
"Aku hanya olahraga malam Azura". Rafka tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Azura.
Dia menahan keinginan yang muncul bukan karena kemauannya. Radhitya benar-benar mengerjai Rafka.
Azura beranjak dari ranjang menghampiri Rafka. Dia melihat Rafka hanya mengenakan handuk. Azura heran dengan Rafka yang hanya mengenakan handuk berolahraga di malam hari.
"Azura jangan mendekat". Rafka memperingati. Dia tak ingin lepas kendali jika Azura semakin mendekatinya.
"Mas mukamu berkeringat, biar ku seka dengan tisu ya". Azura menawarkan bantuan. Rafka malah ketakutan dan semakin mundur ke belakang hingga ke sudut kamar itu. Dia menutup kedua mata hingga ke wajahnya, membelakangi Azura.
"Mas kau kenapa?".Azura kembali bertanya.
"Azura tinggalkan aku, kembalilah tidur". Rafka menegaskan ucapannya. Dia tidak berani menjamin tidak akan menerkam Azura jika dia terus mendekatinya.
"Mas". Azura menyentuh pundak Rafka dengan tangan kanannya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada Rafka tapi Azura mengkhawatirkannya.
Azura meraih tubuh Rafka membalikkan badannya hingga menghadap padanya. Tapi Rafka masih menutup matanya dengan kedua tangannya. Azura melepas kedua tangan yang menutup mata hingga ke wajahnya itu. Ketika wajah Rafka terbuka, tubuh Azura ditarik ke pelukan Rafka.
"Mas". Azura terkejut suaminya memeluknya. Dia tahu Rafka tak mungkin menyentuhnya tanpa seizin Azura. Rafka mencium Azura begitu saja tanpa meminta izin padanya. Dia sudah tak mampu lagi bertahan. Azura berusaha melepas ciuman dan pelukan Rafka. Tapi Rafka terus mendominasi. Bahkan dia menjatuhkan Azura diranjang. Keinginannya lebih tinggi dari pikiran dan perasaannya yang diyakininya selama ini. Dia berusaha menahan tapi semakin tersiksa.
Rafka meluapkan semuanya pada Azura walaupun Azura berusaha melawan tapi apalah daya tenaganya tak mampu melawan Rafka.
"Mas sakit". Azura berteriak. Seketika Rafka berhenti melihat rintihan Azura yang menangis.
Dia beranjak dari ranjang. Rafka langsung duduk dibawah ranjang sambil memegang kepalanya.
"Apa yang sudah ku lakukan?". Rafka merasa bersalah meskipun dia belum sepenuhnya mengambil yang menjadi haknya itu. Azura menangis diranjang. Apa yang dilakukan Rafka padanya seperti pemaksaan meskipun itu memang haknya Rafka. Tapi dia sudah berjanji tidak akan menyentuhnya tanpa cinta diantara keduanya.
"Hik hik hik". Azura terus menangis. Rafka berdiri menghampiri Azura. Dia mengambil selimut dan menutupi tubuh istrinya itu.
"Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu, maafkan aku untuk yang tadi". Rafka menundukkan kepalanya meminta maaf pada Azura.
Azura terus menangis, Rafka menghampirinya lalu memeluknya dalam dekapannya. Dia tahu Azura masih terluka akan kematian suaminya, dia tak mungkin merenggut haknya dengan paksa. Tentunya dia harus mendapatkannya dengan cinta. Biar diantara keduanya menikmati saat kebersamaan itu.
"Aku minta maaf Azura, aku tidak tahu kenapa aku lepas kendali". Rafka berusaha meminta maaf kembali. Dia merasa sangat bersalah telah membuat Azura semakin bersedih. Padahal tujuannya menikahi Azura untuk membuatnya bahagia.
Rafka terus meminta maaf hingga Azura tertidur dipelukan Rafka, begitupun Rafka yang tertidur memeluk Azura. Hingga pagi menjelang suara adzan subuh berkumandang. Rafka dan Azura terbangun bersama. Mereka saling bertatapan.
__ADS_1
Azura membuang selimut yang menutupi tubuhnya.
"Mas lakukanlah, aku akan memenuhi kewajibanku sebagai istri". Azura tidak ingin melihat Rafka tersiksa seperti semalam. Dia tahu mungkin benar Rafka tidak mungkin memaksanya. Ada sesuatu yang membuatnya seperti itu. Rafka mendekati wajah Azura dan menciumnya.
"Azura untuk sekarang cukup ini saja". Aku tidak ingin menodai indahnya malam cinta itu hanya karena keinginan sesaat. Bila nanti kau dan aku sudah ada perasaan cinta, kita akan melakukannya hingga malam itu tak pernah terlupakan". Rafka mengelus kepala Azura.
Azura mengangguk, dia tahu suaminya itu lelaki yang baik. Dia selalu berusaha membahagiakannya.
"Ayo mandi lalu sholat subuh berjamaah" Rafka mengajak.
"Iya Mas". Azura setuju dengan ajakan Rafka. Rafka beranjak dari ranjang begitupun Azura tapi Azura kesakitan.
"Apa sakit?". Rafka bertanya.
"Sedikit".
Azura sedikit kesakitan saat berjalan. Rafka langsung membopongnya menuju ke toilet.
Mereka berdua mandi lalu sholat subuh berjamaah. Rafka mencium kening Azura selesai sholat subuh.
"Azura besok aku akan keluar kota, kau mau apa?". Rafka bertanya.
sudah menjadi pemberiaan yang berharga dalam hidupnya meskipun butuh waktu untuknya mencintai Rafka.
"Insya Allah, Azura kalau kau mau keluar minta ditemani Mami atau Luna. Aku akan pergi keluar kota cukup lama, kemungkinan satu minggu". Rafka memberitahu. Azura langsung terdiam. Entah kenapa berat melepas Rafka pergi besok.
"Kalau pekerjaanku sudah selesai aku akan segera kembali". Rafka berharap pekerjaannya akan selesai pada waktunya sehingga dia dapat pulang secepatnya.
"Aku akan menunggumu sampai kau kembali". Azura memeluk Rafka. Dia berharap Rafka akan segera kembali dan menemaninya lagi.
"Iya". Rafka membalas pelukan Azura.
Rafka keluar bersama Azura menuju ke ruang makan. Di ruang makan sudah berkumpul semua anggota keluarga termasuk Ibunya Gista. Mereka semua menunggu Rafka dan Azura sarapan bersama.
"Selamat pagi semuanya". Rafka menyapa semua yang ada diruang makan.
"Pagi". Semua membalas sapaan Rafka di pagi hari itu.
__ADS_1
Rafka membantu Azura duduk di kursi. Dia duduk diantara kedua istrinya. Rafka mengambil piring untuk kedua istrinya itu.
"Azura, Gista makanlah yang banyak. Pagi ini aku ingin mengajak kalian jalan santai di alun-alun". Rafka berbicara sambil menuangkan nasi, lauk pauk dan sayuran dipiring mereka berdua. Selama tinggal bersama, Rafka tahu kebiasaan dan apa saja yang disukai kedua istrinya itu.
"Kak aku gak sekalian diambilin". Radithya menggoda Rafka.
"Radit, kau punya hutang penjelasan padaku". Rafka mengingatkan Radithya tentang kejadian semalam. Dia tahu ini ulah adiknya itu.
"Syukurin, pasti Kak Radit bikin ulahkan. Udah Kak Rafka hajar aja biar dia KO". Timbal Luna.
"Anak kecil diam aja, ini urusan orang gede". Radithya kesal pada Luna.
"Hati-hati Kak Rafka jangan mau diajak sesat kaya Kak Radit". Luna mengingatkan Rafka. Dia tahu seperti apa kelakuan Radithya. Apalagi Rafka baru saja menikah, Radhitya pasti akan mengajari Rafka hal aneh yang tak mendasar.
"Huh, bau kencur otakmu masih burem jadi jangan sok tahu". Radithya mengejek Luna.
"Biarin bau kencur dari pada playboy buaya sepertimu". Luna semakin meledek Radithya.
"Udah-udah, ayo makan keburu siang". Freya memotong perdebatan Radhitya dan Luna, jija tidak mereka akan terus berdebat tak ada habisnya.
Setelah sarapan Rafka mengajak Azura dan Gista jalan santai bersama. Mereka jalan-jalan di alun-alun hingga ke jalan raya. Kebetulan hati itu Car Free Day jadi tak ada kendaraan melintas.
Rafka mendorong kursi roda Gista sedangkan Azura berjalan sejajar dengan Rafka. Mereka menaiki jembatan layang. Sampai di tengah jembatan mereka bertiga berada ditepi jembatan melihat indahnya kota.
"Kelak aku ingin punya rumah besar untuk kita dan anak-anak kita". Rafka berharap. Dia ingin memiliki rumah bersama Azura dan Gista dan memiliki anak-anak yang akan meramaikan rumah itu.
"Mas rumah itu harus ada tamannya biar setiap pagi aku bisa melihat bunga bermekaran". Gista mengusulkan pendapatnya.
"Kau Azura?". Rafka bertanya.
"Aku ingin ada playground didekat taman biar anak-anak kita bermain disana". Azura menambahkan pendapatnya.
"Baiklah rumah itu akan ada taman bunga dan playground". Rafka memutuskan dari kedua pendapat istrinya itu.
Ketika Rafka asyik melihat ke depan pemandangan kota, sekumpulan anak kecil melintas dengan kejar-kejaran hingga tak sengaja menyenggol kursi roda Gista hingga kursi roda itu berjalan menuruni jembatan layang yang tinggi itu.
"Aaaaa". Gista berteriak saat kursi rodanya berjalan menuruni jalan.
__ADS_1
"