Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Kecewa


__ADS_3

"Memang ada apa Mi, kenapa aku harus pulang?" tanya Rafka.


"Azura tadi jatuh nak" ucap Freya.


"Apa? Azura jatuh?" ucap Rafka terkejut mendengar istrinya terjatuh.


"Iya nak, pulanglah! kami semua membawa Azura ke rumah sakit" ucap Freya.


"Oke Mi, malam ini juga aku akan pulang" ucap Rafka.


"Hati-hati dijalan nak" ucap Freya.


"Iya Mi" ucap Rafka.


Rafka menutup telponnya. Dia berjalan menghampiri Gista yang ada diatas ranjang.


"Sayang kita harus pulang" ucap Rafka.


"Bukannya kita mau pulang besok Mas, kau bilang kita akan berduaan" ucap Gista.


Gista kecewa mendengar ucapan Rafka. Padahal dia berharap bisa berduaan dengan Rafka.


"Maaf sayang, Azura jatuh. Sekarang dia dibawa ke rumah sakit" ucap Rafka.


"Ada ayah dan ibumu kan, biarkan mereka yang mengurus Azura sehari ini saja Mas" ucap Gista.


"Sayang, aku suami Azura. Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan merasa bersalah. Lagi pula ini tanggungjawabku bukan tanggungjawab orangtuaku sayang" ucap Rafka.


"Tapi kau sudah janji berduaan denganku Mas, kau lupa. Aku hanya meminta satu hari saja. Kau sudah satu bulan lebih bersama Azura" ucap Gista.


Gista benar-benar kecewa. Dia hanya ingin bersama suaminya.


"Kali ini saja sayang, aku mohon mengertilah. Aku harus pulang" ucap Rafka.


"Aku akan tetap disini, aku tidak mau pulang" ucap Gista.


Rafka mendekati Gista dan memegang tangannya.


"Sayang jangan seperti ini ku mohon, Aku harus memastikan Azura baik-baik saja, dia sedang hamil" ucap Rafka.


"Azura dan Azura, itu yang selalu kau pikirkan Mas. Jika aku diposisi Azura, apa kau akan melakukan hal yang sama?" tanya Rafka.


"Iya" ucap Rafka.


"Pergilah, terserah kau saja" ucap Gista.


"Ikutlah bersamaku pulang" ucap Rafka.


"Aku disini saja" ucap Gista.


"Baiklah, aku akan menyuruh Mba Siti untuk menemanimu disini sampai aku kembali ya" ucap Rafka.


"Terserah" ucap Gista.


Gista sudah tidak mood mendengar ucapan Rafka lagi. Dia kecewa, dia ingin menghabiskan waktu bersama Rafka tapi terhalang lagi.

__ADS_1


"Aku akan segera kembali" ucap Rafka.


Rafka mandi dan berganti pakaian. Lalu dia keluar dari villa tersebut. Dia mengendarai mobilnya. Sepanjang jalan dia memikirkan keselamatan Azura dan buah hatinya. Selama satu jam lebih Rafka mengendarai mobilnya hingga tiba dirumah sakit. Rafka langsung berjalan ke ruang rawat inap tempat Azura dirawat. Arian, Freya dan Luna sudah ada didalam. Rafka langsung menghampiri mereka semua.


"Pi, Mi, gimana keadaan Azura?" tanya Rafka.


"Alhamdulilah, pendarahannya tidak menyebabkan hal yang fatal pada janinnya" ucap Freya.


"Alhamdulillah" ucap Rafka memanjatkan syukur.


"Tadi Azura terpeleset di dapur saat membantu Mami masak" ucap Arian.


"Iya nak, Maafkan Mami, seharusnya Mami menyuruh Azura istirahat aja" ucap Freya.


"Tidak apa-apa Mi, aku bosan kalau istirahat terus" ucap Azura.


"Ya sudah, yang penting semuanya baik-baik saja, makasih ya Pi, Mi, sudah menjaga Azura" ucap Rafka.


"Iya nak" ucap Arian dan Freya.


"Kak aku dilupakan nih"ucap Luna.


"Terimakasih ya Luna" ucap Rafka.


"Oke kak" ucap Luna.


Rafka duduk disamping ranjang pasien. Dia mengelus perut Azura.


"Alhamdulillah, dede bayi baik-baik saja sayang" ucap Rafka.


"Iya Mas, aku tadi sempat takut melihat darah yang keluar, tapi alhamdulillah Allah melindungi bayi kita" ucap Azura.


"Rafka, Papi dan Mami pulang dulu ya. Nanti kalau butuh bantuan kami telpon saja ya" ucap Arian.


"Iya Pi" ucap Rafka.


"Tenang Kak Rafka, Luna besok libur, jadi aku disini bersama kalian" ucap Luna.


"Oke adikku sayang" ucap Rafka.


"Papi dan Mami pamit pulang dulu" ucap Freya.


"Assalamu'alaikum" ucap Arian dan Freya.


"Wa'alaikumsallam" ucap Rafka, Azura dan Luna.


Arian dan Freya keluar dari ruangan itu. Tinggal Rafka, Azura dan Luna di dalam. Luna tiduran di sofa, sementara Rafka menemani Azura.


"Tidurlah sayang, kau harus istirahat" ucap Rafka.


"Iya Mas" ucap Azura.


Azura pun tidur. Rafka menjaganya sampai tertidur juga karena kelelahan dari tadi menyetir keluar kota bolak balik. Hari pun sudah pagi, suara adzan subuh berkumandang. Rafka terbangun dari tidurnya.


"Astagfirullah, aku lupa mau pergi ke villa lagi" ucap Rafka.

__ADS_1


Rafka langsung wudhu dan sholat subuh. Kemudian membangunkan Luna yang tidur disofa.


"Lun....Lun...Luna" ucap Rafka memanggil Luna sambil menepuk-nepuk lengannya.


"Kak ada apa?" tanya Luna dengan suara pelan.


"Sholat subuh, habis itu temani Azura ya, kakak mau keluar kota lagi menemani Gista" ucap Rafka.


"Iya Kak" ucap Luna.


Rafka keluar dari ruangan rawat inap. Ketika dia berada dilobi rumah sakit, handphonenya berdering. Rafka mengangkat telpon dari perusahaannya.


"Pagi Bos" ucap Rara, Sekretaris pengganti Gista.


"Pagi" ucap Rafka.


"Bos ada klien yang harus Anda temui pagi ini" ucap Rara.


"Bukannya ada Bos Arian ya?" tanya Rafka.


"Klien kita yang ini hanya ingin bertemu Anda" ucap Rara.


"Memang siapa kliennya?" tanya Rafka.


"Bos Leonardo" ucap Rara.


"Itu klien besar, banyak perusahaan menginginkannya" batin Rafka.


"Bos Arian sudah menyetujui pertemuan Anda dengan Bos Leonardo pagi ini" ucap Rara.


"Mungkin Papi lupa memberitahuku" batin Rafka.


"Oke, aku akan segera ke kantor" ucap Rafka.


Rafka menutup telponnya. Dia terpaksa pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian kerjanya. Lalu berangkat ke perusahaannya.


************


Gista duduk diteras villa sambil menikmati pemandangan perbukitan. Dia menunggu Rafka datang. Dari semalam Rafka belum juga kembali. Gista masih optimis kalau Rafka akan datang.


"Mas Rafka mungkin ketiduran, paling pagi ini dia datang" ucap Gista.


Gista menunggu dan menunggu hingga tengah hari Rafka belum juga datang. Dia melihat jam dihandphonenya.


"Sudah jam 1 siang Mas Rafka belum datang, apa dia masih dirumah sakit?" ucap Gista.


Gista coba menghubungi telpon Rafka tapi sedang sibuk. Dia berdiri dan berjalan bolak-balik.


"Mas kau kemana? apa kau lupa janjimu? apa kau sedang bersama Azura? kenapa kau selalu bersama Azura?" ucap Gista mulai kecewa.


Ditempat lain Rafka mengendarai mobilnya dijalan raya. Dia hendak pergi ke villa tempat Gista berada. Tadi dia harus meeting dengan Bos Leonardo hingga siang hari. Barulah dia berangkat ke villa. Tapi di jalan raya terjadi kemacetan panjang, maklum hari libur semua orang liburan juga.


"Sampai kapan aku sampai villa kalau begini, tadi kenapa tidak naik pesawat aja" batin Rafka menyesali keputusannya.


Pukul 4 sore

__ADS_1


Gista lelah menunggu, dia mengajak Mba Siti pergi dari villa. Dia naik taksi pergi ke terminal bus. Gista benar-benar kecewa pada Rafka. Dia berpikir lebih baik pulang kampung ke rumah ibunya saja. Mungkin disana dia bisa menenangkan pikirannya.


"Lebih baik aku pergi Mas, aku lelah berharap terus. Kau memang lebih perhatian pada Azura dari pada aku" batin Gista di dalam bus bersama Mba Siti.


__ADS_2