikhlaslah kuncinya"ucap Rafka.
"Ikhlas?"ucap Junet.
"Dengan ikhlas kita bisa melangkah dengan mudah, baik yang meninggalkan dan yang ditinggalkan akan sama-sama tenang"ucap Rafka.
"Ya Allah aku bisa ikhlas"ucap Junet.
"Amin"ucap Rafka.
"Mas Junet aku pergi dulu"ucap Rafka.
"Mas Rafka terimakasih atas pertolongannya, semoga Allah SWT membalas semua kebaikanmu"ucap Junet.
"Amin"ucap Rafka.
Rafka tersenyum saat melihat Junet bisa mengikhlaskan semuanya. Dia bisa tenang meninggalkan Junet berangkat ke kantornya. Dia naik mobilnya lalu mengendari mobilnya ke perusahaan. Dia percaya ikhlas membuat hidup terasa lebih mudah dan ringan.
Sampai diperusahaan Rafka berjalan menuju ke ruangannya. Dia melihat Gista sedang membawa sekantung camilan sambil menawarkannya ke karyawan diruangan HRD. Rafka langsung memanggilnya ke ruangannya. Rara menghampiri Gista yang hendak ke ruangan masuk ke ruangan kerja Rafka.
"Gista jangan-jangan kau akan dimarahi Presdir" ucap Rara.
"Mungkin karena aku membawa barang dagangan ke kantor"ucap Gista.
__ADS_1
"Benar, ada peraturan dimana karyawan tidak boleh membawa barang dagangannya ke perusahaan"ucap Rara.