Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Gagal


__ADS_3

Malam itu Rafka duduk di teras samping rumah dekat kamar Diana. Dia melihat indahnya bulan dan bintang. Rafka memikirkan kedua istrinya yang jauh darinya. Dia merasa mulai terbiasa bersama kedua istrinya. Meisya keluar dari rumah menghampiri Rafka.


"Kak Rafka mau kopi?." Tanya Meisya.


"Gak usah Meisya, aku kurang suka kopi." Ucap Rafka menolak tawaran Meisya.


"Kalau teh mau gak?." Tanya Meisya.


"Aku jarang minum teh di malam hari." Ucap Rafka.


"Kalau susu jahe mau gak?." Tanya Meisya. Dia tak patah semangat untuk membuat Rafka mau meminum sesuatu.


"Air putih saja." Ucap Rafka.


"Akhirnya dia mau juga." Batin Meisya. Dia senang Rafka akan masuk ke dalam perangkapnya.


Meisya pergi ke dapur untuk mengambilkan air minum. Dia mengambil gelas lalu mengisi air di dispenser. Meisya mengambil obat mujarab yang di simpannya di lemari dapur.


"Untung obatnya masih, Kak Rafka malam ini kau akan jadi milikku." Ucap Meisya.


Meisya menuangkan obat mujarab ke dalam air minum didalam gelas itu.


"Aduh pengen pup." Ucap Meisya. Dia pergi ke toilet dekat dapur.


Pak Yusen pergi ke dapur untuk mengambil minum. Dia melihat ada gelas yang sudah terisi air putih di atas meja. Air itu diambil olehnya lalu berjalan meninggalkan dapur. Tak lama Ibu Desi ke dapur untuk mengambil air minum, dia menuangkan air putih ke gelas baru mau diminum, Pak Yusen memanggilnya.


"Bu...Bu...Bu..."


"Iya Pak." Ucap Ibu Desi.


Ibu Desi meletakkan gelas itu di meja kemudian dia meninggalkan dapur menghampiri suaminya.


Meisya keluar dari toilet mengambil gelas berisi air putih itu di atas meja. Dia membawa air minum itu ke tempat Rafka berada di teras samping rumah.


"Nih Kak Rafka." Ucap Meisya menyodorkan air di gelas itu pada Rafka.


"Terimakasih." Ucap Rafka menerima air di gelas itu.


Rafka langsung meminum air di gelas itu sampai habis.


"Alhamdulillah." Ucap Rafka seusai minum air itu.


"Tinggal menunggu beberapa menit lagi obat itu akan bereaksi." Batin Meisya.


Meisya begitu senang Rafka masuk ke dalam perangkapnya. Dia yakin akan memiliki lelaki tampan dan kaya itu sebentar lagi.


"Hawanya panas ya, padahal banyak tanaman." Ucap Rafka.


"Obat itu sudah bereaksi." Batin Meisya.


"Iya Kak Rafka." Ucap Meisya.


Rafka mulai membuka kancing kemejanya. Meisya sudah tak sabar ingin melihat dada bidang milik Rafka.

__ADS_1


"Loh kok masih ada baju lagi, gambar cewek cantik lagi" Batin Meisya.


Kaos putih yang di pakai Rafka bergambar wajah Azura. Rafka kembali mau melepas kaos putihnya.


"Asyik, pasti habis ini dada seksi itu terlihat." Batin Meisya.


"Lah kok masih pakai kaos lagi, gambar cewek cantik lagi." Batin Meisya.


Kaos putih yang kedua bergambar wajah Gisya. Rafka kembali mau melepas kaos putihnya.


"Pasti ini yang terakhir." Batin Meisya sudah lelah berasa di PHP-in.


"Lah kok masih pakai kaos lagi, berapa lapis sih?"


Batin Meisya.


Kaos putih yang ketiga bergambar wajah Diana.


Rafka kembali mau melepas kaos putih itu.


"Tunggu, Kak Rafka kok pakai bajunya banyak ya?." Tanya Meisya.


Meisya bingung melihat Rafka memakai beberapa lapis baju.


"Iya, soalnya tadi aku lagi masuk angin." Ucap Rafka.


Rafka kembali melepas kaos putih itu. Meisya kaget gambar di kaos itu ada tiga wajah wanita cantik, salah satunya wajah Diana kakaknya.


"Kak itu yang samping kanan dan kiri Kak Diana siapa ya?." Tanya Meisya.


Bluuuuuug.............


Meisya langsung pingsan. Pupus sudah harapannya. Tak disangka Rafka sudah punya dua istri sekaligus. Dua rasa lebih enak dari satu rasa itu yang ada dipikiran Meisya.


Mata Meisya mulai terbuka. Dia melihat ke sekelilingnya. Dia sedang dikelilingi orang yang berkerumun membacakan ayat suci alqur'an.


"Astagfirullah mayatnya idup lagi." Ucap seorang warga.


"Apa dia mati suri ya." Ucap seorang warga lainnya.


"Mayat? mati suri?." Ucap Meisya kebingungan.


Saat dia bangun, warga pada kabur. Mereka mengira Meisya menjadi hantu dadakan. Meisya melihat ayah, ibu dan Rafka memakai baju hitam.


"Bu aku kenapa ya?." Tanya Meisya.


"Kamu sudah mati nak." Ucap Ibu Desi.


"Mati?"


Meisya terkejut. Dia melihat ke tubuhnya, kain kapan melilit seluruh bagian tubuhnya.


"Tidaaaaak."

__ADS_1


Meisya malah ketakutan dengan dirinya sendiri yang sudah jadi pocong. Padahal seingatnya dia sedang duduk diteras bersama Rafka. Dia pingsan lagi.


Meisya kembali membuka matanya. Dia melihat dirinya sudah berada di rumah sakit jiwa. Meisya bingung kenapa dirinya berada di rumah sakit jiwa. Dia bertanya pada perawat rumah sakit jiwa itu.


"Kamukan menggila sampai kucing aja mau dikawinin, habis minum air yang berisi obat mujarab kadaluarsa." Ucap perawat rumah sakit jiwa itu.


"Tidaaaaak."


Meisya berteriak seolah mimpi buruknya datang lagi dan lagi sampai dia pingsan lagi. Dia membuka matanya kembali, dia melihat ke sekeliling. Dia berada di kuburan bersama para hantu.


"Hai member baru, kau hantu jenis apa?." Tanya pocong.


"Daftarkan KTP mu dulu ke gendruwo sana." Ucap Kuntilanak.


"Kamu hantu dhuafa ya, ngantri sembako sana di jembatan ancol." Ucap Tuyul.


"Tidaaaak." Meisya berteriak. Dia merasa mimpi buruk terus menerus dan tak bisa bangun.


"Aku mau pulaaaaang." Teriak Meisya sekencangnya.


Plaaak.....plaaak.....plaaaak.......


Pak Yusen menampar Meisya berkali-kali. Sudah tiga jam Meisya pingsan.


"Aw...." Meisya kesakitan saat di tampar Pak Yusen.


"Pa kenapa aku di tampar sih?." Tanya Meisya.


"Kamu pingsan sampai teriak-teriak mulu kaya kena sawan, ya bapak tampar aja biar bangun." Ucap Pak Yusen.


"Udah, minum dulu nak." Ucap Ibu Desi.


Ibu Desi memberi Meisya minum. Setelah minum tubuhnya kepanasan dan aneh.


"Bu, air minum ini di kasih apaan? kok aku jadi kepanasan." Ucap Meisya.


"Itu air di gelas yang bapakmu ambil dari dapur." Ucap Ibu Desi.


"Jangan-jangan ini air itu." Batin Meisya.


Meisya aduk- adukkan sampai gulung-gulung. Dia kepanasan bahkan sampai goyang dan menari biar rasa panasnya menghilang tapi tak kunjung reda. Akhirnya dia berendam dibak yang berisi air es. Sungguh malam itu Meisya malah menderita.


************


Pagi itu Rafka berangkat ke pembangunan perusahaan cabangnya. Dia mengendarai mobilnya menuju perusahaan cabangnya itu. Dia turun dari mobil lalu melihat perusahaannya yang sudah mulai rapi. Rafka berdiri persis di depan perusahaannya.


Sebentar lagi perusahaan cabangnya akan beroperasi. Dia sudah mempersiapkan semuanya baik karyawan dan sistem pekerjaan yang akan di terapkan.


"Alhamdulillah, sudah hampir finishing." Ucap Rafka.


Rafka melihat ke langit biru yang seakan merestui langkahnya. Dia bersyukur memanjatkan doa pada Allah SWT yang telah memberinya segalanya. Kini kebahagiaannya terasa lengkap dengan adanya istri yang senantiasa menunggunya pulang ke rumah.


Tak lama saat Rafka mendongak ke langit terdengar sebuah suara memanggilnya dari belakang.

__ADS_1


"Mas"


__ADS_2