Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Anak Kanjeng Ibu


__ADS_3

"Iya Adam Barata, memangnya Anda mengenalnya?" tanya Ibu Ningsih.


"Tidak, saya tidak mengenalnya" ucap Ibu Dewi.


Ibu Dewi tidak ingin pihak panti mengetahui kalau dia istri Adam Barata.


"Apa ada lagi yang ingin Anda ketahui dari bayi Siva Tania?" tanya Ibu Ningsih.


"Tidak ada, terimakasih atas informasinya" ucap Ibu Dewi.


"Sama-sama" ucap Ibu Ningsih.


Ibu Dewi keluar dari ruangan ibu Ningsih. Kakinya terasa lemas, tubuhnya bergetar panas dingin, jantungnya berdebar, bulu kuduknya berdiri. Dia berjalan diantara lorong panti asuhan itu. Seakan mimpi, selama ini dia membesarkan anaknya sendiri tapi dia tak menyadarinya. Harta dan tahta menutup mata batinnya sebagai seorang ibu. Dia bahkan sering memarahi dan menghukum Azura dari sejak kecil. Seharusnya dia memberi Azura cinta dan kasih sayang tapi dia malah jadi ibu yang kejam. Ibu Dewi terduduk ditengah lorong. Penyesalan demi penyesalan datang. Dia menangisi semua yang telah terjadi.


"Aku menyakiti anakku sendiri hik hik hik..., aku bukan ibu yang baik. Aku gila harta dan tahta hingga aku tak peka putriku ada disisiku selama ini hik hik hik" ucap Ibu Dewi.


Seorang anak kecil menghampiri Ibu Dewi yang menangis.


"Nenek jangan menangis, bilang sama Allah kalau sedih" ucap Dodo.


Air matanya semakin mengalir deras dipipinya mendengar ucapan anak kecil itu.


"Nenek jahat, Allah pasti marah" ucap Ibu Dewi.


"Allah pasti maafin nenek, kata Pak Ustad kalau kita minta maaf sama Allah dengan bersungguh-sungguh, Allah pasti memaafkan" ucap Dodo.


"Hik hik hik kau benar anak pintar" ucap Ibu Dewi.


Ibu Dewi mendengarkan semua cerita anak kecil itu hingga membuatnya tersenyum lagi. Kemudian dia pergi meninggalkan panti asuhan itu.


************


Gista pergi ke Mall bersama Mba Siti untuk berjalan-jalan sambil membeli kebutuhan bulanan. Mba Siti pamit ke toilet saat Gista hendak turun ke lantai dua. Gista akhirnya menunggu di samping eskalator lurus. Beberapa orang berjalan berdesakan melewati samping eskalator lurus itu, tak sengaja kursi rodanya tersenggol seseorang hingga rodanya berjalan dengan cepat menuruni eskalator lurus yang berjalan turun.


"Aaaaaaa..." Gista berteriak ketakutan.


Kursi roda itu terus berjalan ke bawah dengan cepat. Gista ketakutan tak bisa menghentikan roda kursi rodanya. Dibawah eskalator ada Nathan yang hendak naik eskalator lurus itu. Melihat kursi roda Gista berjalan turun dengan cepat Nathan berusaha menunggunya dibawah.


Karena tekanan kursi roda yang kencang Gista terdorong keluar dari kursi roda, Nathan langsung menangkap tubuh Gista menjauh dari kursi roda yang terlempat.


Bluuuug.......


Kursi roda Gista terlempar dilantai. Gista jatuh ke pelukan Nathan hingga mereka berdua jatuh ke lantai disisi lain. Nathan berada dibawah dan Gista berada diatas tubuh Nathan. Tangan Nathan masih memeluk Gista dengan erat. Matanya menatap mata Gista, ini kali pertama Nathan melihat Gista sedekat itu.


"Dia cantik seperti Hira, kenapa jantungku berdebar melihatnya" batin Nathan.

__ADS_1


"Maaf aku tak sengaja" ucap Gista.


Ucapan Gista membuat Nathan tersadar dan melepas tangannya dari tubuh Gista.


"Tidak apa-apa, justru aku senang kau tak apa-apa Gista" ucap Nathan.


"Aku tidak bisa bangun sendiri" ucap Gista.


"Aku akan membantumu bangun" ucap Nathan.


Nathan berusaha bangun bersama Gista. Dia mendudukkan Gista di tepi kemudian mengambil kursi roda milik Gista. Dia membopong Gista mendudukkannya dikursi rodanya.


"Nathan makasih ya" ucap Gista.


"Iya Gista" ucap Nathan.


"Nyonya maaf saya lama, tadi ngantri ditoiletnya" ucap Mba Siti yang baru datang menghampiri Gista.


"Gak papa Mba" ucap Gista.


"Selamat siang Tuan Nathan" ucap Mba Siti.


"Siang" ucap Nathan.


"Ayo Nya jadi makannya?" tanya Mba Siti.


"Boleh, kebetulan aku juga mau makan siang" ucap Nathan.


Gista, Nathan dan Mba Siti pergi ke restoran di dalam Mall itu. Mereka makan bersama di meja yang sama.


"Gista cobalah gurame saus asam manis ini, enak" ucap Nathan meletakkan potongan ikan gurame asam manis dipiring Gista.


"Makasih Nathan" ucap Gista.


Nathan mulai memperhatikan Gista. Entah kenapa dia kagum padanya.


"Nathan kenapa kau tidak makan sayur?" tanya Gista.


"Aku kurang suka sayur" ucap Nathan.


"Kau harus makan sayur, ini penting untuk tubuhmu" ucap Gista.


Gista meletakkan capcay dan tumis pakcoy dipiring Nathan.


"Baiklah karena kau sudah menaruhnya dipiringku jadi aku akan memakannya" ucap Nathan.

__ADS_1


Nathan memakan sayuran itu dengan susah payah, dia memang tidak suka sayur. Tapi demi Gista dia mau memakannya sampai habis.


"Gimana?" tanya Gista.


"Lumayan" ucap Nathan.


"Oya, aku ingin membeli jepitan rambut dan bando untuk Alifa, bolehkan?" tanya Gista.


"Boleh, Alifa pasti sangat menyukai jepitan dan bando pemberianmu" ucap Nathan.


"Karena aku tidak tahu selera Alifa, bisakah kau memberitahunya seperti apa jepitan dan bando yang disukainya?" tanya Gista.


"Gimana kalau aku menemanimu membelinya?" tanya Nathan.


"Boleh" ucap Gista.


Selesai makan Nathan dan Gista berada di toko aksesoris wanita. Mereka memilih jepitan dan bando untuk Alifa.


"Nathan liat bando ini lucu, ada hello kittynya warnanya pink lagi" ucap Gista.


"Alifa sangat suka hello kitty dan warna pink" ucap Nathan.


"Kalau gitu kita beli ini ya untuk Alifa" ucap Gista.


Nathan mengangguk. Mereka membeli berbagai jepitan rambut dan bando. Kemudian Nathan mengantar Gista dan Mba Siti pulang ke rumah Arian.


***********


Sampai dirumah keluarga Barata, Ibu Dewi turun dari mobil pribadinya. Dia segera masuk ke dalam rumahnya menuju kamar Azura. Dia melihat Azura sedang duduk diranjang dengan tangannya yang diborgol. Azura terkejut melihat Ibu Dewi masuk ke kamarnya. Wanita tua itu menghampiri Azura lalu memeluknya erat. Azura merasa aneh Ibu Dewi yang tak pernah memeluknya selama ini, tiba-tiba memeluknya erat. Dia merasa pelukan Ibu Dewi penuh kehangatan.


"Maafkan aku hik hik hik" ucap Ibu Dewi menangis dipelukan Azura.


Azura hanya terdiam. Dia tidak tahu Ibu Dewi minta maaf untuk apa.


"Ibu selalu menyakitimu dan menghukummu, maafkan Ibu hik hik hik" ucap Ibu Dewi.


"Minta maaf? apa ini hanya rencana licik kanjeng ibu, jangan-jangan dia akan...." batin Azura cemas.


Azura bukannya senang Ibu Dewi minta maaf justru dia khawatir wanita tua itu merencanakan sesuatu untuk menyakitinya lagi.


"Ibu sudah membuatmu hidup menderita hik hik hik" ucap Ibu Dewi.


Azura tetap diam. Dia bingung harus mengatakan hal apa. Bisa saja Ibu Dewi berpura-pura minta maaf agar Azura mau tinggal dirumah itu dan kembali bersama Devan.


"Kau anakku nak, anak kandung ibu hik hik hik" ucap Ibu Dewi.

__ADS_1


Azura terkejut dengan ucapan Ibu Dewi. Dia merasa semua ini hanya kebohongan Ibu Dewi saja.


__ADS_2