Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Cemburu


__ADS_3

Gista begitu merindukan Rafka. Sudah satu bulan lebih suaminya belum juga pulang ke rumah. Dia memandangi foto Rafka di galeri handphonenya.


Dia mulai kesepian setiap malam menghabiskan malam-malam tanpa suaminya.


"Apa Mas Rafka takkan pulang walaupun hanya satu hari saja. Aku rindu, apa dia melewati malam dengan Azura?" ucap Gista.


"Tidak, semua ini demi menyelamatkan Azura. Aku tidak boleh cemburu" ucap Gista.


"Telpon Mas Rafka saja deh" ucap Gista.


Gista menyalakan layar handphone miliknya. Dia menelpon nomor telpon Rafka.


"Hallo Mas" ucap Gista.


"Hallo sayang" ucap Rafka.


"Aku kangen Mas" ucap Gista.


"Aku juga kangen sayang" ucap Rafka.


"Mas" ucap Azura terdengar disuara telpon yang tersambung itu.


"Sayang" ucap Rafka pada Azura.


Terdengar percakapan Rafka dan Azura, Gista hanya mendengarkan.


"Sayang kau mual lagi" ucap Rafka.


"Iya Mas, eneg" ucap Azura.


"Minum susunya sambil dielus ya perutnya biar gak eneg" ucap Rafka.


"Iya Mas" ucap Azura.


"Geli Mas, jangan sambil dicium" ucap Azura.


"Habis gemes sayang" ucap Rafka.


Air mata Gista langsung menetes dipipinya. Dia merasa sedikit cemburu dengan percakapan yang tak sengaja didengarnya. Tak lama Rafka berbicara kembali dengan Gista.


"Sayang maaf, tadi aku membantu Azura minum susu dulu" ucap Rafka.


"Tidak apa-apa Mas, oya Mas bisakah besok kau pulang, aku kangen Mas" ucap Gista.


"Insya Allah ku usahakan ya sayang. Disini keadaan belum menentu. Aku khawatir ada rencana baru dari Ibu Dewi. Tadi siang dia mendekati Azura" ucap Rafka.


"Oh gitu, aku ngerti" ucap Gista.


"Kau sudah makan sayang?" tanya Rafka.


"Udah, Mas udah makan belum?" tanya Gista.


"Udah, sekarang kau tidur ya sayang biar fresh saat bangun besok pagi" ucap Rafka.


"Iya Mas" ucap Gista.


Gista menutup telponnya. Dia murung memikirkan suaminya. Berbagi suami ternyata tidak mudah untuknya. Apalagi saat dia sedang membutuhkan suaminya.


"Aku kangen tapi Mas sedang bersama Azura" ucap Gista.

__ADS_1


Tiba-tiba suara handphonenya berdering.


Kriiing... kriiiing.... kriiiiing....


Gista melihat ke layar handphonenya, nomor tidak dikenal menelponnya. Dia penasaran langsung mengangkat telpon itu.


"Hallo Bu guru " ucap Alifa.


"Hallo Alifa" ucap Gista.


"Besok Alifa mau jalan-jalan ke taman bunga, Bu guru ikut ya" ucap Alifa.


"Ke taman bunga? sepertinya seru" ucap Gista.


"Iya Bu guru, banyak bunga dan kupu-kupu" ucap Alifa.


"Oke Bu guru ikut ya" ucap Gista.


"Makasih Bu guru" ucap Alifa.


"Iya sayang" ucap Gista.


Gista menutup telponnya selesai bicara dengan Alifa. Dia berpikir pergi ke taman bunga bersama Alifa mungkin menyenangkan. Dia tidak kesepian lagi.


************


Pagi itu Rafka menemani Azura sarapan pagi. Walaupun masih sering mual tapi Azura berusaha makan demi bayi yang dikandungnya. Rafka selalu memberinya satu ciuman dipipi setiap Azura bisa memakan setiap sendok ya.


"Mas apa kau pulang dulu saja, kasihan Gista. Dia pasti merindukanmu" ucap Azura.


"Tapi kamu gimana sayang, aku khawatir Nico, Devan atau Ibu Dewi menyakitimu" ucap Rafka.


Rafka langsung memeluk Azura. Dia mengkhawatirkan istrinya yang sedang mengandung itu. Kehilangan Diana saat mengandung dulu membuatnya trauma. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Azura. Keluarga Barata tidak mungkin tinggal diam. Mereka akan berusaha menyakiti Azura lagi.


"Sayang aku ingin disini menjagamu" ucap Rafka.


"Mas, istrimu ada dua. Jadi kau harus adil dalam membagi waktu dan perhatianmu. Aku bisa menunggumu pulang nanti" ucap Azura.


"Kau yakin aku tinggal?" tanya Rafka.


"Iya Mas, salam buat Gista ya" ucap Azura.


"Terimakasih ya sayang, I Love You" ucap Rafka.


"I Love You Too Mas" ucap Azura.


Rafka begitu bahagia memiliki Azura yang bisa memahami posisinya. Dia justru menyarankan Rafka untuk pulang dulu bertemu Gista.


"Sayang semua keperluanmu sudah ku siapkan di meja ya" ucap Rafka.


"Iya Mas" ucap Azura.


Rafka berlutut didepan perut Azura. Dia mencium perut Azura dan mengelus perutnya.


"Dede bayi Papa pulang dulu, besok Papa balik lagi. Jangan rewel ya kasihan Mama. Papa sayang dede" ucap Rafka.


"Iya Papa" ucap Azura.


Rafka bangun dan mencium istrinya. Berat rasanya meninggalkan Azura. Tapi dia harus tahu posisinya sebagai suami dari dua orang istri. Dia harus adil. Rafka keluar dari rumah besar keluarga Barata.

__ADS_1


Devan membawa koper. Dia berjalan menuju kamar Azura. Ibu Dewi melihat Devan yang sedang berjalan menuju kamar Azura,dia langsung menghampirinya.


"Danu kau mau kemana?" tanya Ibu Dewi.


"Aku mau membawa istriku pergi dari rumah ini" ucap Danu.


"Tidak, dia bukan istrimu. Dia istrinya Rafka" ucap Ibu Dewi.


"Aku ini Devan, suami pertama Azura. Aku berhak membawanya pergi" ucap Danu.


"Tidak, kau bukan Devan" ucap Ibu Dewi.


Ibu Dewi takut Danu sudah terobsesi pada Azura. Dia akan mekakukan apapun untuk membawa Azura pergi dari rumah itu.


"Bukannya kau sendiri yang bilang kalau aku harus jadi Devan, jadi aku juga berhak atas istrinya" ucap Danu.


"Jangan nak, dia adikmu" ucap Ibu Dewi.


"Jangan halangi jalanku" ucap Danu.


Danu berjalan mendekati pintu kamar Azura. Baru mau memutar gagang pintu kamar itu, Ibu Dewi menarik lengannya.


"Lepas" ucap Danu menebaskan tangannya.


"Jangan nak" ucap Ibu Dewi kembali memegang tangan Danu.


Danu kesal, dia mendorong Ibu Dewi hingga terjatuh ke lantai, kepalanya terbentur lemari pajangan didekat dia terjatuh.


Dug....


"Aw....." Ibu Dewi kesakitan.


Kepala Ibu Dewi luka hingga berdarah. Saat Ibu Dewi lemas dilantai kesakitan. Danu masuk ke kamar Azura. Dia menghampiri Azura.


"Kau mau apa Mas Devan?" tanya Azura yang melihat Danu membawa koper di tangan kirinya.


"Aku mau mengajakmu pergi dari sini sayang" ucap Danu.


"Tidak, aku tidak mau" ucap Azura.


"Mau tidak mau, aku akan tetap membawamu pergi dari sini" ucap Danu.


Danu melepas borgol yang menyangkut diranjang. Dia memborgol kedua tangan Azura.


Lalu menariknya beranjak dari ranjang. Dia menarim lengan Azura berjalan mengikutinya.


"Lepas, aku tidak mau" ucap Azura berusaha melawan.


Danu mengeluarkan pisau lalu mengancam Azura.


"Aku akan menusukkan pisau ini ke perut mu, hingga janinmu mati kalau kau berani melawan" ucap Danu.


Azura terdiam, dia tak berani melawan. Bayi didalam kandungannya lebih penting dari nyawanya. Danu mengajak Azura keluar kamar.


Mereka berjalan menuju tangga rumah besar itu. Ibu Dewi berusaha membantu Azura. Tapi Danu malah mendorongnya hingga jatuh dari tangga.


Bluuuug......


Ibu Dewi sampai pingsan dan kepalanya berdarah.

__ADS_1


"Ibu..." ucap Azura spontan berteriak melihat Ibu Dewi terjatuh ke lantai bawah.


__ADS_2