Menikahi Dua Janda

Menikahi Dua Janda
Bulan Madu


__ADS_3

Rafka, Azura dan Gista menikmati secangkir teh hangat di sore hari sambil duduk melihat indahnya pegunungan. Mereka berada di tepi kolam renang yang menghadap pegunungan. Sudah satu hari mereka menginap di sebuah villa yang dekat pegunungan dan lautan. Rafka sudah menyelesaikan pekerjaannya selama 5 hari. Kini saat Rafka berlibur dengan kedua istrinya.


"Mas besok kita jalan-jalan di tepi pantai saat pagi hari pasti seru." Ucap Gista memberi usul.


"Boleh, kamu Azura gimana?" Tanya Rafka.


"Aku suka lihat matahari mulai terbit, jadi aku setuju Mas." Ucap Azura.


"Baiklah, besok pagi sehabis sholat shubuh kita jalan-jalan di tepi pantai." Ucap Rafka.


"Mas aku ke kamar dulu ya" Ucap Azura.


"Iya sayang" Ucap Rafka.


Azura pergi meninggalkan tempat itu. Sedangkan Rafka mendorong kursi roda Gista jalan-jalan di tepi kolam renang itu. Banyak wanita yang memperhatikan ketampanan Rafka. Mereka tidak habis pikir kenapa laki-laki tampan dan keren mau dengan wanita yang lumpuh. Mereka Gista dengan menatap sinis.


"Mas aku mau ke toilet" Ucap Gista.


"Oke" Ucap Rafka.


Rafka mendorong kursi roda Gista menuju ke toilet. Gista masuk ke dalam toilet umum, Rafka menunggunya diluar toilet. Baru masuk Gista tak sengaja mendengar percakapan tiga orang wanita. Gista berada di belakang mereka yang sedang menggosipkannya.


"Liat cewek lumpuh tadi gak?" Tanya Rika.


"Iya liat, suaminya ganteng ya" Ucap Citra.


"Tapi sayangnya istrinya lumpuh" Ucap Tasya.


"Makanya suaminya nikah lagi sama yang gak lumpuh" Ucap Rika.


"Oh, cewek cantik yang satunya lagi ya" Ucap Citra.


"Secara siapa sih yang mau punya istri lumpuh. Gak bisa ngapa-ngapainkan" Ucap Tasya.


"Bisanya cuma nyusahin" Ucap Rika.


"Wajarlah kalau suaminya punya istri lagi" Ucap Citra.


"Kalau gak, dingin nanti diranjang cuma satu gaya doang" Ucap Rika.


"Ha ha ha" Mereka bertiga tertawa.

__ADS_1


Gista meneteskan air matanya mendengar ketiga wanita itu menggosipkannya. Dia mendorong kursi rodanya keluar dari toilet.


"Sayang sudah?" Tanya Rafka saat melihat Gista keluar dari toilet.


Gista tidak menjawab pertanyaan Rafka, dia mendorong kursi rodanya meninggalkan tempat itu.


"Sayang tunggu....tunggu sayang" Rafka memanggil Gista yang mendorong kursi roda menjauhinya.


Gista tak menggubris panggilan Rafka, dia terus mendorong kursi rodanya. Hatinya begitu terluka dengan ucapan tiga wanita di toilet itu. Dia merasa tak berguna dan hanya menyusahkan semua orang. Gista menangis sepanjang jalan di tepi kolam renang. Tak sengaja kursi rodanya tergelincir ke kolam renang karena dia terlalu kencang mendorong kursi rodanya.


"Aaaaaaa..." Gista berteriak saat kursi rodanya terjatuh ke kolam renang.


Byuuuuur...........


Gista tidak bisa berenang, apalagi kakinya lumpuh. Dia berusaha ke atas permukaan air tapi tetap tak bisa, tubuhnya tenggelam ke dasar kolam renang.


"Apa aku akan mati? Mas maafkan aku sudah menyusahkanmu selama ini. Aku tidak berguna, aku lumpuh. Mungkin seharusnya aku mati saja" Batin Gista saat tubuhnya makin tenggelam.


Rafka berenang ke dalam kolam renang meraih tubuh Gista dan membawanya ke permukaan.


Gista membuka matanya. Dia sudah berada di kamarnya yang di villa. Rafka tersenyum padanya. Tapi Gista malah menangis melihat Rafka tersenyum padanya.


"Hik hik hik"


"Sayang jangan menangis, ada aku disini. Kau bisa bersandar padaku" Ucap Rafka.


Gista memeluk Rafka dengan erat. Dia menangis di pelukannya.


"Mas apa aku menyusahkanmu selama ini?" Tanya Gista.


"Tidak sayang, memangnya kenapa?" Tanya Rafka balik pada Gista.


"Aku lumpuh, tidak bisa apa-apa, mau apa-apa minta bantuan orang lain. Aku selalu menyusahkanmu Mas hik hik hik." Ucap Gista.


Rafka langsung menyeka air mata di pipi Gista.


"Kenapa kau bicara seperti itu? aku ikhlas merawatmu baik itu sebagai orang lain ataupun sebagai suamimu sekarang. Aku senang merawatmu dan bersamamu." Ucap Rafka.


"Tapi aku ini tak berguna hik hik hik" Ucap Gista menangis lagi.


"Siapa bilang tak berguna? kau membuat hidupku yang dulu sepi dan sendirian kita hidupku menghangat dan begitu menyenangkan. Kau tahu Gista dari sejak SMA aku sudah mencintaimu hanya saja aku belum mengungkapkannya padamu." Ucap Rafka.

__ADS_1


"Benarkah? dari SMA kau mencintaiku?" Tanya Gista.


Rafka mengangguk. Gista langsung mencium Rafka.


"Terimakasih Mas, kau membuat wanita lumpuh ini berharga" Ucap Gista seusai mencium Rafka.


"I Love You" Ucap Rafka.


"I Love You Too" Ucap Gista.


"Aku punya sesuatu untukmu, ikut aku" Ucap Rafka.


Gista mengangguk. Rafka membawa Gista keluar dari kamarnya. Dia mengajak Azura dan Gista ke sebuah panti sosial. Di panti itu begitu banyak orang cacat dari anak kecil hingga orang tua.


Rafka mendorong kursi roda Gista ke sebuah aula di panti sosial itu. Rafka mengadakan syukuran atas rasa syukurnya telah diberikan kedua istri sholehah oleh Allah SWT. Dia ingin berbagi dengan sesama di panti sosial itu. Semua penghuni panti sosial itu berkumpul di aula. Rafka, Gista, Azura dan pengurus panti itu ada di depan spanduk panti sosial yang terpajang di dinding.


"Sayang kau liat mereka semua. Mereka semua cacat dan tidak memiliki keluarga ataupun rumah untuk bernaung. Tapi satu hal, mereka tetap ceria dan bersyukur dengan apa yang mereka miliki sekarang" Bisik Rafka pada Gista.


Gista langsung meneteskan air matanya. Suaminya benar, seharusnya Gista lebih bersyukur lagi setidaknya dia punya keluarga dan tempat bernaung, apalagi ada Rafka suaminya yang begitu baik dan sayang padanya.


"Ya Allah maafkan aku yang tidak bersyukur atas nikmatmu. Kau telah mempertemukanku dengan lelaki yang begitu baik dan sayang padaku. Hidupku tidak kekurangan bahkan lebih dari cukup. Aku juga memiliki keluarga yang baik seperti keluarga suamiku dan tempat bernaung yang bahkan seperti istana. Aku hanya tinggal berdiam diri tanpa harus bersusah payah semuanya sudah di sediakan oleh suamiku, ampunilah aku Ya Allah." Batin Gista.


Gista tersenyum melihat semua orang. Dia jauh lebih beruntung dari mereka semua.


Acara syukuran itu di mulai. Rafka memotong tumpeng nasi kuning. Dia memberikan potongan nasi kuning pertamanya pada pengurus panti yang sudah berjasa dengan sabar merawat dan mengurus semua orang cacat di panti sosial itu.


Barulah semua orang makan bersama. Rafka dan kedua istrinya juga makan bersama. Gista dan Azura bergantian menyuapi Rafka begitupun Rafka menyuapi kedua istrinya bergantian.


"Alhamdulillah bahagianya bisa makan bersama, nikmat yang Allah berikan memang patut kita syukuri" Ucap Rafka.


"Iya Mas" Ucap Gista dan Azura.


"Bisa gemuk nih pulang nanti, bidadari-bidadariku menyuapiku terus, jadi lahap makannya" Ucap Rafka menggoda kedua istrinya.


Gista dan Azura tersenyum saat Rafka menggoda mereka.


"Manisnya melihat bidadari-bidadariku tersenyum, adem rasanya" Ucap Rafka.


"Mas" Ucap Gista dan Azura mencolek lengan Rafka.


Rafka tersenyum melihat dua bidadarinya malu. Muka mereka memerah membuat Rafka gemas.

__ADS_1


Harinya yang dulu sepi kini terisi dengan kebahagiaan. Dia berharap semoga hari esok selalu bersama.


__ADS_2