
Sore itu Gista mendorong keluar kursi rodanya dia ingin menunggu Rafka pulang. Baru sampai pintu dia melihat Rafka sedang menciumi perut Azura. Mereka terlihat bahagia. Gista bukan iri dengan kebersamaan Rafka dan Azura tapi dia merasa dirinya tak berguna. Dia tidak bisa memberi keturunan untuk Rafka. Gista mendorong kursi rodanya kembali ke dalam rumah. Dia hendak turun dari kursi roda ingin coba berjalan agar tidak merepotkan orang lain terus. Gista coba berdiri tapi kaki lemah dan malah hampir terjatuh untung Rafka menangkapnya.
"Sayang untung aku menangkapmu" ucap Rafka.
"Mas sudah pulang" ucap Gista menyapa suaminya. Padahal dia sudah tahu Rafka sudah pulang.
"Sudah sayang" ucap Rafka.
"Aku ingin bisa jalan Mas" ucap Gista.
"Sayang, kau tidak boleh memaksakan diri, ini tidak baik untuk kakimu. Jika terjadi cidera kembali akan semakin sulit untukmu pulih kembali. Kau membutuhkan waktu untuk bisa berdiri atau berlatih berdiri" ucap Rafka.
"Apa aku akan selamanya lumpuh Mas?" tanya Gista.
"Sayang aku yakin suatu saat nanti kau akan bisa berjalan kembali" ucap Rafka.
"Aku tidak ingin merepotkan orang lain hanya untuk sekedar ke toilet ataupun turun dari ranjang" ucap Gista.
"Tidak apa-apa sayang, aku membayar orang untuk membantumu itu memang tugasnya" ucap Rafka.
Rafka mempekerjakan orang yang merawat Gista. Karena Gista tidak bisa melakukan apapun sendirian. Dia membutuhkan bantuan orang lain.
"Tapi aku ingin mandiri Mas" ucap Gista.
"Tiba saatnya nanti kau akan bisa mandiri, untuk saat ini biarlah seperti ini, ada aku yang akan terus menjagamu" ucap Rafka.
Rafka berusaha menyakinkan istrinya agar tidak patah semangat. Dan yakin suatu saat nanti dia bisa melakukan apapun sendiri.
Gista mengangguk. Rafka membopongnya naik ke lantai atas masuk ke kamarnya. Dia mendudukkan Gista di sofa kamar itu.
"Kau haus sayang?" tanya Rafka.
Gista mengangguk. Rafka mengambilkan air minum untuk Gista lalu memberikannya padanya.
Gista meminta Rafka meminumnya duluan.
"Mas minumlah, seharusnya akulah yang memberikan air minum ini padamu sebagai tugasku sebagai istri" ucap Gista menyodorkan air dalam gelas itu pada Rafka.
"Biarlah aku yang melaksanakan tugasku sebagai suami merawat istrinya yang sakit, minumlah bidadariku" ucap Rafka mengambil gelas itu lalu menyodorkan gelas itu ke mulut Gista.
"Terimakasih Mas" ucap Gista.
"Iya sayang" ucap Rafka.
Gista meminum air di gelas itu sampai setengah gelas. Lalu Rafka meminum sisa air minum digelas itu.
"Mas kenapa kau meminum air bekasku?" tanya Gista.
"Biar romantis kaya Nabi Muhammad SAW" ucap Rafka.
__ADS_1
Gista tersenyum malu-malu mendengar ucapan suaminya. Rafka mencium kening Gista.
Cup
Cup
"Aku bahagia bersamamu jadi jangan berpikir kau tidak berguna" ucap Rafka.
"Iya Mas, mungkin karena aku tak punya kegiatan yang bisa ku lakukan orang lumpuh" ucap Gista.
"Gimana kalau kau membantu mengajar di TK? kebetulan aku punya kenalan seorang pemilik TK" ucap Rafka menawarkan.
"Boleh Mas, pasti menyenangkan bertemu anak-anak kecil yang lucu-lucu" ucap Gista.
"Baiklah, nanti aku bicara dulu dengan kenalanku itu" ucap Rafka.
"Makasih ya Mas" ucap Gista kegirangan mendapat tawaran dari suaminya.
Gista berpikir mungkin akan menyenangkan bertemu anak-anak kecil. Harinya tak akan sepi lagi. Dia akan lebih berguna dan punya banyak pengalaman dalam mengurus anak kecil.
Rafka masuk ke kamar Azura setelah dari kamar Gista. Dia mencari istrinya. Azura tidak ada di dalam kamar. Dia mencari Azura ke dalam toilet tapi tak ada. Dia menemukan Azura sedang duduk sambil makan rujak di balkon. Rafka duduk dibelakang Azura sambil memeluknya mencium pipinya beberapa kali.
Cup
Cup
Cup
"Enak Mas seger" ucap Azura.
"Tapi ini sore hari sayang, jangan banyak-banyak ya makannya" ucap Rafka.
"Udah habis lima bungkus Mas" ucap Azura.
"Sayang aku cium sampai puas nih kalau gak mau berhenti" ucap Rafka.
"Bilang saja kau ingin menciumku sampai puas, jangan alasan karena rujaknya"ucap Azura.
"Baiklah sayang, kau boleh makan satu bungkus lagi" ucap Rafka.
"Mas mau?" tanya Azura.
"Suapin" ucap Rafka sambil mengelus perut Azura yang masih datar.
Azura menyuapi Rafka rujak, sesekali dia memakannya untuk sendiri.
"Enak, seger, beli dimana?" tanya Rafka.
"Pacarnya Radit yang bawa" ucap Azura.
__ADS_1
Rafka langsung berpikir, seingatnya pacar Radhitya banyak. Dia tidak tahu pacar Radhitya yang mana.
"Pacar Radit yang mana sayang?" tanya Rafka.
"Nura namanya, tadi dia juga bawa banyak makanan lainnya. Aku hanya tertarik rujaknya saja" ucap Azura.
"Oh Nura, sayangku suka rujak ya?" tanya Rafka.
"Sejak hamil aku jadi seneng makan yang seger-seger Mas, rujak, bakso, dan es" ucap Azura.
"Yaudah, besok Mas beliin semuanya ya" ucap Rafka.
Cup
Azura mencium pipi suaminya.
"Aku mau yang lain sayang" ucap Rafka.
Rafka membopong Azura membawanya ke dalam kamar. Dia membaringkan Azura di ranjang. Mereka mulai mamadu cinta di sore itu. Kelembutan diutamakan Rafka untuk Azura yang sedang mengandung. Dia tidak mengikuti semua keinginannya demi sang buah hatinya. Bahkan Rafka tidak berani mengulanginya. Dia membuarkan istrinya beristirahat. Kesehatannya diutamakan demi ibu dan sang buah hati. Rafka memeluk Azura dalam dekapannya.
"Sayang kau ingat saat kita bertemu di hotel?" tanya Rafka.
"Iya Mas" ucap Azura.
"Mungkin itu pertemuan yang Allah sudah rencanakan untuk kita berdua" ucap Rafka.
"Kau benar Mas, sejak saat itu kita jadi sering bertemu, bahkan karena pertemuan itu kita sekarang menjadi suami istri" ucap Azura.
"Semoga kita selalu bersama dan saling mencintai sampai maut memisah" ucap Rafka.
"Amin" ucap Azura.
Tak lama mereka tidur sebentar karena kelelahan.
Terdengar suara handphone Azura berdering. Azura terbangun dan mengambil handphonenya di atas lemari kecil dekat ranjang. Azura menyalakan handphonenya dan mengecek pesan yang masuk ke handphonenya. Pesan dari nomor handphone Devan. Azura bagai disambar petir menerima pesan itu padahal belum dibaca. Dia ragu membuka pesan itu. Azura meletakkan handphonenya kembali. Tapi dia penasaran ingin tahu pesan itu. Dia kembali mengambil handphonenya kemudian menyalakannya kembali. Dia membuka pesan itu.
Pesan Dari Devan
Assalamu'alaikum
Azura apa kabar? aku sangat merindukanmu.
Aku ingin bertemu denganmu, aku akan segera menemuimu. Jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu Azura.
Devan
Azura terkejut membaca pesan dari Devan. Dia terdiam dan kebingungan.
"Tidak, tidak mungkin. Mas Devan sudah meninggal. Tapi siapa yang mengirim pesan ini? kenapa seolah-olah dia Mas Devan?" batin Azura.
__ADS_1
Azura beranjak dari tempat tidurnya dia mengambil foto Devan dilemarinya. Azura memegang dan memandangi foto itu. Dia memang mencintai Devan tapi itu dulu, sekarang dia mulai mencintai suaminya. Bersama Rafka dia menemukan kebahagiaannya. Rafka memberikan semua yang dia miliki untuk membahagiakannya. Azura meletakkan foto itu ke dalam lemari lagi. Kemudian dia kembali ke dalam pelukan Rafka. Dia mencium kening suaminya yang sedang tertidur.
"I Love You Mas" ucap Azura dengan suara pelan.