
Pagi itu Rafka masuk ke kamar Gista. Dia menghampiri istrinya yang sedang berdandan didepan meja rias. Wajah cantiknya bertambah cantik saat bedak dan lipstik itu memoles wajahnya. Bak bidadari wajah Gista begitu cantik. Rafka memeluk Gista dari belakang. Dia mencium pipi istrinya itu.
Cup
Cup
Cup
Rafka mencium pipi Gista berkali-kali. Dia seperti tak puas ingin lagi dan lagi mencium pipi kemerah-merahan itu.
"Mas udah belum nyiumnya?" tanya Gista.
"Belum" ucap Rafka.
Gista berbalik dan langsung mencium Rafka.
"Sayang masih pagi" ucap Rafka.
Gista tahu maksud suaminya itu. Dia hanya memberi isyarat senyuman manis. Rafka langsung membopongnya ke ranjang. Pagi itu mereka memadu cinta. Keringat bercucuran seolah baru saja berolahraga. Gista dan Rafka tersenyum sepanjang kegiatan itu dimulai hingga usai. Rafka berbaring memeluk Gista sambil mengatur nafasnya.
"Mas padahal aku sudah siap berangkat" ucap Gista.
"Maaf sayang, aku harus dinas pagi dulu" ucap Rafka bercanda pada istrinya.
"Mas" ucap Gista.
"Iya sayang" ucap Rafka.
"Mas jadikan pagi ini kita ke sekolah TK nya?" tanya Gista.
"Jadi, Mas hari ini cuti khusus untuk menemaninmu" ucap Rafka.
Gista begitu bahagia mendengar ucapan Rafka. Suaminya sengaja cuti hanya untuk menemaninya bekerja di hari pertamanya. Selama ini dia tak pernah diperlakukan istimewa. Hanya Rafka yang dari dulu saat SMA hingga sekarang selalu memperlakukan Gista dengan istimewa. Ada penyesalan di dalam hatinya, kenapa tak dari dulu bersama Rafka mungkin dia tak perlu melewati penderitaan selama bertahun-tahun menjadi budak untuk memenuhi keserakahan Gerry. Tapi Gista percaya semua ini sudah yang terbaik. Dia bersyukur masih diberi kesempatan menjadi istri Rafka.
**************
Azura mengantar Rafka dan Gista sampai ke pelataran rumah besar itu. Dia ikut bahagia dengan bekerjanya Gista di TK. Dengan begitu Gista tidak akan merasa tidak berguna lagi. Rafka mencium kening Azura dan mengelus perutnya.
"Papa mengantar Bunda Gista dulu ya" ucap Rafka pada bayi di perut Azura sambil berlutut didepan perut Azura.
"Iya Papa, jangan lupa beliian Mama rujak dan soto mie ya" ucap Azura berpura-pura jadi bayi diperutnya.
Rafka berdiri lalu memegang kedua pipi Azura dengan kedua tangannya.
"Iya sayang rujaknya dikit ya" ucap Rafka.
"Tiga bungkus ya Mas" ucap Azura.
"Gak boleh" ucap Rafka.
"Dua bungkus" ucap Azura tersenyum manja.
"Oke dua bungkus" ucap Rafka.
__ADS_1
"Makasih Mas" ucap Azura sumringah.
"Aku berangkat dulu sayang" ucap Rafka.
Azura mengangguk. Dia melambai ke arah Rafka yang memasuki mobil bersama Gista. Mereka meninggalkan rumah besar itu dengan menaiki mobil pribadi.
TK Kasih Bunda
Rafka dan Gista masuk ke dalam pelataran TK Kasih Bunda. Suasana begitu ramai dipenuhi anak-anak yang sedang bermain dan berlari di arena playground TK tersebut. Gista tersenyum melihat pemandangan itu. Dia merasa suasana ini yang dirindukannya. Banyak suara anak-anak, setidaknya kesedihannya karena dia mandul bisa sedikit terobati dengan tawa anak-anak itu. Rafka mendorong kursi roda itu masuk ke dalam ruang kelas tempat Gista nanti mengajar.
"Nah sayang ini ruang kelasmu. Nanti kau mengajar dengan satu orang guru lagi" ucap Rafka.
"Ruangannya rapi dan indah Mas" ucap Gista.
"Mau foto buat kenang-kenangan?" tanya Rafka.
"Iya Mas, tapi aku mau fotonya sama Mas" ucap Gista.
Rafka meminta tolong supirnya untuk memfoto dirinya dan Gista berdua.
Cekrek...cekrek....cekrek....
Setelah berfoto bel sekolah itu berbunyi.
"Sayang, aku menunggu di mobil, kalau ada sesuatu yang kau butuhkan telpon aku ya" ucap Rafka.
"Iya Mas" ucap Gista.
Rafka keluar dari ruang kelas itu. Anak-anak mulai memasuki ruangan kelas mereka masing-masing. Gista melihat semua muridnya ada ruangan kelasnya. Seorang guru pengajar yang akan mengajar bersama Gista masuk ke dalam ruangan itu.
"Wa'alaikumsallam" ucap Gista dan anak-anak diruangan itu.
Paula menghampiri Gista dia duduk disamping Gista.
"Perkenalkan saya Paula, senang bertemu denganmu" ucap Paula.
"Saya Gista, senang bertemu denganmu juga" ucap Gista.
Mereka saling bersalaman dan tersenyum. Lalu mereka mulai mengabsen muridnya.
"Satu anak lagi yang belum masuk, belum ada kabar lagi" ucap Paula.
"Kalau begitu bagaimana kita hubungi keluarganya?" tanya Gista.
"Tidak berani" ucap Paula.
"Memangnya kenapa?" tanya Gista.
"Keluarga anak itu keluarga terpandang" ucap Paula.
Paula tidak berani menelpon keluarga murid didiknya yang belum hadir karena keluarga anak itu keluarga terpandang.
Saat mereka berdua sedang berbincang terdengar suara tangisan anak kecil dari luar kelas.Suara tangis itu terdengar ditelinga normal.
__ADS_1
"Suara anak kecil nangis, apa mungkin itu?" ucap Gista. Dia penasaran dengan suara itu. Dia ingin mencari sumber suara itu.
"Biar saya lihat dulu" ucap Paula.
"Bu Paula, biar saya saja" ucap Gista menawarkan diri.
"Baiklah" ucap Paula setuju dengan tawaran Gista.
Gista mendorong roda dari kursi rodanya keluar dari kelasnya. Dia melihat seorang gadis kecil menangis sendirian diteras. Gista menghampiri gadis kecil itu.
"Putri kecil kenapa menangis?" tanya Gista.
"Hik...hik....hik....aku rindu Mama" ucap Alifa.
"Nanti pulang sekolah bisa bertemu Mamamu lagi" ucap Gista.
"Gak bisa" ucap Alifa.
"Gak bisa kenapa?" tanya Gista.
"Mama udah meninggal Bu guru" ucap Alifa.
"Innalilahi wa inna ilaihi ra'jiun" ucap Gista.
Hati Gista langsung tersentuh dengan ucapan gadis kecil itu. Dia bisa merasakan rasa sedih yang dirasakan gadis kecil itu. Gista sedih anak sekecil itu sudah harus ditinggalkan ibunya padahal dia masih membutuhkan kasih sayang ibunya.
"Hik....hik....hik....Mama....Mama" ucap Alifa.
Gista berusaha mendekati tubuh Alifa lalu memeluknya.
"Jangan menangis nak, ada Bu guru. Mamamu pasti sudah bahagia disana. Dia ingin melihatmu juga bahagia" ucap Gista.
"Apa Mama tersenyum melihat Alifa sekolah sekarang Bu guru?" tanya Alifa.
"Nama anak ini Alifa" batin Gista.
"Iya, dia senang melihat Alifa sekolah. Dia tidak ingin melihat Alifa menangis, kalau Alifa tetap nangis, Mamamu akan menangis juga disana" ucap Gista.
"Alifa gak akan nangis lagi biar Mama juga gak nangis" ucap Alifa.
"Nah ini baru Alifa yang sholehah, doakan Mamamu biar masuk surga ya" ucap Gista.
Alifa mengangguk. Gista senang Alifa sudah tidak sedih lagi.
"Siapa kau berani memeluk anakku?"
Gista terkejut, dia melihat ke arah suara kemarahan itu berasal. Seorang lelaki tampan dengan setelan jas rapi terlihat marah melihatnya. Gista langsung melepas pelukannya dari Alifa.
"Papa" ucap Alifa.
"Siapa kau berani sekali memeluk anakku?" tanya lelaki itu.
"Aku guru baru disekolah ini" ucap Gista.
__ADS_1
Gista menjelaskan siapa dia disekolah itu. Tapi lelaki itu tetap terlihat marah dan dingin. Gista bingung harus bicara apa.