Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Penyakit Suamiku


__ADS_3

Gista keluar dari toilet melewati lubang di atas toilet itu. Untung saja dia bisa memanjat dari bak mandi didalam toilet itu lalu membuka lubang udara itu. Toilet itu terletak di belakang rumahnya. Dia berjalan beberapa langkah di halaman rumah itu, tiba-tiba Derry menangkap Gista.


"Kau mau kemana?"tanya Derry.


"Aku mau pergi, aku tidak mau jadi budakmu" ucap Gista.


"Enak saja, kau harus jadi budakku seumur hidupmu"ucap Derry.


"Tidak, aku tidak mau"ucap Gista.


Gista menginjak kaki Derry yang menangkapnya dalam dekapannya itu.


"Aw ..........."ucap Derry kesakitan saat Gista menginjak kakinya.


Tangan Derry terlepas dari tubuh Gista karena kesakitan memegangi kakinya. Gista memanfaatkan situasi itu untuk kabur dari tangan Derry. Dia berlari keluar dari halaman rumah itu, tapi Derry terus mengejarnya hingga Gista terpaksa menyeberang jalan dengan buru-buru hingga Gista tertabrak mobil yang melintas dengan kencang.


Dug......................


Bluuuug................


Gista terjatuh dijalan raya, kakinya dipenuhi darah, seketika Gista pingsan ditempat. Melihat itu Derry langsung kabur, dia takut harus bertanggungjawab.


Rumah Sakit Good Health


Gista terbangun dari pingsannya selekas menjalani operasi. Dia melihat kesekelilingnya. Ada Rafka berdiri tepat disampingnya. Gista tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya. Dia coba menggerakkan kakinya tapi tak bisa di gerakkan.


"Kakiku....kakiku kenapa?"ucap Gista.


"Tadi kau kecelakaan Gista, kakimu......"ucap Rafka.


Rafka tidak tega untuk menyampaikan semuanya pada Gista, dia tahu ini berat untuknya.


"Kakiku kenapa Presdir?"tanya Gista.


Rafka menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.


"Kakiku kenapa Rafka? ku mohon jawab. Bukankah kau sahabatku, apakah seorang sahabat akan bersikap seperti ini hik...hik...hik...?"tanya Gista.


"Kakimu lumpuh Gista"ucap Rafka.


Meskipun berat tapi karena Gista memaksa akhirnya Rafka memberitahunya yang sebenarnya yang terjadi pada Gista.


"Kakiku lumpuh?.....lumpuh?....hik....hik.....hik...." ucap Gista.


Gista sedih mendengar kenyataan bahwa dia lumpuh. Dia tak menyangka usahanya melarikan diri dari Derry justru membuatnya lumpuh.


Rafka membiarkan Gista menangis sepuasnya dulu biar hatinya lega. Dia hanya diam melihat Gista menangis tersedu-sedu. Setelah dua jam menangis, Rafka mulai mengajaknya bicara.

__ADS_1


"Gista, apa yang sudah dilakukan suamimu padamu?"tanya Rafka.


"Tidak, tidak ada"ucap Gista menundukkan kepalanya.


"Dia sudah menganiaya mu selama ini, benar bukan?"tanya Rafka.


"Dari mana kau tahu?"tanya Gista.


"Rara dan Pia sudah menceritakan semuanya padaku"ucap Rafka.


"..............."Gista terdiam sesaat memikirkan semuanya. Dia ragu untuk menceritakan semuanya pada Rafka.


"Kalau tahu akan jadi begini, dulu aku tidak melepasmu pada Derry, paling tidak aku bisa memastikanmu di tangan orang yang tepat"ucap Rafka.


Rafka menyesal dulu melepas Gista pada Derry harusnya dia memastikan Derry terlebih dahulu.


".........."Gista terdiam.


"Kenapa setiap kali aku bertanya padamu kau selalu berbohong?"tanya Rafka.


"..........."Gista masih terdiam.


"Aku akan melaporkan Derry ke polisi, biar dia mendapat ganjaran atas semuanya"ucap Rafka.


"Terimakasih Rafka, dari dulu kau selalu baik padaku, maafkan aku dulu meninggalkanmu dan menjauhimu"ucap Gista.


Rafka mengusap kepala Gista dengan tangannya.


Gista mulai tersenyum setelah menangis dari tadi. Dia tahu Rafka selalu baik hati dan ramah pada siapapun.


*************


Dokter Hardi datang ke kediaman keluarga Barata. Dia masuk ke rumah besar itu, duduk diruang tamu bersama Ibu Dewi. Dokter Hardi adalah Dokter pribadi Devan semasa hidup. Hanya kepada Dokter Hardi, Devan menceritakan semua yang dirasakannya.


"Maksud kedatangan saya kesini, ingin bertemu dengan Azura, untuk menyampaikan amanah dari almarhum Devan"ucap Dokter Hardi.


"Amanah? amanah apa sampai harus bertemu dengan Azura?"tanya Ibu Dewi.


"Amanah ini penting jadi saya hanya bisa menyampaikannya pada Azura"ucap Dokter Hardi.


"Baiklah, Azura ada di kamarnya, dia depresi setelah kematian Devan"ucap Ibu Dewi.


"Baiklah, saya akan menemuinya"ucap Dokter Hardi.


"Mari saya antar ke atas"ucap Ibu Dewi.


Sebenarnya Azura depresi bukan hanya karena kematian Devan tapi karena siksaan baik fisik dan psikis yang diterimanya dari keluarga Barata.

__ADS_1


Ibu Dewi mengantar Dokter Hardi ke kamar Azura. Di kamar itu Azura hanya duduk di ranjang dengan tatapan yang kosong. Air matanya terus mengalir tiada henti.


"Seperti itulah kondisi Azura sekarang semenjak Devan tiada"ucap Ibu Dewi.


"Boleh saya bicara berdua dengan Azura?"tanya Dokter Hardi.


"Baiklah, silahkan"ucap Ibu Dewi.


Ibu Dewi keluar dari kamar itu meninggalkan kamar Azura. Dokter Hardi menghampiri Azura yang duduk di ranjang.


"Azura, perkenalkan saya Dokter Hardi, Dokter pribadi almarhum Devan"ucap Dokter Hardi memperkenalkan diri pada Azura.


"..........."Azura hanya diam menatap ke depan.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, selama ini Devan tidak pernah berniat menyakiti hatimu. Dia terpaksa menjauhimu demi kebaikkanmu. Selama ini Devan menderita penyakit mematikan hingga dia tidak berani memberitahumu. Dia tidak ingin kau bersedih karena sakit yang dideritanya"ucap Dokter Hardi.


".........."Azura hanya terdiam kosong dan hampa.


"Devan menderita HIV AIDS"ucap Dokter Hardi.


"Mas Devan.......hik....hik......hik......"teriak Azura.


"Itu menjawab semua pertanyaanmu kenapa dia tak pernah menyentuhmu, dia tak ingin menularkan penyakitnya padamu"ucap Dokter Hardi.


"Hik....hik....hik...."Azura menangis mendengar pernyataan Dokter Hardi yang menyayat hatinya.


"Selama ini Devan juga tersiksa ketika dia kesepian tanpamu, dia memiliki istri tapi tak bisa menyentuhnya"ucap Dokter Hardi.


"Hik......hik......hik....Mas Devan hik....hik..."ucap Azura.


Dokter Hardi mengeluarkan sebuah surat dan kotak perhiasan dari tas miliknya lalu memberikannya pada Azura.


"Ini amanah dari almarhum Devan, dia bilang padaku jika dia mati suatu saat nanti, dia ingin aku menyampaikan surat dan kotak perhiasan ini padamu"ucap Dokter Hardi.


"............."Azura hanya berurai air mata melihat surat dan kotak perhiasan itu.


Karena Azura diam saja, Dokter Hardi meletakkan surat dan kotak perhiasan itu di ranjang kamar itu.


"Saya sudah menyampaikan amanah almarhum Devan, saya pamit pulang dulu, assalamu'alaikum"ucap Dokter Hardi.


Dokter Hardi keluar dari kamar Azura. Tinggal Azura yang hanya diam menatap surat dan kotak perhiasan itu. Azura mengambil surat itu lalu membukanya. Kemudian dia membaca surat dari Devan untuknya.


Dear Istriku Tercinta Azura Asifa


Mungkin saat kau membaca surat ini aku sudah pergi jauh meninggalkanmu. Aku minta maaf atas semua kesalahanku yang telah membuatmu bersedih selama bersamaku. Aku tahu kau kesepian setiap malam tanpaku. Tapi jujur aku juga kesepian setiap malam tanpamu. Ingin rasanya menghabiskan malam indah bersamamu seperti sepasang suami istri yang seutuhnya. Tapi apa dayaku, takdir membawaku pada sebuah penyakit mematikan dan menular. Aku menderita HIV AIDS. Pertemuanku dengan seorang wanita yang ku tolong saat aku pergi bisnis diluar kota membuatku terjebak dan menghabiskan malam dengannya hingga aku tertular penyakit ini. Maafkan aku Azura..... maafkan aku. Jangan bersedih, jangan menangis lagi. Berbahagialah, dan sambut hidup barumu. Aku selalu berharap yang terbaik untukmu. I Love You Azura.


Devan Barata

__ADS_1


"Hik....hik....hik.....Mas Dewan kenapa kau tidak berbagi dukamu padaku hik...hik...hik..."ucap Azura.


Azura semakin sedih saat mengetahui kalau Devan menderita penyakit menular dan mematikan itu. Pantas saja Devan tak pernah berani menyentuh Azura meskipun jelas-jelas dia mencintainya.


__ADS_2