Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Bertemu Devan


__ADS_3

Azura masih terdiam. Dia masih memikirkan apa yang dilihatnya.


"Azura aku rindu padamu" ucap Devan.


Azura masih diam menatap lelaki disampingnya.


"Kenapa kau tidak memanggilku Mas Devan seperti biasa?" tanya Devan.


"Tidak, Mas Devan sudah meninggal" ucap Azura.


Azura yakin Devan sudah meninggal. Lelaki disampingnya ini pasti bukan Devan.


"Azura aku masih ada didepan mu berarti aku masih hidup" ucap Devan.


"Tidak, kau pasti bukan Mas Devan" ucap Azura.


Devan meraih tubuh Azura dan memeluknya. Azkura berusaha melepas pelukan Devan darinya.


"Lepas" ucap Azura.


"Diamlah Azura, aku rindu padamu" ucap Devan sambil memeluk Azura erat.


"Kau bukan Mas Devan hik hik hik" Azura menangis.


"Aku Devan Azura" ucap Devan.


Azura hanya bisa berurai air mata. Lelaki itu memeluknya erat. Dia tidak bisa berbuat apapun.


"Aku rindu sekali padamu, aku berobat selama ini. Kanjeng Ibu tidak memberitahumu ya, aku minta maaf" ucap Devan.


Azura tetap diam, dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku berusaha untuk sembuh, agar kita bisa bersama lagi Azura" ucap Devan.


Air mata Azura terus menetes dipipinya.


"Sekarang aku sudah sembuh, aku ingin bersamamu lagi Azura. Kita akan hidup bersama seperti dulu dan punya anak" ucap Devan.


Azura melepas pelukan Devan saat Devan sibuk bicara.


"Jika benar kau Mas Devan, aku sudah tidak bisa seperti dulu Mas" ucap Azura setelah melepas pelukannya dari Devan.


Azura berdiri tepat dihadapan Devan.


"Kenapa kita tak bisa seperti dulu?" tanya Devan.


"Karena aku sudah mencintai orang lain dan aku sedang mengandung anaknya" ucap Azura.


"Tidak masalah, kita akan merawat anak itu bersama Azura" ucap Devan.


Azura semakin berurai air mata hingga matanya menjadi rabun dan menutup. Dia jatuh pingsan.

__ADS_1


***********


Freya mencari Azura ke bagian baju anak. Tapi dia tidak menemukannya. Freya mencari ke bagian lain tapi dia juga tidak menemukannya. Freya coba mencari ke setiap lantai di Mall itu tapi juga tidak menemukan Azura.


"Apa Azura sudah pulang ya?" ucap Freya menyimpulkan.


Freya coba menelpon nomor telpon Azura tapi tidak aktif.


"Nomor telponnya juga tidak aktif, apa sebaiknya aku pulang? siapa tahu Azura ada di rumah" ucap Freya.


Freya akhirnya memutuskan pulang ke rumah. Dia naik mobil pribadinya menuju ke rumah besarnya. Sampai di rumah Freya langsung mencari Azura di rumah. Tapi tak ada, dia bertanya pada seluruh orang yang ada di dalam rumah itu tapi tak ada juga. Freya duduk di sofa ruang tamu karena kelelahan, Arian duduk disamping Freya.


"Mi, bukannya Azura pergi ke Mall bersamamu?" tanya Arian.


"Iya Pi, tapi tadi aku saat kami sedang ke melihat-lihat baju, aku ke bagian baju dewasa sedangkan Azura ke bagian baju anak. Setelah aku selesai beli baju, aku mencari Azura ke bagian baju anak tapi dia tak ada disana. Bahkan seluruh bagian Mall ku puteran juga gak ada" ucap Freya.


"Udah ditelpon Azuranya?" tanya Arian.


"Udah Pi, tapi tidak aktif" ucap Freya.


"Kalau gitu kita telpon Rafka, dia harus tahu kalau Azura gak ada" ucap Arian.


"Iya Pi, Mami malah gak inget kesitu" ucap Freya.


Freya membuka layar handphonenya. Dia menelpon Rafka.


"Assalamu'alaikum" ucap Freya.


"Rafka cepet pulang nak, ada hal penting yang ingin Mami bicarakan" ucap Freya.


"Hal penting apa Mi?" tanya Rafka.


"Nanti di rumah Mami kasih tahu" ucap Freya.


"Iya Mi, aku akan pulang segera" ucap Rafka.


Rafka menutup telponnya setelah bicara dengan Freya. Dia merasa ada yang aneh dari ucapan Maminya. Rafka jadi tak tenang dan khawatir pada sesuatu yang dia tak ketahui. Karena jam sekolah sudah usai, Rafka turun dari mobil menuju kelas Gista.


"Sayang sudah? ayo pulang" ucap Rafka menghampiri Gista yang sedang ada di meja kerjanya membereskan perlengkapan di mejanya bersama Paula.


"Iya Mas" ucap Gista melihat ke arah Rafka.


Paula melihat ke arah suami Gista. Dia kagum melihat suami Gista bisa menerima istrinya yang lumpuh dan sabar menemaninya.


"Gista beruntung memiliki suami yang baik dan sabar. Jarang ada lelaki yang mau menerima istrinya yang lumpuh" batin Paula.


"Oya Mas kenalkan ini Paula" ucap Gista mengenalkan rekan kerjanya.


"Paula, senang bertemu dengan Anda" ucap Paula memperkenalkan diri.


"Rafka, senang bertemu denganmu juga" ucap Rafka memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Paula aku pulang duluan ya" ucap Gista.


"Iya, hati-hati dijalan Bu Gista" ucap Paula.


"Iya, mari" ucap Gista.


Rafka mendorong kursi roda Gista keluar dari ruangan kelas itu. Dia menuju mobilnya lalu membopong Gista masuk ke mobilnya bersamanya. Supir melipat kursi roda itu meletakkannya dibagasi mobil. Kemudian mobil melaju meninggalkan TK itu. Didalam mobil Rafka rindu pada Azura. Tadi pagi dia minta izin untuk ikut Freya jalan-jalan ke Mall.


"Azura tadi bilang mau ke Mall sama Mami" batin Rafka.


"Aku telpon Azura, mungkin dia masih di Mall" batin Rafka.


Rafka membuka layar handponenya lalu menelpon nomor Azura.


"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif, silahkan tinggalkan pesan" ucap layanan telpon tersebut.


"Nomor telpon Azura tidak aktif" batin Rafka.


Rafka tiba-tiba mengkhawatirkan Azura. Apalagi istrinya itu sedang mengandung buah cintanya. Dia tak pernah sekhawatir itu sebelumnya. Rafka merasa tak tenang berada di dalam mobil itu. Gista melihat ekspresi Rafka yang terlihat murung. Dia mengajak Rafka berbincang.


"Mas ada apa?" tanya Gista.


"Aku mengkhawatirkan Azura, entahlah, tiba-tiba perasaanku tidak enak" ucap Rafka.


"Kalau begitu telponlah Azura Mas" ucap Gista.


"Sudah, tapi nomor telponnya tidak aktif" ucap Rafka.


"Bukannya dia mau pergi ke Mall sama Mami ya" ucap Gista.


Gista tahu tadi pagi Azura minta izin pada Rafka untuk jalan-jalan ke Mall bersama Mami Freya.


"Iya, mungkin aku mengkhawatirkannya karena dia sedang hamil muda. Azura masih sering mual dan muntah. Mungkin karena itu aku mengkhawatirkannya" ucap Rafka.


"Kalau gitu telpon Mami Mas" ucap Gista.


"Sudah, tadi Mami menyuruhku segera pulang, ada hal penting yang ingin dibicarakan" ucap Rafka.


"Positif thingking aja ya Mas, semoga Azura baik-baik saja" ucap Gista berusaha menenangkan suaminya yang terlihat khawatir pada Azura.


"Iya, kau benar sayang" ucap Rafka.


Rafka berusaha berpikir positif. Dia juga berdoa didalam hatinya, agar Azura baik-baik saja.


Sampai dirumah Rafka mengantar Gista ke kamarnya terlebih dahulu. Barulah di turun ke bawah, duduk bersama Freya dan Arian diruang tamu. Freya menceritakan semua kejadian yang terjadi tadi pada Rafka.


"Jadi kemana Azura Mi?" tanya Rafka.


"Maafkan Mami, tidak menjaga Azura dengan baik" ucap Fteya.


"Iya Mi, aku akan mencari Azura" ucap Rafka.

__ADS_1


"Mungkinkah keluarga Barata mengambilnya lagi?" tanya Arian.


__ADS_2