
"Tidak, tidak mungkin" ucap Azura tak percaya.
Wanita tua itu sudah lama memperlakukan Azura tidak baik. Tak mudah bagi Azura percaya padanya.
"Nak aku benar-benar ibumu" ucap Ibu Dewi.
Ucapan Ibu Dewi tampak serius tapi Azura sudah terlanjur terluka hatinya hingga membuatnya berpikir ini bohongan.
"Kalau Anda memang ibuku kenapa Anda memperlakukan saya seperti ini?" tanya Azura.
"Itu karena ibu tak tahu kalau kau putriku nak" ucap Ibu Dewi.
"Jadi kalau seandainya aku bukan anakmu, mungkin kau akan tetap menyiksaku seperti ini bukan?" ucap Alina.
Tak mudah bagi Azura percaya langsung dengan ucapannya. Apalagi suaminya juga melarangnya terhasut ucapan ibu Dewi.
"Maafkan aku hik hik hik" ucap Ibu Dewi.
Azura melepas pelukan ibu Dewi. Dia tidak ingin wanita tua itu berhasil membuatnya simpati.
"Aku sudah memaafkan perbuatanmu kanjeng ibu, tapi untuk menganggapmu sebagai ibuku aku tidak bisa" ucap Azura.
"Azura ini semua memang salah ibu wajar kalau kau benci padaku dan tak mempercayaiku" ucap Ibu Dewi.
"Aku tidak benci padamu kanjeng ibu tapi biarkan aku keluar dari tempat ini" ucap Azura.
"Maafkan aku nak hik hik hik.....maafkan aku hik hik hik" ucap Ibu Dewi kembali meminta maaf.
Semua yang dilakukannya percuma. Azura sudah memaafkannya tapi untuk percaya padanya butuh waktu dan bukti.
"Kanjeng ibu aku tadi sudah bilang, aku sudah memaafkanmu" ucap Azura.
"Terimakasih nak" ucap Ibu Dewi.
"Tapi maaf aku belum bisa menganggapmu ibuku" ucap Azura.
Ibu Dewi tahu tak mudah membuat Azura percaya padanya. Selama ini hanya hal buruk dan salah yang terlihat oleh Azura. Tiba-tiba Rafka masuk ke kamar Azura, dia khawatir Azura disakiti Ibu Dewi lagi.
"Nyonya maaf, sudah waktunya Azura makan" ucap Rafka.
"Baik, aku akan keluar" ucap Ibu Dewi.
Ibu Dewi keluar dari kamar Azura. Rafka langsung menghampiri Azura. Dia memeriksa seluruh tubuh istrinya.
"Kau tidak apa-apa? apa ibu Dewi menyakitimu sayang?" tanya Rafka.
Azura langsung menyentuh pipi Rafka dengan satu tangannya yang tidak diborgol.
"Aku tidak apa-apa Mas" ucap Azura.
"Syukurlah" ucap Rafka.
Rafka duduk didepan Azura, dia mencium perut Azura.
__ADS_1
"Dede sayang Papa akan selalu menjagamu, jangan takut ya" ucap Rafka.
"Iya Papa" ucap Azura.
Rafka beranjak dari perut Azura, tangannya beralih dari perut ke wajah Azura. Dia meraba pipi istrinya lalu menciumnya.
"Mas aku masih diborgol" ucap Azura melepas ciuman itu.
Rafka melepas borgol Azura. Dia mengunci pintu kamar itu lalu mereka meneruskan melakukan hal romantis disiang hari itu. Mereka menikmati kebersamaan yang singkat itu. Walaupun tak leluasa seperti dirumah tapi Rafka masih bisa membuat Azura nyaman dalam indahnya cinta itu. Hingga mereka beristirahat bersama.
"Sayang, kau makin berisi" ucap Rafka.
"Mungkin nanti aku gemuk Mas" ucap Azura.
"Bukannya itu biasa terjadi pada Ibu hamil?" tanya Rafka.
"Iya, kalau aku gemuk gimana?" tanya Azura.
"Yang penting kau dan dede bayi sehat sayang, lagian tubuhmu kurus sebelumnya kalau berisi enak dilihat" ucap Rafka.
"Mas kau genit" ucap Azura.
"Tapi kau sukakan aku genitin?" tanya Rafka.
"Iya Mas" ucap Azura.
Rafka memeluk istri tercintanya dengan erat. Dia begitu mencinta Azura. Dia tak ingin ada orang lain yang menyakitinya lagi.
"Mas perusahaanmu gimana?" tanya Azura.
"Alhamdulillah kalau ada Papi" ucap Azura.
"Sayang secepatnya kita akan keluar dari tempat ini" ucap Rafka.
"Iya Mas" ucap Azura.
Tak lama suara handphone Rafka berdering.
"Sayang aku angkat telpon dulu ya" ucap Rafka.
"Iya Mas" ucap Azura.
Rafka beranjak dari ranjang, dia mengambil handphonenya lalu berjalan menuju balkon kamar itu. Rafka berdiri ditepi balkon dan mengangkat telpon dari Bendi agen rahasia yang disewanya.
"Siang Bos" ucap Bendi.
"Siang Bendi" ucap Rafka.
"Saya sudah menyelidiki kasus kematian Devan. Menurut data dari rumah sakit terkait, Devan dinyatakan meninggal pada tanggal xxxxxxxx.
Jadi dipastikan dia benar-benar meninggal Bos" ucap Bendi.
"Berarti benar dugaanku Devan memang sudah meninggal" ucap Rafka.
__ADS_1
"Iya Bos, data kematian Devan ini pasti. Dan Devan sudah dikebumikan di Pemakaman Kamboja Merah" ucap Bendi.
"Kerja bagus Bendi" ucap Rafka.
"Apa ada tugas lagi Bos untukku?" tanya Bendi.
"Ada, tolong cari tahu siapa lelaki yang mirip Devan, aku ingin informasi ini secepatnya" ucap Rafka.
"Baik Bos" ucap Bendi.
Rafka menutup telponnya. Dia sudah menduga lelaki yang itu bukan Devan. Kalau memang Devan seharusnya Azura nyaman berada disisinya. Rafka kembali masuk kamar. Dia berbaring diranjang menemani Azura.
Ditempat lain Ibu Dewi sedang berbincang dengan lelaki yang mirip Devan. Ibu Dewi duduk disofa kamarnya sementara lelaki itu berdiri didepan jendela kaca.
"Kenapa kanjeng ibu tiba-tiba mengurungkan niat untuk memisahkan Rafka dan Azura?" tanya Danu.
"Itu karena Azura adikmu Danu" ucap Ibu Dewi.
"Adik? anak ayah hanya aku, Devan dan Nico. Lalu Azura anak siapa kanjeng ibu?" tanya Danu.
Ibu Dewi bingung harus menjawab apa. Tapi aib ini tidak bisa terus menerus disembunyikan.
Dia tetap harus memberitahu semua anaknya.
"Azura anak..." ucap Ibu Dewi ragu.
"Anak selingkuhanmu" ucap Danu menegaskan.
Ibu Dewi menunduk. Dia merasa bersalah pada suami dan anaknya. Dia merasa malu pada anaknya, selama ini dia selingkuh.
"Tak ku sangka ayah yang baik hati kau selingkuhi" ucap Danu.
"Dia memang baik hati, tapi ibu kesepian. Dia tak pernah peduli padaku, dia selalu acuh dan mengangapku pajangan dirumahnya" ucap Ibu Dewi menjelaskan.
"Bukan berarti itu alasan untukmu selingkuh" ucap Danu.
"Maafkan Ibu nak hik hik hik" ucap Ibu Dewi.
"Maaf? mudah sekali orang yang selingkuh minta maaf, kalau begitu semua orang dengan mudah selingkuh toh nanti mendapatkan pemaaafan" ucap Danu.
"Danu, ibu benar-benar menyesal atas semua perbuatan ibu dulu hik hik hik" ucap Ibu Dewi.
"Atau kau sengaja agar aku tidak menikahi Azura" ucap Danu.
"Bukannya kemarin kau tidak tertarik padanya?" tanya Ibu Dewi.
"Itu kemarin sebelum aku mengenalnya. Tapi sekarang aku terkesan dengannya. Dia wanita yang baik, lembut dan hangat. Aku suka wanita yang seperti itu" ucap Danu.
"Tidak nak, dia adikmu" ucap Ibu Dewi.
"Adik? bisa-bisanya kau mengarang. Aku tidak seperti Devan yang mau kau bodohi" ucap Danu.
Danu tak percaya dengan ucapan ibunya. Dia berpikir ini hanya trik agar dia tidak mencintai Azura. Tapi Danu tidak peduli dengan ucapan Azura dia akan tetap mencintainya dan berusaha memilikinya.
__ADS_1
"Tidak, kau tidak boleh mencintainya, dia benar-benar adikmu" ucap Ibu Dewi.
"Ha...ha...ha...aku tidak peduli" ucap Danu lantang.