
Rafka berjalan menuju kamar Luna. Dia berdiri didepan pintu kamar Luna lalu mengetuk pintu kamar Luna.
Tuk.......tuk.......tuk......
Luna membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa Kak Rafka?"tanya Luna sambil mengucek matanya karena masih mengantuk.
"Luna, kakak boleh pinjam beberapa setel bajumu?" tanya Rafka balik.
"Boleh, tapi buat apa Kak?"tanya Luna.
"Besok kakak akan jelaskan semuanya"ucap Rafka.
"Oke"ucap Luna.
Luna mengambil beberapa setel bajunya dari lemari lalu memberikannya pada Rafka.
"Makasih ya Luna"ucap Rafka.
"Iya Kak, Luna mau bobo lagi ngantuk"ucap Luna.
"Oke"ucap Rafka.
Luna menutup pintu kamarnya kemudian Rafka berjalan menuju ke kamar tamu. Dia masuk ke kamar itu dan memberikan baju milik Luna pada Freya.
"Rafka, Mami mau ganti bajunya dulu, kau keluar dulu ya"ucap Freya.
"Iya Mi"ucap Rafka.
Rafka keluar dari kamar itu. Freya mulai mengganti baju Azura yang robek itu. Dia melihat bekas cambukan disekujur tubuh Azura.
"Ya Allah, banyak sekali bekas cambukkannya. Siapa yang melakukan ini padanya, tega sekali" ucap Freya.
Azura hanya diam dan meneteskan air matanya.
"Dia sangat cantik, tapi sepertinya dia depresi, kasihan"ucap Freya.
Freya menyisir rambut panjang Azura lalu memakaikannya sebuah hijab. Azura terlihat cantik dan anggun.
"Jangan menangis lagi, kau akan terlihat sangat cantik saat tersenyum"ucap Freya.
Tangan Freya menghapus air mata dipipi Azura. Freya merasa Azura memendam semua kesedihannya sendirian. Dia memegang tangan Azura dan bicara padanya.
"Azura jangan bersedih, kau bisa berbagi kesedihanmu padaku. Ceritakan semua keluh kesahmu padaku"ucap Freya.
Azura melihat ke arah Freya walaupun dia masih terdiam.
"Mulai hari ini kau tidak sendirian Azura jadi jangan bersedih"ucap Freya.
Setelah Azura tidur, Freya keluar dari kamar tamu itu, dia melihat Rafka masih berdiri didekat pintu kamar tamu itu.
"Rafka, ada yang Mami ingin bicarakan"ucap Freya.
"Iya Mi, kita bicara disofa aja"ucap Rafka menunjuk ke ruangan depan kamar tamu itu.
Rafka dan Freya duduk di sofa ruangan itu.
"Rafka, ada bekas cambukkan ditubuh Azura. Sebagian bekas cambukkan lama dan sebagian bekas cambukkan baru"ucap Freya.
__ADS_1
"Apa Mi? bekas cambukkan?"tanya Rafka memastikan lagi pada Freya.
"Iya, Mami juga merasa Azura depresi, tapi untuk memastikannya dia depresi, kita harus membawanya ke psikiater"ucap Freya.
"Apa bekas cambukkannya itu ada hubungannya dengan kondisinya saat ini?"tanya Rafka.
"Mungkin saja, tapi dia sepertinya tidak peduli dengan luka ditubuhnya. Ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari luka ditubuhnya"ucap Freya.
"Lebih menyakitkan dari pada luka ditubuhnya?" ucap Rafka.
"Mami merasa dia sedang memikirkan sesuatu yang membuat hati dan pikirannya terluka dalam, ada kesedihan yang disimpan olehnya"ucap Freya.
Setelah bicara dengan Freya, Rafka masuk ke kamarnya dan duduk diranjang kamar itu. Dia terus memikirkan ucapan Freya tadi.
"Apa yang membuat Azura bersedih hingga membuatnya sampai seperti itu, lalu siapa yang tega mencambuknya?"ucap Rafka.
"Lebih baik aku sholat malam"ucap Rafka.
Rafka mengambil wudhu lalu melaksanakan sholat malam. Dia tak lupa berdzikir dan berdoa.
"Ya Allah Yang Maha Mengetahui, hamba tidak tahu apa yang membuat Azura hingga seperti itu. Sembuhkanlah luka hatinya dan luka ditubuhnya. Kembalikan dia seperti sedia kala. Berilah dia kebahagiaan yang akan membuatnya tersenyum kembali, amin"ucap Rafka.
Rafka berbaring diranjangnya selesai sholat malam lalu dia tidur dengan pulas. Dia cukup kelelahan seharian bekerja hingga larut malam.
************
Radhitya masih berada dilokasi syuting hingga larut malam. Dia sedang duduk di kursi santainya. Desta menghampiri Rafka yang sedang bersantai. Dia seorang artis pengganti Azura.
"Mas Radhitya"ucap Desta.
"Desta"ucap Radhitya.
"Mas Radhitya ya, mau dipijetin?"tanya Desta.
"Aduh.....setiap ngomong kenapa mulutnya bau kemenyan ya, apa dia spesies yang akan punah"batin Radhitya.
"Gak usah"ucap Radhitya.
"Mau coklat gak?"tanya Desta.
"Boleh"ucap Radhitya.
"Tapi agak basi dan mau kadaluarsa, apa mau?"tanya Desta.
"Gak usah"ucap Radhitya.
"Udah tahu mau kadaluarsa malah ditawarin, ini cewek waras gak sih, gimana kalau aku mati setelah makan coklat itu"batin Radhitya.
"Masih bisa di makan nih, paling mual dan muntah kalau gak cocok"ucap Desta sambil memakan coklat yang mau kadaluarsa itu.
"Gah ah, aku gak sanggup kalau mual dan muntah tar disangka ibu hamil dong"ucap Radhitya.
"Tapi unik lo makan coklat kadaluarsa"ucap Desta.
"Unik? yang ada habis makan bluuuug......tahu-tahu udah ditahlilin"batin Radhitya.
"Desta jangan dimakan nanti kamu sakit loh"ucap Radhitya.
"Aku udah biasa makan makanan kadaluarsa, malah stok lagi"ucap Desta.
__ADS_1
"Emang perutmu gak sakit"tanya Radhitya.
"Enggak, paling kentutku bau doang"ucap Desta.
"Pantes dari kemarin syuting ma dia kok bau kentut, ternyata makanannya coklat basi"batin Radhitya.
Radhitya terus mengobrol dengan Desta yang memiliki hobi yang unik sesuatu yang basi itu enak menurutnya, ya paling sakit mual dan muntah, paling banter kentut bau lah yah.
*************
Pagi harinya Rafka menghampiri kamar tamu untuk mengajak Azura makan. Dia membuka kamar tamu itu. Azura sedang berdiri di balkon kamar itu, Rafka menghampirinya.
"Azura ayo sarapan bersama"ucap Rafka.
Azura tidak menjawab ucapan Rafka, dia hanya terdiam.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku membawakan sarapanmu kesini?"tanya Rafka.
Azura hanya terdiam dan meneteskan air matanya. Rafka langsung meraih kedua lengan Azura dengan kedua tangannya. Dia menatap mata Azura yang kosong itu.
"Azura aku tahu masalahmu mungkin berat, tapi kau masih punya Allah. Keluhkan semua masalahmu padanya, memintalah sebanyak yang kau mau, hanya Allah yang bisa menyelesaikan semua masalahmu, bukan seperti ini, kau hanya menyiksa dirimu sendiri"ucap Rafka menasehati Azura.
"Hik....hik.....hik.....Mas Devan....hik...hik....hik..." ucap Azura.
"Devan?"batin Rafka mulai mengingat nama Devan.
Rafka ingat Devan adalah suami Azura, dia pernah bertemu dengan Devan saat dia menolong Azura waktu Azura kecelakaan di jalan raya.
"Azura, apa kau ingin aku menelpon suamimu lagi?"tanya Rafka.
"Devan meninggal hik....hik....hik...."ucap Azura.
"Meninggal?"ucap Rafka terkejut.
"Jadi itu yang menyebabkanmu seperti ini. Azura, Devan akan sangat bersedih melihatmu seperti ini. Dia pasti ingin melihatmu bahagia"ucap Rafka.
"Hik....hik.....hik......"Azura hanya menangis.
"Azura, aku tahu kesedihanmu tidak mungkin hilang dengan mudah, tapi kau harus tetap menjalani hidupmu seperti biasanya, jangan seperti ini. Aku sedih melihatmu seperti ini"ucap Rafka.
"............."Azura hanya diam.
"Aku bawa sarapannya kesini ya"ucap Rafka.
Azura tidak menjawab ucapan Rafka.
"Baiklah, aku akan tetap membawa sarapanmu kesini"ucap Rafka.
Rafka berjalan keluar dari kama tamu itu. Dia berjalan menuju tangga, dari belakang seseorang memanggilnya.
"Rafka"ucap Gista.
Gista duduk di kursi roda, dia mendorong ban kursi roda itu untuk menghampiri Rafka.
"Gista"ucap Rafka.
"Kau mau sarapan dibawah?"tanya Rafka.
"Iya boleh"ucap Gista.
__ADS_1