Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Pekerjaanku


__ADS_3

Manda pergi bersama Reymond ke rumah Naisa. Rumahnya memang terlihat sepi. Bahkan terkesan kotor dan tidak terurus dari luar. Rumput yang subur, sampah yang berserakan memenuhi depan rumah itu. Manda dan Reymond berdiri diteras rumah Naisa. Manda mengetuk pintu rumah itu.


Tuk........tuk..........tuk...........


"Assalamu'alaikum"ucap Manda dan Reymond.


Karena tidak ada jawaban mereka kembali mengucapkan sallam.


"Assalamu'alaikum"ucap Manda dan Reymond.


Masih saja belum ada jawaban dari si empunya rumah.


"Assalamu'alaikum"ucap Manda dan Remon.


"Tuhkan Kak aku bilang apa, gak ada jawaban dari dalam"ucap Reymond.


Manda coba menanyakan keberadaan Naisa pada tetangganya.


"Assalamu'alaikum Bu"ucap Manda.


"Wa'alaikumsallam"ucap Bu Ani.


"Saya temannya Naisa, tadi udah coba kerumahnya tadi sepi, kira-kira Naisa kemana ya Bu?"tanya Manda.


"Gak tahu, kata ayah tirinya Naisa ke rumah neneknya"ucap Bu Ani.


"Ayah tiri?"tanya Manda.


"Naisa itukan tinggal dengan ayah tirinya, ibunya satu tahun lalu meninggal"ucap Bu Ani.


"Begitu ya, apa dia sering main keluar rumah kalau siang atau sore hari sama teman-temannya disini?" tanya Manda.


"Dulu sih iya, tapi semenjak ibunya meninggal dirumah terus, bahkan jarang banget ngelihat Naisa"ucap Bu Ani.


"Kalau boleh tahu siapa nama ayah tiri Naisa?"tanya Manda.


"Pak Eko"ucap Bu Ani.


Manda mengorek informasi tentang Pak Eko agar dia menemukan titik terang dari masalah Reymond.


"Ayah tirinya kerja apa ya Bu?"tanya Manda.


"Kerja? nganggur kok, malah judi mulu dipengkolan" ucap Bu Ani.


"Oh.....kira-kira bapak Naisa ada dimana ya jam segini?"tanya Manda.


Manda semakin penasaran tentang Naisa dan keberadaannya.


"Paling juga judi tuh dipengkolan"ucap Bu Ani.


"Terimakasih atas informasinya ya Bu"ucap Naisa.


"Ya, sama-sama"ucap Bu Ani.


Manda langsung termenung dia memikirkan kematian ibu Naisa, ayah tirinya, dan Naisya yang sikapnya berubah. Manda kembali menghampiri Reymond.


"Reymond, kau tunggu disini sambil coba ketuk lagi. Mungkin Naisa tidur"ucap Manda.


"Iya Kak"ucap Reymond.


Manda meninggalkan Reymond diteras rumah Naisa. Dia pergi menuju ke pengkolan yang disebutkan oleh Bu Ani. Sampai di pengkolan dia melihat sebuah gajebo. Pak Eko sedang berjudi dengan kedua temannya di gajebo itu. Manda menghampirinya.


"Assalamu'alaikum"ucap Manda.


Orang-orang itu tidak menjawab salam dari Manda.


Mereka malah asyik menggoda Manda.


"Neng cantik nyari Abang ya"ucap Pak Joni.


"Sini neng mojok sama kita-kita"ucap Pak Ehsan.


"Semalem berapa neng?"tanya Pak Eko.


"Saya kesini mencari Pak Eko, yang mana ya?"tanya Manda.


"Aku Pak Eko neng manis"ucap Pak Eko sambil menghampiri Manda.


Pak Eko hendak memegang pipi Manda dengan tangan kanannya tapi langsung dipelintir tangannya.


"Aw..........aw.........sakit"ucap Pak Eko.


"Aku tidak suka lelaki jelalatan seperti Anda"ucap Manda.


Manda masih memelintir tangan Pak Eko.


"Aw........aw......sakit"ucap Pak Eko.


"Dimana Naisa?"tanya Manda.


"Untuk apa kau menanyakan Naisa?"tanya Pak Eko.


"Jawab pertanyaanku kalau tidak tanganmu ini putus"ucap Manda.


Pak Eko berusaha melawan dengan tangan kirinya tapi kedua tangannya dipelintir.


"Kau jawab atau dua-duanya putus"ucap Manda.


"Aw..........aw..........sakit"ucap Pak Eko.


Teman-teman Pak Eko turun dari gajebo dan membantunya. Mereka melawan Manda tapi Manda justru malah menghajar mereka semua sampai babak belur.


Bluuuug..................


Mereka bertiga jatuh ditanah sambil memegangi mukanya yang babak belur. Manda mendekati Pak Eko dan kembali bertanya padanya.


"Pak Eko dimana Naisa?"tanya Manda.


"Dia ku jual dirumah bordil"ucap Pak Eko.


Mendengar kata-kata itu Manda semakin marah. Harga diri seorang wanita diinjak-injak. Apalagi yang melakukan itu adalah ayah tirinya yang seharusnya melindunginya. Manda langsung mengikat kedua tangan Pak Eko. Dia hendak membawa Pak Eko ke polisi. Manda menemui Reymond didepan rumah Naisa dengan membawa Pak Eko.


"Kak Manda siapa?"tanya Reymond.


"Ayahnya Naisa"ucap Manda.


"Dia ayahnya Naisa? dimana Naisa Om?"tanya Reymond.


Pak Eko hanya menundukkan kepalanya saat Reymond bertanya kepadanya.


"Reymond kita bawa Pak Eko ke kantor polisi"ucap Manda.


"Tapi kenapa Kak?"tanya Reymond.

__ADS_1


"Nanti dikantor polisi semuanya akan terjawab"ucap Manda.


"Baiklah Kak"ucap Reymond.


Manda dan Reymond menyerahkan Pak Eko ke kantor polisi. Kasus Naisa ditangani polisi. Pak Eko akhirnya ditahan. Manda dan Naisa keluar dari kantor polisi.


"Aku tidak menyangka Naisa dijual ayah tirinya, kasihan dia"ucap Reymond.


"Reymond seperti inilah kehidupan tidak semuanya indah, ada suka ada duka, ada hitam ada putih semuanya seimbang. Soal Naisa polisi akan ke rumah bordil itu untuk menjemput Naisa"ucap Manda.


"Tapi masa depannya sudah hancur Kak, padahal dia siswa berprestasi disekolah"ucap Reymond.


Manda menepuk bahu Reymond.


"Sebagai sahabat kau harus tetap menyemangatinya, tidak ada yang terlambat. Naisa bisa sekolah lagi. Soal apa yang terjadi padanya itu sudah takdir. Sekarang bagaimana memperbaikinya dan menyambut kehidupan baru yang lebih baik" ucap Manda.


"Aku akan menyemangati Naisa dan tetap jadi sahabatnya baik disaat dia suka atau duka"ucap Reymond.


"Nah seperti itu baru namanya sahabat"ucap Manda.


"Makasih ya Kak"ucap Reymond.


"Iya sama-sama"ucap Manda.


Manda akhirnya bisa pulang setelah kasusnya diselesaikan. Dia mengecek aplikasi MMTM dihandphonenya.


"Wah......aku dapat bintang sepuluh hari ini, terimakasih Reymond"ucap Manda.


"Memang sih bayarannya kecil dengan kasus anak SMA seperti ini, tapi aku mengambil hikmahnya. Sahabat sejati akan selalu ada disaat kita suka ataupun duka"ucap Manda.


Manda tersenyum lebar. Dia pulang ke rumahnya. Baru sampai depan pintu rumahnya, Emak Eni sudah marah-marah sambil membawa sapu lidi dan mengejar Manda lari-lari didalam rumah.


"Manda kamu kemana aja?"tanya Emak Eni.


"Ampun Nyak.......aku kerja"ucap Manda.


"Kerja....kerja tapi duitnya gak ada, cuma ngorok dan ngiler kerjaanmu ya"ucap Emak Eni.


"Ampun Nyak......beneran"ucap Manda.


Emak Eni berhenti mengejar Manda lalu dia duduk dikursi. Manda menghampiri Emaknya lalu memijat pundaknya.


"Nyak makanya jangan emosi, dengerin Manda dulu. Tadi Manda beneran lagi kerja Nyak"ucap Manda.


"Besok Nyak gak masak, gak punya duit"ucap Emak Eni.


"Tenang Nyak, Manda bawa duit"ucap Manda.


"Mana?"tanya Emak Eni.


Manda mengeluarkan uang dari sakunya. Dia memperlihatkan uang dua ratus ribu pada Emaknya.


"Nih Nyak"ucap Manda.


Emak Eni langsung mengambil uang ditangan Manda.


"Lumayanlah dua ratus ribu buat dua hari"ucap Emak Eni.


"Doain ya Mak, rejeki Manda lancar. Dan Manda diberi kemudahan dan kelancaran nyari duitnya" ucap Manda.


"Amin, iya Emak pasti doain"ucap Emak Eni.


Manda langsung merangkul Emak Eni. Dia begitu menyayangi orangtua semata wayangnya itu. Semenjak ayahnya meninggal. Dia hanya memiliki Emaknya. Meskipun emaknya sering marah padanya tapi Manda tetap menyayanginya.


****************


"Azura mau pulang?"tanya Radhitya.


"Iyalah, sudah sore ya pulang"ucap Azura.


"Ingat kata Bang Iwan, kita harus membangun kemistri"ucap Radhitya.


Azura langsung teringat perkataan Pak Iwan sutradaranya itu. Dia langsung memikirkan rencana Radhitya yang mengajaknya nongkrong dicafe.


"Aku telpon suamiku dulu"ucap Azura.


"Ngapain sih harus nelpon suamimu?"tanya Radhitya.


"Sebagai seorang istri aku harus mendapat izin dari suamiku, apalagi aku akan makan di cafe bersama seorang lelaki yang bukan saudaraku" ucap Azura.


"Padahal kalau digrebek suamimu pasti seru"ucap Radhitya.


"Astagfirullah, kau ini gak ngerti dosa ya. Aku ini istri orang tidak baik kau berkata seperti itu"ucap Azura.


"Kalau kau sampai di tinggalkan suamimu, aku siap menampung mu"ucap Radhitya.


"Radit capek ya berdebat dengan lelaki playboy sepertinmu"ucap Azura.


"Kita berduaan di cafe suamimu datang dan cemburu lalu menceraikanmu. Otomatis aku langsung menikahimu"ucap Radhitya.


"Ih......gak tahu harus ngomong apa ya sama kamu biar ngerti"ucap Azura.


Azura langsung masuk ke dalam mobilnya. Radhitya hendak masuk ke mobil Azura tapi langsung ditutup oleh Azura pintu mobilnya hingga tangannya Radhitya terjepit.


"Aw...aw...aw...salit"ucap Radithya.


Azura membuka kembali pintu mobilnya.


"Kamu kenapa Radit?"tanya Azura.


"Tanganku terjepit pintu mobil mu"ucap Radhitya.


"Ha....ha....ha... makanya jangan genit"ucap Azura sambil tertawa.


"Kok senang ya aku menderita"ucap Radhitya.


"Habis playboy sepertimu pantas mendapatkan itu"ucap Azura.


"Azura kau tega sekali padaku"ucap Radhitya.


Azura langsung menutup pintu mobilnya kembali.


Dia mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu. Tinggal Radhitya yang berdiri di tempat parkiran lokasi syuting itu.


"Azura, dari dulu kok susah banget sih dideketin" ucap Radhitya.


Azura mengendarai mobilnya di jalan raya.


Dia berhenti di sebuah masjid di tepi jalan. Azura salat ashar di masjid itu. Dia menyempatkan berdzikir dan mengaji. Saat Azura keluar dari masjid, dia melihat dua anak kecil membersihkan masjid. Azura menghampiri kedua anak kecil itu.


"Adik rajin banget bersih-bersih masjid"ucap Azura.


"Kami nggak punya uang untuk infaq di masjid, jadi kami membersihkan masjid ini sebagai gantinya" ucap Cika.

__ADS_1


"Masya Allah masih kecil tapi sudah berpikir sejauh itu"batin Azura.


"Anak pintar, rumah kalian di mana?"tanya Azura.


"Rumahku di tepi sungai di bawah jembatan itu" ucap Cika.


"Dia adikmu?"tanya Azura.


"Iya dia adikku"ucap Cika.


"Dari tadi diantar banget ya"ucap Azura.


"Adikku tidak bisa bicara"ucap Cika.


"Kenapa?"tanya Azura.


"Saaat hamil ibuku terkena penyakit campak tapi ayahku tidak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit"ucap Cika.


"Kenapa ayahmu tidak membawa ibumu ke Puskesmas?"tanya Azura.


"Puskesmas sangat jauh ayah tidak punya uang untuk ongkosnya ke sana, untuk makan saja kami masih kekurangan"ucap Cika.


Azura terharu mendengar ucapan Cika, dia hidup berkecukupan tapi anak kecil ini bersama keluarganya hidup dalam kekurangan.


"Memang ayahmu kerja apa?"tanya Azura.


"Tukang sol sepatu"ucap Cika.


"Ya Allah, aku sering membuang sepatu yang hanya rusak sedikit padahal kalau seandainya dibetulkan di tukang sol sepatu mungkin akan memberi rezeki untuk mereka, istri dan anak yang bisa makan bahkan mungkin bisa berobat ketika mereka sakit" batin Azura.


"Tante punya hadiah untuk kalian karena kalian anak yang pintar dan rajin"ucap Azura.


"Kami ikhlas melakukan ini Tante"ucap Cika.


"Tante juga ikhlas memberikan kalian hadiah"ucap Azura.


Akhirnya Azura mengajak kedua anak kecil itu belanja di sebuah mini market.


"Ayo pilih mana yang mau kalian beli"ucap Azura.


Cika hanya melihat ke arah bahan makanan pokok di minimarket itu.


"Ayo ambil mana yang kalian mau"ucap Azura.


Cika terdiam ia masih memikirkan apa yang ingin ambil.


"Tante boleh tidak kalau jika ambil beras dan telur saja"ucap Cika.


"Memang kalian tidak ingin jajan?"tanya Azura.


"Kami lebih membutuhkan untuk makan"ucap Cika.


Azura kembali terharu dengan ucapan anak kecil itu dia sudah memikirkan kebutuhan pokok untuk anak sekecil itu.


"Ya sudah sekarang kalian pilih jajanan yang kalian mau, nanti Tante juga akan memberikan beras dan telur nya juga ya"ucap Azura.


"Terima kasih Tante"ucap Cika.


Kedua anak kecil itu memeluk Azura. Azura begitu bahagia melihat anak kecil itu tersenyum bahagia.


Setelah mengantar Cika dan adiknya pulang kerumahnya Kemudian Azura menelpon suaminya.


"Assalamualaikum"ucap Azura.


"Waalaikumsalam"ucap Devan.


"Halo Mas Devan"ucap Azura.


"Hallo Azura"ucap Devan.


"Mas Devan, temanku mengajakku makan di cafe" ucap Azura.


"Dia laki-laki atau perempuan?"tanya Devan.


"Radithya Mas"ucap Azura.


"Untuk apa dia ingin makan bersamamu?"tanya Devan.


"Untuk membahas pekerjaan di lokasi syuting" ucap Azura.


"Ya udah nggak papa tapi jangan malam-malam pulangnya ya"ucap Devan.


"Makasih ya Mas Devan"ucap Azura.


"Iya"ucap Devan.


"Apa Mas Devan sudah makan?"tanya Azura.


"Sudah"ucap Devan.


"Mas Devan sekarang di mana?"tanya Azura.


"Masih di kantor"ucap Devan.


"Jangan lupa makan ya Mas"ucap Azura.


"Iya"ucap Devan.


Azura menutup teleponnya setelah selesai bicara.


Dia pergi ke cafe tempatnya bertemu dengan Radithya. Sampai di parkiran cafe itu, Azura turun dari mobilnya. Dia masuk ke dalam cafe. Radithya sudah duduk disudut cafe itu. Tangannya melambai ke arah Azura.


"Azura aku di sini"ucap Radithya.


Azura menghampiri Raditya disudut cafe itu. Dia duduk di depan Raditya.


"Kau mau pesan apa Azura?"tanya Radithya.


Azura melihat buku menu itu, dia memesan jus alpukat dan nasi bakar sementara Radithya cara memesan jus jeruk dan steak. Setelah pelayan menyajikan di meja mereka berdua memakan makanan itu. Barulah mereka membicarakan pekerjaan di lokasi syuting.


"Azura kau langsung romantis padaku"ucap Radithya.


"Radithya ingat ini hanya akting, lagi pula aku sudah punya suami jadi kita punya batasan"ucap Azura.


"Azura paling tidak jadilah istriku di dalam sinetron"ucap Radithya.


"Raditya aku akan akting sesuai peran ku tapi kalau aku harus bertahan denganmu maaf ya" ucap Azura.


"Susah sekali sih bisa berdua denganmu"ucap Radhitya.


"Aku lelah aku mau pulang"ucap Azura.


"Hei, kau belum juga senyum ada aku kek"ucap Radhitya.

__ADS_1


Azura langsung berdiri dan meninggalkan Radithya, terlalu lama bersama Radithya membuat dia semakin kesal, lelaki itu tak ada habisnya menggodanya padahal dia sudah memiliki banyak pacar.


"Azura..... tunggu ......Azura......"ucap Radithya yang masih duduk di sudut cafe itu.


__ADS_2