Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Lelaki Yang Sombong


__ADS_3

"Hanya seorang guru berani sekali kau memeluk anakku" ucap Nathan.


"Maaf, saya hanya menenangkan Alifa. Tadi dia rindu pada Mamanya" ucap Gista.


"Berani sekali kau menyebut istriku" ucap Nathan.


Gista heran lelaki didepannya ini tidak bisa diajak bicara baik-baik, selalu memarahinya.


"Anda dari tadi marah-marah terus, saya ini guru disini. Ketika murid saya menangis wajarkan saya berusaha menenangkannya" ucap Gista mulai emosi.


"Alifa anakku, tugasmu hanya mengajar bukan ikut campur urusan pribadi keluargaku" ucap Nathan.


"Lelaki ini benar-benar menyebalkan" batin Gista.


"Maaf ya Tuan yang terhormat, saya hanya tidak tega melihat Alifa menangis" ucap Gista.


"Itu urasan saya, jangan berani melakukan hal itu lagi" ucap Nathan.


"Ih....menyebalkan emosiku memuncak" batin Gista.


"Baiklah saya minta maaf ya Tuan yang terhormat" ucap Gista.


"Ayo Alifa" ucap Nathan sambil menarik tangan Alifa. Dia membawa Alifa masuk ke kelas meninggalkan Gista.


Gista langsung geleng-geleng, ada lelaki menyebalkan seperti itu. Seolah anaknya tak boleh tersentuh.


"Kenapa aku harus bertemu lelaki gila seperti itu" ucap Gista.


"Siapa yang kau bilang gila?" tanya Nathan berada dibelakang Gista.


"Dia kenapa tiba-tiba muncul lagi, bisa naik darah lagi aku" batin Gista.


Gista tak menyangka lelaki itu tiba-tiba muncul lagi. Dan setiap muncul mulutnya selalu pedas dan menyebalkan.


"Bukan maksudku tadi, ada orang gila disekitar sini" ucap Gista.


"Kau guru baru?" tanya Nathan.


"Iya" ucap Gista.


"Pantas kau tidak punya aturan" ucap Nathan.


"Aduh...mimpi apa semalam bertemu makhluk bermulut cabai ini" batin Gista.


"Tuan yang terhormat ada lagi yang ingin disampaikan, telinga saya masih sanggup mendengarkan" ucap Gista.


"Wanita lumpuh seperti mu bisa mengajar, paling menyusahkan muridmu sendiri" ucap Nathan.


"Terimakasih atas pujiannya, Anda baik hati ya" ucap Gista.


"Semoga dia cepat pergi, telingaku mulai terbakar" batin Gista.


"Sekolah ini seharusnya tidak mempekerjakan wanita lumpuh sebagai pengajar" ucap Nathan.


"Baiklah, Anda berpakaian rapi pasti mau ngantorkan? jadi silahkan berangkat" ucap Gista.


"Mulai lagi ikut campur urusanku" ucap Nathan.


"Lama aja Anda disini saya bisa gila beneran" ucap Gista sudah sangat kesal.


"Sudah lumpuh sekarang gila, benar-benar guru yang tidak berkualitas" ucap Nathan.


"Saya anggap ini pujian" ucap Gista.


"Lebih baik aku pergi" ucap Nathan.


"Siapa juga yang mau kau ada disini" batin Gista.

__ADS_1


Nathan berjalan meninggalkan sekolah TK itu. Gista bisa bernafas lega dengan kepergian lelaki menyebalkan itu. Dia benar-benar kesal bertemu lelaki itu. Sudah seenaknya bicara, tidak merasa bersalah lagi.


"Huh...menguras emosi bertemu lelaki itu" ucap Gista.


Gista mendorong roda kursi rodanya, dia masuk ke dalam kelasnya.


***********


Radhitya jalan-jalan bersama Nura dan Luna. Dia searching sebuah pasar unik diinternet. Mereka sengaja mendatangi pasar unik itu jauh-jauh keluar kota. Bahkan jalan berliku, naik turun tanjakan. Sampai bolak-balik mobilnya disetop.


"Kak Radit ayang, sepertinya ada penyetopan lagi" ucap Nura.


Radhitya kembali menurunkan kaca mobilnya.


"Bang tolong bacakan puisi Ditalak tiga kali kawin lari" ucap Lelaki muda itu.


"Tunggu saya agak lupa baitnya, hanya ingat bagian yang kawin tiga kalinya" ucap Radhitya.


"Kalau gitu bayar" ucap Lelaki muda itu.


"Berapa?" tanya Radhitya.


"Seratus ribu" ucap Lelaki muda itu.


"Udah kasih aja kak, gak hafal ini" ucap Luna.


"Oke, nih" ucap Radhitya.


Radhitya memberi uang pada lelaki muda itu kemudian dia kembali mengendarai mobilnya. Beberapa KM ada penyetopan lagi. Radhitya membuka kaca mobilnya.


"Sebutkan tutorial menghadapi bojo galak?" tanya Bapak-bapak tua.


"Rasa-rasanya sepanjang jalan berasa ikut acara kuis 100 juta itu" batin Radhitya.


"Mandi air hangat, baca doa, sholat tepat waktu dan sering bersodaqoh" ucap Radhitya.


"Ngawur semua jawaban Kak Radit" ucap Luna.


"Jawaban Anda salah, bayar seratus ribu" ucap Bapak-bapak tua itu.


"Udah kak bayar aja"ucap Luna.


Radhitya kembali membayar uang seratus ribu pada bapak-bapak tua itu. Dia kembali mengendarai mobilnya hingga sampai di pasar unik. Dia memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


Baru turun tukang parkir itu langsung menyapanya.


"Selamat pagi" ucap Tukang parkir.


"Pagi" ucap Radhitya.


"Sebutkan pasal sila ke 39 ayat 1UUD negara kita" ucap Tukang parkir itu.


"Astagfirullah, perasaan ada kuis dadakan lagi" ucap Radhitya.


"Jawab kak" ucap Luna.


"Aduh gak hafal, kebanyakan pacar pusing mikirinnya" ucap Radhitya.


"Kalau gitu kena denda seratus ribu" ucap Tukang parkir itu.


"Udah kak bayar aja, anggap aja sodaqoh" ucap Luna.


Radhitya kembali membayar seratus ribu pada tukang parkir itu. Kemudian dia, Luna dan Nura berjalan menelusuri jalan. Pasar unik adalah pasar yang pedagangnya menjajakan dagangannya di tepi jalan unik. Pertama Radhitya mendatangi seorang ibu yang menjual donat. Dia memakan donat itu bersama Nura dan Luna.


"Bu donatnya kok keras ya?" tanya Radhitya.


"Donat ini ibarat hidup kita yang keras penuh rintangan dan kesulitan. Memakan donat ini harus dihayati seakan tak ada makanan lagi, ingat jaman tanam paksa, resapi" ucap Ibu penjual donat.

__ADS_1


"Iya sih tapi ini gak manis juga" ucap Radhitya.


"Sesuatu yang terlalu manis tidak baik untuk kesehatan, menyebabkan karies pada gigi, diabetes dan obesitas. Kalau mau sehat ya begini rasanya" ucap Ibu penjual donat.


"Tapi donat ini susah digigitnya juga, keras" ucap Radhitya.


"Ambil sisi positifnya, donat ini bisa untuk senjata, saya bisa mencontohkan" ucap Ibu penjual donat.


"Maling" ucap seseorang berteriak.


Maling itu berlari melewati penjual donat dan Radhitya. Ibu penjual donat itu mengambil donat lalu melemparnya ke maling tersebut.


Pluuuuk.........


Bluuug.......


Malingnya terjatuh kesakitan.


"Lihat, sisi positif dari donat ini" ucap Ibu penjual donat.


"Benar juga" ucap Radhitya.


Setelah puas dengan donat yang aneh itu Radhitya, Luna dan Nura pergi menghampiri penjual jengkol.


"Kak Radit ayang, mau beli jengkol ya" ucap Nura kegenitan.


"Ih genit amat" ucap Luna.


Radhitya baru mau memegang jengkolnya udah disembur penjualnya.


"Jangan sentuh-sentuh jengkol saya, udah steril belum tangannya?" tanya Bapak penjual jengkol.


"Belum pak" ucap Radhitya.


"Cuci tangan tujuh kali dulu" ucap Bapak penjual jengkol.


Radhitya cuci tangan sampai tujuh kali barulah dia memegang jengkol itu.


"Kamu mau nyuri ya?" tanya Penjual jengkol itu marah.


"Gak pak, mau beli" ucap Radhitya.


"Ampun deh galak banget penjual jengkol ini" batin Radhitya.


"Berapa kilo?" tanya Penjual jengkol dengan suara keras.


"Dua kilo" ucap Radhitya.


Penjual jengkol itu memberikan dua kilo jengkol pada Radhitya. Kemudian Radhitya membayarnya.


"Ini uang halalkan bukan hasil mencuri?" tanya Penjual jengkol itu.


"Halal Pak" ucap Radhitya.


"Ingat mencari uang harus dengan cara yang halal. Mencuri ataupun pekerjaan yang kotor itu tidak baik. Bekerja keraslah selagi kau masih muda. Sesungguhnya menurut peraturan pemerintah bla....bla...bla....." ucap Penjual jengkol itu bercerita panjang kali lebar.


"Kak kabur yuk, ngantuk dengerinnya" ucap Luna.


"Tar disembur gak kalau kita kabur?" tanya Radhitya.


"Udah Kak Radit ayang, kabur selagi bisa" ucap Nura.


Mereka bertiga kabur meninggalkan penjual jengkol itu. Mereka akhirnya memutuskan pulang dari pada bertemu yang lebih aneh lagi.


*************


Azura pergi ke Mall bersama Freya. Dia sedang memilih-milih baju. Azura berjalan ke bagian baju anak-anak. Sementara Freya di bagian baju dewasa. Azura asyik memegang dan melihat-lihat baju anak. Dia membayangkan jika nanti anaknya sudah lahir. Saat Azura asyik melihat-lihat dia mendengar suara mirip Devan dari sampingnya.

__ADS_1


"Selamat pagi Azura"


Azura menoleh ke ke samping. Lelaki yang begitu mirip dengan Devan berdiri disampingnya.


__ADS_2