Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Bertemu Anak


__ADS_3

Biru dan Jingga sarapan bersama Azura dan Ibu Dewi. Hampir setiap pagi mereka sarapan bersama. Sebelum pergi bekerja, Azura masak sarapan pagi untuk kedua anak kembarnya. Biru dan Jingga selalu lahap memakan sarapan mereka setiap kali Azura masak.


"Masakan Mama enak" ucap Jingga memuji masakan ibunya.


"Biru paling suka masakan Mama" ucap Biru menegaskan.


Azura menghampiri kedua anak kembarnya. Dia mencium kening keduanya bergantian lalu merangkulnya. Dia senang sekali setiap pagi bisa bersama anak-anaknya sebum berangkat bekerja disebuah pabrik makanan.


"Makasih ya sayang, kalian anak-anak kesayangan Mama" ucap Azura sambil merangkul mereka erat-erat.


"Kesayangan nenek juga" ucap Ibu Dewi menambahkan.


"Iya dong nek" ucap Biru dan Jingga.


"Nah karena sarapannya sudah habis, Nenek antar kalian berangkat ke sekolah ya" ucap Ibu Dewi.


Selama ini Ibu Dewilah yang mengasuh kedua anak Azura selama Azura bekerja. Jika tidak akan sulit jika tidak ada yang mengasuh anaknya.


"Iya Nek" ucap Biru dan Jingga.


Biru dan Jingga turun dari kursi lalu mencium pipi Azura secara bergantian, kanan dan kiru.


Cup


Cup


"Sampai jumpa Ma" ucap Biru dan Jingga melambaikan tangannya sebelum berangkat.


"Sampai jumpa Biru, Jingga" ucap Azura membalas melambaikan tangannya.


Biru dan Jingga beranjak dari kursi mereka lalu berjalan keluar bersama Ibu Dewi. Mereka pergi ke sekolah. Biru dan Jingga bersekolah di TK Bintang Kejora. Ibu Dewi mengantar mereka sampai ke halaman TK.


"Nenek akan menjemput kalian pulang nanti ya" ucap Ibu Dewi.


"Iya Nek, makasih" ucap Biru dan Jingga.


Ibu Dewi meninggalkan TK itu setelah mengantar kedua cucu kembarnya. Biru bergabung dengan teman lelakinya bermain bola dan kejar-kejaran, sementara Jingga mau menghampiri teman-temannya yang sedang duduk sambil bermain masak-masakan dikolam pasir. Mereka sedang berbincang sambil bermain.


"Kemarin Papaku beliin aku boneka barbie" ucap Caca.


"Papaku ngajak aku jalan-jalan ke taman hiburan" ucap Ayu.


"Papaku beliin aku sepeda baru" ucap Disa.


"Aku diajak Papa keluar negeri liat panda" ucap Emilia.


Jingga hanya diam, dia tidak tahu harus cerita apa tentang Papanya. Dia sendiri saja belum pernah melihat Papanya. Apalagi bertemu. Hanya sebuah cerita dari Mamanya kalau Papanya orang yang sangat baik dan tampan seperti Biru.


Jingga minder, dia tidak jadi duduk bermain bersama teman-temannya. Dia duduk sendirian disudut halaman sambil menangis. Biru yang melihat Jingga duduk sendirian, menghampirinya dan duduk disamping Jingga.


"Jingga kau kenapa?" tanya Biru sambil melihat wajah saudara kembarnya yang berurai air mata.


"Aku kangen Papa, Biru" ucap Jingga menjelaskan kesedihannya.

__ADS_1


Biru langsung memeluk Jingga. Dia tahu adik kembarnya itu sedih. Biru dan Jingga sama-sama rindu pada Rafka. Mereka selalu berharap bertemu ayahnya dan bisa bermain bersamanya.


"Kita pasti bertemu Papa" ucap Biru menyemangati Jingga.


"Iya, Jingga pengen ketemu Papa" ucap Jingga optimis dengan harapannya.


"Biru juga kangen Papa, kita berdoa saja sama Allah biar bisa bertemu Papa" ucap Biru menyarankan.


"Ayo sholat dhuha Biru, berdoa sama Allah biar bertemu Papa" ucap Jingga memberi usul pada Biru.


"Iya" ucap Biru setuju dengan usulan Jingga.


Kedua anak kembar itu selalu berdoa agar bisa bertemu Papa mereka. Rasa rindunya pada Papanya sudah tersimpan sejak lama. Mereka yakin suatu hari nanti akan bertemu Papanya.


***********


Sepulang sekolah Biru dan Jingga memetik buah cherry dipekarangan rumah mereka dan dipinggir sawah. Mereka mengumpulkan semua buah cherry itu lalu dibungkus plastik jadi beberapa bungkus.


"Dapet 15 bungkus Biru" ucap Jingga selesai menghitung semua bungkus yang ada.


"Iya jadi banyak" ucap Biru.


"Kita jual berapa?" tanya Jingga.


Mereka berdua belum sepenuhnya paham uang. Tapi mereka juga tidak bodoh. Mereka mampu menghitung uang dalam jumlah cukup banyak.


"Lima ribu aja biar cepet abis" ucap Biru memberi usul.


"Ditepi jalan raya, pasti banyak orang yang lewat jadi banyak yang beli" ucap Biru.


"Biru pinter" ucap Jingga memuji kakak kembarnya.


Mereka berdua membawa buah cherry itu ke tepi jalan raya. Mereka mulai menawar-nawarkan buah cherry itu pada siapa saja yang melewati tepi jalan itu.


"Cherry....cherry....manis dan segar" ucap Biru.


"Cherry....cherry.....murah meriah, lima ribu aja" ucap Jingga.


Beberapa orang terharu mendatangi kedua anak kembar itu. Mereka senang melihat anak kecil bekerja keras, tidak minta-minta.


"Lucunya, masih kecil jualan"


"Imut ya, jadi pengen punya anak"


"Coba kalau mereka anakku"


Banyak orang yang membeli buah cherry. Mereka membeli karena kasihan pada kedua anak kecil itu. Selain itu sebagai bentuk sodaqoh, karena merupakan amal jariyah yang salah satu yang akan menemani kita dialam barzah.


Buah cherry masih tersisa dua bungkus. Biru dan Jingga kembali menawarkan buah cherry sisanya.


"Cherry....cherry.....enak dan seger" ucap Biru.


"Cherry....cherry.....manis dan enak" ucap Jingga mengikutinya.

__ADS_1


Biru dan Jingga tak ada lelahnya menawarkan barang dagangannya. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didekat mereka. Keluar seseorang laki-laki dengan setelan jas resmi. Lelaki itu tampan dan terlihat keren sampai Biru dan Jingga melongo melihatnya.


"Kalian jualan apa?" tanya Rafka melihat kedua anak itu.


"Jualan buah cherry Om" ucap Biru menjawab pertanyaan Rafka.


Rafka memperhatikan anak lelaki itu mirip sekali dengannya dari wajahnya. Dia jadi penasaran siapa kedua anak ini.


"Berapa harganya?" tanya Rafka.


"Lima ribu Om" ucap Jingga.


"Masih berapa biar Om beli semua" ucap Rafka.


Biru dan Jingga langsung sumringah mendengar ucapan Rafka. Mereka memberikan dua bungkus cherry pada lelaki yang disebut Om.


"Wah cherrynya besar-besar" ucap Rafka.


"Itu cherry terbaik, Om" ucap Biru.


"Apa kalian setiap hari jualan disini?" tanya Rafka.


"Tidak, baru hari ini kami jualan disini" ucap Biru.


Rafka kasihan melihat anak sekecil itu sudah bekerja, apalagi jualan ditepi jalan raya. Apapun bisa terjadi dan berbahaya untuk anak kecil.


"Om, boleh tidak, jingga memeluk Om?" tanya Jingga.


"Boleh, kemarilah" ucap Rafka.


Dari tadi Jingga memperhatikan Rafka dan ingin memeluknya.


"Oke" ucap Jingga.


Jingga memeluk Rafka sedangkan Biru hanya cemberut. Dia tidak ingin seperti adik kembarnya.


"Kau ingin dipeluk juga tidak?" tanya Rafka.


"Aku pria sejati, adikku saja yang dipeluk" ucap Biru.


Rafka terkejut dengan ucapan anak lelaki yang mirip dengannya. Dia belum berani berspekulasi kemana-mana. Terlalu dini dan tidak ada petunjuk.


"Dimana rumah kalian?" tanya Rafka.


"Didekat sini Om" ucap Jingga.


"Ayo Om antar pulang" ucap Rafka.


"Mama bilang tidak boleh diantar siapapun kecuali keluarga" ucap Jingga.


"Siapa nama Mama kalian?" tanya Rafka.


"

__ADS_1


__ADS_2