
Rafka langsung berlari mengejar kursi roda yang dinaiki Gista. Dia berusaha berlari sekencang mungkin agar lebih cepat dari kursi roda itu. Rafka berlari meraih gagang kursi roda tapi belum sampai. Rafka berlari ke depan mendahului kursi roda lalu dia berdiri di tengah menunggu kursi roda itu menggelinding ke arahnya. Lalu saat kursi roda itu sampai didekatnya. Ternyata ban kursi roda itu mengenai sebuah botol plastik hingga membuat Gista hampir jatuh, untung ditangkap Rafka. Hingga Rafka memeluk Gista dalam dekapannya sementara kursi roda itu terjatuh ke samping tak beraturan.
"Mas". Gista begitu nyaman dipelukan hangat Rafka. Lelaki itu memang jadi tempat bersandar paling nyaman dan aman. Gista merasa beruntung diberi kesempatan kedua untuk bersama Rafka kembali.
"Iya, apa kau tidak apa-apa?". Rafka bertanya.
Gista menggeleng, dia masih nyaman dalam pelukan Rafka. Tak lama Azura menyusul mereka berdua. Dia mengambil kursi roda itu lalu menghampiri Rafka dan Gista. Rafka melepas pelukannya dan mendudukkan Gista di kursi roda itu.
"Ayo kita pulang".
Kedua istrinya mengangguk. Mereka bertiga akhirnya pulang bersama. Sampai di rumah, Rafka menggendong Gista masuk ke kamarnya. Dia membaringkan Gista diranjang. Baru Rafka mau beranjak dari ranjang, tangannya ditarik Gista.
"Mas temani aku tidur". Gista memohon. Melihat istrinya memohon, Rafka mengurungkan niatnya. Dia berbaring disamping Gista. Rafka memeluk Gista dalam dekapannya. Dia juga mengelus kepalanya.
"Mas aku ingin jadi milikmu". Gista mengatakan keinginannya. Melihat apa yang dilakukan Rafka tadi untuknya, dia merasa ingin benar-benar jadi istri Rafka. Lagi pula Rafka sudah banyak berkorban untuknya.
"Gista aku masih mencintai istriku Diana. Jika aku menyentuhmu sekarang hanya karena kewajibanku menafkahi batinmu, apa itu tidak masalah untukmu?". Rafka bertanya. Dia tidak ingin menyentuh Gista hanya karena kasihan ataupun sekedar mengugurkan kewajibannya.
Tapi dia ingin menyentuhnya karena rasa cinta diantara keduanya.
Gista memeluk erat Rafka, dia begitu ingin jadi milik Rafka meski belum ada cinta. Dia ingin ada awal ikatan yang akan mengikat keduanya meski belum ada cinta.
"Aku tidak masalah soal itu, aku ingin jadi istrimu yang seutuhnya". Gista terang-terangan mengungkapkan keinginannya.
Rafka tidak mungkin menolak keinginan istrinya itu. Tapi hatinya ragu untuk mekakukannya. Apakah dia harus menyentuh istrinya tanpa cinta tapi istrinya menginginkannya. Dia akhirnya memenuhi keinginan Gista.
Rafka mencium bibir Gista. Pagi hari itu begitu indah. Rafka melakukan tugasnya sebagai suami.
Meski tanpa cinta tapi dia harus memenuhi keinginan istrinya. Gista begitu hanyut dalam setiap kebersamaan itu. Rafka melakukannya dengan totalitas meskipun dihatinya belum ada cinta. Gista terus memegang leher Rafka seakan memberi tanda dia masih ingin terus melakukannya hingga mereka lelah. Rafka berusaha memberikan memberikan yang terbaik untuk istrinya. Tak peduli ada cinta atau tidak. Jika istrinya menginginkan, dia wajib memenuhinya.
Matahari berada tepat ditengah langit. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Tapi Rafka dan Gista belum menyudahi kegiatan itu. Ketika Gista merasa cukup, Rafka menyudahinya dan berbaring disamping Gista. Dia memeluk Gista dalam dekapannya.
"Mas, terimakasih". Gista mengucapkan rasa terimakasihnya. Kini dia benar-benar jadi milik Rafka seutuhnya. Gista akan belajar mencintai suaminya itu.
"Gista, besok aku akan pergi keluar kota selama satu minggu". Rafka memberitahu Gista tentang rencananya pergi keluar kota. Biar bagaimanapun kedua istrinya harus tahu.
Sebenarnya berat meninggalkan kedua istrinya dalam kondisi yang belum baik. Azura dan Gista masih sama-sama membutuhkannya saat ini. Tapi bisnis tetap harus diurus demi kelangsungan perusahaannya.
__ADS_1
"Iya Mas, semoga Allah senantiasa melindungi dan menjagamu".
"Kalau kau ingin keluar biar Mami atau Luna yang menemanimu. Kalau ada apa-apa telpon aku". Rafka tahu kepergiaannya kali ini cukup lama. Itu sebabnya dia tetap harus menjaga kedua istrinya meskipun dari jauh.
"Baik Mas". Gista menerima kepergian Rafka untuk kepentingan bisnis. Apalagi dia sudah bertahun-tahun lamanya jadi sekretarisnya tentu tahu seperti apa pekerjaan Rafka.
"Ayo mandi lalu sholat". Rafka mengajak.
"Iya Mas". Gista setuju dengan ajakan Rafka. Dia langsung dibopong Rafka beranjak dari ranjang masuk ke toilet. Mereka berdua mandi lalu sholat dhuhur berjamaah. Rafka mencium kening Gista usai sholat.
"Jadilah imamku hingga ke surga nanti Mas". Gista mengutarakan keinginannya. Dia berharap Rafka akan jadi imamnya hingga mereka ke surga nantinya.
Rafka mengangguk, dia membopong Gista kembali ke ranjang.
"Kau haus?". Rafka bertanya.
"Iya Mas". Gista menjawab. Rafka mengambilkan Gista air dari dispenser dikamar itu. Dia memberikan segelas air minum untuk Gista. Istrinya itu kehausan sampai air digelasnya habis.
"Tidurlah, kau pasti lelah" Rafka menaruh gelas dimeja. Gista mengangguk.
Rafka berbaring di samping istrinya kemudian Gista tidur dipelukan Rafka. Lelaki itu sudah memberinya kehangatan sebuah keluarga baru. Dia sedikit menyesal kenapa tidak dari dulu bersama Rafka, tentu hidupnya akan bahagia.
Sore itu Radhitya pulang dari syuting. Dia mengendarai mobilnya sendirian. Mobil yang dibawanya Radhitya atapnya dibuka jadi pemandangan terlihat jelas. Dia ingin merasakan hembusan angin sore. Tak sengaja sekumpulan kambing dan bebek menutup jalanan didepannya. Dia memberi klakson tapi kambing dan bebek itu tidak juga mau beranjak pergi. Bebek-bebek itu naik ke atas mobil Radhitya. Mereka buang pup di mobil Radhitya.
Pluuuuk.....pluuuuuk.....pluuuuk........
"Wei, ini bukan toilet umum". Radhitya kesal bebek-bebek itu buang pup dimobilnya.
Weeek....weeeek......weeeek.....weeeek.......
"Aduh malah paduan suara massal". Radhitya semakin dibuat kesal dengan bebek-bebek itu bernyanyi diatas mobilnya.
Kambing-kambing itu menghampiri mobil Radhitya dan kencing ditepi body mobilnya.
"Bagus, mobilku benar-benar jadi WC umum". Radhitya benar-benar tak habis pikir kedua hewan ini sungguh menguras emosinya di sore hari.
Tak lama cewek-cewek montok datang dari ujung jalan menghampiri Radhitya. Mereka berdiri tepat disamping mobil Radhitya.
__ADS_1
"Mas maaf bebek dan kambing kami mengganggu ya". Salah satu cewek montok itu minta maaf.
Fokus pandangan Radhitya bukan ke ucapan cewek itu. Tapi body dari atas sampai bawah bikin Radhitya gagal fokus.
"Mas apa mau ganti rugi, satu bebek satu ciuman gimana?". Cewek montok itu bertanya.
"Tunggu ini mimpi atau gue gila". Batin Radhitya.
Dia melihat ke arah bebek-bebek itu. Jumlahnya ada puluhan ekor. Radhitya sudah membayangkan berapa banyak ciuman yang didapatkannya. Dunia bagaikan surga itu dipikiran Radhitya.
"Boleh, memang benar ini bebek sudah merugikan batin saya. Untung mereka tidak saya jadikan bebek panggang atau goreng". Radhitya pura-pura beralasan biar untung berat.
Weeek.....weeeeek......weeeek......weeeek........
Bebek-bebek itu malah asyik berbaring. Sebagian bertelor dijok mobilnya.
"Baiklah, saya akan ganti rugi. Silahkan Mas tutup mata dulu". Cewek montok itu memberi syarat pada Radhitya.
"Oke gampang". Radhitya menutup matanya. Dia tersenyum lebar-lebar mau dapat ciuman ganti rugi.
Cup
Cup
Cup
"Cu udah kenyang ciumannya, atau masih kurang? mumpung nenek masih sanggup nih". Suara nenek-nenek terdengar nyaring ditelinga Radhitya. Dia penasaran lalu membuka matanya. Bukannya cewek montok yang menciumnya tapi nenek-nenek ompong yang menciumnya.
"Lah, kok jadi peot gini, gak bisa tuker tambah apa". Radhitya syok bukan untung malah semakin rugi. Mana tuh nenek ngeces mulu gak bisa nutup mulutnya lagi.
"Cu masih mau, nenek siap nih". Nenek itu menawarkan diri.
"Ampun nek kembalilah ke alammu dengan tenang". Radhitya ketakutan dicium nenek itu. Biarin deh bebek-bebek buang pup asalkan jangan dicium nenek ompong itu.
"Cu nenek ketagihan nih, muah muah". Nenek itu malah genit dan hendak menyosor kembali kaya bebek. Radhitya langsung pingsan di tempat tak sanggup jadi korban nenek ompong labil.
Angin sepoi-sepoi, sejuk dan teduh. Nyaman untuk tidur dan bersantai. Radhitya merasa berada ditempat nyaman. Suara terdengar memanggilnya.
__ADS_1
"Playboy playboy playboy bangun". Suara seorang wanita memanggilnya sambil menepuk pipinya.