
"Biru dan Jingga habis jualan buah cherry Ma" ucap Biru.
"Jualan cherry? Mama sudah bilang kalian masih kecil belum boleh bekerja" ucap Azura.
"Tapi Biru dan Jingga mau bantu Mama" ucap Jingga.
"Mama hanya ingin kalian sekolah dengan baik dan dirumah bersama nenek" ucap Azura.
Kedua anaknya menundukkan kepala mereka.
"Kalian menjual buah cherry-nya dimana?" tanya Azura.
"Ditepi jalan raya Ma" ucap Biru.
"Apa? kalian tahukan jalan raya itu berbahaya, kalian masih kecil nak, Mama tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian" ucap Azura.
Azura bukan marah pada kedua anaknya tapi khawatir dengan keselamatan kedua anaknya.
"Jangan marah ya Ma, Biru dan Jingga minta maaf" ucap Biru.
"Iya Mama, maafkin kami" ucap Jingga.
Melihat tingkah polos kedua anak kembarnya, Azura memeluk kedua anaknya.
"Maafin Mama ya, kalian tidak salah" ucap Azura.
"Mama hik hik hik" ucap Biru dan Jingga sambil menangis.
Azura memeluk erat kedua buah hatinya.
"Mama tadi Biru dan Jingga bertemu Om baik hati" ucap Biru.
"Om baik hati? siapa?" tanya Azura.
"Mukanya mirip Biru Ma" ucap Jingga.
"Mirip Biru?" ucap Azura terkejut.
Azura langsung memikirkan ucapan kedua buah hatinya.
"Apa jangan-jangan mereka bertemu Mas Rafka juga" batin Azura.
"Om itu memberi kami..." ucap Biru terhenti saat neneknya memanggil.
"Biru, Jingga, ayo masuk. Nenek membuat bola-bola coklat" ucap Ibu Dewi.
"Iya nek" ucap Biru dan Jingga.
"Asyiiik" ucap Biru dan Jingga kegirangan.
Biru dan Jingga berlari masuk ke rumahnya bersama Ibu Dewi. Sedangkan Azura masih berdiri dipekarangan rumahnya.
"Apa sudah seharusnya aku memberitahu mereka tentang Papanya. Mereka berhak mengetahui Mas Rafka" ucap Azura.
************
Gista bekerja diruangan kerjanya. Nathan mengirim bunga dan makan siang untuk Gista.
Dia senang sekali dengan pemberian Nathan.
Gista membuka makanan yang dikirim Nathan.
Baru mau makan, pintu ruangan kerjanya diketuk.
Tuk....tuk....tuk.....
"Masuk" ucap Gista.
__ADS_1
"Saya mau membersihkan ruangan ini Bu" ucap Pasha.
"Silahkan" ucap Gista.
"Baik" ucap Pasha.
Pasha masuk ke ruangan Gista. Dia menyapu ruangan itu lalu mengepel semua lantai diruangan itu. Gista berdiri untuk mencuci tangan sebelum makan, dia berjalan menuju wastafel, tiba-tiba kakinya tergelincir dan hampir terjatuh, untung ditangkap Pasha.
"Apa Bu Gista tidak apa-apa?" tanya Pasha.
Gista memperhatikan wajah Pasha dari dekat. Dia seperti pernah bertemu dengannya.
"Bu Gista....Bu Gista...." ucap Pasha memanggil berkali-kali.
"Eh iya" ucap Gista.
Gista melepas tangan Pasha dari tubuhnya. Dia langsung berdiri dan berjalan menjauhi Pasha.
"Lain kali kalau mengepel pagi-pagi, ini berbahaya kalau sampai pembeli terpeleset karena kau mengepel dijam kerja" ucap Gista.
"Baik Bu, saya minta maaf" ucap Pasha.
"Sudah selesaikan, keluarlah" ucap Gista.
"Oke" ucap Pasha.
Pasha keluar dari ruangan itu. Gista duduk dikursi kerjanya. Dia mengingat-ingat kembali pernah melihat wajah Pasha dimana sebelumnya.
Sepulang bekerja Gista menunggu Nathan menjemputnya. Dia terus menunggu hingga hujan turun cukup deras. Gista masih berdiri didepan mini marketnya.
"Ini payung dan sweater, pakailah jika kau mau" ucap Pasha meletakkan payung dan sweater dikursi dekat Gista berdiri.
Pasha berjalan menerobos hujan dan naik ke dalam bus yang berhenti didepan mini market.
Gista memperhatikan lelaki tampan yang selalu memasang muka dingin dan datar.
Gista melihat sweater dan payung yang ada dikursi. Dia mengambil sweater dan payung itu.
"Bau sweater ini, bunga tulip, bunga favoritku" ucap Gista.
Gista berpikir tak banyak orang yang tahu bunga favoritnya. Mungkin ini kebetulan saja. Gista tidak ini berpikir yang aneh-aneh. Tak lama hujan reda dan mobil Nathan menjemputnya.
"Maaf aku telat, jalanan macet" ucap Nathan.
"Gak papa kok, baru pulang juga" ucap Gista.
"Ayo pulang" ucap Nathan.
Gista mengangguk. Dia masuk ke mobil Nathan ditemani Alifa yang ada dikursi belakang bersamanya. Mereka pergi ke sebuah tempat pembuatan undangan. Nathan dan Gista memilih-milih model undangan yang mereka inginkan.
"Yang ini bagus gak?" tanya Gista menunjukkan undangan berwarna silver.
"Bagus dan elegant" ucap Nathan.
"Kau tidak memilih Mas" ucap Gista.
"Asal kau suka aku juga suka" ucap Nathan.
Gista tersenyum mendengar ucapan calon suaminya. Dia tahu Nathan selalu menuruti kemauannya. Dia tak pernah bilang tidak selama mereka bersama. Gista memilih-milih undangan tiba-tiba dia tak sengaja memegang tangan Nathan. Tapi Gista merasa aneh dengan tangan Nathan.
"Mas tanganmu dingin kenapa?" tanya Gista.
"Mungkin karena tadi hujan jadi kedinginan" ucap Nathan.
"Oh gitu, kalau gitu Mas pakai sweater aja biar hangat" ucap Gista.
"Iya sayang" ucap Nathan.
__ADS_1
Setelah memilih-milih undangan, Nathan mengantarkan Gista pulang ke rumah besarnya.
***********
Malam itu Azura masuk ke kamar kedua anak kembarnya. Dia membawa sebuah foto. Kedua anak kembarnya baru selesai sholat isya. Azura menghampiri kedua anak kembarnya. Dia duduk diranjang bersama mereka.
"Mama mau cerita sesuatu pada kalian" ucap Azura.
"Cerita apa Ma?" tanya Biru dan Jingga.
"Kalian mau tahu Papa tidak?" tanya Azura.
"Mau...mau..." ucap Biru dan Jingga.
"Papa seperti apa Ma?" tanya Jingga.
"Papa orangnya baik, penyayang, pintar dan tampan" ucap Azura.
"Berarti Biru mirip Papa ya" ucap Biru.
"Iya sayang, Biru mirip banget Papa" ucap Jingga.
"Mama punya sesuatu" ucap Azura menunjukkan foto pernikahannya dengan Rafka.
Kedua anak kembar itu terkejut melihat foto yang ditunjukkan Azura pada mereka.
"Om baik" ucap Jingga.
"Om baik Papa kami ya Ma?" tanya Biru.
"Om baik? jadi benar anak-anak sudah bertemu Mas Rafka" batin Azura.
"Ma...Mama...., Om baik Papa kamikan?" tanya Biru.
"Iya sayang" ucap Azura sambil meneteskan air matanya.
"Papa hik hik hik" ucap kedua anak kembar itu sambil memeluk foto pernikahan kedua orangtuanya.
"Jingga kangen Papa hik hik hik" ucap Jingga.
"Biru juga kangen Papa hik hik hik" ucap Biru.
Azura menahan tangisannya. Dia tahu anak-anaknya merindukan suaminya itu.
Setelah lelah menangis, anak-anak itu tidur.
Azura menyelimuti kedua anaknya lalu mencium kening mereka bergantian.
"Maafkan Mama ya nak" ucap Azura.
Azura keluar dari kamar kedua anak kembarnya.
Biru yang tadi tidur, bangun lagi dan membangunkan Jingga.
"Ada apa Biru?" tanya Jingga.
"Ayo telpon Papa" ucap Biru.
"Tapi kita tidak punya handphone" ucap Jingga.
"Pakai telpon rumah aja" ucap Biru.
Jingga mengangguk. Mereka berdua mengendap-ngendap keluar kamar, menuju ruang tamu. Biru dan Jingga menelpon nomor telpon yang ada dikartu nama yang diberikan Rafka pada mereka berdua.
"Hallo" ucap Rafka.
"Hallo Papa" ucap Biru.
__ADS_1