Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Bertemu Juga


__ADS_3

Rafka pergi ke lahan yang akan dibangun perusahaan cabangnya. Dia memarkirkan mobilnya dijalan karena area lahan dikerumuni pendemo. Dia turun dari mobilnya. Lalu menghampiri kerumanan itu. Polisi sudah ada ditempat menahan kerumunan massa. Rafka berdiri didepan untuk menenangkan pendemo.


"Assalamu'alaikum saudaraku semua" ucap Rafka.


Pendemo tetap ricuh dan sebagian diam.


"Bukankah seorang muslim wajib menjawab salam" ucap Rafka.


"Wa'alaikumsallam" ucap Para pendemo.


"Alhamdulilah" ucap Rafka.


Para pendemo mulai menyuarakan pendapat mereka masing-masing.


"Bos saya sudah lama tinggal disini berjualan, jika lahan ini dibangun kami jualan dimana?" tanya Iwan.


"Bos saya sudah lama tinggal disini, kalau digusur harus tinggal dimana? saya tidak punya uang untuk pindah" ucap Joko.


"Bos saya hanya seorang ibu dari tiga anak saya, suami saya meninggal. Tempat ini satu-satunya tempat bernaung untuk saya" ucap Ibu Yuli.


"Tenang, bapak dan ibu-ibu. Semua ini bisa dibicarakan baik-baik" ucap Rafka.


Pendemo mulai ricuh kembali. Mereka tak terima bila harus digusur paksa. Mereka belum punya uang untuk pindah.


"Begini, tolong dengarkan saya dulu. Saya ingin bicara" ucap Rafka.


Semua pendemo langsung diam siap mendengarkan Rafka bicara.


"Saya akan menyisihkan sebagian lahan untuk kalian tempati dan saya bangunkan bangunan rumah yang lebih rapi. Bagi yang jualan bisa bekerja sebagai katering ataupun kantin di perusahaan saya. Bagi yang lain bisa bekerja sebagai OB, securiti, tukang parkir, ataupun bagian lain yang cocok dengan kemampuan kalian. Jadi kalian bisa tinggal dan bekerja disini. Mari kita sama-sama memajukan tempat ini dan membuka lowongan pekerjaan untuk warga sekitar" ucap Rafka.


Para pendemo memikirkan ucapan Rafka.


"Benar juga, aku bisa kerja jadi OB, kebetulan sebelumnya aku OB" ucap Joko.


"Karyawan perusahaan cukup banyak, kalau buka kantinkan menguntungkan" ucap Iwan.


"Aku bisa kerja jadi apa saja, yang penting anak-anak makan" ucap Ibu Siti.


"Baiklah sepakat, kami setuju tempat ini dibangun" ucap Didit ketua para pendemo.


"Alhamdulillah" ucap Rafka.


Demo itu berakhir damai. Rafka berhasil menenangkan massa. Mereka semua bubar. Rara


menghampiri Bosnya.


"Bos ngapain sih harus capek-capek ngurusin mereka padahal polisi bisa saja menahan para provokator dan pendemo yang anarkis atau melawan" ucap Rara.


"Rara, tidak semua masalah kita selesaikan dengan cara kekerasan. Itu akan menimbulkan kerusakan dan penderitaan untuk orang lain. Lagi pula apa salahnya kita menolong orang. Ingat hidup didunia ini kita saling membutuhkan. Bos takkan disebut Bos tanpa bawahan. Bos tidak bisa bekerja sendiri tanpa bawahan baik itu staf sampai OB sekalipun. Lagi pula saya tidak rugi juga. Merekakan hanya meminta sedikit lahan untuk tinggal, lagi pula tujuan saya mendirikan perusahaan ini untuk menjaring tenaga kerja dari orang lokal, jadi mereka masih termasuk orang lokalkan" ucap Rafka.


"Bos memang orang yang baik, saya bangga jadi bawahan Anda" ucap Rara.

__ADS_1


"Ayo kembali ke hotel" ucap Rafka.


"Baik Bos" ucap Rara.


Rafka kembali masuk mobilnya. Sementara Rara juga naik mobilnya pribadi. Mereka meninggalkan tempat itu. Rafka melihat ke tepi jalan. Hari mulai sore, suara adzan berkumandang. Rafka mampir disebuah masjid tepi jalan. Dia turun dari mobil untuk wudhu dan sholat. Selesai sholat, Rafka keluar dari dalam masjid dia berjalan dihalaman masjid dan tak sengaja bertubrukan dengan seseorang.


Dug.........


"Maaf" ucap Azura.


Rafka terkejut orang yang ditubruknya adalah Azura istrinya. Ini kali kedua Rafka kembali bertemu Azura seusai sholat. Rafka langsung memeluk Azura dengan erat. Dia begitu merindukannya.


"Mas lepas" ucap Azura berusaha melepas pelukan Rafka.


"Tidak, aku tidak akan melepasmu" ucap Rafka.


"Mas...." ucap Azura.


"Aku rindu padamu sayang" ucap Rafka.


Azura termenung. Dia juga rindu pada suaminya. Pelukan ini sangat dirindukannya. Rasanya seperti bermimpi bertemu suaminya.


"Sayang jangan tinggalkan aku lagi sayang" ucap Rafka.


Azura langsung menangis didada Rafka. Kalau bisa meminta dengan egois, mungkin dia ingin kembali dan hidup bersama Rafka. Tapi dia tidak ingin membuat Gista menderita karenanya.


"Mas lepaskan aku" ucap Azura.


"Mas ini didepan masjid, orang-orang melihat kita" ucap Azura.


Rafka menarik Azura membawanya ke dalam mobil. Mereka meninggalkan tempat itu menuju ke hotel tempat Rafka menginap. Rafka menarik lengan Azura hingga masuk ke dalam kamar hotel.


"Mas" ucap Azura.


Rafka langsung mencium Azura. Ciuman itu membuat Azura terlena. Dia berada didalam kerinduannya. Mereka dimabuk asmara dan kerinduan. Sore itu jadi sore penuh cinta. Mereka melakukan hal romantis itu berkali-kali tanpa lelah seolah kerinduan itu membuat mereka ingin terus bersama. Setelah kelelahan mereka berbaring diranjang. Rafka memeluk Azura dengan erat, dia tak ingin melepaskan istrinya lagi.


"I Love You" ucap Rafka berbisik ditelinga Azura.


Azura hanya diam. Dia tidak berani membalas ucapan cinta yang sebenarnya dia juga rasakan.


Rafka tidak peduli dengan jawaban Azura. Apa yang sudah dilakukan mereka berdua tadi, sudah menunjukkan rasa cinta diantara keduanya. Karena kelelahan Rafka tertidur. Saat Rafka sudah tertidur pulas, Azura melepas pelukan Rafka. Dia menulis surat diletakkan diatas lemari kecil dekat ranjang. Lalu dia memakai pakaiannya, berjalan keluar dari hotel.


Kriiiing.....kriiiing.....kriiiing......


Bunyi handphone membangunkan Rafka. Dia melihat handphonenya lalu mengangkat panggilan yang masuk.


"Hallo Mi" ucap Rafka.


"Hallo nak" ucap Freya.


"Ada apa Mi?" tanya Raka.

__ADS_1


"Kau sudah sampai?" tanya Freya.


"Sudah, tadi jam 9 pagi" ucap Rafka.


"Syukurlah, jangan lupa jaga kesehatan, makan teratur dan tidur yang cukup" ucap Freya.


"Siap Mi" ucap Rafka.


Rafka menutup telponnya setelah bicara dengan Freya. Dia baru ingat kalau tadi bersama Azura.


Rafka langsung melihat ke samping tapi Azura tidak ada. Rafka beranjak dari ranjang mencari Azura didalam kamar hotel tapi tak menemukannya. Hanya secarik kertas diatas lemari kecil disamping ranjang.


Dear Mas Rafka


Assalamu'alaikum


Hari ini aku bahagia sekali bisa bertemu denganmu lagi Mas. Tapi aku tidak ingin ini terus berlanjut. Aku sudah memutuskan dari awal untuk pergi agar kau dan Gista bahagia. Maafkan aku Mas. Anggap saja pertemuan hari ini hanya mimpi. Jangan kau ceritakan pada Gista karena aku tidak ingin melukai hatinya. Kau tidak usah mencariku, ini pertemuaan kita yang terakhir. Aku cinta padamu Mas.


Azura Asifa


Rafka meneteskan air matanya membaca surat itu. Dia sudah senang bisa bertemu Azura tapi kini terpisah lagi.


"Tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku harus menemukan Azura dan buah hatiku" ucap Rafka.


***********


Azura pulang ke rumahnya. Dia membuka pintu. Lalu menutupnya. Dia duduk didepan pintu rumahnya. Air matanya menetes dipipinya. Hatinya begitu teruka. Dia terpaksa meninggalkan suaminya demi kebahagiaannya.


"Hik hik hik" Azura menangis.


Ibu Dewi yang baru masuk ke ruang tamu langsung menghampiri Azura dan memeluknya.


"Kamu kenapa nak?" tanya Ibu Dewi.


"Tadi aku bertemu Mas Rafka Bu" ucap Azura.


"Bagus dong" ucap Ibu Dewi.


"Tapi aku sudah memutuskan untuk pergikan Bu hik hik hik" ucap Axura.


"Jodoh takkan kemana, meski kau berlari sejauh apapun tetap akan kembali. Itu berarti kau dan Rafka memang berjodoh nak" ucap Ibu Dewi.


"Tapi aku tidak ingin Gista terluka lagi. Aku ingin mereka bahagia" ucap Azura.


"Sabar ya nak, ibu tahu kau memang anak yang baik. Merelakan kebahagianmu untuk orang lain itu tak mudah dan tidak semua orang bisa melakukannya" ucap Ibu Dewi.


"Iya Bu" ucap Azura.


Azura masuk ke kamarnya. Dia mandi lalu pergi ke kamar kedua anak kembarnya. Dia tidak melihat kedua anak kembarnya. Azura mencari disekeliling rumahnya tapi tak ada juga. Tiba-tiba anak kembarnya berjalan memasuki pekarangnya rumahnya.


"Kalian dari mana?" tanya Azura dengan ekspresi yang kesal.

__ADS_1


__ADS_2