
Rafka memantau proyek pembangunan perusahaan cabangnya. Dia berdiri melihat bangunan tinggi menjulang yang hampir selesai pembangunannya. Setelah selesai berbincang dengan arsitek pembangunan perusahaannya, Rafka membeli banyak makanan untuk makan bersama dengan mandor dan kuli bangunan yang ada diarea pembangunan itu. Dia ingin berbagi sebagian rejekinya dengan yang lain sekalian syukuran atas pernikahannya. Rafka duduk lesehan bersama mandor dan semua kuli bangunan pembangunan perusahaannya.
"Sebelum makan mari kita memanjatkan doa terlebih dahulu, bersyukur atas karunia dan nikmat yang Allah telah berikan pada kita semua, amin." Ucap Rafka.
Rafka dan semua orang yang duduk lesehan berdoa bersama sebelum makan. Kemudian mereka makan bersama. Rafka merasakan nikmat yang tak terkira ketika makan bersama, melihat orang-orang bisa menikmati sedikit rejeki yang dimilikinya. Dia percaya dengan berbagi tidak akan membuat kita miskin. Tapi Allah akan melipat gandakannya.
Selesai makan Rafka meninggalkan proyek pembangunan perusahaan cabangnya, dia menuju ke rumah orangtua Diana yang berada dikota itu. Rafka turun dari mobilnya, dia berjalan menuju ke rumah sederhana ditepi jalan kecil itu. Dari luar rumah itu penuh tanaman hijau. Orangtua Diana sangat suka bercocok tanam. Dulu Rafka sering datang ke rumah itu untuk sekedar bertemu Diana. Walaupun Diana sudah tiada tapi silaturrahmi tetap dijaga. Bahkan Rafka tetap memberi uang bulanan untuk orangtua Diana. Ayah Diana bernama Pak Yusen, beliau sudah pensiun bekerja dikantor sejak Diana menikah dengan Rafka. Sedangkan ibunya bernama Ibu Desi seorang ibu rumah tangga.
Rafka mengetuk pintu rumah itu.
Tuk....tuk....tuk........
"Assalamu'alaikum." Rafa mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsallam." Ibu Desi membalas dari Rafka.
Pintu rumah itu terbuka, Ibu Desi mempersilahkan Rafka masuk ke dalam rumah itu. Rafka duduk di sofa yang sudah tua. Dulu di sofa itu dia sering duduk bersama Diana.
"Nak Rafka, ibu panggil bapak dulu ya." Ucap Ibu Desi.
"Baik Bu." Ucap Rafka.
Ibu Desi meninggalkan Rafka diruang tamu. Rafka melihat foto lama Diana saat masih kecil terpajang di dinding ruang tamu. Ada juga foto Diana saat remaja berada di atas lemari kecil disudut sofa itu. Rafka mengambil foto itu dan melihatnya.
"Diana, aku rindu. Rasanya baru kemarin aku datang ke rumah ini untuk bertemu denganmu. Tapi kini kau sudah tenang disana." Ucap Rafka.
Tak lama Pak Yusen dan Ibu Desi masuk ke ruang tamu. Mereka duduk di sofa bersama Rafka.
"Sudah lama ya nak Rafka tidak datang kesini." Ucap Pak Yusen.
"Iya Pak, kebetulan saya sibuk bekerja, baru sekarang menyempatkan silaturrahmi kesini." Ucap Rafka.
Sudah satu tahun Rafka belum sempat berkunjung ke rumah orangtua Diana. Bukan tidak mau tapi kesibukan dan jarak membuat Rafka belum sempat datang.
"Semenjak Diana pergi, bapak dan Ibu kesepian. Biasanya Diana main kesini setiap minggu." Ucap Ibu Desi.
"Saya juga sangat kehilangan Diana Bu. Sampai sekarang kenangan Diana masih terus saya ingat." Ucap Rafka.
"Nak Rafka rapi sekali, apa baru pulang bekerja?." Tanya Pak Yusen.
"Iya Pak, tadi saya memantau pembangunan perusahaan cabang di dekat sini." Ucap Rafka.
Ketika mereka sedang mengobrol, Meisya membawa jus dan camilan ke ruang tamu. Rafka terkejut saat melihat Meisya ada dirumah orangtua Diana. Meisya meletakkan jus dan camilan di meja kemudian dia duduk di sofa sebelah Rafka.
"Nak Rafka ini Meisya adik Diana, kau masih ingat?." Tanya Ibu Desi.
__ADS_1
Rafka coba mengingat adik Diana. Dulu seingat Rafka Meisya cupu bahkan sangat berbeda penampilannya dari yang sekarang. Bahkan pipinya dipenuhi jerawat, rambutnya keriting dan warna kulitnya hitam. Tapi kini Meisya cantik dan seksi penampilannya juga modis.
"Iya saya ingat." Ucap Rafka.
"Oh...ini Kak Rafka suami Kak Diana. Aku sampai lupa wajahnya. Terakhir bertemu empat tahun lalu sebelum aku keluar negeri, gak nyangka dia orang kaya" Batin Meisya.
"Hai Kak Rafka, sepertinya kemarin kita baru saja bertemu." Ucap Meisya.
"Kamu ketemu Nak Rafka? dimana?." Tanya Ibu Desi.
"Di hotel Bu." Ucap Rafka.
"Iya Bu di hotel, tapi karena sudah lama tak bertemu jadi tidak saling mengenal." Ucap Meisya.
"Oh gitu." Ucap Ibu Desi.
"Nak Rafka dari pada tinggal di hotel, lebih baik tinggal disini saja, kamar Diana kosong. Lagi pula kami masih keluargamu meskipun Diana sudah tiada." Ucap Pak Yusen.
Rafka berpikir terlebih dahulu. Tidak enak menolak tawaran mertuanya. Sudah lama juga dia tak berkunjung. Mungkin menginap satu malam saja untuk menghormati tawaran mertuanya itu.
"Baiklah Pak, saya akan menginap satu hari disini." Ucap Rafka.
"Bagus, ini saatnya aku pedekate." Batin Meisya.
"Meisya antar Nak Rafka ke kamar Diana." Ucap Pak Yusen.
"Baik Pa." Ucap Meisya.
Meisya mengantar Rafka ke kamar Diana. Meisya terus melihat wajah tampan Rafka. Dia begitu mengagumi suami kakaknya itu.
"Kenapa tidak aku saja yang jadi istri Kak Rafka. Malah Kak Diana yang jadi istrinya, tapi aku akan berusaha mendapatkan Kak Rafka." Batin Meisya.
Meisya mengantar Rafka sampai depan pintu kamar Diana.
"Nah Kak Rafka masih ingatkan ini kamar Kak Diana." Ucap Meisya.
"Iya, makasih ya Meisya." Ucap Rafka.
"Oya untuk yang di hotel makasih ya." Ucap Meisya.
"Eee, Meisya aku harap kau tidak melakukan hal bodoh itu lagi." Ucap Rafka.
"Iya Kak Rafka." Ucap Meisya.
"Aku masuk kamar dulu." Ucap Rafka.
__ADS_1
"Oke." Ucap Meisya.
Rafka masuk ke kamar Diana. Dia melihat kamar itu tidak pernah berubah. Rasanya masuk ke dalam ingatan di masa lalu. Berada di dalam kamar itu seolah Diana masih hidup. Rafka melihat-lihat barang-barang dikamar Diana. Semua barang yang diberi Rafka untuk Diana saat kuliah masih ada.
"Ini boneka panda, bando, kotak musik, bantal tidur, dongeng cinderella dan barang lainnya masih ada. Rasanya Diana masih hidup." Ucap Rafka.
Tak lama suara handphone milik Rafka berdering.
Kriiiing...... kriiiing....... kriiiing.........
Rafka melihat panggilan yang masuk ke handphone pribadinya. Ternyata itu telpon dari Azura. Rafka langsung mengangkat telpon itu.
"Assalamu'alaikum." Ucap Azura.
"Wa'alaikumsallam." Ucap Rafka.
"Mas sudah sampai?." Tanya Azura.
"Alhamdulillah sudah sayang." Ucap Rafka.
Azura langsung terdiam saat Rafka memanggilnya sayang. Jantungnya tiba-tiba berdebar. Dia grogi, terpaku dan malu.
"Azura....Azura." Rafka memanggil Azura sampai dua kali.
"Eee, iya Mas." Ucap Azura.
"Kamu sudah makan sayang?." Tanya Rafka.
"Sudah, Mas sudah makan belum?." Tanya Azura.
"Sudah sayang, kangen." Ucap Rafka menggoda Azura.
Azura semakin malu saat Rafka menggodanya.
Pertama kalinya dia digoda suaminya sendiri. Azura semakin malu untuk berucap.
"Aku juga kangen Mas." Ucap Azura malu-malu mengungkapkan rasa rindunya pada Rafka.
Kata-kata itu keluar begitu saja. Azura juga tak menyangka dia akan bicara seperti itu pada Rafka. Sepertinya suaminya itu sudah mulai mengisi hatinya.
"Yasudah jangan lupa tidur yang cukup, makan teratur dan sholat tepat waktu ya sayang." Ucap Rafka.
"Iya Mas." Ucap Azura.
Selesai bicara, Rafka menutup telponnya. Dia merasa senang sekarang ada yang perhatian padanya secara pribadi. Kesepiannya yang dulu mulai menghangat semenjak dia memutuskan menikahi Azura dan Gista.
__ADS_1